Revolusi
Mental dengan 3M
(Tulisan 13.12.15)
Revolusi mental menjadi agenda
besar bagi pemerintahan saat ini. Meskipun sebenarnya secara substansi, spirit
ini telah digelorakan oleh founding fathers negeri ini, Sukarno-Hatta bersama
tokoh pergerakan lainnya, diteruskan oleh pemimpin berikutnya hingga ke era
sekarang. Tentu dengan secara sadar setiap kepemimpinan ada yang mencari skala
prioritasnya dalam melaksanakan pembangunan di negeri ini. Satu hal yang harus
dicatat adalah bahwa revolusi mental harus selalu digerakkan, bukan hanya
digaungkan. Karena untuk sebuah perubahan sekedar niat saja tidaklah cukup. Dan
manusia, komunitas kecil bahkan untuk lingkungan yang lebih luas lagi tidak
hanya dinilai dari niatnya saja, melainkan juga dari hasil karyanya, sejauh
mana ia terwujud dalam kenyataan.
Membincang revolusi mental sesungguhnya
berarti berbicara tentang karakter bangsa ini dengan segala sumber daya yang dimiliki
baik sumber daya alam (SDA) maupun sumber daya manusia (SDM). Kekayaan alam
yang berlimpah luar biasa, dengan keanekaragamana hayati yang unik di dunia,
dengan jumlah pendudukan terbesar keempat setelah China, India dan Amerika
Serikat dan sebagainya menjadikan negeri ini incaran bagi yang berkepentingan.
Ditambah lagi Bank Dunia mengatakan
ekonomi Indonesia sudah masuk 10 besar dunia, jauh lebih awal dari perkiraan
pemerintah SBY yang memprediksi baru terjadi tahun 2025. Di bidang politik,
masyarakat sudah banyak menikmati kebebasan serta hak-haknya dibandingkan
sebelumnya, termasuk di antaranya melakukan pergantian pemimpinnya secara
periodik melalui pemilu yang demokratis. Tetapi kita prihatin jika
melihat kualitas SDM negeri ini yang sepertinya setiap ditontonkan dengan gaya
hidup yang serba “wah”, penumpukan kekayaan yang sangat kentara, penggunaan
wewenang dan jabatan yang aji mumpung, belum lagi kasus korupsi dari
orang-orang yang tidak disangka yang menjadi tersangka. Jika sudah demikian
halnya, bukan kekayaan yang melimpah menjadi ukuran keberhasilan sebuah negeri
tetapi sejauh mana human resources mampu berperan aktif. Rhenald Kasali
dalam bukunya Re-Code, Your Change DNA (2007) mengatakan bahwa perubahan pada
dasarnya bukanlah menerapkan teknologi, metode, struktur atau manajer-manajer
baru. Perubahan pada dasarnya adalah mengubah cara manusia dalam berpikir dan
berperilaku.
Mengubah
karakter dan mindset adalah pekerjaan sulit, namun akan selalu ada
kesempatan untuk melakukan itu, sulit bukan berarti tidak boleh dikerjakan, adanya
komentar sinis, meremehkan akan selalu ada. Anjing menggonggong kafilah berlalu,
demikian kira-kira yang menjadi slogan untuk terus berkarya dan berkarya. Adanya
keinginan untuk berubah ke arah lebih baik harus menjadi agenda diri setiap
manusia Indonesia.
Darimana kita memulai?
Konsep
3M yang dipopulerkan KH. Abdullah Gymnastiar sepertinya tetap relevan untuk diajukan,
perubahan itu harus 1) Mulai dari diri sendiri; 2) Mulai dari hal-hal terkecil
dan 3) Mulai saat ini.
1) Mulai dari diri sendiri
Mengawali
dari diri sendiri tidak dengan menunggu orang lain, menjadi kata kunci
keberhasilan sebuah perubahan yang diinginkan. Bukankah masyarakat kecil terdiri
dari keluarga-keluarga dan keluarga-keluarga terdiri dari individu-individu.
Jika yang ada adalah individu-individu yang tercerahkan, maka terjadinya perubahan
mental dan pola pikir satu saat akan tiba. Jika kita tidak terpancing dengan
kondisi yang ada maka kita tetap menjadi
“emas” di tengah lumpur hitam. Kata yang menarik untuk mendefinisikan “Pemenang
Kehidupan” adalah mereka yang tindakannya tidak dipengaruhi oleh tindakan orang lain
kepada kita. Kalau mereka melakukan hal yang buruk, kita akan membalasnya
dengan hal yang lebih buruk lagi. Kalau mereka tidak sopan, kita akan lebih
tidak sopan lagi. Kalau orang lain pelit terhadap kita, kita yang semula
pemurah tiba-tiba jadi sedemikian pelit kalau harus berurusan dengan orang itu.
Coba renungkan. Mengapa tindakan kita harus dipengaruhi oleh orang lain?
Mengapa untuk berbuat baik saja, kita harus menunggu diperlakukan dengan baik
oleh orang lain dulu? Jaga suasana hati. Jangan biarkan sikap buruk orang lain
kepada kita menentukan cara kita bertindak! Pilih untuk tetap berbuat baik,
sekalipun menerima hal yang tidak baik.
Ringkasnya “Pemenang
kehidupan” adalah orang yang tetap sejuk di tempat yang panas, yang tetap manis
di tempat yang sangat pahit, yang tetap merasa kecil meskipun telah menjadi
besar, serta tetap tenang di tengah badai yang paling hebat. Perubahan tidak mesti
menunggu orang lain tapi kadang moment dan adanya leader yang menyatukannya.
Apatah lagi jika leader itu adalah kita sendiri dan kita yang menciptakan
momentnya.
2) Mulai dari hal-hal terkecil
Sebuah kata motivasi
menegaskan kepada kita, setiap langkah yang terus maju selalu diawali dari
langkah-langkah kecil. Orang yang besar tidak dengan sendirinya langsung
menjadi besar, salah satunya karena ia peduli dengan hal-hal yang kecil. Peduli
dengan hal-hal yang kecil dengan tidak mengabaikannya adalah satu karakter yang penting untuk membuat perubahan besar.
Gladwell (Rhenald Kasali, 2007: 178) menyebutkan empat kaidah untuk
membuat perubahan yang satu diantaranya adalah Hukum tentang Kegaduhan Suara:
Jangan abaikan hal-hal kecil. Teori ini dapat diilustrasikan dengan kegaduhan
dalam kelas saat berlangsungnya proses belajar mengajar. Jika ada satu dua siswa
yang bicara tidak terarah atau gaduh tanpa dipedulikan oleh gurunya, maka suara
gaduh itu akan bertambah banyak karena siswa yang membuat gaduh pertama kali
tidak dihiraukan dan diabaikan oleh guru, akhirnya memancing kegaduhan lainnya.
Langkah preventifnya adalah jika telah kedengaran satu atau dua siswa yang
tidak terarah dan gaduh, maka sebaiknya untuk segera ditangani. Banyak orang
orang yang tidak menyadari bahwa setiap kerusakan nilai selalu dimulai dari
hal-hal kecil. Mulai dari hal-hal terkecil akan membuat kita terbiasa menata
yang lebih besar.
3) Mulai saat ini
Mario Teguh pernah berujar, gejolak untuk menunda
pekerjaan itu lebih besar dari hasrat untuk segera melakukan sebuah pekerjaan.
Dan itulah permasalahan terbesar bagi orang yang terbiasa menunda pekerjaan.
Keinginan kita berbuat baik kadang dikalahkan oleh sikap kita yang
menunda-nunda, nantilah, kapan-kapan saja, itulah kata-kata yang sering
diucapkan bagi orang yang terbiasa menunda. Bagaimana jika itu juga menjadi
kebiasaan kita tatkala bicara kematian? Dalam konteks dengan revolusi mental,
sikap ini jelas sikap yang tidak efektif untuk menyongsong dan menyikapi
globalisasi. Tidak ada kata lain, jika ingin terjadi pencerahan bagi kita, maka
mulailah saat ini. Waktu yang 24 jam sehari semalam, dengan potensi yang ada,
jika di sekolah, siswa diberi waktu belajar yang sama, dengan mata pelajaran
yang sama, dengan guru yang sama, dengan kurikulum yang sama, mengapa hasil
akhirnya beda? Salah satunya adalah karena adanya warga sekolah yang tidak
ingin menunda-nunda sebuah pekerjaan.
Mudah-mudahan bermanfaat**

Tidak ada komentar:
Posting Komentar