Sabtu, 30 Mei 2015

Kemenangan Iblis

Syeikh Dhirar bin Murrah, seorang ulama sufi kenamaan yang hidup di Kufah (Irak), wafat pada 132 Hijriyah pernah berkata bahwa Iblis mengatakan, ”Jika saya mampu mengusai Bani Adam dalam tiga hal, berarti keinginanku telah tercapai dan saya telah menang, yaitu: 1. Jika lupa akan dosanya; 2. Jika merasa cukup akan amalnya; 3. Jika kagum dan bangga akan pendapatnya (merasa pintar).
Sebenarnya ketiga hal (penyakit) pancingan Iblis yang dikhawatirkan Syeikh Dhirar merupakan penjelmaan dari inti ajaran Agama yang banyak ayat dan hadits Nabi SAW secara mantuq dan mafhum yang meminta untuk menjauhkan hal-hal tersebut. Penyakit lupa akan dosa, intinya adalah agar manusia senantiasa ingat dan beristighfar kepada Allah SWT, karena semua manusia tak luput dari dosa.
Ingat dosa, istighfar dan bertaubat adalah sarana untuk menyambut ke depan yang lebih baik dengan penuh asa. Jika manusia lupa akan dosa akan mudah tertutup hatinya karena tidak merasa butuh kepada ampunan Allah, maka rasa keangkuhan akan timbul, pada gilirannya keagungan dan kebesaran Tuhan sudah tidak tampak lagi dihadapannya, karena Allah menghilangkan bukti kebesaran dan keagunganNya dari para mutakabbirin, firman Allah SWT, ”Aku akan memalingkan tanda-tanda kekuasaan-Ku dari orang-orang yang menyombongkan diri (mutakabbir) di muka bumi tanpa alasan yang benar”(QS.7/146).
Manusia seperti ini tidak lagi merasa bersalah jika melakukan maksiat atau dosa, parahnya lagi sudah tidak sungkan untuk terang-terangan dalam maksiat atau mujaharah. Perbuatan dosa yang Mujaharah ini yang sulit diampunkan oleh Maha Pengampun, karena sudah tidak takut dan malu lagi terhadap Allah SWT dan tidak malu pula terhadap manusia. Tidak berpuasa secara terang-terangan, minum-minum keras di depan khalayak, berselingkuh, baca: berzina direkam, sehingga teredarkan.
Orang yang berbuat dosa tapi sembunyi hanya Allah SWT yang tahu, lebih baik ketimbang manusia yang berbuat dosa tapi terang-terangan. Pada saat Allah SWT menutup rahasia dosa manusia agar manusia tersebut suatu ketika bertaubat kepadaNya, sayangnya manusia sendiri mendeklarasikan, bahkan menceritakan dan bangga dengan dosanya! Bagaimana manusia lain dapat menutup aib saudara yang mujaharah, kalau dia sendiri yang menyebarkannya?
Musibah lain yang merupakan penyakit bani Adam yaitu merasa cukup dengan amal (cukup dengan apa yang diketengahkan). Apa yang telah dikerjakan seakan sudah sempurna, sehingga tidak mau mengoreksi dan mengembangkan ke arah lebih baik lagi. Tak pernah bertanya sudah cukupkah amal saya? sudah betulkah ibadahnya, akibatnya tidak mau balajar qiraat al-Qur’an karena sudah merasa betul bacaannya, juga tidak mau belajar hukum taharah, wudhu, salat secara benar karena sudah merasa cukup benar, dan tidak mau pula meningkatkan kerja yang bermanfaat.
Penyakit merasa cukup harus segera ditanggalkan, sebaliknya, harus terus menyempurnakan dan mengembangkan ke arah yang lebih baik lagi, yang dituntut merasa cukup dan qana’ah hanyalah terhadap karunia yang diberikan Allah SWT (rizki) agar jangan menjadi tamak, tentunya setelah berusaha maksimal dan tawakkal! Penyakit lain yang manusia lengah yaitu merasa pintar dan selalu bangga dengan pendapatnya.
Akibatnya, tidak mau lagi mendengar nasihat orang lain dan tidak merasa perlu untuk bermusyawarah kepada orang yang pantas untuk diajak musyawarah. Selalu merasa pendapatnyalah yang paling benar, padahal belum tentu demikian, kalau Nabi SAW saja diminta bermusyawarah kepada para sahabatnya, apalah artinya manusia biasa, tentunya lebih diminta untuk menghormati dan mendengar pendapat orang lain, dengan harapan semoga keputusan yang diadopsi dan diterapkan akan lebih dekat kepada kebenaran.
Semoga kita semua terhindar dari ketiga penyakit yang dikhawatirkan Syeikh Dhirar, yang digambarkan sebagai kemenangan Iblis tersebut!
Kemenangan Iblis
Syeikh Dhirar bin Murrah, seorang ulama sufi kenamaan yang hidup di Kufah (Irak), wafat pada 132 Hijriyah pernah berkata bahwa Iblis mengatakan, ”Jika saya mampu mengusai Bani Adam dalam tiga hal, berarti keinginanku telah tercapai dan saya telah menang, yaitu: 1. Jika lupa akan dosanya; 2. Jika merasa cukup akan amalnya; 3. Jika kagum dan bangga akan pendapatnya (merasa pintar).
Sebenarnya ketiga hal (penyakit) pancingan Iblis yang dikhawatirkan Syeikh Dhirar merupakan penjelmaan dari inti ajaran Agama yang banyak ayat dan hadits Nabi SAW secara mantuq dan mafhum yang meminta untuk menjauhkan hal-hal tersebut. Penyakit lupa akan dosa, intinya adalah agar manusia senantiasa ingat dan beristighfar kepada Allah SWT, karena semua manusia tak luput dari dosa.
Ingat dosa, istighfar dan bertaubat adalah sarana untuk menyambut ke depan yang lebih baik dengan penuh asa. Jika manusia lupa akan dosa akan mudah tertutup hatinya karena tidak merasa butuh kepada ampunan Allah dus rasa keangkuhan akan timbul, pada gilirannya keagungan dan kebesaran Tuhan sudah tidak tampak lagi dihadapannya, karena Allah menghilangkan bukti kebesaran dan keagunganNya dari para mutakabbirin, firman Allah SWT, ”Aku akan memalingkan tanda-tanda kekuasaan-Ku dari orang-orang yang menyombongkan diri (mutakabbir) di muka bumi tanpa alasan yang benar”(QS.7/146).
Manusia seperti ini tidak lagi merasa bersalah jika melakukan maksiat atau dosa, parahnya lagi sudah tidak sungkan untuk terang-terangan dalam maksiat atau mujaharah. Perbuatan dosa yang Mujaharah ini yang sulit diampunkan oleh Maha Pengampun, karena sudah tidak takut dan malu lagi terhadap Allah SWT dan tidak malu pula terhadap manusia.
Tidak berpuasa secara terang-terangan, minum-minum keras di depan khalayak, berselingkuh, baca: berzina direkam, sehingga teredarkan. Orang yang berbut dosa tapi sembunyi hanya Allah SWT yang tahu, lebih baik ketimbang manusia yang berbuat dosa tapi terang-terangan. Pada saat Allah SWT menutup rahasia dosa manusia agar manusia tersebut suatu ketika bertaubat kepadaNya, sayangnya manusia sendiri mendeklarasikan, bahkan menceritakan dan bangga dengan dosanya! Bagaimana manusia lain dapat menutup aib saudara yang mujaharah, kalau dia sendiri yang menyebarkannya? Musibah lain yang merupakan penyakit bani Adam yaitu merasa cukup dengan amal (cukup dengan apa yang diketengahkan). Apa yang telah dikerjakan seakan sudah sempurna, sehingga tidak mau mengoreksi dan mengembangkan ke arah lebih baik lagi.
Tak pernah bertanya sudah cukupkah amal saya? sudah betulkah ibadahnya, akibatnya tidak mau balajar qiraat al-Qur’an karena sudah merasa betul bacaannya, juga tidak mau belajar hokum taharah, wudhu, salat secara benar karena sudah merasa cukup benar, dan tidak mau pula meningkatkan kerja yang bermanfaat. Penyakit merasa cukup harus segera ditanggalkan, sebaliknya, harus terus menyempurnakan dan mengembangkan ke arah yang lebih baik lagi, yang dituntut merasa cukup dan qana’ah hanyalah terhadap karunia yang diberikan Allah SWT (rizki) agar jangan menjadi tamak, tentunya setelah berusaha maksimal dan tawakkal! Penyakit lain yang manusia lengah yaitu merasa pintar dan selalu bangga dengan pendapatnya. Akibatnya, tidak mau lagi mendengar nasihat orang lain dan tidak merasa perlu untuk bermusyawarah kepada orang yang pantas untuk diajak musyawarah.
Selalu merasa pendapatnyalah yang paling benar, padahal belum tentu demikian, kalau Nabi SAW saja diminta bermusyawarah kepada para sahabatnya, apalah artinya manusia biasa, tentunya lebih diminta untuk menghormati dan mendengar pendapat orang lain, dengan harapan semoga keputusan yang diadopsi dan diterapkan akan lebih dekat kepada kebenaran.
Semoga kita semua terhindar dari ketiga penyakit yang dikhawatirkan Syeikh Dhirar, yang digambarkan sebagai kemenangan Iblis tersebut!
***
Oleh: Amiruddin Thamrin MA, amiruddinthamrin@yahoo.com
Tinggal di Damaskus-Suriah

Jumat, 22 Mei 2015

Enam Perkara yang Dirahasiakan Allah SWT


Oleh: Mahmud Yunus

Menurut Umar bin Khathab RA ada enam perkara yang dirahasiakan oleh Allah SWT kepada hamba-Nya. Tentu, ada alasannya. Antara lain, agar hamba-Nya bersungguh-sungguh dalam mendapatkannya.

Umar bin Khathab RA berkata, “Sesungguhnya, Allah merahasiakan enam perkara di balik enam perkara.” Pertama, Allah merahasiakan ridha-Nya di balik ketaatan hamba-Nya. Hal tersebut dimaksudkan agar hamba-Nya bersungguh-sungguh melakukan ketaatan kepada-Nya. Dengan begitu, hamba-Nya tidak akan mengesampingkan ketaatan kepada-Nya walaupun tampaknya sederhana. Sebab, boleh jadi di balik ketaatan yang tampaknya sederhana itulah terdapat ridha-Nya.

Kedua, Allah merahasiakan murka-Nya terhadap hamba-Nya yang “berani” melakukan kemaksiatan. Hal tersebut dimaksudkan agar hamba-Nya bersungguh-sungguh menjauhi kemaksiatan. Dengan begitu, hamba-Nya tidak akan menyepelekan kemaksiatan dalam segala bentuknya, kendati tampaknya sederhana. Sebab, boleh jadi di balik kemaksiatan yang tampaknya sederhana itulah terdapat murka-Nya.

Ketiga, Allah merahasiakan kapan datangnya malam kemuliaan (lailatul qadar). Hal tersebut dimaksudkan agar hamba-Nya bersungguh-sungguh beribadat sepanjang bulan suci Ramadhan. Seperti dijelaskan dalam firman-Nya, lailatul qadar itu lebih baik dibandingkan seribu bulan. Allah berfirman, “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS al-Qadr [97] : 3). Ambil contoh, sebagaimana dinyatakan dalam sabda Rasulullah SAW, pahala (amalan) sunah di dalamnya ditingkatkan menjadi setara dengan pahala (amalan) wajib.

Keempat, Allah merahasiakan wali-Nya terhadap hamba-Nya. Hal tersebut dimaksudkan agar hamba-Nya tidak merendahkan derajatnya. Selain itu, agar hamba-Nya tidak meminta didoakan oleh mereka. Dengan begitu, hamba-Nya akan bersungguh-sungguh menghormati setiap hamba-Nya dengan tidak meremehkannya. Sebab, boleh jadi orang yang diremehkan itu adalah wali-Nya.

Kelima, Allah merahasiakan datangnya ajal (kematian) di balik umur hamba-Nya. Hal tersebut dimaksudkan agar hamba-Nya mempersiapkan diri dengan baik sepanjang hayatnya untuk menyambut kedatangannya. Sebab, sejatinya kematian itu bisa datang secara tiba-tiba.

Keenam, Allah merahasiakan datangnya waktu shalat Wustha. Hal tersebut dimaksudkan agar hamba-Nya bersungguh-sungguh mengikhtiarkannya. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya, shalat Wustha merupakan shalat paling utama di antara shalat lima waktu.

Allah berfirman, “Peliharalah segala shalat (kalian) dan (peliharalah pula) shalat Wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam shalat kalian) dengan khusyuk.’” (QS al-Baqarah [2] : 238). Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud shalat Wustha (shalat yang di tengah-tengah) adalah shalat Ashar. Tetapi, yang tahu persis hanya Allah.

Selain merahasiakan enam perkara tersebut, Allah juga merahasiakan saat (momen) paling mustajab pada Jumat. Hamba-Nya yang berdoa tepat pada saat paling mustajab itu pasti akan dikabulkan oleh-Nya. Dengan begitu, hamba-Nya akan bersungguh-sungguh mendapatkannya sepanjang Jumat. Ada yang berpendapat, saat paling mustajab pada Jumat adalah waktu Ashar. Akan tetapi, yang tahu persis hanya Allah. Wallaahu ‘Alam.

Selasa, 19 Mei 2015

Empat Sifat Pemicu Dosa



REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- "Setiap anak cucu Adam itu banyak berbuat dosa dan kesalahan, tetapi sebaik-sebaik orang yang banyak berbuat kesalahan adalah orang yang banyak bertobat.’’

Demikian pesan Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah. Ia menjelaskan bahwa setiap pribadi dari kita pasti tak bisa lepas dari dosa dan kesalahan dalam kehidupan, baik lahir atau batin. Dan, kita dianjurkan sesegera mungkin memohon ampun dan bertobat kepada Allah SWT.

Tobat hukumnya wajib bagi kita saat melakukan dosa dan kesalahan, begitu pula hal-hal yang berkaitan dengan tobat berupa pengetahuan tentang dosa dan pemicunya juga ikut menjadi wajib,o karena bisa saja kita tergelincir kembali lantaran kurangnya pengetahuan tentang dosa.

Dosa adalah suatu balasan dari setiap perkara yang menyimpang dari aturan dan perintah Allah SWT. Ia ada yang kecil dan ada pula yang besar. Dosa kecil dapat menjadi besar apabila kita kerjakan terus menerus, sedangkan dosa besar akan terputus apabila kita memohon ampun dan bertobat kepada Allah SWT.

Dosa bisa pula diartikan sebagai sesuatu yang dapat menggelisahkan hati karena secara fitrah hati itu suci. Hati kita tentu menolak saat pertama kali bersinggungan dengan dosa dan kemaksiatan, tetapi manakala kita abai dan terus memperturutkannya maka sedikit demi sedikit hati akan tertutup dan buta dari kebaikan.

Rasulullah SAW juga pernah ditanya tentang dosa dan kebaikan oleh salah seorang sahabat bernama Nauwas bin Sam’an. Beliau menjawab, "Kebaikan itu adalah perangai yang baik, sedangkan dosa adalah sesuatu yang beredar di hatimu dan engkau tidak suka diketahui oleh manusia yang lain." (HR Muslim).

Dosa takkan terjadi tanpa ada pemicunya, ibarat api takkan muncul tanpa ada pemantiknya. Ada empat sifat dalam diri kita yang menjadi pemicu dosa, pertama, sifat rububiyyah. Tanpa kita sadari, terkadang kita masih menonjolkan sifat keakuan dalam kehidupan sehari-hari, seperti sombong, membanggakan diri, dan senang mendapatkan pujian dari orang lain. Padahal, sejatinya sifat ini murni milik Allah SWT.

Kedua, sifat syaithoniyyah, yakni sifat yang melekat pada diri setan dan menjadi identitasnya, seperti dengki, zalim, tipu daya, dan mengajak kepada kerusakan dan kemungkaran.

Ketiga, sifat bahimiyyah, yakni sifat yang mana kita senantiasa menuruti nafsu layaknya hewan, baik nafsu perut ataupun kemaluan. Darinya muncul perkara yang dilarang, seperti berzina, mencuri, dan memakan harta anak-anak yatim.

Adapun sifat pemicu dosa yang keempat adalah sifat sab’iyyah, yakni sifat buas yang menjadikan diri kita liar manakala kita tidak mampu mengendalikannya, seperti marah, dendam, mencelakai orang lain dengan ucapan dan tindakan hingga bisa berujung pada pembunuhan. Naudzubillah.

Dengan mengetahui hakikat dosa dan pemicunya ini maka kita akan mampu menjaga diri agar tidak terkena percikan dosa yang dapat membakar diri kita di dunia maupun akhirat. Wallahu a’lam.

Jumat, 15 Mei 2015

Hukum Meruqyah Orang Kafir?

Di antara dalilnya hadits mengenai Sahabat Abu Sa’id Al-Khudri yang meruqyah seorang pemimpin kampung yang kafir, yang terkena sangetan kalajengking dan langsung sembuh. Berikut riwayatnya:
عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانُوا فى سَفَرٍ فَمَرُّوا بِحَىٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوهُمْ فَلَمْ يُضِيفُوهُمْ. فَقَالُوا لَهُمْ هَلْ فِيكُمْ رَاقٍ فَإِنَّ سَيِّدَ الْحَىِّ لَدِيغٌ أَوْ مُصَابٌ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ نَعَمْ فَأَتَاهُ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فَبَرَأَ الرَّجُلُ فَأُعْطِىَ قَطِيعًا مِنْ غَنَمٍ فَأَبَى أَنْ يَقْبَلَهَا. وَقَالَ حَتَّى أَذْكُرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم-. فَأَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ. فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ مَا رَقَيْتُ إِلاَّ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ. فَتَبَسَّمَ وَقَالَ « وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ ». ثُمَّ قَالَ « خُذُوا مِنْهُمْ وَاضْرِبُوا لِى بِسَهْمٍ مَعَكُمْ »
Dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa ada sekelompok sahabat Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu berada dalam perjalanan safar, lalu melewati suatu kampung Arab. Kala itu, mereka meminta untuk dijamu, namun penduduk kampung tersebut enggan untuk menjamu. Penduduk kampung tersebut lantas berkata pada para  sahabat yang mampir, “Apakah di antara kalian ada yang bisa meruqyahkarena pembesar kampung tersebut tersengat binatang atau terserang demam.” Di antara para sahabat lantas berkata, “Iya ada.” Lalu ia pun mendatangi pembesar tersebut dan ia meruqyahnya dengan membaca surat Al Fatihah. pembesar tersebutpun sembuh. Lalu yang membacakan ruqyah tadi diberikan seekor kambing, namun ia enggan menerimanya -dan disebutkan-, ia mau menerima sampai kisah tadi diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kisahnya tadi pada beliau. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidaklah meruqyah kecuali dengan membaca surat Al Fatihah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas tersenyum dan berkata, “Bagaimana engkau bisa tahu Al Fatihah adalah ruqyah?” Beliau pun bersabda, “Ambil kambing tersebut dari mereka dan potongkan untukku sebagiannya bersama kalian.” (HR. Bukhari no. 5736 dan Muslim no. 2201)

Shalat Maghrib Sendirian, Disunnahkan Mengeraskan Bacaannya?

Soal:
Assalamu ‘Alaikum Wr. Wb.
Ketika shalat sendirian di waktu maghrib, Isya’, dan Shubuh; apakah harus dijaharkan atau cukup disirkan (dipelankan) saja?
Dhanni – Cisarua
Jawab:
Oleh: Badrul Tamam
Wa’alaikumus Salam Wr. Wb.
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Jumhur ulama berpendapat, disunnahkan bagi imam menjaharkan (mengeraskan) bacaannya pada dua rakaat pertama di shalat-shalat jahriyah (Maghrib, Isya’, dan Shubuh). Sedangkan Madhab Hanafi mewajibkannya.
Adapun munfarid (orang yang shalat sendirian), tetap disunnahkan menjaharkan bacaannya di shalat-shalat jahriyah tersebut. Ini pendapat Malikiyah dan Syafi’iyah, serta satu riwayat dari imam Ahmad.
Syaikh bin Bazz dalam fatwanya berjudul “Al-jahru bil qira-ah lil munfarid”, bacaan pada shalat jahriyah disunnahkan untuk dikeraskan bagi imam dan makmum. “Siapa yang mensirkan (memelankan), tidak ia tidak berdosa, tetapi dia telah meninggalkan sunnah,” tambah Syaikh yang diuji dengan kebutaan di usia 20 tahun ini.
Bagi imam, sunnahnya untuk selalu menjaharkan bacaannya, mengikuti sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Dengan menjaharkan bacaan, makmum mendapat kebaikan dengan mendengarkan kalamullah melalui lisan imam.
Sedangkan makmum, makruh menjaharkan bacaannya. [Baca: Rahasia Bacaan Jahar (Keras) dan Sirri (Pelan) Dalam Shalat]
Kesimpulan
Tetap disyariatkan jahar pada shalat jahriyah (Maghrib, Isya’, Shubuh) walau sedang shalat sendirian. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/konsultasi-agama/2015/02/12/35623/shalat-maghrib-sendirian-disunnahkan-mengeraskan-bacaannya/#sthash.h5pWPoRj.dpuf

Mendoakan Mayit Sesudah Dikuburkan Boleh dengan 'Berjamaah'?

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Setelah mayit dikuburkan, para pengantarkan dianjurkan mendoakannya dengan ampunan dan keteguhan sebelum bubar ke rumah.
Dari Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu 'Anhu, ia berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ
Apabila Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam selesai menguburkan mayit (jenazah) beliau berdiam di sisinya, lalu bersabda: Mintakan ampunan untuk suadara kalian dan mohonkan keteguhan untuknya, karena sekarang dia akan ditanya.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Al-Hakim. Syaikh Al-Albani juga menyatakan shahih dalam Shahih Abu Daud)
Kebiasaan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam setelah menguburkan mayit beliau berdiam sejenak di sisi kuburan untuk mendoakannya. Terkadang beliau menyampaikan nasihat kepada para sahabatnya tentang kematian dan anjuran untuk menyiapkan diri menghadapinya. Terkadang beliau mengingatkan mereka untuk mendoakan si mayit dari kebaikan yang dibutuhkannya saat itu; yaitu ampunan dan doa keteguhan dalam menjawab pertanyaan di kubur.
Tatacara yang utama dalam memintakan ampunan untuk si mayit dan mendoakan keteguhan untuknya adalah sendiri-sendiri. Tidak dipimpin seorang imam lalu yang lain mengaminkannya. Karena dalam hadits di atas, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengingatkan kepada para sahabatnya untuk memintakan ampunan dan mendoakan keteguhan bagi si mayit, beliau tidak memimpin doa. Bahkan beliau diam sejenak untuk berdoa sendiri bagi si mayit.
Al-Syaikh Muhammad bin Utsaimin Rahimahullah tentang mendoakan mayit setelah dikuburkan dengan berjamaah. Beliau menjawab,
ليس هذا من سنة الرسول صلى الله عليه وسلم ، ولا من سنة الخلفاء الراشدين رضي الله عنهم ، وإنما كان الرسول صلى الله عليه وسلم يرشدهم إلى أن يستغفروا للميت ويسألوا له التثبيت ، كل بنفسه ، وليس جماعة
“Ini bukan dari sunnah Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, tidak pula dari sunnah (kebiasaan) khulafa’ rasyidin Radhiyallahu 'Anhum. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam hanya mengarahkan mereka (para sahabat) untuk memintakan ampunan bagi si mayit dan memohonkan keteguhan untuknya. Setiap orang sendiri-sendiri, tidak berjamaah.” (Fatawa Al-Janaiz: 228)
Jika demikian, apakah praktek mendoakan mayit setelah dikuburkan dengan dipimpin seorang imam dan diaminkan yang hadir tidak dibolehkan?
Menurut Syaikh bin Bazz Rahimahullah, dibolehkan mendoakan mayit setelah dikuburkan dengan cara sendiri-sendiri (masing-masing). Boleh juga dengan cara lain, seseorang berdoa untuk si mayit dengan keras lalu yang hadir mengaminkannya. (Majalah al-Buhuts al-Islamiyah: 68/53)
Praktek di masyarakat, jika di suruh doa sendiri-sendiri banyak yang ‘merasa’ tidak mampu. Bahkan, praktek di lapangan, banyak yang hanya diam saja. Akibatnya, mayit tidak mendapatkan kebaikan yang dibutuhkannya di saat itu dari istighfar dan doa orang yang mengantarkannya.
Jika masyarakat kita sudah paham, maka yang utama setiap orang yang mengantarkan mendoakan si mayit sendiri-sendiri. Jika tidak, boleh imam (tokoh) berdoa untuk si mayit dan diaminkan yang hadir. Inilah yang utama dan paling dekat kepada sunnah. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/doa/2015/05/06/36790/mendoakan-mayit-sesudah-dikuburkan-boleh-dengan-berjamaah/#sthash.mijYAK3X.dpuf


Rabu, 13 Mei 2015

Empat Ridha yang Diperintahkan dalam Alquran

Oleh: Doni Rahman
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ridha, artinya rela, puas, dan senang terhadap ketentuan Allah SWT. Orang yang berhati ridha pada Allah memiliki sikap optimistis, lapang dada, kosong hatinya dari dengki, selalu berprasangka baik, bahkan lebih dari itu, ia senantiasa memandang baik, sempurna, dan penuh hikmah.
Sedikitnya, Alquran dan hadis menyebutkan empat hal ridha yang diperintahkan dan dua hal ridha yang dilarang. Ridha yang diperintahkan, yaitu pertama, ridha seseorang terhadap Allah sebagai Rabbnya, agama Islam sebagai dinnya, dan Nabi Muhammad sebagai rasulnya.
Dari ‘Abbas bin Abdul Muththalib, Rasulullah SAW bersabda, “Akan merasakan kelezatan iman, orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabbnya dan Islam sebagai agamanya serta Muhammad sebagai nabi dan rasulnya." (HR Muslim). Mereka yang ridha kepada Allah maka Allah pun meridhai mereka (QS al-Mujadalah: 22).
Kedua, ridha orang tua terhadap anaknya. Ridha Allah SWT bergantung pada ridha orang tua sesuai sabda Rasulullah SAW, "Ridha Allah SWT tergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah SWT tergantung kepada kemurkaan orang tua." (HR Bukhori, Ibnu Hibban, Tirmidzi, Hakim).
Ketiga, ridha suami kepada istrinya. "Setiap istri yang meninggal dunia dan diridhai oleh suaminya maka ia masuk surga." (HR at-Tirmidzi). Keempat, ridha dalam transaksi jual beli. Disebutkan dalam firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan ridha di antaramu." (QS an-Nisaa: 29).
Adapun, ridha yang dilarang, pertama, ridha terhadap dunia. “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami dan merasa ridha dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan (kehidupan itu) dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami. Mereka itu tempatnya di neraka karena apa yang telah mereka lakukan.” (QS Yunus: 7-8).
Kedua, ridha bersama-sama orang yang menyelisih Nabi. Konteks saat ini adalah menyelisihi dan meninggalkan sunah Nabi SAW, balasannya adalah Allah SWT akan mengunci hati mereka dari kebenaran. (QS at-Taubah: 93).
Sudah selayaknya setiap mukmin berusaha mengamalkan ridha yang diperintahkan. Allah memuliakan status orang-orang yang ridha dengan surga. “Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah surga Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan meraka pun ridha kepadanya." (QS al-Bayyinah: 8). Wallahu a’lam bis shawab.

Sabtu, 09 Mei 2015


Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Menyorot Pendidikan Kita

Dimuat di Harian Tribun Pontianak, 
Edisi 5 Mei 2015




Pendidikan merupakan suatu proses yang bertujuan. Berhasil tidaknya tujuan dapat dilihat pada output yang dihasilkan. Dalam konteks pendidikan nasional Indonesia, pendidikan dilaksanakan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa agar sinergis antara bangunlah jiwanya, bangunlah badannya dapat terwujud dengan baik. Tujuan akhir (ultimate goal) adalah terwujudnya manusia Indonesia yang berkarakter pemimpin dan mampu memberikan keteladanan.
Sebagai lembaga yang secara tidak langsung membentuk peserta didik menjadi manusia dengan karakter pemimpin, maka adanya suasana kondusif harus selalu diciptakan. Berharap besar kepada lembaga pendidikan untuk mencetak kader-kader pemimpin sepertinya terlalu berlebihan –jika tidak ingin dikatakan utopis-, tetapi bahwa ia memberikan warna dan pengaruh adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri. Hanya persoalannya sejauh mana nilai-nilai itu membekas.
Namun, melihat kondisi pendidikan di tanah air ini, sepertinya kita harus prihatin. Ketika sikap “jujur itu hebat”, atau “saya mengerjakan soal dengan jujur” dicederai oleh insiden bocornya kunci jawaban UN untuk tingkat menengah atas beberapa waktu lalu. Adanya pesta seks siswa SMA usai UN membuat kita sekali lagi harus prihatin. Belum lagi secara umum, kualitas pendidikan kita yang mengindikasikan kualitas yang rendah. Tidak ada satupun juga universitas di Indonesia yang masuk kelompok 100 universitas terbaik di Asia apalagi di tingkat dunia. (Tilaar, 2006: 77). Bahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menyebut pendidikan saat ini berada dalam kondisi gawat darurat mengacu kepada hasil survei PISA yang menempatkan Indonesia pada rangking 64 dari 65 negara. (antaranews.com 1 Desember 2014)
Penataan pendidikan yang baik, yang sepertinya kelihatan dalam kabinet kerja sekarang, meskipun memang harus siap menunggu. Setidaknya, menurut penulis, beberapa “keistimewaan” akan diberikan kepada penggerak pendidikan menunjukkan bahwa telah ada good will dari pemerintah. Tapi sebenarnya juga menunjukkan pula bahwa  persoalan pendidikan sudah pada tahap yang memprihatinkan dan harus ada pembenahan yang serius. Jika ingin pendidikan sebagai urat nadi pembentuk manusia berkarakter dan sebagai kawahnya manusia masa depan, maka mutlak ruh pendidikan harus dikembalikan dan tidak menjadi obyek tarik menarik berbagai kepentingan.

Mengenali Lima Kekuatan Kepemimpinan
Kepemimpinan pada hakikatnya merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk membina, membimbing, mengarahkan dan menggerakkan orang lain agar dapat bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sebagai faktor yang sangat berperan dalam organisasi, Muhaimin (2011: 29) menyebutkan bahwa baik buruknya organisasi sering kali sebagian besar tergantung pada faktor pemimpin.
Sebagaimana diketahui bahwa kepemimpinan adalah suatu proses memberikan pengaruh secara sosial kepada orang lain. Oleh karena itu untuk mewujudkan tujuan tersebut, pemimpin perlu melakukan serangkaian kegiatan diantaranya adalah mengarahkan orang-orang yang terlibat dalam organisasi yang dipimpinnya. Sebuah mata rantai organisasi, apapun jenis dan tingkatannya, pasti terdapat dua elemen penting yakni adanya pengikut dan ada yang diikut, ada pemimpin dan ada yang dipimpin, ada imam dan ada makmum. Jika salah satunya tidak ada maka bukanlah sebuah organisasi. Meskipun sebuah keharusan, seleksi akan lebih ketat manakala menyentuh aspek pemimpin. Ia menjadi selektif dan sensitif mengingat yang diatur dan diurusnya adalah sekelompok orang baik dengan jumlah kecil, sedang maupun untuk jumlah yang sangat besar. Artinya menjadi pemimpin diperlukan sejumlah kriteria dan persyaratan tertentu. Hal yang sama juga mesti ada pada organisasi pencerdasan anak bangsa yang bernama sekolah.
Adanya ekstra kurikuler di sekolah seperti OSIS, Pramuka dan sebagainya sangat memberikan pengaruh dan menyediakan wadah dalam pembentukan karakter seorang pemimpin. Demikian juga pada level top leader, sekolah harus menjadi ajang pengkaderan warga sekolahnya.
Sergiovanni (1984) sebagaimana dalam Tony Bush dan Marianne Coleman (2012:68) mengidentifikasi lima “kekuatan” kepemimpinan. Lima kepemimpinan oleh penulis disingkat dengan TEMPIAS. yakni 1) Kepemimpinan TEKNIS, seorang pemimpin adalah sebagai seorang penggerak manajemen. Baik tidaknya proses sebuah organisasi dapat dilihat dari sejauh mana kemampuan mengatur dan memenej organisasi itu. Ia diharuskan mampu mengatur lalu lintas guru dengan guru, lalu lintas guru dengan siswa, lalu lintas sekolah dengan lingkungan sekitar dan lalu lintas dengan institusi lainnya. Dalam konteks ini, kepala sekolah dapat diibaratkan seperti seorang polisi yang mengatur lalu lintas jalanan supaya teratur, terarah dan tertib; 2) Kepemimpinan MANUSIA, seorang kepala sekolah hendaknya memiliki semangat untuk mengembangkan sumber daya manusia yang ada. Berbagai potensi, kompetensi dan skill yang ada di sekolah itu harus terus dikembangkan dan satu saat akan menjadi kekuatan dahsyat. Jika menilik dari tokoh-tokoh dalam sejarah Islam, salah satu pendukung keberhasilan Nabi Muhammad SAW dalam berdakwah adalah karena beliau dikelilingi oleh tokoh-tokoh yang kredibel dan visioner seperti Abu Bakar (orang tua yang arif dan bijaksana), Umar bin Khaththab (Keras, tegas dan pandai menempatkan diri), Utsman bin Affan (Hartawan yang dermawan) dan Ali bin Thalib (Pemuda yang semangat juangnya tinggi untuk keberhasilan). 3) Kepemimpinan PENDIDIKAN, seorang pemimpin haruslah orang yang ahli atau setidak mengerti tentang disiplin ilmu yang digelutinya. Karena sebelum ia menjadi pemimpin, awalnya ia adalah seorang abdi dalam profesinya itu. Sebelum menjadi kepala sekolah tentu ia berasal dari guru mata pelajaran, pimpinan sebuah bengkel yang mengerti tentulah berasal dari tukang bengkel, dan pimpinan perusahaan yang faham dengan tugasnya adalah mereka yang merintis dari bawah pekerjaannya. Artinya, dalam kekuatan ketiga ini,  ia hakikatnya adalah seorang praktisi klinis yang faham dengan cara kerja dan urutannya. 4) Kekuatan KULTURAL, sebuah ungkapan mengatakan, lain lubuk lain ikannya, lain orang lain gayanya dan lain kepala lain stylenya. Dari sisi ini, seorang kepala adalah orang mampu membangun sebuah kultur bagi lembaganya. Kemana arah sebuah organisasi, sedikit banyak ditentukan oleh gaya  kepemimpinan atasannya. Kultur sebagai budaya yang menjadi tradisi di sebuah organisasi menjadi ciri khas dari organisasi itu sendiri. Dari kultur ini kita dapat mengenali arah dan haluan sebuah organisasi. 5) Kekuatan SIMBOLIK, kekuatan pada aspek ini menjadi sangat penting, lebih-lebih bagi organisasi yang baru tumbuh maupun yang baru mengenali sistem kerja sebuah organisasi. Simbol dapat diberikan dalam bentuk ucapan simbol atau bahasa pemersatu, simbol dapat diwujudkan dalam bentuk aktifitas-aktifitas khas dan bahkan pimpinan adalah sebagai sebuah simbol. Presiden adalah simbol bagi negaranya, kepala sekolah adalah simbol bagi sekolahnya. Pada posisi ini, simbol yang diberdayakan akan menjadi sebuah magnet bagi lingkungannya.

Beberapa kekuatan kepemimpinan ini manakala dimiliki oleh sebuah organisasi, penulis yakin akan mampu mengangkat nilai jual dan daya saing ke depan. Apatah lagi jika kelima kekuatan kepemimpinan ini ada pada organisasi itu. Hari Pendidikan Nasional harus dimaknai sebagai menjadikan lembaga pendidikan sebagai kawah candradimukanya pemimpin masa depan. Belajar kepada negara lain bahwa pendidikan menjadi pintu masuk munculnya pemimpin-pemimpin berlatar lokal namun dnegan pola fikir internasional. SEMOGA**
Majikan dan Buruh
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Sofyan al-Hakim

Allah SWT menciptakan manusia dari bahan yang sama, yaitu tanah (23:12). Manusia pun diberi potensi yang sama oleh Allah, baik raga (16:78) maupun jiwa (91:7-8).
Dalam pandangan Allah SWT, manusia dibedakan bukan karena jenis kelamin atau suku bangsanya. Akan tetapi, manusia berbeda karena kesungguhan dalam memaksimalkan potensi dan peran yang dimainkannya. 

Manusia yang paling maksimal memanfaatkan potensinya dan menjalani peran yang diberikan Allah kepadanya, dengan sungguh-sungguh dan sesuai dengan petunjuk Allah, itulah orang yang bertakwa (QS 16:97, QS 49:13)
.

Peran yang Allah berikan kepada manusia tentunya tidak seragam. Dalam konteks inilah Allah menjadikan pelapisan sosial dalam masyarakat, miskin dan kaya, rakyat dan penguasa, buruh dan majikan.
Tidak ada yang perlu ditangisi ataupun disesali, apalagi iri hati. Apa pun keadaan kita sekarang, itu adalah karunia dari Allah yang terbaik bagi kita.

Demikian juga, ketika Allah SWT memberikan variasi rezeki kepada manusia. Maka, Allah mengatur seperangkat sistem yang dapat melahirkan keadilan sosial melalui beragam skim distribusi kelompok manusia berkecukupan (aghniya) kepada manusia berkekurangan (fuqara) sehingga akan terjadi keadilan ekonomi bagi seluruh manusia. 

Allah SWT berfirman dalam  QS 16:71. “Dan Allah melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezeki itu. Maka, mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?"

Namun, karena karakter manusia yang berkeluh kesah timbullah ketimpangan yang melahirkan ketidakadilan. Majikan sering kali lupa akan posisinya untuk memberikan hak yang wajar untuk buruhnya. 

Yang dominan adalah tuntutan majikan agar buruh melakukan kewajibannya, jika perlu lebih dari semestinya. Demikian pula buruh, menuntut hak untuk mendapatkan upah yang lebih dari wajar dan terkadang lupa akan kewajiban pokoknya untuk bekerja dan menghasilkan produk terbaik.

Allah SWT menegaskan, jika kamu menyuruh orang untuk bekerja, maka berikanlah upahnya (Q.S. 65:6). Bahkan, Rasulullah SAW mengingatkan agar para majikan untuk memberikan upah sebelum kering keringat dari buruh (HR Ibnu Majah dari Abdillah bin Umar). 

Pada riwayat yang lain dalam sebuah hadis Qudsi Allah Berfirman, “Tiga kelompok manusia yang saya musuhi pada hari kiamat: orang yang Aku beri kemudian dia berkhianat, seorang yang melakukan jual beli manusia merdeka, dan seorang majikan yang tidak memberikan upah kepada buruh ketika pekerjaan sudah selesai.” (HR Bukhari dari Abi Hurairah).

Dengan kata lain, tidak boleh ada kezaliman atau ketidakadilan dalam hubungan antara buruh dan majikan. Buruh dan majikan hanyalah peran yang Allah berikan kepada manusia. Wallahu a'lam bi al-shawab.

Petuah Seorang Ayah

Oleh: Ustaz Hasan Basri Tanjung MA

Tugas utama dan terbesar seorang ayah adalah mendidik istri dan anak-anaknya untuk taat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.
Dulu, ketika anak-anak masih kecil, saya menyiapkan waktu khusus untuk shalat shubuh berjamaah di rumah dilanjut dengan ta’lim. Alhamdulillah,nilai-nilai akidah tauhid, ibadah dan akhlak (adab) mulai tertanam dan tumbuh perlahan, laksana sebatang pohon.

Namun, akar pohon akidah tersebut masih dangkal dan rapuh. Ia mudah goyah dan terserabut oleh badai dan gelombang, angin kencang dan hujan deras, panas terik dan cuaca dingin yang menyengat.
Pohon kepribadian itu mesti dijaga, dirawat, disirami dan dipupuki agar terlindungi dari bala bencana dan penyakit yang mematikan. 

Tugas besar inilah yang menjadi tugas si ibu yang sangat penting dalam pendidikan keluarga. Ayah yang menanamkan bibit pohon dan akar iman (tauhid), lalu bersama ibu merawat batang dan dahannya (ibadah) agar berbuah sepanjang musim (akhlak karimah). Inilah Mukmin sejati seperti pohon yang baik (QS.14:24-25).

Sang Ayah yang diabadikan namanya karena upaya pendidikan keluarga yang luas biasa adalah Lukman al-Hakim. Ungkapannya yang santun dan menyentuh hati yaitu Yaa bunayya (wahai anakku) diulang tiga kali. 

Petuahnya untuk bertauhid, berbakti kepada orang tua, melakukan kebaikan sekecil apapun, mendirikan shalat, sabar, amar ma’ruf nahi mungkar dan jangan meremehkan manusia  diabadikan dalam Surah Lukman ayat 12-19 agar kita mengambil hikmahnya.  

Begitu pun sang ayah, Nabi Ibrahim As dan Nabi Ya’kub As menyapa dengan tutur kata yang lembut Yaa baniyya,(wahai anak-anaku) untuk menanamkan akidah tauhid (QS.2:132). Nabi Yakub As juga menyapa anaknya Nabi Yusuf As dengan panggilan Yaa bunayya (QS.12:5,67,87). 

Di penghujung hidupnya, ia mengevaluasi proses pendidikan tersebut dengan bertanya, maa ta’buduuna min ba’dii” (apa yang kalian sembah setelah aku mati)?  Mereka menjawab dengan tegas yakni menyembah Tuhan Yang Esa, Allah SWT. (QS.2:133).
Beliau pun tersenyum hingga ajal menjemput. Bukankah banyak di antara orang tua justru bertanya, maa ta’kuluuna min ba’dii” (apa yang akan kalian makan setelah aku mati)?  

Sang ayah, Nabi Nuh As juga memberi pelajaran berharga kepada para setiap ayah di kemudian hari yang sudah berjuang sungguh-sungguh mendidik anak lahir batin, namun belum membuahkan hasil yang menggembirakan, bahkan memilih jalan kesesatan. 

Konon, ketika banjir bandang yang sudah menenggelamkan daratan semakin dahsyat, ia masih memanggil penuh harap dan sayang kepada anaknya, Kan’an, ''Yaa bunayya, masuklah ke dalam perahu bersama kami....”. 

Namun Kan'an tetap tak mau mengikuti seruan ayahnya hingga tenggelam dihantam ombak besar dalam kekafiran (QS.11:42-44). Beliau memberi pelajaran berharga, yakni walau anak menjadi fitnah dan musuh yang menyesakkan dada, namun tak boleh berputus asa.
 
Bagi para ayah yang merasa belum mampu memberi tausiah, tujuh petuah berikut ini bisa jadi rujukan.  Pertama, ''Wahai anakku, apakah yang membuat hidup jadi terarah? Agama. Karena agama laksana petunjuk jalan menelusuri kehidupan.'' 

Kedua, ''Wahai anakku, apakah yang membuat hidup jadi mudah? Ilmu. Karena ilmu laksana cahaya yang menyinari di kegelapan malam.'' Ketiga, ''Wahai anakku, apakah yang membuat hidup jadi meriah? Harta. Karena harta laksana hiburan menyenangkan dalam pertunjukan.'' 

Keempat, ''Wahai anakku, apakah yang membuat hidup jadi berkah? Berbagi. Karena berbagi (sedekah) itu laksana air yang mengaliri pepohonan lalu berbuah dan dimakan oleh yang membutuhkan.''
Kelima, ''Wahai anakku, apakah yang membuat hidup jadi gairah? Cinta. Karena cinta laksana sekuntum bunga dalam hati yang diliputi kerinduan.'' 

Keenam, ''Wahai anakku, apakah yang membuat hidup jadi indah? Seni. Karena seni laksana simponi keindahan Ilahi dalam jiwa.
Ketujuh, ''Wahai anakku, apakah yang membuat hidup jadi gagah? Beradab. Karena adab (akhlak) laksana mahkota kemuliaan tanpa memandang keturunan.'' Wallahu a’lam bish-shawab.

Senin, 04 Mei 2015


TIga Tradisi Penting Orang Beriman

Oleh: Imam Nawawi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Satu bukti bahwa Islam adalah agama universal dan komprehensif adalah ditetapkannya perintah musyawarah. Bahkan, Allah menyejajarkan musyawarah dengan ibadah shalat.

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS Asy-Syura [42]: 38).

Secara eksplisit, orang beriman itu memiliki tiga tradisi penting, yakni shalat, musyawarah, dan gemar berinfak (membelanjakan hartanya di jalan Allah). Ini menandakan bahwa musyawarah menduduki posisi penting dalam urusan sosial kemasyarakatan, sama seperti pentingnya shalat bagi hubungan pribadi kepada Allah Ta’ala.

Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa orang yang beriman itu tidak menunaikan satu urusan kecuali telah dimusyawarahkan, sehingga tidak ada salah paham. Tetapi, yang terjadi adalah saling mendukung, menguatkan, dan mengisi. 

Oleh karena itu, di dalam ayat yang lain Allah secara gamblang memerintahkan orang-orang beriman untuk bermusyawarah dalam menetapkan suatu urusan. “Dan, bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS Ali Imran (3): 159).

Rasulullah sendiri, sebagai Nabi yang dijamin bebas dari dosa (maksum) telah memberikan keteladanan yang sangat baik dengan menjadikan musyawarah sebagai tahap akhir dalam pengambilan keputusan urusan keumatan. 

Seperti pada peristiwa perang Khandaq. Rasulullah mengajak sahabat-sahabatnya untuk bermusyawarah tentang strategi apa yang akan diterapkan menghadapi kelompok kafir yang memiliki jumlah pasukan sangat besar. 

Atas saran Salman Al-Farisi, diputuskanlah untuk membuat parit. Padahal, Nabi sebagai pribadi juga telah mengajukan pendapatnya. Tetapi, karena beliau melihat saran Salman Al-Farisi memang benar-benar brilian, beliau tidak ragu, apalagi gengsi untuk menerimanya sebagai keputusan dalam musyawarah tersebut. 

Subhanallah, musyawarah tersebut justru mengundang pertolongan Allah, sehingga kaum Muslimin yang dikepung pasukan sekutu (ahzab) itu Allah selamatkan dari kejahatan orang kafir. Dan, inilah salah satu hikmah dari dilaksanakannya perintah musyawarah. 

Tuntunan musyawarah ini benar-benar menjadi perhatian utama orang-orang saleh terdahulu. Fudhail bin Iyadh, misalnya, ia berkata, “Musyawarah mendatangkan keberkahan, hingga saya pun mau mengajak musyawarah dengan hamba sahaya Etiopia yang nonpribumi ini.”

Jadi, adalah benar jika kemudian muncul perkataan hikmah, “Tidak akan merugi orang yang mau istikharah dan tidak akan menyesal orang yang mau bermusywarah.”

Dan, Khalifah Umar bin Abdul Aziz berpendapat, “Musyawarah adalah pintu rahmat dan kunci keberkahan. Dengan keduanya, ide-ide tidak akan tersesat dan impian-impian tidak akan musnah.” 

Dengan demikian, mari biasakan diri bermusyawarah, utamanya terhadap hal-hal yang menyangkut terjaminnya hajat hidup umat, rakyat, bangsa, agama, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tujuh Kalimat Mustajab

Oleh:  A Khotimi Bahri 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Semua orang mendambakan kebahagiaan. Akan tetapi, memaknai sebuah kebahagiaan bisa berbeda antara satu dan yang lainnya. Bagi kaum materialis, bahagia adalah jika sudah terpenuhinya segala kebutuhan fisik. Hanya, kebutuhan fisik tidak akan pernah ada batasannya.

Dalam agama Islam, kebahagiaan (as-sa'adah) adalah selerasnya keinginan hamba dengan taufik Allah SWT. Kebahagiaan ini akan terasa tidak hanya ketika masih hidup di dunia, tetapi juga akan terus berlanjut hingga kehidupan di akhirat kelak.

Ada tujuh kalimat yang sangat mulia di sisi Allah beserta para malaikat, sekaligus menempatkan orang yang istiqamah mengamalkannya, mendapatkan ampunan Allah SWT. Inilah sebenarnya kebahagiaan yang hakiki yang dicari setiap hamba Allah SWT.

Pertama, membaca basmalah (bismillah) ketika akan memulai segala sesuatu. Dengan membaca basmalah, berarti seorang hamba menyertakan permohonan keberkahan dan limpahan rahmat Allah dalam pekerjaannya. Kedua, membaca hamdalah (alhamdulillah) ketika selesai mengerjakan sesuatu. Hamdalah adalah kalimat pujian seorang hamba atas kemudahan dan kemurahan Allah yang menyertai pekerjaannya.

Ketiga, membaca istighfar (astaghfirullah) jika terucap kata yang tidak patut. Perkataan kotor, nista, dan mengandung unsur nifak merupakan hal yang tercela, karenanya Islam sangat mengecam perilaku ini. Demikian juga tindakan-tindakan yang menyalahi norma agama. Maka sepatutnya bagi pelakunya untuk memohon ampunan Allah SWT.
Keempat, mengucapkan “insya Allah” ketika ingin berbuat sesuatu. Rasulullah Muhammad SAW pernah diingatkan oleh Allah agar mengucapkan kalimat tersebut jika menjanjikan sesuatu. Ini terkait dengan janji Beliau untuk menjawab pertanyaan yang diajukan kaum Quraisy.

Kelima, mengucapkan “la haula wala quwwata illa billahil 'aliyil adzim” jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapannya. Kalimat ini sekaligus menegaskan kemahakuasaan Allah dan menunjukkan kelemahan hamba di hadapan-Nya. Keenam, mengucapkan “inna lillahi wa inna ilaihi roji'un” jika sedang tertimpa musibah. Kalimat yang dikenal dengan sebutan istirja' ini menunjukkan sikap tawakal sang hamba. Dan tawakal merupakan salah satu sifat yang diperintahkan dalam Islam.

Ketujuh, membaca “La Ilaha Illallahu, Muhammadur Rosulullah”sepanjang hari, petang dan malam. Kalimat persaksian ini merupakan akar sekaligus password bagi setiap kaum Muslimin. Dengan kalimat ini seorang hamba bisa langsung mengikatkan ruhaninya dengan Sang Pencipta segala sesuatu. Kalimat yang jika dibaca di akhir hayat seseorang akan menjadi penjamin surga sekaligus pembuka pintu surga di akhirat kelak. Wallahu a'lam bishawab.