Selasa, 27 Oktober 2015

Judul Buku: Pendidikan di Persimpangan Jalan
Penerbit: IAIN Press Pontianak
Cetakan: Oktober 2015
Penulis: Sholihin H.Z., M. Pd. I



(Disampaikan dalam Kajian Rutin Bina Rohani
Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Nop 2015)


3 Pintu Kebaikan dan 3 Pintu Keburukan
Sholihin H.Z., M. Pd. I**


اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلـْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ * اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ اَشْرَفِ اْلاَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَسَيٍّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّعَلىَ اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ*  قاَلَ الله تَعَالَى فِى اْلقُرْاَنِ الْعَظِيْمْ *  اَعُوْذُباِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمْ * بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ *  Ï%©!$# t,n=y{ |NöqyJø9$# no4quptø:$#ur öNä.uqè=ö7uÏ9 ö/ä3ƒr& ß`|¡ômr& WxuKtã 4 uqèdur âƒÍyèø9$# âqàÿtóø9$#
 اَمَّابَعْدُ

Alhamdulillahi robbil ‘alamin. Segala puja dan puji hanya untuk Allah SWT yang senantiasa mencurahkan rahmat dan kasih sayangnya  untuk semua makhluk-Nya. Hanya kepada-Nya kita menyembah dan hanya kepada-Nya jua kita mohon pertolongan dan bantuan. Sholawat dan salam untuk nabiyyuna Muhammad SAW semoga kita mendapatkan syafaatnya. Amin Ya Mujibassailin.
Mengawali pertemuan ini, satu kata dan sikap yang mesti kita tunjukkan adalah rasa syukur kepada Allah SWT. Syukur karena hingga saat ini kita masih diberikan kesempatan untuk menemui hari yang mudah-mudahan penuh dengan kebaikan, masih diizinkan untuk bangun pagi menghirup udara dan merasakan hangat sinar mentari. Bersyukur karena masih bertemu dengan saudara-saudara kita khususnya dalam pertemuan kali ini.
Oleh karena itu, sebagai bentuk pengabdian kita, mari kita perbaiki dan tingkatkan terus kadar keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Dengan cara apa? Dengan banyak berzikir, berfikir dan beramal shaleh. Pertama, Zikir, kita kuatkan zikir kita untuk mengingat Allah SWT dengan membasahi lidah kita dengan kalimat-kalimat thoyyibah, istighfar (mohon ampun) kepada Allah. Mari kita lantunkan:

اَسْتَــغْفِــرُ اللهَ رَبَّ اْلبَــرَايـَا * اَسْتَــغْفِرُ اللهْ مِنَ الْخَطَايَا
ASTAGHFIRULLOH ROBBAL BAROYA * ASTAGHFIRULLOH MINAL KHOTOYA

رَّبِّ زِدْنــِيْ عِلْمًا نَافـِـعًا * وَوَفِــقْــنِىْ عَــمَلاً مَــقْبُوْلاً
ROBBI ZIDNI ‘ILMAN NAFI’A * WAWAFIQNI ‘AMALAN MAQBULA

وَوَهَـــبْلـِـىْ رِزْقـًـا وَاسِـــعًا * وَتُــبْ عَـلَــيْناَ تَوْبَةً نَــصُوْحـًـا
WAWAHABLI RIZQAN WASI’AN * WATUB ‘ALAINA TAUBATAN NASUHA

Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa membuka pintu ampunan selebar-lebarnya untuk hamba-hambaNya yang berserah diri pada-Nya. Amin Ya Mujibassailin.
Kedua, berfikir, kita maksimalkan potensi fikir kita dengan merenungkan hasil karya Sang Pencipta, Allah al-Qadir, Qadhi Robbul Jalil. Mari kita renungkan bagaimana Allah SWT menciptakan langit tanpa tiang, menjadikan bumi sebagai hamparan, bulan dan bintang sebagai perhiasan, dan kita manusia makhluk dengan predikat sebaik-baik ciptaan. Mudah-mudahan dengan kontemplasi dan perenungan semacam ini, iman dan keyakinan kita akan semakin meningkat, dan kita digolongkan kepada hamba-Nya yang muttaqien.
Selanjutnya mari kita maksimalkan juga ketaatan kita dengan beramal shaleh baik shaleh secara individu maupun secara sosial. Dimana letak urgensinya amal shaleh? Allah SWT menyatakan dalam QS. al-Ashr/103:1-3:
ÎŽóÇyèø9$#ur ÇÊÈ ¨bÎ) z`»|¡SM}$# Å"s9 AŽô£äz ÇËÈ žwÎ) tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# (#öq|¹#uqs?ur Èd,ysø9$$Î/ (#öq|¹#uqs?ur ÎŽö9¢Á9$$Î/ ÇÌÈ

Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”
Semoga tiga hal ini, zikir, fikir dan amal shaleh menjadikan kita sebagai manusia yang punya nilai guna, berdaya guna dan “mahal” disisi Allah dan dalam pandangan manusia. Amin Ya Mujibassailin.
Tema yang penulis angkat adalah tentang pintu-pintu kebaikan dan pintu-pintu kejahatan/keburukan. Kebaikan adalah sesuatu yang fitrah dan memiliki ruang lingkup yang luas. Demikian juga dengan kejahatan. Hanya bahwasanya kebaikan memiliki nilai plus yang tidak terdapat pada potensi kejahatan. Sebuah kebaikan akan bernilai pahala disisi Allah SWT meskipun baru sebatas niat, dan akan semakin sempurna jika diwujudkan dalam tindakan nyata, namun berbeda dengan kejahatan. Ia baru akan dinilai sebagai sebuah kemungkaran apabila diwujudkan dalam bentuk tingkah laku. Inilah uniknya Islam. Dalam bahasa agama, dinamakan dengan niat. Namun kita tidak boleh hanya sebatas niat dan niat tanpa ada keinginan untuk merealisasikan. Allahu a’lam.
Terbatasnya waktu dan pembahasan, penyusun membatasi kepada tiga hal yang diajarkan agama sebagai sebuah kebaikan dan tiga hal yang dilarang dalam agama. Tiga hal yang mengandung kebaikan dan diperintahkan agama adalah syukur, salam dan istiqomah. Demikian juga, tiga hal yang dilarang dalam agama yakni sombong (takabur), hidup bermegah-megahan dan lupa dengan kematian.

Pintu-pintu Kebaikan
Syukur
Sangat banyak ditemukan dalam al-Quran, ayat yang berbicara tentang syukur. Diantaranya dalam QS. al-Baqarah/2:152 yang berbunyi:
þÎTrãä.øŒ$$sù öNä.öä.øŒr& (#rãà6ô©$#ur Í< Ÿwur Èbrãàÿõ3s? ÇÊÎËÈ
Artinya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
Juga dapat ditemukan dalam QS. an-Nisa/4:147, QS. ali Imran/3: 145, QS. al-A’rof/7: 17, QS. Saba/34: 13 dan QS. an-Naml/27: 40.
Menurut Quraish Shihab (2003: 175), syukur berarti “puji”, ini bermakna juga bahwa pujian terhadap yang terpuji baru menjadi wajar bila yang terpuji melakukan sesuatu yang baik secara sadar dan tidak terpaksa. Apa yang baik dari manusia (anda atau orang lain) pada hakikatnya adalah dari Allah semata. Jika demikian, pujian apapun yang disampaikan akhirnya kembali kepada Allah SWT. Oleh karena itu kita diajarkan oleh-Nya untuk mengucapkan “alhamdulillah”.
Syukur juga mengandung arti “menggunakan anugerah Ilahi sesuai tujuan penganugerahannya”. Apa yang menjadi keinginan si pemberi dan kemudian digunakan sebagai yang dikehendaki, itulah makna syukur. Makna syukur dapat digambarkan sebagai berikut: Saya memberi saudara sehelai kain sarung, kemudian kain sarung itu saudara gunakan untuk sholat, menghadiri majlis taklim dan sebagainya. Itulah syukur. Dihari lain saya memberi saudara baju kemeja dengan harapan digunakan sebagaimana mestinya, ternyata yang saya lihat, baju kemeja yang diberi digunakan untuk ngelap  motor, membersihkan dinding dan sebagainya. Contoh kedua ini tidak masuk kategori syukur yang dimaksudkan agama. Dengan demikian, syukur adalah menggunakan pemberian siapapun sesuai dengan tempatnya sebagaimana keinginan si pemberi. Mudah-mudahan kita menjadi hamba yang pandai bersyukur.
Atas nikmat yang Allah berikan, kita diperintahkan untuk bersyukur. Jika bersyukur maka Allah SWT akan menambahkan nikmat-Nya untuk hambanya namun jika sebaliknya, dengan tegas Allah SWT memaklumatkan bahwa orang yang tidak bersyukur sesungguhnya azab Allah SWT sangat pedih. Dinyatakan:

øŒÎ)ur šc©Œr's? öNä3š/u ûÈõs9 óOè?öx6x© öNä3¯RyƒÎV{ ( ûÈõs9ur ÷LänöxÿŸ2 ¨bÎ) Î1#xtã ÓƒÏt±s9 ÇÐÈ
Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim/14: 7).
Pertanyaan selanjutnya, mengapa kita bersyukur? Dalam al-Quran disebutkan sesungguhnya segala kebaikan dan kenikmatan yang ada pada kita adalah karunia dari Allah SWT. Dinyatakan:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ
Artinya: “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)…” (QS. An-Nahl/16: 53)
Betapa melimpahnya kenikmatan yang Allah SWT berikan kepada kita, yang tidak terhingga jumlahnya. Allah memberikan kita kehidupan, kesehatan, makanan, minuman, pakaian dan begitu banyak nikmat yang lainnya. Dari tiada, kemudian ada dan menikmati segala fasilitas yang ada namun akhirnya kita kembali kepada tiada. Kembali kepada tiada dengan membawa segala amal selama hidup di dunia.
Jika kita berusaha menghitung nikmat yang Allah karuniakan kepada kita, niscaya kita tidak akan mampu menghitungnya. Disebutkan dalam al-Quran:
وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا
Artinya: “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (QS. An-Nahl/16: 18).
Faktor yang mengharuskan kita bersyukur, coba kita cermati dan renungkan betapa banyak saudara kita, teman bahkan orang yang kita cintai yang telah mendahului kita, dan inilah makna dari ucapan yang diajarkan tatkala kita memasuki lokasi pemakaman dengan ucapan: وَاِنَّ اِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَحِقُوْنَ , meskipun sebenarnya malaikat maut sudah sering ngirim sms ke makhluknya. Apa SMS malaikat maut? Jike uban udah betabur, gigi banyak yang gugur, mate udah pada kabur, makan cume makan bubur, jalan udah maju mundur, ndak lama lagi dekat lubang kubur. Jika tanda-tanda ini sudah ada, kematian sudah dekat. Namun, hakikatnya kematian adalah kepastian yang misteri. Pasti, karena ia pasti menemui semua makhluk. Misteri, karena tidak ada satupun yang tahu kapan ia datang. Kita bersyukur karena masih diberikan izin oleh Allah untuk melanjutkan kehidupan di dunia ini. Mudah-mudahan Allah SWT mengakhirkan hidup kita dalam keadaan husnul khatimah (baik akhirnya).
Syukur diajarkan oleh Allah SWT dengan cara kita meneladani salah satu asma Allah SWT yaitu asy-Syakur. Asy-Syakur secara bahasa berasal dari kata “syakara” yang berarti pujian atas kebaikan.  Allah asy-Syakur, artinya allah menghargai dan memberi balasan atas seluruh amal kebaikan hamba-Nya. Allah SWT memberi balasan pahala yang banyak dan berlipat ganda atas ketaatan dan ibadah yang sedikit.
Ibnu Qudamah rahimahullah, “Syukur (yang sebenarnya) adalah dengan hati, lisan dan anggota badan”. Syukur dengan hati adalah 1) Mengakui dan meyakini bahwa nikmat tersebut semata-mata datangnya dari Allah SWT dan bukan dari selain-Nya. Meskipun bisa jadi kita mendapatkan nikmat itu melalui profesi kita, teman kita, aktivitas jual beli, bekerja atau yang lainnya, semuanya itu adalah hanyalah perantara untuk mendapatkan nikmat. Hakikatnya, semua nikmat apapun dia, dari siapapun dia dan apapun bentuknya sebenarnya adalah dari Sang Pemberi Rezeki, Allah SWT.; 2) Mencintai Allah SWT yang telah memberikan semua nikmat itu kepada kita; 3) Meniatkan untuk menggunakan nikmat itu di jalan yang Allah SWT ridhai.
Sementara syukur dengan lisan adalah memuji dan menyanjung Dzat yang telah memberikan nikmat tersebut pada kita. Berlama-lama zikir dan tafakkur dalam  rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Syukur dengan anggota badan adalah menggunakan nikmat tersebut untuk mentaati Dzat yang kita syukuri yaitu Allah SWT dan menahan diri agar jangan menggunakan kenikmatan itu untuk bermaksiat kepada-Nya.
Doa mohon sebagai hamba yang selalu mensyukuri nikmat Allah SWT (QS. an-Naml/27: 40:
Éb>u ûÓÍ_ôãÎ÷rr& ÷br& tä3ô©r& štFyJ÷èÏR ûÓÉL©9$# |MôJyè÷Rr& ¥n?tã 4n?tãur žt$Î!ºur ÷br&ur Ÿ@uHùår& $[sÎ=»|¹ çm8|Êös? ÓÍ_ù=Åz÷Šr&ur y7ÏGpHôqtÎ/ Îû x8ÏŠ$t7Ïã šúüÅsÎ=»¢Á9$#
"Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh".

Salam
As-Salam adalah sifat Allah yang hanya sekali disebut dalam  al-Quran yaitu dalam QS. al-Hasyr/59: 23. Kata ini terambil dari akar kata salima yang maknanya berkisar pada keselamatan dan keterhindaran dari segala yang tercela (M. Quraish Shihab, 2003: 42). 
Ucapan salam adalah penghormatan yang diajarkan oleh Allah SWT kepada manusia. Ada beberapa alasan kenapa Allah SWT memilih ucapan ini sebagai yang harus diucapkan manusia kepada sesamanya.
1.        Salam adalah ucapan atau sapaan Allah SWT kepada para nabi dan rasul-Nya. Seperti dapat ditemukan dalam al-Quran:
íO»n=y 4n?tã 8yqçR Îû tûüÏHs>»yèø9$#
Artinya: "Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam". (QS. ash-Shafat/37: 79)
2.        Di akhirat nanti, para calon penghuni surga dipersilahkan masuk oleh Allah SWT dan disambut oleh para malaikat dengan ucapan salam.
Disebutkan:

الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ
بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "Salaamun`alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan".” (Q.S. an-Nahl/16: 32)
3.      Ucapan salam bukan hanya ucapan penduduk selama hidup di dunia, namun di alam akhiratpun, ucapan salam adalah sapaan sesama ahli surga. Seperti yang terdapat dalam al-Quran:
دَعْوَاهُمْ فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ وَءَاخِرُ دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya: “Do'a mereka di dalamnya ialah: "Subhanakallahumma, dan salam penghormatan mereka ialah: "Salam". Dan penutup doa mereka ialah: "Alhamdulillaahi Rabbil 'aalamin.” (QS. Yunus/10: 10)
4.      Karena orang yang mengucapkan salam kepada orang lain, adalah salah satu dari pada ciri hamba Allah. Seperti dalam al-Quran disebutkan:
وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
Artinya: “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (Q.S al-Furqan/25: 63).
Salam mempunyai dua makna. 1) Salam sebagai doa dan rasa penghormatan dengan mengucapkan Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. 2) Salam bermakna damai dan keselamatan.
Pertama, salam sebagai sebuah penghormatan diajarkan dalam al-Quran:
#sŒÎ)ur LäêŠÍhãm 7p¨ŠÅstFÎ/ (#qŠyssù z`|¡ômr'Î/ !$pk÷]ÏB ÷rr& !$ydrŠâ 3 ¨bÎ) ©!$# tb%x. 4n?tã Èe@ä. >äóÓx« $·7ŠÅ¡ym
Artinya: “Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu”. (QS. an-Nisa/4: 86)
Selanjutnya salam sebagai ucapan mendoakan:
  الَسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
“Keselamatan atasmu, rahmat Allah dan berkah-Nya”
Jika dilihat dari teks di atas, maka salam merupakan sebuah doa, doa untuk keselamatan orang lain. Mendoakan untuk keselamatan orang lain adalah sebuah kebaikan dan diharapkan oleh semua orang.
Berkaitan dengan hal di atas, suatu hari Rasulullah SAW  bertandang ke rumah salah seorang sahabatnya, tepat di depan pintu rumahnya, Nabi SAW mengetuk pintu dan mengucapkan salam, salam pertama diucapkan namun tidak terdengar jawaban, salam kedua diucapkan namun juga tidak terdengar  balasan, hingga salam ketiga Nabi mengucapkan salam juga tidak ada yang menjawab. Nabipun segera pulang ke rumahnya dan beberapa langkah dari pintu rumah sahabat tersebut, ternyata keluar yang empunya rumah sambil dengan agak nyaring mengharapkan Nabi kembali menemuinya. Nabipun menghampiri sahabat tersebut dan berujar, “Wahai sahabatku, sampai tiga kali aku mengucapkan salam padamu tapi tidak satupun salamku yang engkau jawab, apa gerangan wahai sahabatku”, Sahabat itupun menjawab, “maafkan aku ya Rasul, sebenarnya aku tadi mendengar ucapan salammu, namun ku jawab dengan sangat pelan hingga engkau tidak mendengarnya”, Nabipun balik bertanya, “Apa maksudmu wahai sahabatku?” Sahabat itupun menjelaskan, “Ya Rasul, sengaja aku jawab dengan pelan, supaya anda sering mengucapkan salam kepadaku, bukan anda pernah mengatakan ucapan salam dari seorang muslim kepada muslim lainnya adalah doa, dan aku berharap supaya engkau sering mendoakanku dengan salammu itu”. Kesimpulannya adalah sering-seringlah minta doa kepada orang lain, karena  tidak tahu dari mulut siapa doa itu diijabah Allah SWT.
Kedua, salam sebagai misi keselamatan yang harus disebarkan oleh tiap muslim. Dimanapun berada, dengan siapapun, misi ini harus menjadi mindset semua orang. Misi kedamaian yang diemban berbanding lurus dengan azas manfaat bagi lingkungannya.
Muhammad Ainun Najib atau yang dikenal dengan Cak  Nun  (Emha)  membagi jenis manusia kepada tiga jenis yaitu manusia wajib, manusia sunnah dan manusia haram (Prayogi R. Saputra, 2012:120).  Manusia wajib adalah manusia yang keberadaannya harus ada di tengah-tengah masyarakat. Keberadaannya sungguh berarti, kepergiannya mengganjilkan dan kedatangannya menggenapkan. Ia mampu memberikan motivasi bahkan inspirasi bagi lingkungannya. Tipe semacam ini dapat kita temukan di masyarakat. Dan ia memiliki nilai plus dan pengaruh bagi sekelilingnya. 
Karakter manusia wajib ini menjadikan sosoknya sebagai yang ditunggu-tunggu, sebagai inspirator, decision maker dan sebagainya. Di masyarakat kita, pasti kita temui orang-orang dengan karakter semacam ini.
Sementara itu ada juga manusia dengan klasifikasi manusia sunnah. Tipe manusia ini adalah manusia yang lebih baik ada di masyarakat namun jika tidak ada juga tidak apa-apa. Dalam konteks ini, keberadaannya akan menambah ghirah dan semangat untuk terus beraktifitas, namun jika tidak ada, sekelilingnya masih mampu untuk berbuat dan beraktifitas. Selanjutnya yang ketiga adalah –kita berlindung kepada Allah SWT- kategori manusia haram. Manusia haram adalah manusia yang berkarakter negatif, keberadaannya di tengah-tengah masyarakat justru akan membuat masalah. Ia adalah bagian dari masalah, bukan bagian dari solusi (problem solver). Keberadaannya? Justru lebih baik jika ia tidak ada.  وُجُودُهُ كَاَدَمِهِ  (adanya sama dengan ketiadaannya).  Dan tipe inipun ada di tengah-tengah masyarakat kita.
Mudah-mudahan kita menjadi insan yang membawa keselamatan dan kedamaian bagi lingkungan, kedamaian ditangan kita, kedamaian pada lisan kita dan pada seluruh anggota tubuh kita.
اَللَّهُمَّ اَنْتَ السَّلاَمْ وَمِنْكَ السَّلاَمْ وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلاَمْ فَحَيِّنَا رَبَّنَا باِلسَّلاَمْ
وَاَدْخِلْنَا اْلــجَنَّةَ دَارَ السَّلاَمْ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَاذَالْـجَلاَلِ وَ اْلِإكْرَامْ


Istiqamah
Istiqamah adalah upaya seseorang untuk menempuh ajaran agama Islam yang benar dengan tidak berpaling ke kanan maupun ke kiri. Istiqamah ini mencakup pelaksanaan semua bentuk  ketaatan kepada Allah lahir dan batin, dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya. Sederhananya, istiqamah adalah bersikap konsisten, teguh pendirian dan tegak lurus dalam menjalankan sebuah keyakinan.
Di antara ayat yang menyebutkan keutamaan istiqamah adalah firman Allah SWT yang berbunyi:
إِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqamah pada pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. Fushilat/41: 30).
Para ahli tafsir membagi istiqamah ke dalam tiga pendapat yaitu:
1.        Istiqamah di atas tauhid
Istiqamah di atas tauhid mengandung makna memegang teguh seyakin-yakinnya akan kebenaran tauhid sehingga pengakuan akan ke-Esa-an Allah merupakan ajaran inti dan mutlak yang diajarkan oleh para nabi dan rasul sejak nabi Adam. Ketaatan ini mempunyai efek yang luar biasa dalam kehidupan sebagaimana ditunjukkan pada era Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Ini juga menjadi dampak dari mengapa masa dakwah Nabi Muhammad SAW di kota Mekkah lebih lama dibanding kota Madinah.
2.        Istiqamah dalam ketaatan dan menunaikan kewajiban Allah
Ketaatan kepada Allah SWT memerlukan sikap istiqamah. Allah SWT mencurahkan kasih sayang dan rezekinya tiada henti dan tiada bosan, dari aspek ini sebagai makhluk-Nya sudah selayaknya kita juga meneladani sifat yang Allah SWT yang Maha Pemurah ini. Meskipun ketaatan kita mengalami pasang-surut, turun-naik, yazid wa yanqush, tetapi berusaha untuk tetap dalam ketaatan harus menjadi bagian dari ikhtiar kita. Disinilah salah satunya letak pengaruh lingkungan dalam membentuk karakter seseorang.
3.    Istiqamah di atas ikhlas dan dalam beramal hingga maut menjemput.            
Memegang teguh keyakinan akan ke-Esa-an dan ketaatan kepada Allah SWT sulit untuk maksimal manakala tidak didasari dan dilandasi oleh keikhlasan kepada Allah SWT. Ikhlas menjadikan segala sesuatu ringan untuk dikerjakan, ikhlas menjadikan segala sesuatu ridho untuk diberikan dan ikhlas menjadikan segala sesuatu mudah untuk diterima. Jika segala sesuatunya dilakukan dengan ikhlas, maka ketenangan dan keridhoan akan didapatkan. Dalam beribadah, istiqamah di atas keikhlasan sangatlah penting.
Suatu hari ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, ajarilah aku tentang Islam yang aku tidak akan menanyakan ini lagi kepadamu?”. Maka Rasul pun menjawab, “Berislamlah, berbuat baiklah lalu istiqamah”. Karena amalan yang paling disukai oleh Allah bukanlah amalan yang besar semata. Tapi Allah akan menyukai amalan yang dijalankan secara kontinyu meskipun hanya merupakan amalan yang nilainya kecil.
Sederhananya, sikap istiqamah dapat diilustrasikan sebagai berikut:
Ada seorang bapak dan anaknya yang pergi ke pasar untuk membeli seekor kuda untuk dijadikan kendaraan tunggangan. Ketika kuda sudah dibeli dan sang anak menunggangi kuda sementara si Bapak menuntun kuda. Begitu melewati sebuah kampung, mulailah orang-orang yang dilewatinya berkomentar sinis, “Ah, anak ini tidak tahu adab sopan santun, masa’ orang tuanya disuruh menuntun kuda dengan berjalan kaki sementara si anak dengan nyamannya duduk di atas kuda”. Mendengar mereka berdua dibicarakan orang yang dilewatinya, sang Bapak berkata kepada anaknya, “Nak, tadi kita dibicarakan oleh orang-orang yang kita lewati dan menyebut engkau anak yang tidak tahu budi sopan santun, “ Sang anakpun bertanya, “Jika demikian, sebaiknya apa yang kita lakukan Pak?” Sang Bapak memberikan tawaran, “Kalau begitu, sekarang kita gantian, Bapak menunggang kuda dan engkau menuntun kuda”. Si anakpun mengiyakannya.
Ketika posisi sudah bergantian dengan sang Bapak menunggang kuda dan melewati kerumunan orang, seketika beberapa orang dari kerumunan orang itupun berujar, “Sungguh tidak tahu diri Bapak ini, kok anak kecil disuruh nuntun kuda, sementara mungkin perjalanannya masih jauh, keterlaluan sang Bapak ini”, demikian kira-kira komentar mereka. Mendengar komentar tersebut, sang Bapak berkata kepada anaknya lagi, “Nak, kedengaran ndak oleh kamu, dengan posisi Bapak menunggang kuda dan kamu menuntun kuda dikatakan Bapak terlalu tega dengan kondisi ini dengan menyuruh kamu menuntun kuda? Sebaiknya posisi kita tidak ada yang menaiki kuda salah seorangpun”, ujar sang Bapak. Akhirnya kuda itupun dibiarkan berjalan tanpa penunggang satupun dan begitu melewati sebuah kampung, ternyata masih ada orang yang membicarakan mereka dengan ucapan bukankah mereka ke pasar untuk membeli kuda, dan ketika kuda sudah dibeli kenapa tidak ditunggangi, demikian komentar orang kampung yang mereka lewati.
Mendengar hal itu, seketika itu juga sang Bapak mengatakan kepada anaknya, “Nak, sepertinya kita selalu dibicarakan orang, ketika engkau menaiki kuda dikatakan engkau tidak tahu sopan santun dan adab ke orang tua. Ketika Bapak menunggangi kuda dikatakan Bapak tega membiarkanmu jalan kaki, dan ketika kita biarkan kuda ini berjalan tanpa ada yang menunggangi dikatakan percuma membeli kuda dan sekarang kita tidak ada pilihan lain, kita tunggangi kuda ini berdua!” demikian kata sang Bapak. Kuda itupun ditunggangi oleh bapak dan anak dan ternyata masih juga ada komentar dari orang yang dilewatinya, Apa komentar yang mereka dengar? “Bapak dan anak menaiki seekor kuda, berapa berat badan mereka dan mampukah kuda itu menahan beben mereka? Sungguh keterlaluan dua makhluk ini”.
Dari ilustrasi di atas, pertanyaan pertama yang dapat dikemukakan adalah apakah ada sebuah kebaikan atau amal saleh yang lepas dari komentar orang? Apakah ada aktifitas kita yang tidak akan dibicarakan orang. Pasti jawabannya tidak akan pernah ada satupun aktifitas kita, amalan kita dan bahkan perbuatan baik sekalipun yang tidak lepas dari pembicaraan orang. Jika demikian halnya, satu hal yang dapat kita lakukan adalah lakukanlah kebaikan itu, dan yakinlah kebaikan itu akan bermanfaat bagi siapapun setidak-tidaknya telah menjadi karakter pribadi kita masing-masing. Pepatah mengatakan anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Inilah yang dalam bahasa agama dinamakan dengan “istiqamah”.
الَلَّهُمَّ اَعِنَّا عَلى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
اَللَّهُمَّ اِناَّ نَسْئَلُكَ اْلــهُدَى  وَالتُّــقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى

Pintu-pintu Keburukan
Sombong/Takabur
Manusia dibekali oleh Sang Khaliq dengan dua potensi, potensi kebaikan dan keburukan, fasilitas jasmani dan rohani, lahir dan batin. Tulisan ini diawali dengan sebuah konsepsi bahwa kecenderungan manusia adalah mampu mengenali dan mengidentifikasi penyakit jasmani ketimbang rohani. Disinilah letak  perbedaannya, jika penyakit jasmani lebih banyak diketahui  oleh yang bersangkutan, orang lain tidak tahu dan bahkan cenderung untuk ditutup-tutupi, lain halnya dengan penyakit rohani, justru yang tahu seseorang itu memiliki penyakit rohani adalah orang lain, kikir, sombong, malas adalah sifat tidak baik yang justru orang lain yang memberikan penilaiannya.
Sombong adalah salah satu sifat iblis la’natullah yang menyebabkan ia dikeluarkan Allah SWT dari surga-Nya. Dari kesombongan ini akan memunculkan karakter sulit menerima kebenaran dan meremehkan orang lain. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya yang berbunyi: ”Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia”(HR Muslim).
Kesombongan yang paling besar dan paling berbahaya adalah kesombongan kepada Allah SWT  dengan menolak kebenaran dan angkuh untuk tunduk kepada-Nya baik berupa ketaatan ataupun mengesakan-Nya.
Pintu masuk syetan agar dalam diri manusia terdapat kesombongan diantaranya adalah:
1.        Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan menjadi pintu masuk syetan yang dahsyat untuk menjerumuskan manusia ke dalam sikap kesombongan. Iblis menyadari bahwa sifat inilah yang menyebabkan ia dikeluarkan oleh Allah dari surga-Nya. Oleh karenanya iblis menyesatkan manusia agar banyak pengikutnya dan ilmu pengetahuan menjadi pintu masuknya yang ampuh. Dengan ilmu pengetahuan seseorang bisa menjadi merasa “super”, dengan ilmu pengetahuan seseorang bisa merasa “ter”, “semua kalau bukan karena intelektualku,” dengan persepsi seperti ini maka yang akan muncul adalah menolak kebenaran yang bukan datang dari dirinya meskipun itu benar. Seakan-akan ia menganggap kebenaran harus selalu dari lisannya, dari penguasaan pengetahuannya. Ketika seseorang menganggap orang lain tidak benar sementara dirinya selalu benar, maka virus kesombongan telah menyebar dalam rohaninya. Maka inilah yang dapat kita saksikan manakala proses ruqyah dilakukan, hal pertama yang dijalani oleh orang yang sedang diruqyah adalah melakukan sujud kepada Allah untuk membuang sifat sombong itu tadi.
2.        Amal Ibadah
Aktifitas ibadah yang kita lakukan menjadi sarana yang ampuh untuk menjerumuskan kita mengikuti langkah-langkah syetan. Ditiupkan rasa kitalah paling kuat ibadahnya, dihembuskan rasa kitalah yang paling faham agama, dilontarkanlah rasa kitalah yang paling dermawan, paling sosial dan paling ‘alim. Bahkan tidak hanya saat kita akan melakukan sebuah kebaikan, saat ibadah kita lakukanpun, iblis la’natullah mendatangi kita untuk mengacaukan misalnya sholat kita, “memang engkaulah yang paling khusyu’ sholat di kantor ini”, “memang hebat ente ni, jalan di gang ini ente yang paling banyak nyumbangnye” dan sebagainya. Mari kita mohon doa kepada Allah SWT semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam beramal saleh, dan menjadikan kita hamba-Nya yang ikhlas.
3.        Harta Kekayaan
Ini juga menjadi pintu masuk syetan yang sering tidak kita sadari. Sombong dalam hal kekayaan berarti sombong dari segi materi. Wujud lain dari kesombongan materi adalah tidak mau bergaul dan berteman dengan orang yang status ekonominya di bawahnya, bergaul hanya sebatas kalangan elit dan menganggap rendah pada orang di bawahnya.  Sejarah manusia membuktikan bagaimana Qarun dengan sombongnya yang ketika dimintakan untuk mengeluarkan infaq dan shadaqah, namun dengan congkaknya ia mengatakan bahwa kekayaannya adalah hasil jerih payahnya, kerja keras membanting tulang namun akhirnya Allah benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi (QS. al-Qashash/28:79-81).
4.        Keturunan
Membanggakan nasab keturunan termasuk hal yang dilarang agama. Inilah yang ditegaskan oleh Allah SWT dalam al-Quran yang artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah orang yang paling bertaqwa”. Jika tiket surga adalah keturunan maka manusia yang berdarah biru, manusia dari kalangan bangsawan, dan keturunan para pembesarlah yang mendominasi surga. Tetapi bukan itu tiket menuju surga melainkan ketakwaan. Bagaimana Bilal bin Rabah, seorang Habsyi yang hitam legam, kurus dan rambut keriting, pernah membuat Rasulullah terkejut dengan pernyataan Jibril saat Rasulullah mendengar ada bunyi terompah/sandal orang yang sedang berjalan di dalam surga. Rasulullah diberitahu bahwa langkah kaki yang sedang berjalan itu adalah langkah kaki Bilal bin Rabah, sementara saat itu Bilal bin Rabah masih hidup di dunia.
Itulah pintu syetan pertama untuk menjerumuskan manusia ke dalam kesombongan. Rasa syukur dan senantiasa melihat ke bawah adalah bagian dari proses pembinaan rohani kita.

Hidup Bermegah-megahan
Tercukupinya materi, serba ada bahkan sampai keturunan berikutnya, profesi bergengsi dan sejenisnya adalah sifat manusia sebagai bagian untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan mengeksiskan keberadaan diri. Memiliki harta tidak dilarang dalam Islam, bahkan muslim kaya sangat dianjurkan karena dengan kekayaan yang ada banyak yang bisa diperbuat dan banyak yang bisa dilakukan. Tetapi memiliki kekayaan dalam Islam ada aturan petunjuk teknisnya. Diantaranya aturannya adalah perlu memahami bahwa harta kekayaan yang ada hakikatnya adalah sebatas hak guna pakai dan bukan hak milik. Berikutnya pada harta yang ada, di dalamnya terdapat hak-hak fakir miskin, janda-janda miskin, panti asuhan dan pesantren yang perlu dibina dan sebagainya.
Para sahabat seperti Usman bin Affan menyumbang sepertiga hartanya untuk jihad di jalan Allah. Umar bin Khaththab menyumbang separuh hartanya. Bahkan Abu Bakar menyumbang seluruh hartanya. Mereka menggunakan hartanya untuk memperkuat Islam sehingga persenjataan ummat Islam kuat dan lengkap dan bisa membiayai tentara yang tidak mampu secara finansial. Bukan untuk kepentingan pribadi secara berlebihan. Semangat memberi, semangat berinfak inilah yang harus kita tiru.
Ketika seluruh manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar untuk dihisab (dimintai pertanggungjawaban) atas seluruh aktifitas dan amaliahnya, maka ada empat pertanyaan yang diajukan yakni tentang ilmunya, tentang umurnya, tentang masa mudanya dan terakhir tentang harta kekayaan yang dimilikinya. Menariknya adalah, jika tentang ilmu, pertanyaan yang dikemukakan hanya satu yakni kemana ilmu digunakan, apakah untuk mencerdaskan dan mencerahkan umat atau justru menyesatkan masyarakat. Demikian juga pertanyaan untuk umur, kemana umur itu dihabiskan, apakah untuk kebaikan dan ketaatan atau justru sebaliknya. Hal yang sama juga diajukan tentang masa muda, kemana digunakan apakah foya-foya, easy going atau untuk menebar kebaikan. Lain halnya dengan kekayaan, pertanyaan ada dua yaitu dari mana engkau dapatkan dan untuk apa kau gunakan. Pertanyaan untuk orang-orang kaya lebih lama dari yang lainnya.
Satu hal yang perlu disadari adalah bahwa kekayaan yang ada dapat mengajak seseorang untuk berbuat sesuatu yang bukan menjadi keperluannya. Merasa memiliki segalanya sehingga membuatnya terasa hidup tidak akan pernah berakhir. Sikap semacam ini dapat membuat manusia lupa dengan kampung sebenarnya yakni akhirat. Allah SWT menyebutkan:
ãNä39ygø9r& ãèO%s3­G9$# ÇÊÈ 4Ó®Lym ãLänöã tÎ/$s)yJø9$# ÇËÈ
Artinya: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. (QS. at-Takatsur/102: 1-2)
Ayat di atas menegaskan bahwa kehidupan yang berfoya-foya, saling membanggakan (keturunan, kekayaan, jabatan dan fisik) dapat melalaikan manusia dan membuat manusia lupa dengan kematian. Sesungguhnya hidup dengan berfoya-foya dan bermegah-megahan berbanding lurus dengan lupa akan kematian. Jika manusia sudah lupa dengan kematian maka itulah musibah yang paling besar. Apa yang akan kita bawa ketika jenazah kita diusung ke liang lahad, ke “rumah type 21” (dalam 2 meter dan lebar 1 meter). Sejatinya adalah hanya amal yang akan mendampingi kita. Jika ‘amalan sholiha?  Maka kenikmatanlah yang menemani namun jika ‘amalan sayyia? Maka kesengsaraanlah yang menimpa.
Allah SWT juga mengecam orang-orang yang hidup bermegah-megahan. Dinyatakan Allah SWT:
ÏN#uäur #sŒ 4n1öà)ø9$# ¼çm¤)ym tûüÅ3ó¡ÏJø9$#ur tûøó$#ur È@Î6¡¡9$# Ÿwur öÉjt7è? #·ƒÉö7s? ÇËÏÈ ¨bÎ) tûïÍÉjt6ßJø9$# (#þqçR%x. tbºuq÷zÎ) ÈûüÏÜ»u¤±9$# ( tb%x.ur ß`»sÜø¤±9$# ¾ÏmÎn/tÏ9 #Yqàÿx. ÇËÐÈ

Artinya: “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”
Rasulullah SAW juga pernah bersabda dalam sebuah haditsnya: ”Tidak beriman kepadaku orang yang tidur dengan kenyang sementara tetangganya lapar padahal dia mengetahui hal itu.” (HR. al-Bazzaar).
Hidup bermegah-megahan dengan memperkaya diri dan keluarga, berbangga dengan kekayaan yang dimiliki, dampak pertamanya adalah akan membuatnya sombong dengan apa yang dimiliki dan ujungnya adalah membuatnya lupa akan kematian. Kematian adalah sesuatu yang pasti tetapi misteri. Pasti karena ia pasti akan menemui setiap yang bernyawa dan misteri karena tidak satupun yang tahu kapan ia akan datang.

Lupa dengan Kematian
Ada satu teks hadits Rasulullah  SAW yang berkaitan dengan tema ini yaitu:
 حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِــيَــةُ الْمَوْتْ
Artinya:  “Cinta dunia dan takut mati”
Dua kata ini saling beriringan yang menunjukkan bahwa jika seseorang telah cinta dengan dunia maka ia akan takut kehilangan dunia dengan berbagai fasilitasnya dan akibatnya tidak mau mati. Sikap apa yang dapat dilihat dari orang yang sudah terlalu cinta. Sederhananya orang yang sudah cinta dengan sesuatu maka 1) ia akan selalu menyebut-nyebutnya. Dalam konteks ini pembicaraannya tidak akan jauh sekitar harta dan jabatan (tanah yang akan dijual dan rumah kontrakan yang akan dibangun, jabatan yang menggiurkan) bahkan meskipun ia berada di masjid dan majlis ta’lim. Tidak ada yang mendominasi isi pembicaraannya selain dari harta ke harta dunia. 2) Orang yang sudah cinta akan melahirkan sikap rela berkorban. Tidak peduli siang dan malam kalau seseorang sudah “gila” harta, betapapun letih badan, betapapun banyaknya fikiran tapi manakala sudah menyangkut harta, apapun akan dilakukan dan dengan korban seberapapun asalkan dapat diraih dan 3) Cinta membuat yang jelek akan kelihatan bagus, buruk kelihatan baik, racun dikira madu dan sebagainya. Demikian juga dengan orang yang sudah cinta dunia, apapun bentuknya dan bagaimanapun caranya ia berusaha sekuat mungkin untuk memilikinya.
Orang yang sudah terlalu cinta dengan dunia, dengan fasilitas yang ada dan kemudahan yang diraih, perlahan namun pasti manakala tidak diiringi dengan didikan agama dan sentuhan-sentuhan spiritual akan membuatnya lupa dan takut dengan kematian. Tapi memang itulah dahsyat sekaligus kekuatan apa yang namanya MAUT. Maut memutuskan kesenangan dunia, memotong syahwat manusia, dan menghilangkan harapan dunia lainnya tetapi ketahuilah sesungguhnya kematian adalah pintu untuk menuju kehidupan yang sebenarnya, kehidupan yang hakiki.
Kematian hanya dikhawatirkan oleh mereka yang sebenarnya tidak siap dengan bekal akhirat, kematian menjadi momok yang menakutkan karena gambarannya yang mencabut nyawa dengan paksa dan meronta. Tapi tidak sedikit sebenarnya orang yang ketika malaikat maut menjemput, keadaannya seperti orang yang sedang tersenyum, dalam keadaan sujud kepada Allah SWT, ketika silaturrahmi dan dalam ladang kebaikannya lainnya.
Apa yang harus kita lakukan supaya kita tidak terlalu cinta dunia dan selalu menyiapkan bekal untuk akhirat? 1) Apabila memiliki tidak menjadi ujub/takabur;  2) Apabila sedikit tidak menjadi minder; 3) Tidak dengki kepada yang lebih; 4) Tidak meremehkan kepada yang kurang; 5) Selalu menjaga kejujuran dalam mencarinya; 6) Selalu siap apabila diambil pemiliknya.
Akhirnya mudah-mudahan Allah SWT senantiasa membimbing kita dalam kebaikan dan memberikan hidayah-Nya untuk kita agar selalu bermanfaat bagi orang lain. Mari meyakini bahwa siapa pun di antara kita pasti akan berhada­pan dengan maut. Bukan kapan kita meninggal, dimana kita wafat dengan bersama siapa dicabut nyawa kita, tetapi BEKAL APA YANG TELAH KITA SIAPKAN ketika ia menjemput kita.
Karena itu mari perbanyak amal kebajikan melalui keilmuan, kekuasaan, kekayaan, kesehatan dan kemam­puan yang diberikan oleh Allah SWT ke­pada kita sebelum Ia mengam­bilnya kembali.
اَللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْــخــَاتِــــمَةْ * وَلاَ تَخـْــــتِمْ عَلَيْنَا بِسُوْءِ الْـــخَاتـِــمَةْ
وَاللهُ الْمُوَافِقْ اِلَى اَقْوَامِ الطَّارْقِ
واَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ




Daftar Pustaka



A.W. Munawir, 1991, Kamus al-Munawir Arab-Indonesia Terlengkap, Surabaya: Pustaka Progresif
A.Z. Muttaqien, 2013, Bahayanya Sifat Sombong, Sumber: http://www.arrahmah.com /download 24/10/2015
Heriyanto Alamsyah, 2012, Hubbudunya Karohiyatul Maut, Sumber: https:// heriyantoalamsyahsukses.wordpress.com/download 24/10/2015
M. Quraish Shihab, 2003, Menyingkap Tabir Ilahi, Asmaul Husna dalam Perspektif al-Quran, Jakarta: Lentera Hati

Muhaimin Ashuri, 2011, Memahami Syukur, Sumber: http://muslim.or.id/download tanggal 24/10/2015
Paisal Halim, 2009,  Lupa Diri Dan Lupa Mati, Sumber: https://doktorpaisal. wordpress.com/download 24/10/2015
Rudi Handoko,  2014, Makna, Pengertian, Arti Dan Faidah Salam, Sumber: http://embuncinta86.blogpot.co.id/download tanggal 24/10/2015

Sa’id Hawwa, 2000, Intisari Ihya ‘Ulumuddin Al-Ghazali, Mensucikan Jiwa, Jakarta: Robbani Press

  
Zikir

اَلَّلهُمَّ اغْفِـــرْلِىْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبــَّيَانِىْ صَغِيْرًا
سُــبْحَانَ اللهِ وَالْــحَمْدُ للهِ وَلاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ
لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ -  لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ - لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ - لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ
يَا اللهُ – يَا رَحْمنْ – يَا اللهْ – يَا رَحِيْمْ
حَسْبُنَا اللهْ وَنِـعْمَ اْلــوَكِيْلْ – نِعْمَ اْلـمَـوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرْ
اِلـهِىْ لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ اَهْلاً – وَلاَ اَقْوَى عَلىَ النَّارِ اْلـجَحِيْمِ
فَهَبْ لِىْ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبِىْ  - فَإِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ الْعَظِيْمِ
ذُنُوْبِىْ مِثْلُ اَعْدَادِ الرِّمَالِ -  فَهَبْ لِىْ تَوْبَةً يَّا ذَ الْــجَلاَلِ
وَعُمْرِيْ نَاقِصٌ فِى كُلِّ يَوْمٍ – وَذَنْبِــيْ زَا ئِـــدٌ  كَيْفَ احْتِمَالِ
اِلـــهِىْ عَبْدُكَ الْعَاصِيْ اَتَاكَ – مُقِرًّا باِ لذُّنَوْ بِىْ وَقَدْدَعَاكَ
فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَاكَ اَهْـلُ – وَاِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ يَرْجُوْ سِوَاكَ 
                                                                                                                                                 
اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ – وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهÇÈ
رَبِّ يَسِّرْ وَلاَ تُعَسِّرْ رَبِّ تَــمِّمْ بِالْخــَـيْرْÇÈ