Selasa, 18 Agustus 2015

Sebuah Cerita Tentang Bid'ah

Kang Hanif, seorang anggota Ansor, telah lama didaulat masyarakat di desa untuk memangku masjid. Semua acara keagamaan dia yang memimpin. Suatu hari ada seorang berjenggot panjang dan bercelana cingkrang dari sebelah desa menudingnya sebagai pelaku bid’ah, churafat, takhayul, bahkan syirik.

“Mas, sampean jangan terus-terusan menyesatkan umat. Tahlilan, sholawatan, yasinan, manaqiban, bermaaf-maafan sebelum memasuki Ramadhan, itu bid’ah. Apalagi mendoakan mayit, tawasul atau ngirim pahala untuk orang sudah mati. Doa itu tidak sampai, bahkan merusak iman. Musyrik hukumnya,” kata orang tersebut dengan gaya sok paling Islam dan paling benar.

Kang Hanif hanya diam saja. Ia sudah beberapa kali menghadapi orang begitu yang biasanya hanya bermodal “ngeyel” dengan ilmu agama yg jauh dari memadai. Persis seperti anak kecil baru belajar karate, yang baru tahu satu dua jurus saja lagak lakunya belagu.

Walau kang Hanif telah 9 tahun mengaji di pesantren Tambak Beras dan paham betul dasar-dasar amaliyah itu, ia tetap tak membantah dan membiarkan orang itu terus menudingnya. “Percuma saja membantah orang itu. Hatinya tertutup jenggotnya. Mata hatinya tak seterbuka mata kakinya,” batin kang Hanif.

Beberapa waktu kemudian ayah orang yang berjenggot dan bercelana cingkrang itu meninggal dunia. Kang Hanif datang bertakziyah bersama para jamaahnya. Dia lantas berdoa keras di depan mayit si bapak dan jama’ahnya mengamini.

“Ya Allah, laknatlah mayit ini. Jangan ampuni dosanya. Siksalah dia sepedih-pedihnya. Kumpulkan dia bersama Fir’aun, Qorun dan orang yg Engkau laknati. Masukkan dia di neraka sedalam-dalamnya, selama-lamanya”.

Si jenggot bercelana cingkrang menghampiri Kang Hanif, bermaksud menghentikan doanya.

“Jangan protes. Katamu doa kepada mayit tidak akan sampai. Santai saja. Tidak ada yg perlu engkau khawatirkan bukan? Kalau aku sih yakin doaku sampai,” ujar kang Hanif tenang.

Muka si jenggot bercelana cingkrang pucat. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya yang biasa menghakimi orang lain

Sumber Berita Terpercaya

Beragam pemberitaan ditulis media massa dari hasil pelaksanaan Muktamar Ke-33 NU di Jombang, belum lama ini. Tentu saja, yang namanya berita, ditulis dari berbagai sudut, negatif maupun positif.

Namun, setelah membaca headline dan artikel pada salah satu surat kabar, hati Joko tidak tenang. Ia kemudian menemui Udin, yang kebetulan sedang ada di angkringan.

Joko : Kang, ini bagaimana kok di koran ini ditulis NU Pecah, lha koran satunya nulis NU Tetap Satu. Aku bingung, kang. yang benar yang mana to?

Udin : Lha, kamu itu kebanyakan baca koran kok malah jadi bingung. Daripada bingung ini dimakan dulu pisang gorengnya, mumpung masih hangat,”

Joko : Aku sudah tidak tahu lagi, kang! Mana berita yang menceritakan fakta secara benar. Hampir semua berita sudah penuh rekayasa atas dasar kepentingan nafsu.

Aku sudah tidak tahu lagi mana berita yang dapat dijadikan rujukan.

Udin : Betul, Jok! Apa yang kamu katakan itu ada benarnya. Tapi, di negara kita ini, ada lho sumber berita yang tetap terpercaya dan tanpa rekayasa. Serius aku!

Joko : Apa itu kang? Siapa tahu bisa aku jadikan sumber rujukan

Udin : Ya, itu corong speaker (toa) masjid,”

Joko : hehe benar juga kang, kalau berita lelayu (kematian) atau jadwal Posyandu saja sudah tidak lagi valid, kacau sekali negeri ini! (Ajie Najmuddin)
Masuk Islam dengan 11 Perkara


HR salah satu tersangka kasus BLBI tengah kebingungan. Ia masuk daftar DPO dan sudah beberapa minggu ini dilanda ketakutan luar biasa. Akhirnya ia menemukan akal setelah memutar otak. Ia akan menemui kiai kharismatik dan pura-pura masuk Islam. Dengan berstatus mualaf ia berharap ada keringanan hukuman bila sewaktu-waktu ketangkap.
Singkat cerita ia pergi menghadap kiai langitan yang terkenal kharismatik.
“Assala-mu ngalekum." Sapanya difaseh-fasehkan.
“Wa’alaikum salam," jawab Kiai.
"Pak kiai, tujuan kedatangan saya yang pertama adalah silaturahmi, dan yang kedua adalah menyampaikan keinginan saya untuk masuk Islam. Karenanya, saya mohon pak kiai untuk memberi bimbingan dan pencerahan."
"Sdh mantap betul mau masuk Islam?"
"Sudah mantap Pak Kiai," kata HR dengan intonasi meyakinkan
"Okey lah, kalau begitu. Namun sebelum mengambil keputusan perlu diketahui terlebih dahulu prinsip-prinsip ajaran Islam yang disebut rukun Islam dan rukun Iman.
"Apa itu pak kiai," serunya dengan wajah dibuat-buat biar nampak semangat
"Begini. Dalam agama Islam mengetahui dan mengamalkan kedua rukun itu wajib hukumnya. Untuk rukun Islam ada lima perkara dan rukun iman ada enam perkara.”
"Apa? Lima tambah enam berarti sebelas perkara! Banyak sekali! Apa gak bisa kurang pak kiai?" Kali ini tidak pura-pura lagi, benar-benar kaget.
"Untuk masalah yang satu ini tidak ada tawar menawar," jawabnya masih belum paham.
"Begini pak kiai, untuk urus satu perkara saja saya bisa habis Rp. 25 milyar apalagi sebelas perkara. Terus terang saya nggak sanggup. Yang tadi terpaksa saya batalkan. Lebih baik saya tetap kafir," katanya sewot.
Kiai: ???    

Nilul Amana
Tatkala Menganggap Diri Lebih Baik dan Benar

Ibrahim bin Adham suatu ketika sedang berjalan di tepi pantai. Tanpa sengaja, matanya melirik sepasang manusia berduaan dengan begitu mesranya. Terlintas di benak sufi ini bahwa sepasang kekasih itu sedang dimabuk cinta. Bukan hanya mabuk cinta, ternyata mereka juga sedang mabuk dalam arti yang sesungguhnya. Terlihat di sekeliling mereka beberapa botol minuman berseliweran, terdapat bekas botol yang baru saja selesai dikosongkan isinya. Beberapa saat, Ibrahim bin Adham terkesima dengan pemandangan yang dia lihat sambil menggeleng-gelengkan kepala. Ia berpikir betapa musykilnya sepasang manusia ini, bermaksiat sedemikian mudahnya, seakan tak ada dosanya.

Tiba-tiba dalam jarak beberapa meter di depan mereka, gelombang laut mengganas menerjang pinggiran pantai. Menghanyutkan sesiapa yang berdekatan, tak pandang bulu. Beberapa orang berusaha berdiri, berenang, dan berlari menjauh ke arah daratan. Sebagian mereka bisa melepaskan diri dari terjangan ombak. Namun nahas, lima lelaki tak kuasa diseret gelombang. Seketika, lelaki mabuk yang sedang bermesraan di pinggir pantai itu berlarian menuju ke arah lima orang yang hanyut. Ia berusaha menarik satu-persatu lelaki yang hampir terbawa arus. Ibrahim bin Adham yang melihat kejadian itu hanya bisa tercengang, berdiri mematung di tempatnya. Antara tercengang dengan kejadian yang terjadi begitu cepat di depan matanya dan juga tidak bisa berenang.

Sementara si lelaki ini begitu cekatan berlari dan berenang. Tak membutuhkan waktu lama, si pemuda mabuk tadi berhasil menyelamatkan empat orang. Kemudian ia kembali. Namun bukannya kembali ke perempuan yang tadi sempat ditinggalkan sejenak, lelaki ini justru menuju ke arah Ibrahim bin Adham. Belum terjawab kebingungan Ibrahim bin Adham, tiba-tiba saja, ia mengucapkan beberapa kalimat, padahal Ibrahim bin Adham tidak bertanya sepatah katapun.

“Tadi itu aku hanya bisa menyelamatkan empat nyawa, sementara kau seharusnya menyelamatkan sisa satu nyawa yang tidak bisa aku selamatkan.”

Belum selesai kebingungan Ibrahim bin Adham, lelaki ini melanjutkan, “Perempuan yang di sebelahku itu adalah ibuku. Dan minuman yang kami minum hanyalah air biasa.” Ia memberikan alasan. Seolah ia mampu membaca semua apa yang dipikirkan oleh Ibrahim bin Adham.

Kejadian sederhana itu mampu menyadarkan sang ulama terkenal, Ibrahim bin Adham. Seketika itu hati beliau dipenuhi sesal dan taubat. Lelaki yang sempat dianggap ahli maksiat ternyata jauh lebih baik dibandingkan beliau yang terkenal ahli ibadah. Kejadian itu begitu membekas dalam hidup Ibrahim bin Adham hingga wafatnya. Jika seorang Ibrahim sang Sufi saja bisa terjebak dalam perangkap itu, bagaimana dengan kita manusia akhir zaman?

Betapa seringnya kita berada di posisi menjustifikasi manusia. Atas sedikit fakta yang kita tahu tentang cuplikan kehidupannya, kita menuduhnya dengan stigma yang sangat tak pantas. Tatkala seorang teman yang tak menyapa ketika berpapasan dengannya sekali waktu, seketika kita beropini bahwa ia sombong. Padahal di balik itu, ia sedang dirundung masalah besar, bersedih, atau juga tak melihat kita. Di saat seorang teman tak memberi kita pinjaman uang, seketika kita menduga bahwa ia pelit. Padahal di balik itu ia sedang berusaha mendapatkan banyak uang untuk kebutuhan ibunya atau untuk membayar utang-utangnya. Di saat seorang karib tak memenuhi undangan kita, terlintas di benak jika ia seorang yang tak menghargai. Padahal di balik itu, dia mendapatkan sebuah tanggungan yang harus segera diselesaikan hari itu juga sementara ia sungkan untuk memohon izin dikarenakan penghormatannya.

Penyebab retaknya ukhwah dengan sesama salah satunya disebabkan urusan salah persepsi. Lalu melahirkan saling mencurigai dan saling bersu’udzon. Tak sengaja ketika kita menganggap seseorang berdasarkan persepsi kita maka yang terjadi adalah rasa kekecewaan terhadap semua orang. Sementara tanpa disadari hal ini juga membangkitkan rasa ego sedikit demi sedikit menjadi pribadi yang superior, tanpa cela, dan antikritik. Sampai akhirnya menganggap diri sendiri adalah segalanya. Sang manusia sempurna dan pemilik kebenaran seorang diri, atau kelompoknya semata. Betapa berbahayanya.

Jauh-jauh hari Nabi SAW mengingatkan, "Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah seduta-dustanya ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara" [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari hadits no. 6064 dan Muslim hadits no. 2563]. Pesan Nabi tidak sekadar nasihat biasa. Beliau mewanti-wanti supaya umatnya selalu menjaga diri. Betapa gelisahnya Nabi jika mengetahui ada diantara umatnya yang saling merendahkan sesama.

Berburuk sangka termasuk laku yang salah, pemantik dosa. Ketika seseorang berburuk sangka dan sangkaannya itu benar, maka sama sekali ia tak akan mendapat pahala apapun. Sementara jika ia berburuk sangka dan sangkaannya itu salah, maka pasti atasnya perbuatan dosa. Betapa tak bermanfaatnya berburuk sangka, menstigmaisasi, dan menghakimi seseorang dari apa yang sedikit pengetahuan kita tentang dia.

Bertemu dengan semua orang seharusnya menjadi cermin untuk diri kita untuk lebih baik lagi. Hal ini diawali dengan rasa saling percaya dan berbaik sangka. Ketika bertemu anak kecil, pikirkan bahwa bisa jadi ia jauh lebih baik dari kita, karena di umurnya yang sedikit, ia masih sedikit dosa dan salah. Ketika bertemu dengan orang tua, pikirkan bahwa ia jauh lebih baik dari kita, karena umurnya yang sudah sepuh, berarti ibadahnya pun jauh lebih banyak dibanding kita. Bertemu orang gila sekalipun ada kesempatan bagi kita berpikir positif, bisa jadi ia lebih baik dan lebih dulu masuk surga dibanding kita. Sebab, orang gila itu tidak dibebani syariat oleh Tuhan yang Maha Adil, sehingga ia tanpa cela. Terlebih ketika bertemu dengan manusia yang cacat fisiknya. Orang buta, tuli, bisu, bisa jadi mereka jauh lebih baik dari kita. Mereka tak pernah menggunakan inderanya untuk meliha, mendengar, dan mengucap dosa. Bukankah mereka lebih selamat di dunia dan akhirat? Lalu masihkah ada kesempatan kita merasa jauh lebih baik, lalu terbersit angkuh dan sombong, dan kemudian merendahkan manusia lainnya, bahkan kemudian menganggap bahwa pemilik kebenaran sempurna adalah sosok diri sendiri seorang? Wajarkah?

Wallahu a’lam bishawab.


Muhammad Ridha Basri, Santri-mahasiswa Lingkar Studi al-Quran (LSQ) Ar-Rahmah, Yogyakarta.

Kamis, 06 Agustus 2015

Gara-Gara Menumpang Pesawat Arus Balik

Pesawat Solo ke Jakarta bersiap akan take-off dengan membawa penumpang arus balik, tapi tertunda gara-gara Udin yang baru pertama kali naik pesawat dengan tiket ekonomi, tapi ngotot ingin duduk di kelas bisnis.
Agus yang pemilik kursi bisinis meminta kepada Udin: “Maaf pak… Ini kursi saya.”
“Panjenengan siapa…?” Tanya balik Udin
Agus: “Saya penumpang yang duduk di sini Pak!”
 “Penumpang..? Saya juga, sama-sama bayar..! Sama-sama penumpang, kenapa kau mau ngatur-ngatur saya?” ujar Udin dengan mengelak
Tak mau ribut, lalu Agus lapor ke pramugari.
Pramugari : “Maaf Pak Udin..dari tiket bapak mesti nya Bapak duduk di belakang.”
“Anda siapa?” Tanya balik Udin
Pramugari : “Saya pramugari..”
 “Pramugari itu apa?” Tanya lagi Udin
Pramugari : “Pramugari itu yang melayani penumpang.”
“Walah Jebule… pelayan toh!!! Saya kira siapa tadi, udah lah kau urus aja kerjaanmu saja, nggak usah ngatur-ngatur saya. Pokoknya saya tetap duduk di sini. Anda mau apa…??!!”
Tiga menit kemudian, Udin tiba-tiba bangkit sambil ngomel-ngomel, Udin pun pindah ke belakang. Agus merasa takjub, dia lalu bertanya kepada Pramugari.
 “Apa sih yang mbak bicarakan, kok tiba-tiba dia bisa pindah kursi?” Tanya Agus
 “Aku bilang “Bapak Udin mau kemana?”
Udin jawab “ke Jakarta”, terus Aku (pramugari) bilang “Bapak, duduknya salah, kalau ke Jakarta, duduknya di belakang, yang di depan ini turunnya di Medan!!!”