Sabtu, 12 Desember 2015




Revolusi Mental dengan 3M
(Tulisan 13.12.15)



Revolusi mental menjadi agenda besar bagi pemerintahan saat ini. Meskipun sebenarnya secara substansi, spirit ini telah digelorakan oleh founding fathers negeri ini, Sukarno-Hatta bersama tokoh pergerakan lainnya, diteruskan oleh pemimpin berikutnya hingga ke era sekarang. Tentu dengan secara sadar setiap kepemimpinan ada yang mencari skala prioritasnya dalam melaksanakan pembangunan di negeri ini. Satu hal yang harus dicatat adalah bahwa revolusi mental harus selalu digerakkan, bukan hanya digaungkan. Karena untuk sebuah perubahan sekedar niat saja tidaklah cukup. Dan manusia, komunitas kecil bahkan untuk lingkungan yang lebih luas lagi tidak hanya dinilai dari niatnya saja, melainkan juga dari hasil karyanya, sejauh mana ia terwujud dalam kenyataan.
Membincang revolusi mental sesungguhnya berarti berbicara tentang karakter bangsa ini dengan segala sumber daya yang dimiliki baik sumber daya alam (SDA) maupun sumber daya manusia (SDM). Kekayaan alam yang berlimpah luar biasa, dengan keanekaragamana hayati yang unik di dunia, dengan jumlah pendudukan terbesar keempat setelah China, India dan Amerika Serikat dan sebagainya menjadikan negeri ini incaran bagi yang berkepentingan. Ditambah lagi  Bank Dunia mengatakan ekonomi Indonesia sudah masuk 10 besar dunia, jauh lebih awal dari perkiraan pemerintah SBY yang memprediksi baru terjadi tahun 2025. Di bidang politik, masyarakat sudah banyak menikmati kebebasan serta hak-haknya dibandingkan sebelumnya, termasuk di antaranya melakukan pergantian pemimpinnya secara periodik melalui pemilu yang demokratis. Tetapi kita prihatin jika melihat kualitas SDM negeri ini yang sepertinya setiap ditontonkan dengan gaya hidup yang serba “wah”, penumpukan kekayaan yang sangat kentara, penggunaan wewenang dan jabatan yang aji mumpung, belum lagi kasus korupsi dari orang-orang yang tidak disangka yang menjadi tersangka. Jika sudah demikian halnya, bukan kekayaan yang melimpah menjadi ukuran keberhasilan sebuah negeri tetapi sejauh mana human resources mampu berperan aktif. Rhenald Kasali dalam bukunya Re-Code, Your Change DNA (2007) mengatakan bahwa perubahan pada dasarnya bukanlah menerapkan teknologi, metode, struktur atau manajer-manajer baru. Perubahan pada dasarnya adalah mengubah cara manusia dalam berpikir dan berperilaku.
Mengubah karakter dan mindset adalah pekerjaan sulit, namun akan selalu ada kesempatan untuk melakukan itu, sulit bukan berarti tidak boleh dikerjakan, adanya komentar sinis, meremehkan akan selalu ada. Anjing menggonggong kafilah berlalu, demikian kira-kira yang menjadi slogan untuk terus berkarya dan berkarya. Adanya keinginan untuk berubah ke arah lebih baik harus menjadi agenda diri setiap manusia Indonesia.
Darimana kita memulai?
Konsep 3M yang dipopulerkan KH. Abdullah Gymnastiar sepertinya tetap relevan untuk diajukan, perubahan itu harus 1) Mulai dari diri sendiri; 2) Mulai dari hal-hal terkecil dan 3) Mulai  saat ini.
1) Mulai dari diri sendiri
Mengawali dari diri sendiri tidak dengan menunggu orang lain, menjadi kata kunci keberhasilan sebuah perubahan yang diinginkan. Bukankah masyarakat kecil terdiri dari keluarga-keluarga dan keluarga-keluarga terdiri dari individu-individu. Jika yang ada adalah individu-individu yang tercerahkan, maka terjadinya perubahan mental dan pola pikir satu saat akan tiba. Jika kita tidak terpancing dengan kondisi yang ada maka  kita tetap menjadi “emas” di tengah lumpur hitam. Kata yang menarik untuk mendefinisikan “Pemenang Kehidupan” adalah mereka yang tindakannya tidak dipengaruhi oleh tindakan orang lain kepada kita. Kalau mereka melakukan hal yang buruk, kita akan membalasnya dengan hal yang lebih buruk lagi. Kalau mereka tidak sopan, kita akan lebih tidak sopan lagi. Kalau orang lain pelit terhadap kita, kita yang semula pemurah tiba-tiba jadi sedemikian pelit kalau harus berurusan dengan orang itu. Coba renungkan. Mengapa tindakan kita harus dipengaruhi oleh orang lain? Mengapa untuk berbuat baik saja, kita harus menunggu diperlakukan dengan baik oleh orang lain dulu? Jaga suasana hati. Jangan biarkan sikap buruk orang lain kepada kita menentukan cara kita bertindak! Pilih untuk tetap berbuat baik, sekalipun menerima hal yang tidak baik.
Ringkasnya “Pemenang kehidupan” adalah orang yang tetap sejuk di tempat yang panas, yang tetap manis di tempat yang sangat pahit, yang tetap merasa kecil meskipun telah menjadi besar, serta tetap tenang di tengah badai yang paling hebat. Perubahan tidak mesti menunggu orang lain tapi kadang moment dan adanya leader yang menyatukannya. Apatah lagi jika leader itu adalah kita sendiri dan kita yang menciptakan momentnya.
2) Mulai dari hal-hal terkecil
Sebuah kata motivasi menegaskan kepada kita, setiap langkah yang terus maju selalu diawali dari langkah-langkah kecil. Orang yang besar tidak dengan sendirinya langsung menjadi besar, salah satunya karena ia peduli dengan hal-hal yang kecil. Peduli dengan hal-hal yang kecil dengan tidak mengabaikannya  adalah satu karakter  yang penting untuk membuat perubahan besar.
Gladwell (Rhenald Kasali, 2007: 178) menyebutkan empat kaidah untuk membuat perubahan yang satu diantaranya adalah Hukum tentang Kegaduhan Suara: Jangan abaikan hal-hal kecil. Teori ini dapat diilustrasikan dengan kegaduhan dalam kelas saat berlangsungnya proses belajar mengajar. Jika ada satu dua siswa yang bicara tidak terarah atau gaduh tanpa dipedulikan oleh gurunya, maka suara gaduh itu akan bertambah banyak karena siswa yang membuat gaduh pertama kali tidak dihiraukan dan diabaikan oleh guru, akhirnya memancing kegaduhan lainnya. Langkah preventifnya adalah jika telah kedengaran satu atau dua siswa yang tidak terarah dan gaduh, maka sebaiknya untuk segera ditangani. Banyak orang orang yang tidak menyadari bahwa setiap kerusakan nilai selalu dimulai dari hal-hal kecil. Mulai dari hal-hal terkecil akan membuat kita terbiasa menata yang lebih besar.
3) Mulai saat ini
Mario Teguh pernah berujar, gejolak untuk menunda pekerjaan itu lebih besar dari hasrat untuk segera melakukan sebuah pekerjaan. Dan itulah permasalahan terbesar bagi orang yang terbiasa menunda pekerjaan. Keinginan kita berbuat baik kadang dikalahkan oleh sikap kita yang menunda-nunda, nantilah, kapan-kapan saja, itulah kata-kata yang sering diucapkan bagi orang yang terbiasa menunda. Bagaimana jika itu juga menjadi kebiasaan kita tatkala bicara kematian? Dalam konteks dengan revolusi mental, sikap ini jelas sikap yang tidak efektif untuk menyongsong dan menyikapi globalisasi. Tidak ada kata lain, jika ingin terjadi pencerahan bagi kita, maka mulailah saat ini. Waktu yang 24 jam sehari semalam, dengan potensi yang ada, jika di sekolah, siswa diberi waktu belajar yang sama, dengan mata pelajaran yang sama, dengan guru yang sama, dengan kurikulum yang sama, mengapa hasil akhirnya beda? Salah satunya adalah karena adanya warga sekolah yang tidak ingin menunda-nunda sebuah pekerjaan.

Mudah-mudahan bermanfaat**

Senin, 02 November 2015

 Tafakkur sebagai Ciri Manusia Cerdas

öqs9 $uZø9tRr& #x»yd tb#uäöà)ø9$# 4n?tã 9@t6y_ ¼çmtF÷ƒr&t©9 $Yèϱ»yz %YæÏd|ÁtFB ô`ÏiB ÏpuŠô±yz «!$# 4
šù=Ï?ur ã@»sVøBF{$# $pkæ5ÎŽôØtR Ĩ$¨Z=Ï9 óOßg¯=yès9 šcr㍩3xÿtGtƒ
Kalau sekiranya kami turunkan al-Quran ini kepada sebuah gunung,
pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah.
dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.
(QS. al-Hasyr/59:21)


Dalam Kamus al-Munawir disebutkan tafakkur berakar dari kata fakkaro yang berarti memikirkan, mengingatkan dan dan terkenang. Tafakkur juga dapat diartikan dengan ta'ammal artinya pertimbangan, memberi perhatian, memikir dan mengkaji. Husein bin Awang dalam karyanya Kamus al-Thulab, Arab-Melayu mengartikan hal tidak jauh berbeda yakni tafakkur berarti memikirkan dan menimbang.
Sedangkan secara terminologi, tafakkur diartikan sebagai proses merenung dan memikirkan  ciptaan Allah SWT di langit dan di bumi dan mengarahkan akal untuk senantiasa mengagungkan dan memuliakan sifat-sifat-Nya.
Dalam al-Quran Allah SWT menuntut kita untuk bertafakkur dengan 18 kali tuntunan, 13 kali dalam ayat-ayat Makkiah dan lima kali dalam ayat-ayat Madaniah. Lebih banyaknya di kota Makkah mengingat di masa inilah era dimulainya dakwah Islam, era memahami dan mempertebal keyakinan kepada Allah SWT dan di era inilah peletakkan nilai-nilai dasar seorang muslim. Dan dampaknya luar biasa yakni munculnya kader-kader dakwah di masa Rasulullah yang sabar, teguh hati dan tegar dalam menghadapi serangan dan intimidasi kaum kafir Quraisy.
Menurut hemat penulis, setidaknya ada tiga pemahaman yang dapat dikemukakan berkaitan dengan terminologi tafakkur ini yakni pertama, tafakkur adalah sebuah proses berfikir. Manusia ada dan terus berkembang karena diberikan kemampuan yang satu ini dan ini yang membedakannya dari makhluk lainnya. Manusia yang lemah adalah yang malas berfikir dan bertindak. Dan artinya juga, manusia yang cerdas adalah yang mampu memaksimalkan kemampuan berfikirnya dengan dilandaskan pada kebesaran Tuhannya dan mampu menangkap sinyal-sinyal kehidupan. Adam Khoo dan Stuart Tan (2013: 2) dalam bukunya Master Your Mind Design Your Destiny menyebutkan bahwa setiap kita saat dilahirkan memiliki sumber daya paling kuat dan berpengaruh yaitu otak dan tubuh. Jika otak dan tubuh digunakan dan dijalankan secara efektif, sumber daya internal  ini akan memungkinkan munculnya suplemen sumber daya fisik eksternal yang dibutuhkan untuk meraih tujuan.
Kedua, yang difikirkan dan direnungkan adalah hasil ciptaan Allah SWT dan bukan Zat yang menciptakan. Ibnu Abbas berkata bahwa ada beberapa orang yang mendalami ilmu agama dengan fokus pada Zat Allah. Lantas Rasulullah SAW bersabda “Pikirkanlah tentang ciptaan Allah dan janganlah memikirkan Zat Allah” (HR. Abu Nu'aim dan Baihaqi).  Keterbatasan manusia adalah jawaban intinya. Ketiga, bahwa akal sebagai media yang diciptakan Allah untuk kemajuan manusia tidak boleh lepas dari kerangka untuk mengagungkan dan memuliakan-Nya. Hal ini senada dengan makna wahyu pertama yang diturunkan yakni QS. Al-'Alaq: 1-5. Perintah membaca (berfikir, berilmu) harus berlandaskan pada nama Tuhan (Iqra' bismi robbika), dan harus memuliskan nama-nama-Nya (Iqra' warobbukal akrom).
Malik Badri, seorang Psikolog Islam, mengelompokkan tafakkur kepada tiga hal yakni tafakkur alam, tafakkur diri dan tentang ketentuan Allah SWT (sunnatullah). Perjalanan hidup manusia dari tiada menjadi ada, bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua dan bahkan kematian itu sendiri hendaknya mampu menjadikan kita dapat berfikir cerdas dan waras. Sayang sekali jika waktu yang terus bergulir, umum yang terus bertambah ternyata tidak membuat kita memiliki nilai plus baik dihadapan manusia terlebih lagi dalam pandangan Allah SWT. Banyak diantara kita yang hanya mengartikan ujian hanya untuk orang-orang miskin dan papa, namun sebenarnya kekayaan dan popularitas hakikatnya adalah juga ujian. Ringkasnya hidup dan mati adalah ujian Allah untuk melihat kita siapa di antara kita yang tergolong ahsanu 'amala (QS. Al-Mulk:2).
'Aun bin Abdullah ra berkata, ditanya Ummu Darda', apakah amalan yang paling afdhal yang pernah diamalkan Abu Darda' ra. Jawab Ummu Darda': at-tafakkur wal i'tibar (berfikir dan mengambil pelajaran). Orang yang cerdas adalah orang yang tidak terjebak dua kali dalam lubang yang sama. Kemampuan mengambil pelajaran dari pengalaman yang ada harus menjadikan kita mampu merancang strategi dalam bertindak, terarah dalam berbuat dan berbobot dalam berfikir. Kematian sebagai sebuah kepastian adalah pelajaran yang sangat penting dalam konteks mencerdaskan manusia dan sekaligus mencerahkan ruhani manusia. Yang dulunya bersahabat, tegur sapa bahkan bergaul akrab keseharian bila telah tiba saatnya maka akan tinggal kenangan. Maut menjemput akan memutus semua mata rantai kehidupan. Yang masih hidup terus beraktifitas dan yang telah wafat mempertanggungjawabkan segala aktifitasnya.
Merenungkan dari masa asal kita, apa aktifitas kita dan apa tujuan kita hidup adalah sejumlah pertanyaan yang harus kita sikapi dengan cara tafakkur dan tadabbur.

Semoga.**

Syukur
Éb>u ûÓÍ_ôãÎ÷rr& ÷br& tä3ô©r& štFyJ÷èÏR ûÓÉL©9$# |MôJyè÷Rr& ¥n?tã 4n?tãur žt$Î!ºur
 ÷br&ur Ÿ@uHùår& $[sÎ=»|¹ çm8|Êös? ÓÍ_ù=Åz÷Šr&ur y7ÏGpHôqtÎ/ Îû x8ÏŠ$t7Ïã šúüÅsÎ=»¢Á9$#

"Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu
yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku
dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai;
dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh".
(QS. an-Naml/27: 40)


Dalam al-Quran, banyak ditemukan ayat yang berbicara tentang syukur. Diantaranya dalam QS. al-Baqarah/2:152 yang berbunyi:
þÎTrãä.øŒ$$sù öNä.öä.øŒr& (#rãà6ô©$#ur Í< Ÿwur Èbrãàÿõ3s? ÇÊÎËÈ
Artinya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
Juga dapat ditemukan dalam QS. an-Nisa/4:147, QS. ali Imran/3: 145, QS. al-A’rof/7: 17, QS. Saba/34: 13 dan QS. an-Naml/27: 40.
Menurut Quraish Shihab (2003: 175), syukur berarti “puji”, ini bermakna juga bahwa pujian terhadap yang terpuji baru menjadi wajar bila yang terpuji melakukan sesuatu yang baik secara sadar dan tidak terpaksa. Apa yang baik dari manusia (anda atau orang lain) pada hakikatnya adalah dari Allah semata. Jika demikian, pujian apapun yang disampaikan akhirnya kembali kepada Allah SWT. Oleh karena itu kita diajarkan oleh-Nya untuk mengucapkan “alhamdulillah”.
Syukur juga mengandung arti “menggunakan anugerah Ilahi sesuai tujuan penganugerahannya”. Apa yang menjadi keinginan si pemberi dan kemudian digunakan sebagai yang dikehendaki, itulah makna syukur. Makna syukur dapat digambarkan sebagai berikut: Saya memberi saudara sehelai kain sarung, kemudian kain sarung itu saudara gunakan untuk sholat, menghadiri majlis taklim dan sebagainya. Itulah syukur. Dihari lain saya memberi saudara baju kemeja dengan harapan digunakan sebagaimana mestinya, ternyata yang saya lihat, baju kemeja yang diberi digunakan untuk ngelap  motor, membersihkan dinding dan sebagainya. Contoh kedua ini tidak masuk kategori syukur yang dimaksudkan agama. Dengan demikian, syukur adalah menggunakan pemberian siapapun sesuai dengan tempatnya sebagaimana keinginan si pemberi. Mudah-mudahan kita menjadi hamba yang pandai bersyukur.
Atas nikmat yang Allah berikan, kita diperintahkan untuk bersyukur. Jika bersyukur maka Allah SWT akan menambahkan nikmat-Nya untuk hambanya namun jika sebaliknya, dengan tegas Allah SWT memaklumatkan bahwa orang yang tidak bersyukur sesungguhnya azab Allah SWT sangat pedih. Dinyatakan:
øŒÎ)ur šc©Œr's? öNä3š/u ûÈõs9 óOè?öx6x© öNä3¯RyƒÎV{ ( ûÈõs9ur ÷LänöxÿŸ2 ¨bÎ) Î1#xtã ÓƒÏt±s9 ÇÐÈ
Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim/14: 7).
Orang yang berterimakasih kepada manusia hakikatnya ia juga bersyukur kepada Allah SWT. Dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah haditsnya:
لَايَشْكُرُ اللهَ مْنَ لاَ يْشُكُرُ النَّاسَ (رواه ابوداود)
Artinya: “Tidaklah bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterimakasih terhadap sesama”. (HR. Abu Daud).
Pertanyaan selanjutnya, mengapa kita bersyukur? Dalam al-Quran disebutkan sesungguhnya segala kebaikan dan kenikmatan yang ada pada kita adalah karunia dari Allah SWT. Dinyatakan:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ

Artinya: “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)…” (QS. An-Nahl/16: 53)
Betapa melimpahnya kenikmatan yang Allah SWT berikan kepada kita, yang tidak terhingga jumlahnya. Allah memberikan kita kehidupan, kesehatan, makanan, minuman, pakaian dan begitu banyak nikmat yang lainnya. Dari tiada, kemudian ada dan menikmati segala fasilitas yang ada namun akhirnya kita kembali kepada tiada. Kembali kepada tiada dengan membawa segala amal selama hidup di dunia.
Jika kita berusaha menghitung nikmat yang Allah karuniakan kepada kita, niscaya kita tidak akan mampu menghitungnya. Disebutkan dalam al-Quran:
وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا
Artinya: “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (QS. An-Nahl/16: 18).
Faktor yang mengharuskan kita bersyukur, coba kita cermati dan renungkan betapa banyak saudara kita, teman bahkan orang yang kita cintai yang telah mendahului kita, dan inilah makna dari ucapan yang diajarkan tatkala kita memasuki lokasi pemakaman dengan ucapan: وَاِنَّ اِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَحِقُوْنَ , meskipun sebenarnya malaikat maut sudah sering ngirim sms ke makhluknya. Apa SMS malaikat maut? Jike uban udah betabur, gigi banyak yang gugur, mate udah pada kabur, makan cume makan bubur, jalan udah maju mundur, ndak lama lagi dekat lubang kubur. Jika tanda-tanda ini sudah ada, kematian sudah dekat. Namun, hakikatnya kematian adalah kepastian yang misteri. Pasti, karena ia pasti menemui semua makhluk. Misteri, karena tidak ada satupun yang tahu kapan ia datang. Kita bersyukur karena masih diberikan izin oleh Allah untuk melanjutkan kehidupan di dunia ini. Mudah-mudahan Allah SWT mengakhirkan hidup kita dalam keadaan husnul khatimah (baik akhirnya).
Syukur diajarkan oleh Allah SWT dengan cara kita meneladani salah satu asma Allah SWT yaitu asy-Syakur. Asy-Syakur secara bahasa berasal dari kata “syakara” yang berarti pujian atas kebaikan.  Allah asy-Syakur, artinya allah menghargai dan memberi balasan atas seluruh amal kebaikan hamba-Nya. Allah SWT memberi balasan pahala yang banyak dan berlipat ganda atas ketaatan dan ibadah yang sedikit.
Ibnu Qudamah rahimahullah, “Syukur (yang sebenarnya) adalah dengan hati, lisan dan anggota badan”. Syukur dengan hati adalah 1) Mengakui dan meyakini bahwa nikmat tersebut semata-mata datangnya dari Allah SWT dan bukan dari selain-Nya. Meskipun bisa jadi kita mendapatkan nikmat itu melalui profesi kita, teman kita, aktivitas jual beli, bekerja atau yang lainnya, semuanya itu adalah hanyalah perantara untuk mendapatkan nikmat. Hakikatnya, semua nikmat apapun dia, dari siapapun dia dan apapun bentuknya sebenarnya adalah dari Sang Pemberi Rezeki, Allah SWT.; 2) Mencintai Allah SWT yang telah memberikan semua nikmat itu kepada kita; 3) Meniatkan untuk menggunakan nikmat itu di jalan yang Allah SWT ridhai.

Sementara syukur dengan lisan adalah memuji dan menyanjung Dzat yang telah memberikan nikmat tersebut pada kita. Berlama-lama zikir dan tafakkur dalam  rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Syukur dengan anggota badan adalah menggunakan nikmat tersebut untuk mentaati Dzat yang kita syukuri yaitu Allah SWT dan menahan diri agar jangan menggunakan kenikmatan itu untuk bermaksiat kepada-Nya.**