Senin, 31 Maret 2014

Menakar Janji PARPOL



Di era kampanye partai politik (parpol) saat ini, berbagai janji dan ikrar digaungkan baik yang mengatasnamakan partai politik maupun atas nama pribadi sebagai bagian dari anggota parpol itu sendiri. Dari berbagai janji yang disampaikan baik yang disuarakan langsung maupun via media cetak, penulis mengelompokkannya kepada beberapa kategori.
Pertama, janji normatif. Dalam konteks ini janji yang dikemukakan lebih pada konsep idealisme murni bahwa pendidikan merupakan ujung tombak pembangunan sebuah bangsa, bahwa hukum harus ditegakkan dan tidak pandang bulu, bahwa kesehatan adalah hak bagi setiap warga negara dan oleh karenanya harus gratis, bahwa kemiskinan masih menjadi persoalan terbesar negeri ini; Berbagai janji ini menjadi tema utama setiap adanya pemilihan, baik tingkat pusat maupun tingkat daerah. Bukan rahasia umum bahwa inilah yang selalu digaungkan oleh parpol dan oleh siapapun. Salahkah? Tentu tidak salah, hanya terkesan bahwa masih sangat-sangat jauh dari realistis di masyarakat. Tiga masalah sebagai isu sentral membangun bangsa yakni kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan pembagian pendapatan masih belum membumi (Wan Usman dkk, 2003: 36). Goal yang ingin diraih adalah bagaimana suara dapat diraup sebanyak-banyaknya dan dukungan seluas-luasnya.
Kedua, janji jargonistik. Bahwa berbagai harapan dan impian yang disampaikan tidak lebih sekedar sebuah statemen supaya lebih populis adalah bagian dari janji ini. Hanya -meminjam istilah pakar komunikasi politik, Tjipta Lesmana- apakah yang dikemukakan berkualitas tinggi (high context) atau rendah (low context). High context dimaknai sebagai satu gaya bahasa yang harus diinterprestasikan lagi, oleh karenanya untuk memahami ini diperlukan orang yang dekat dan memahami bahasa bersayap yang digunakan oleh seseorang. Sedangkan low context diartikan sebagai gaya bahasa yang siapapun dengan mudah dapat mengerti dan memahami maksud dari apa yang disampaikan. Sebagaimana istilahnya, maka jargonistik sederhananya adalah janji sebatas jargon sekedar untuk mengumpulkan massa dan menarik dukungan. Pendidikan dan kesehatan gratis, subdisi untuk desa -menurut hemat penulis- adalah dalam konteks janji ini.
Ketiga, janji realistik. Singkatnya, style ini berbuat dengan bukti nyata bukan sekedar janji normatif dan jargonistik. Menurut penulis, ada beberapa hal yang mendasari janji ini dapat direalisasikan yakni 1) adanya aktor yang berpengalaman sehingga ia mampu mengukur dan menakar dengan strategi dan steps yang realistis; 2) Kejelasan sumber dana sehingga berbuat selalu dimatchingkan dengan ketersediaan finansial yang ada, oleh karenanya kelompok ini “berbuat meskipun sedikit”; 3) Ketokohan kolektif, bahwa keberhasilan saat ini bukan karena keberhasilan adanya satu tokoh, tetapi karena banyaknya tokoh atau generasi pelapis sehingga dinamika organisasi berjalan dengan baik dan bergerak. Bukankah ada kita lihat partai yang hanya tergantung pada satu tokoh, atau dua tokoh bahkan kita lihat cukup banyak tokoh yang ada di parpol tersebut. Sedikit banyak ini memberikan pengaruh dalam menggerakan mesin organisasi.
Janji adalah hutang, dan hutang harus dibayar. Jika demikian, janji kampanye adalah juga sebuah hutang karenanya harus dibayar, tentu jika terpilih, jika tidak, maka logikanya ia tidak mesti dipenuhi, tetapi bahwa janji adalah hutang merupakan statemen yang harus dipertanggungjawabkan saat hidup dan hidup sesudah mati.
Hingga tanggal 9 April 2014, rakyat Indonesia ditaburi dengan berbagai janji, terlepas apakah ia sesuatu yang normatif, jargon atau memang real untuk diwujudkan. Namun akhirnya kita selaku pemilih yang menentukan dan oleh karenanya dalam memberikan hak suara harus cerdas, berpikir waras, agar menghasilkan manusia-manusia yang ikhlas dalam membangun negeri yang berkualitas. SEMOGA! (ASWAJA-1414)






Jumat, 07 Maret 2014

Ketika Cinta Bertahta


Cinta memang buta dan misteri. Buta karena ia tidak dapat memandang siapapun dan dimanapun, manakala ia telah meluncurkan anak panahnya maka ia akan tertancap kepada sasarannya hanya sejauh mana pengendalian diri yang menjadi rem-nya. Dikatakan misteri karena siapapun tidak dapat memperkirakan dimana, dengan siapa panah itu akan menancap. Misteri karena ia adalah persoalan hati. Ada tiga hal yang tidak dapat dibeli dengan uang yakni cinta kasih, persahabatan dan tidur nyenyak. Dalam konteks inilah tulisan ini disajikan kepada pembaca.
Bicara cinta adalah bicara berbagai kemungkinan, dengannya kemungkinan memacu adrenalin, emosi dan prestasi seseorang atau sebaliknya meletakkan seseorang tidak berfikir rasional, tidak fokus kepada aktifitas keseharian yang ada adalah fokus kepada persoalan cinta. Jika demikian halnya, maka cintalah yang mendasari aktifitas seseorang. Suami yang rela bekerja berangkat pagi dan pulang sore untuk menghidupi isteri adalah dilandaskan pada cinta. Seorang ayah dan ibu yang bekerja dapat dipastikan untuk bersama-sama bekerja demi buah hati terkasih. Seorang kekasih akan cenderung berbuat lebih untuk kekasih hatinya. Samudera luas akan kuseberangi, lautan dalam akan kuselami, gunung tinggi akan kudaki, demikian kira dahsyatnya cinta.
Term cinta punya kedekatan dengan kata kasih. Kata yang disebut terakhir ini menurut Ibnu Faris (dalam Quraish Shihab, 2003:18) berasal dari kata yang terdiri dari huruf-huruf Ra¯ ' Ha¯' dan Mim yang mengandung makna “kelemahlembutan, kasih sayang dan kehalusan”. Dalam al-Quran kata ar-Rahim diulang sebanyak 95 kali (Quraish Shihab, 2003:15). Kata ini juga telah masuk dalam perbendaharaan bahasa Indonesia. Orang yang memiliki cinta kasih dapat dipastikan ia akan bersikap lemah lembut, mengasihi dan memperlakukannya dengan halus dan sayang. Menurut Quraish Shihab, orang yang memiliki sifat cinta dan kasih ini pada hakikatnya merupakan sikap untuk menuruti sifatnya Allah SWT. Meskipun demikian, karena ada pada manusia sifat ini bisa saja dijadikan sarana oleh iblis untuk membelokkannya ke arah yang tidak baik. Bisa saja atas nama cinta adanya free sex; atas nama cinta perilaku korupsi merajalela, korupsi adalah sebuah tindakan dari sebuah cara memahami cinta yang keliru, yang bukan miliknya sebagai miliknya; atas nama cinta pergaulan bebas muda-mudi tidak terkontrol dan bisa saja atas nama cinta perkawinan sebelum waktunya (married by accident).
Sekali lagi, cinta memang dahsyat dan misteri. Ketika ia telah bertahta dalam hati seseorang, maka rasa ini tak akan segan dan ragu mencurahkannya tanpa membedakan suku, ras atau agama maupun tingkat keimanan. Ia akan menjadi bagai matahari yang tidak kikir atau bosan memancarkan cahaya dan kehangatannya kepada siapapun dan di manapun. Kalaupun terdapat perbedaan dalam perolehan cahaya dan kehangatan maka itu lebih banyak disebabkan oleh posisi penerima bukan posisi pemberi, karena matahari selalu konsisten dalam perjalanannya dan memiliki aturan atau hukum-hukum yang tidak berubah.
Sepertinya tidak berlebihan jika disebutkan bahwa karena dahsyatnya cinta dan ia telah bertahta dalam hati seseorang, maka cara berfikir yang rasionalpun cenderung dinafikan. Tetapi bukankah memang cinta dan dicintai semua orang yang menjadi obsesi kita semua. Hanya cinta yang dapat mengendalikan berbagai kecamuk yang terjadi, hanya kasih yang dapat mengurangi kekerasan yang melanda dan hanya spirit cinta yang dapat membuat kita tetap memiliki semangat hidup. Kiranya harus sering dan tepat jika kita lantunkan permohonan kita yang berbunyi: anugerahkan kepada kami ilmu yang bermanfaat, hiasi kami dengan kelembutan kasih dan sayang dan tetapkan kami untuk tetap memiliki sifat saling mendamaikan diantara kami.
Semoga** (6 3 14)

Selasa, 04 Maret 2014




NEGERI PARADOKS


Sejarah Masa Lalu
Setiap peradaban akan memunculkan simbol-simbol kejayaan dan lambang kemakmuran. Jika saat ini simbol kemakmuran dan kejayaan berkiblat ke dunia Barat dengan dikomandani oleh Amerika Serikat -sepertinya tidak dikatakan modern jika tidak mengacu ke sana- namun kemudian sejarah pula menunjukkan kepada kita akan adanya peralihan simbol kejayaan yang tidak hanya didominasi oleh Barat, munculnya kekuatan Jepang, China dan Korea Selatan dengan segala produk dan karyanya seakan sedikit demi sedikit meruntuhkan adagium seperti yang penulis sebutkan di awal tulisan ini.
Sepertinya sudah merupakan hukum alam bahwa kejayaan dan keruntuhan suatu negeri akan digilirkan kepada siapa yang mampu menangkap sinyal-sinyal dan peluang kemajuan. Kemampuan menangkap peluang adalah ciri dari cerdasnya sebuah bangsa (baca:individu-individu) untuk mengangkat dan mencitrakan dirinya sebagai bangsa yang akan maju.
Jika kita lihat jauh ke belakang, sejarah mencatat adanya peradaban-peradaban yang mendunia bahkan ia dijadikan sebagai 'ibrah atau pelajaran bagi bangsa-bangsa saat ini. Hal ini direkam jelas jejak dan simbol kejayaannya. Al-Quran menyebutkan dalam surat yang berbeda dengan makna yang sama tentang sikap manusia yang berbuat sebagai bentuk perlawanan terhadap hukum alam, merasa paling super dan tidak pandai bersyukur, mendustakan kebenaran dan selanjutnya meremehkan siapapun yang dianggap tidak seia-sekata dengan konsep yang diusungnya. Namun dengan sikapnya yang demikian, justru mendekatkan mereka kepada kehancuran. Hal ini dengan jelas disebutkan bagaimana kaum Nuh, kaum 'Ad, kaum Tsamud dan penduduk Rass dihancurkan dengan sehancur-hancurnya (Q.S. Al-Furqan:37-39). Bagaimana 'ibrah yang ditunjukkan dengan sejarah runtuhnya bangunan-bangunan tegak dan gagah berdiri, istana-istana yang tinggi yang dibangun oleh individu-individu yang cerdas namun zalim dan mendustakan kebenaran namun akhirnya dibinasakan. Pertanyaan retorika kemudian disampaikan bahwa hal itu terjadi bukan karena mereka tidak bisa melihat dengan mata dan mendengar dengan panca indera, yang menyebabkan demikian karena bangsa-bangsa di kala itu tidak melihat dengan mata hati. Yang buta bukan mata panca indera tapi mata hati (ta'mal qulub). (Q.S. Al-Hajj:42-46). Al-Quran juga mengisahkan bagaimana sebuah negeri yang dikuasai oleh orang-orang yang bermental Qarun, Fir'aun, dan Haman. Meskipun telah nyata kebenaran yang didatangkan namun karena enggan menerima kebenaran tersebut maka kepada mereka ditimpakan hujan batu kerikil, suara petir yang menggelegar, ada yang ditenggelamkan ke dalam bumi. (Q.S. Al-Ankabut:39-40).

Negeri Kaya dengan Sumber Daya Alam (SDA)
Indonesia, satu negara yang tidak disebutkan dalam al-Quran, tidak ditemukan ayat yang menyebutkan negeri ini, tetapi kayanya sumber daya alam, banyaknya limpahan karunia bahkan tancapan kayu jadi tanaman menjadikannya negeri seakan surga dunia yang tidak pernah berhenti dan habis memberikan kekayaan alamnya. Kita lihat saja bagaimana negeri ini merupakan penghasil timah nomor wahid di dunia; penghasil 80% minyak di Asia Tenggara; 397 jenis burung hanya dapat ditemukan di Indonesia; memiliki 1.400 jenis ikan air tawar (hanya dapat disaingi oleh Brazil) dan masih banyak lagi keunggulan negeri ini yang tidak dimiliki negara lain di dunia ini.
Tetapi melihat kenyataan yang ada seakan terbalik, bagaimana korupsi di negeri ini sungguh-sungguh menggerogoti penghuninya, Transparency International menyebutkan Indonesia sebagai negara ke-enam terkorup di dunia setelah Kenya. Data menunjukkan bahwa dari 247 juta jiwa penduduk negeri ini, setengahnya adalah mereka yang hidup di lingkungan kemiskinan.
Sebagai bagian dari anak negeri ini, kita sedih, prihatin dan sekaligus malu. Kekayaan alam yang dimiliki seakan bukan membawa negeri ini kepada kemakmuran, seperti semakin jauh dari keadilan. Yang jelas dan mudah disaksikan adalah tontonan kemiskinan, tatapan kosong dari harapan, dann lemahnya penegakan hukum.
Bila dikaitkan dengan pembahasan di awal tulisan, akankah negeri ini menjadi negeri yang sebagaimana telah disebutkan dalam al-Quran, kaya SDA, banyak orang pintar tapi tidak benar, negeri yang seluruh dunia memperebutkannya persis seperti makanan empuk di meja hidangan, enak dan menggiurkan.
Kiranya negeri yang disebut dengan surganya dunia ini, para pengelola negara ini mulai dari tingkat pusat hingga masyarakat akar rumput perlu merenung dan memahami dengan ikhlas dan siap mewujudkan makna dalam keseharian bahwa rezeki berlimpah dikarenakan penduduknya yang pandai berterimakasih. Bahwa Tuhan tidak sama sekali menzalimi manusia tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.**




Senin, 03 Maret 2014







Berani Bicara, Pandai Bicara dan Banyak Bicara


Setiap manusia memiliki potensi dan skill yang perlu ditumbuhkembangkan. Lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat menjadi lingkungan yang sangat mempengaruhinya (Moh. Haitami Salim dan Syamsul Kurniawan, 2012:261). Salah satu potensi yang harus terus diasah dengan asih adalah kemampuan bicara. Sederhana dan mudah kedengarannya tetapi kita sering menyaksikan yang menunjukkan ternyata ada orang-orang yang bermasalah dalam hal bicara ini. Tidak sedikit orang-orang yang sulit untuk menyampaikan informasi lewat lisannya dan meskipun ia membaca tetapi tidak mampu mentransfer info yang baru diterimanya.
Berbicara hakikatnya adalah kemampuan seseorang untuk mengkomunikasikan apa yang perlu untuk disampaikan. Sebagai sebuah sarana untuk menyampaikan informasi maka berbicara sebenarnya sebuah art atau seni baik dalam mengimprov kata-kata maupun dengan menggunakan bahasa tubuh (body language) sehingga dikenal dengan adanya seni berbicara. Kata-kata yang kedengarannya biasa tapi disampaikan dengan ekspresi serta intonasi yang berbeda ditambah dengan bahasa tubuh yang meyakinkan maka akan menimbulkan reaksi yang berbeda. Contoh, kata “keluar” dengan ekspresi kening berkerut dan mata agak mengecil, dapat diperkirakan yang terjadi adalah komunikasi untuk sebuah pertanyaan. Beda halnya dengan kata “keluar” disampaikan dengan mata melotot dan suara menggelegar dan membentak, dapat dipastikan emosi marah sedang memuncak.
Nabi Muhammad SAW adalah contoh manusia yang pandai menempatkan kapan beliau harus bicara dan siapa yang jadi lawan bicara. Sebagai contoh dari kemampuan Nabi Muhammad mengungkapkan kata-kata dan bentuk penghargaan kepad lawan bicara adalah ketika Jibril as menemui beliau dan bertanya kapan kiamat itu datang, Nabi menjawab, “Bahwa yang bertanya dan yang ditanya sama-sama tidak mengetahui”. Ini bentuk pelajaran yang punya makna dalam. Dari contoh di atas, apa yang berbeda. Yang berbeda adalah tempo dan ekspresi yang menyertainya. Sosok seperti halnya Bung Karno, Fidel Castro, Zainuddin MZ adalah sebagian kecil contoh orang-orang yang memiliki keahlian dalam berbicara. Mereka adalah orang-orang yang berani bicara dan pandai bicara, bukan kategori orang yang terlalu banyak bicara. Terlepas apakah mereka menyampaikannya -meminjam istilah Pakar Komunikasi Politik, DR. Tjipta Lesmana- secara high context maupun low context. High context secara harfiah diartikan bicara dengan bahasa tinggi, gaya bicayara ini difahami sebagai bahasa yang multitafsir, perlu difahami berulang-ulang dan bahasanya “bersayap” namun ada celah salah tafsir. Pak Harto adalah contoh tokoh dunia yang dimiliki Indonesia yang sering berbicara dengan style ini. Oleh karena itu, para pendamping dan ajudan beliau harus mampu memahami dan menangkap sinyal dari bahasa bersayap beliau.
Sementara low context bermakna penyampaikan bahasa dengan gaya yang mudah difahami, bahasanya jelas, to the point, tidak multi tafsir namun seketika itu juga orang yang dimaksud dapat dipastikan akan sangat tersinggung, malu atau malah tersanjung. Bung Karno dan Habibie contoh jelas dengan style ini.
Tokoh-tokoh yang disebutkan di atas adalah sosok yang berani bicara dan pandai bicara. Persoalan akan muncul manakala ada orang dengan tipe terlalu banyak bicara. Jika berani bicara diartikan sebagai sebuah sikap gentleman, mau dan mampu menyampaikan; sementara jika pandai bicara diartikan sebagai orang yang pandai bermain kata (apology) dan mengimprove apa yang disampaikannya, namun orang yang terlalu banyak bicara dapat disikapi sebagai berikut: Pertama, ia adalah tipe orang ingin selalu didengar dan tidak mau mendengar; kedua, ia tipe orang dengan sifat ekstrovert yakni dengan jiwa yang terbuka, tidak bisa menyimpan sesuatu yang sifatnya rahasia meskipun ia cenderung sosial dan banyak teman. Bahayanya tipe terakhir ini adalah -meminjam istilah anak-anak sekarang, tipe EMBER- tidak mampu menempatkan sesuatu yang semestinya diletakkan dan lemah dalam hal pengendalian diri.
Tipe apakah kita? Setidaknya sebagai rem kita adalah, yang baik adalah yang bicara yang baik, berbobot dan pandai menempatkan kapan harus bicara. Banyak bicara justru akan menjadikan bumerang bagi si pembicara. Lidah tidak bertulang tapi dampaknya luar biasa. Lidah hanya satu tapi dampaknya bisa ke 1000 orang! Semoga.**
------------------------
Penulis, Mhs Pascasarjana STAIN Pontianak.