Judul Buku: Pendidikan di Persimpangan Jalan
Penerbit: IAIN Press Pontianak
Cetakan: Oktober 2015
Penulis: Sholihin H.Z., M. Pd. I
- See more at: http://malang-cyber4rt.blogspot.com/2013/02/cara-membuat-tulisan-berjalan-diatas.html#sthash.JrywIRBx.dpuf
Ya Allah ... Jadikanlah Ilmuku Bermanfaat Bagi Orang Lain
Selasa, 27 Oktober 2015
(Disampaikan dalam Kajian Rutin Bina Rohani
Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Nop 2015)
اَلَّلهُمَّ
اغْفِـــرْلِىْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبــَّيَانِىْ صَغِيْرًا
Kantor Gubernur Kalimantan Barat, Nop 2015)
3
Pintu Kebaikan dan 3 Pintu Keburukan
Sholihin
H.Z., M. Pd. I**
اَلسَّلاَمُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
اَلـْحَمْدُ
للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ * اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ اَشْرَفِ اْلاَنْبِيَاءِ
وَالْمُرْسَلِيْنَ * سَيٍّدِنَا مُحَمَّدٍ وَّعَلىَ
اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ* قاَلَ الله تَعَالَى فِى اْلقُرْاَنِ
الْعَظِيْمْ * اَعُوْذُباِاللهِ مِنَ
الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمْ * بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ * Ï%©!$# t,n=y{ |NöqyJø9$# no4quptø:$#ur öNä.uqè=ö7uÏ9 ö/ä3r& ß`|¡ômr& WxuKtã 4 uqèdur âÍyèø9$# âqàÿtóø9$#
اَمَّابَعْدُ
Alhamdulillahi robbil
‘alamin. Segala puja dan puji hanya untuk Allah SWT yang
senantiasa mencurahkan rahmat dan kasih sayangnya untuk semua makhluk-Nya. Hanya kepada-Nya
kita menyembah dan hanya kepada-Nya jua kita mohon pertolongan dan bantuan.
Sholawat dan salam untuk nabiyyuna Muhammad SAW semoga kita mendapatkan
syafaatnya. Amin Ya Mujibassailin.
Mengawali pertemuan
ini, satu kata dan sikap yang mesti kita tunjukkan adalah rasa syukur kepada Allah
SWT. Syukur karena hingga saat ini kita masih diberikan kesempatan untuk
menemui hari yang mudah-mudahan penuh dengan kebaikan, masih diizinkan untuk
bangun pagi menghirup udara dan merasakan hangat sinar mentari. Bersyukur
karena masih bertemu dengan saudara-saudara kita khususnya dalam pertemuan kali
ini.
Oleh karena itu,
sebagai bentuk pengabdian kita, mari kita perbaiki dan tingkatkan terus kadar
keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Dengan cara apa? Dengan banyak
berzikir, berfikir dan beramal shaleh. Pertama, Zikir, kita kuatkan
zikir kita untuk mengingat Allah SWT dengan membasahi lidah kita dengan
kalimat-kalimat thoyyibah, istighfar (mohon ampun) kepada Allah. Mari kita
lantunkan:
اَسْتَــغْفِــرُ
اللهَ رَبَّ اْلبَــرَايـَا * اَسْتَــغْفِرُ اللهْ مِنَ الْخَطَايَا
ASTAGHFIRULLOH ROBBAL BAROYA * ASTAGHFIRULLOH MINAL
KHOTOYA
رَّبِّ
زِدْنــِيْ عِلْمًا نَافـِـعًا * وَوَفِــقْــنِىْ عَــمَلاً مَــقْبُوْلاً
ROBBI
ZIDNI ‘ILMAN NAFI’A * WAWAFIQNI ‘AMALAN MAQBULA
وَوَهَـــبْلـِـىْ
رِزْقـًـا وَاسِـــعًا * وَتُــبْ عَـلَــيْناَ تَوْبَةً نَــصُوْحـًـا
WAWAHABLI
RIZQAN WASI’AN * WATUB ‘ALAINA TAUBATAN NASUHA
Mudah-mudahan
Allah SWT senantiasa membuka pintu ampunan selebar-lebarnya untuk hamba-hambaNya
yang berserah diri pada-Nya. Amin Ya Mujibassailin.
Kedua,
berfikir, kita maksimalkan potensi fikir kita dengan merenungkan hasil
karya Sang Pencipta, Allah al-Qadir, Qadhi Robbul Jalil. Mari
kita renungkan bagaimana Allah SWT menciptakan langit tanpa tiang, menjadikan
bumi sebagai hamparan, bulan dan bintang sebagai perhiasan, dan kita manusia
makhluk dengan predikat sebaik-baik ciptaan. Mudah-mudahan dengan kontemplasi
dan perenungan semacam ini, iman dan keyakinan kita akan semakin meningkat, dan
kita digolongkan kepada hamba-Nya yang muttaqien.
Selanjutnya
mari kita maksimalkan juga ketaatan kita dengan beramal shaleh baik shaleh
secara individu maupun secara sosial. Dimana letak urgensinya amal shaleh?
Allah SWT menyatakan dalam QS. al-Ashr/103:1-3:
ÎóÇyèø9$#ur ÇÊÈ ¨bÎ) z`»|¡SM}$# Å"s9 Aô£äz ÇËÈ wÎ) tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# (#öq|¹#uqs?ur Èd,ysø9$$Î/ (#öq|¹#uqs?ur Îö9¢Á9$$Î/ ÇÌÈ
Artinya: “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar
dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan
nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya
menetapi kesabaran.”
Semoga tiga hal ini, zikir, fikir dan amal shaleh
menjadikan kita sebagai manusia yang punya nilai guna, berdaya guna dan “mahal”
disisi Allah dan dalam pandangan manusia. Amin Ya Mujibassailin.
Tema yang penulis
angkat adalah tentang pintu-pintu kebaikan dan pintu-pintu kejahatan/keburukan.
Kebaikan adalah sesuatu yang fitrah dan memiliki ruang lingkup yang luas. Demikian
juga dengan kejahatan. Hanya bahwasanya kebaikan memiliki nilai plus yang tidak
terdapat pada potensi kejahatan. Sebuah kebaikan akan bernilai pahala disisi
Allah SWT meskipun baru sebatas niat, dan akan semakin sempurna jika diwujudkan
dalam tindakan nyata, namun berbeda dengan kejahatan. Ia baru akan dinilai
sebagai sebuah kemungkaran apabila diwujudkan dalam bentuk tingkah laku. Inilah
uniknya Islam. Dalam bahasa agama, dinamakan dengan niat. Namun kita tidak
boleh hanya sebatas niat dan niat tanpa ada keinginan untuk merealisasikan. Allahu
a’lam.
Terbatasnya waktu dan
pembahasan, penyusun membatasi kepada tiga hal yang diajarkan agama sebagai
sebuah kebaikan dan tiga hal yang dilarang dalam agama. Tiga hal yang
mengandung kebaikan dan diperintahkan agama adalah syukur, salam dan istiqomah.
Demikian juga, tiga hal yang dilarang dalam agama yakni sombong (takabur),
hidup bermegah-megahan dan lupa dengan kematian.
Pintu-pintu Kebaikan
Syukur
Sangat banyak ditemukan
dalam al-Quran, ayat yang berbicara tentang syukur. Diantaranya dalam QS.
al-Baqarah/2:152 yang berbunyi:
þÎTrãä.ø$$sù öNä.öä.ør& (#rãà6ô©$#ur Í< wur
Èbrãàÿõ3s? ÇÊÎËÈ
Artinya: “Karena itu,
ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah
kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
Juga
dapat ditemukan dalam QS. an-Nisa/4:147, QS. ali Imran/3: 145, QS. al-A’rof/7:
17, QS. Saba/34: 13 dan
QS. an-Naml/27: 40.
Menurut Quraish Shihab
(2003: 175), syukur berarti “puji”, ini bermakna juga bahwa pujian terhadap
yang terpuji baru menjadi wajar bila yang terpuji melakukan sesuatu yang baik
secara sadar dan tidak terpaksa. Apa yang baik dari manusia (anda atau orang
lain) pada hakikatnya adalah dari Allah semata. Jika demikian, pujian apapun
yang disampaikan akhirnya kembali kepada Allah SWT. Oleh karena itu kita
diajarkan oleh-Nya untuk mengucapkan “alhamdulillah”.
Syukur juga mengandung
arti “menggunakan anugerah Ilahi sesuai tujuan penganugerahannya”. Apa yang
menjadi keinginan si pemberi dan kemudian digunakan sebagai yang dikehendaki,
itulah makna syukur. Makna syukur dapat digambarkan sebagai berikut: Saya
memberi saudara sehelai kain sarung, kemudian kain sarung itu saudara gunakan
untuk sholat, menghadiri majlis taklim dan sebagainya. Itulah syukur. Dihari
lain saya memberi saudara baju kemeja dengan harapan digunakan sebagaimana
mestinya, ternyata yang saya lihat, baju kemeja yang diberi digunakan untuk ngelap
motor, membersihkan dinding dan
sebagainya. Contoh kedua ini tidak masuk kategori syukur yang dimaksudkan
agama. Dengan demikian, syukur adalah menggunakan pemberian siapapun sesuai
dengan tempatnya sebagaimana keinginan si pemberi. Mudah-mudahan kita menjadi
hamba yang pandai bersyukur.
Atas nikmat yang Allah
berikan, kita diperintahkan untuk bersyukur. Jika bersyukur maka Allah SWT akan
menambahkan nikmat-Nya untuk hambanya namun jika sebaliknya, dengan tegas Allah
SWT memaklumatkan bahwa orang yang tidak bersyukur sesungguhnya azab Allah SWT
sangat pedih. Dinyatakan:
øÎ)ur c©r's? öNä3/u ûÈõs9 óOè?öx6x©
öNä3¯RyÎV{
(
ûÈõs9ur
÷Länöxÿ2
¨bÎ)
Î1#xtã ÓÏt±s9 ÇÐÈ
Artinya: “Dan (ingatlah
juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur,
pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),
maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim/14: 7).
Pertanyaan selanjutnya,
mengapa kita bersyukur? Dalam al-Quran disebutkan sesungguhnya segala kebaikan dan
kenikmatan yang ada pada kita adalah karunia dari Allah SWT. Dinyatakan:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ
Artinya:
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)…” (QS.
An-Nahl/16: 53)
Betapa melimpahnya kenikmatan yang Allah SWT berikan kepada
kita, yang tidak terhingga jumlahnya. Allah memberikan kita kehidupan,
kesehatan, makanan, minuman, pakaian dan begitu banyak nikmat yang lainnya. Dari
tiada, kemudian ada dan menikmati segala fasilitas yang ada namun akhirnya kita
kembali kepada tiada. Kembali kepada tiada dengan membawa segala amal selama
hidup di dunia.
Jika kita berusaha menghitung nikmat yang Allah karuniakan
kepada kita, niscaya kita tidak akan mampu menghitungnya. Disebutkan dalam
al-Quran:
وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لاَ
تُحْصُوْهَا
Artinya:
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat
menentukan jumlahnya.” (QS. An-Nahl/16: 18).
Faktor yang mengharuskan kita bersyukur, coba kita cermati
dan renungkan betapa banyak saudara kita, teman bahkan orang
yang kita cintai yang telah mendahului kita, dan inilah makna dari ucapan yang
diajarkan tatkala kita memasuki lokasi pemakaman dengan ucapan: وَاِنَّ اِنْ شَاءَ
اللهُ بِكُمْ لَحِقُوْنَ , meskipun sebenarnya malaikat maut sudah
sering ngirim sms ke makhluknya. Apa SMS malaikat maut? Jike uban
udah betabur, gigi banyak yang gugur, mate udah pada kabur, makan cume makan
bubur, jalan udah maju mundur, ndak lama lagi dekat lubang kubur. Jika
tanda-tanda ini sudah ada, kematian sudah dekat. Namun, hakikatnya kematian
adalah kepastian yang misteri. Pasti, karena ia pasti menemui semua makhluk.
Misteri, karena tidak ada satupun yang tahu kapan ia datang. Kita bersyukur
karena masih diberikan izin oleh Allah untuk melanjutkan kehidupan di dunia
ini. Mudah-mudahan Allah SWT mengakhirkan hidup kita dalam keadaan husnul
khatimah (baik akhirnya).
Syukur diajarkan oleh
Allah SWT dengan cara kita meneladani salah satu asma Allah SWT yaitu
asy-Syakur. Asy-Syakur secara bahasa berasal dari kata “syakara”
yang berarti pujian atas kebaikan. Allah
asy-Syakur, artinya allah menghargai dan memberi balasan atas seluruh
amal kebaikan hamba-Nya. Allah SWT memberi balasan pahala yang banyak dan
berlipat ganda atas ketaatan dan ibadah yang sedikit.
Ibnu Qudamah rahimahullah, “Syukur (yang sebenarnya)
adalah dengan hati, lisan dan anggota badan”. Syukur dengan hati adalah 1)
Mengakui dan meyakini bahwa nikmat tersebut semata-mata datangnya dari Allah SWT
dan bukan dari selain-Nya. Meskipun bisa jadi kita mendapatkan nikmat itu
melalui profesi kita, teman kita, aktivitas jual beli, bekerja atau yang
lainnya, semuanya itu adalah hanyalah perantara untuk mendapatkan nikmat. Hakikatnya,
semua nikmat apapun dia, dari siapapun dia dan apapun bentuknya sebenarnya
adalah dari Sang Pemberi Rezeki, Allah SWT.; 2) Mencintai Allah SWT yang telah
memberikan semua nikmat itu kepada kita; 3) Meniatkan untuk menggunakan nikmat
itu di jalan yang Allah SWT ridhai.
Sementara syukur dengan lisan adalah memuji dan menyanjung
Dzat yang telah memberikan nikmat tersebut pada kita. Berlama-lama zikir dan
tafakkur dalam rangka mendekatkan diri
kepada Allah SWT. Syukur dengan anggota badan adalah menggunakan nikmat
tersebut untuk mentaati Dzat yang kita syukuri yaitu Allah SWT dan menahan diri
agar jangan menggunakan kenikmatan itu untuk bermaksiat kepada-Nya.
Doa mohon sebagai hamba yang selalu mensyukuri nikmat Allah
SWT (QS. an-Naml/27: 40:
Éb>u ûÓÍ_ôãÎ÷rr& ÷br& tä3ô©r& tFyJ÷èÏR ûÓÉL©9$# |MôJyè÷Rr& ¥n?tã 4n?tãur t$Î!ºur ÷br&ur @uHùår& $[sÎ=»|¹ çm8|Êös? ÓÍ_ù=Åz÷r&ur y7ÏGpHôqtÎ/ Îû x8Ï$t7Ïã úüÅsÎ=»¢Á9$#
"Ya
Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau
anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan
amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam
golongan hamba-hamba-Mu yang saleh".
Salam
As-Salam
adalah sifat Allah yang hanya sekali disebut dalam al-Quran yaitu dalam QS. al-Hasyr/59: 23.
Kata ini terambil dari akar kata salima yang maknanya berkisar pada
keselamatan dan keterhindaran dari segala yang tercela (M. Quraish Shihab,
2003: 42).
Ucapan salam adalah penghormatan yang diajarkan oleh Allah
SWT kepada manusia. Ada beberapa alasan kenapa Allah SWT memilih ucapan ini sebagai
yang harus diucapkan manusia kepada sesamanya.
1.
Salam adalah ucapan atau sapaan Allah SWT kepada para nabi
dan rasul-Nya. Seperti dapat ditemukan dalam al-Quran:
íO»n=y 4n?tã 8yqçR Îû tûüÏHs>»yèø9$#
Artinya: "Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh
alam". (QS.
ash-Shafat/37: 79)
2.
Di akhirat nanti, para calon penghuni surga dipersilahkan
masuk oleh Allah SWT dan disambut oleh para malaikat dengan ucapan salam.
Disebutkan:
الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ
يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ
بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya:
“(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat
dengan mengatakan (kepada mereka): "Salaamun`alaikum, masuklah kamu ke
dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan".” (Q.S.
an-Nahl/16: 32)
3. Ucapan salam bukan hanya ucapan
penduduk selama hidup di dunia, namun di alam akhiratpun, ucapan salam adalah
sapaan sesama ahli surga. Seperti yang terdapat dalam al-Quran:
دَعْوَاهُمْ
فِيهَا سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَتَحِيَّتُهُمْ فِيهَا سَلَامٌ وَءَاخِرُ
دَعْوَاهُمْ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya:
“Do'a mereka di dalamnya ialah: "Subhanakallahumma, dan salam penghormatan
mereka ialah: "Salam". Dan penutup doa mereka ialah: "Alhamdulillaahi
Rabbil 'aalamin.” (QS. Yunus/10: 10)
4. Karena orang yang mengucapkan salam
kepada orang lain, adalah salah satu dari pada ciri hamba Allah. Seperti dalam al-Quran
disebutkan:
وَعِبَادُ
الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ
الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
Artinya:
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang
berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa
mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (Q.S
al-Furqan/25: 63).
Salam mempunyai dua makna. 1) Salam sebagai doa dan rasa
penghormatan dengan mengucapkan Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
2) Salam bermakna damai dan keselamatan.
Pertama, salam sebagai
sebuah penghormatan diajarkan dalam al-Quran:
#sÎ)ur LäêÍhãm 7p¨ÅstFÎ/ (#qyssù z`|¡ômr'Î/ !$pk÷]ÏB ÷rr& !$ydrâ 3 ¨bÎ) ©!$# tb%x. 4n?tã Èe@ä. >äóÓx« $·7Å¡ym
Artinya:
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah
penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah
penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan
segala sesuatu”. (QS. an-Nisa/4: 86)
Selanjutnya salam
sebagai ucapan mendoakan:
الَسَّلاَمُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
“Keselamatan atasmu, rahmat Allah dan
berkah-Nya”
Jika dilihat dari teks
di atas, maka salam merupakan sebuah doa, doa untuk keselamatan orang lain.
Mendoakan untuk keselamatan orang lain adalah sebuah kebaikan dan diharapkan
oleh semua orang.
Berkaitan dengan hal di
atas, suatu hari Rasulullah SAW
bertandang ke rumah salah seorang sahabatnya, tepat di depan pintu
rumahnya, Nabi SAW mengetuk pintu dan mengucapkan salam, salam pertama
diucapkan namun tidak terdengar jawaban, salam kedua diucapkan namun juga tidak
terdengar balasan, hingga salam ketiga
Nabi mengucapkan salam juga tidak ada yang menjawab. Nabipun segera pulang ke
rumahnya dan beberapa langkah dari pintu rumah sahabat tersebut, ternyata
keluar yang empunya rumah sambil dengan agak nyaring mengharapkan Nabi kembali
menemuinya. Nabipun menghampiri sahabat tersebut dan berujar, “Wahai sahabatku,
sampai tiga kali aku mengucapkan salam padamu tapi tidak satupun salamku yang
engkau jawab, apa gerangan wahai sahabatku”, Sahabat itupun menjawab, “maafkan
aku ya Rasul, sebenarnya aku tadi mendengar ucapan salammu, namun ku jawab
dengan sangat pelan hingga engkau tidak mendengarnya”, Nabipun balik bertanya,
“Apa maksudmu wahai sahabatku?” Sahabat itupun menjelaskan, “Ya Rasul, sengaja
aku jawab dengan pelan, supaya anda sering mengucapkan salam kepadaku, bukan
anda pernah mengatakan ucapan salam dari seorang muslim kepada muslim lainnya
adalah doa, dan aku berharap supaya engkau sering mendoakanku dengan salammu
itu”. Kesimpulannya adalah sering-seringlah minta doa kepada orang lain,
karena tidak tahu dari mulut siapa doa
itu diijabah Allah SWT.
Kedua, salam sebagai
misi keselamatan yang harus disebarkan oleh tiap muslim. Dimanapun berada,
dengan siapapun, misi ini harus menjadi mindset semua orang. Misi
kedamaian yang diemban berbanding lurus dengan azas manfaat bagi lingkungannya.
Muhammad Ainun Najib
atau yang dikenal dengan Cak Nun (Emha) membagi
jenis manusia kepada tiga jenis yaitu manusia wajib, manusia sunnah dan manusia
haram (Prayogi R. Saputra, 2012:120).
Manusia wajib adalah manusia yang keberadaannya harus ada di
tengah-tengah masyarakat. Keberadaannya sungguh berarti, kepergiannya
mengganjilkan dan kedatangannya menggenapkan. Ia mampu memberikan motivasi bahkan
inspirasi bagi lingkungannya. Tipe semacam ini dapat kita temukan di
masyarakat. Dan ia memiliki nilai plus dan pengaruh bagi
sekelilingnya.
Karakter manusia wajib
ini menjadikan sosoknya sebagai yang ditunggu-tunggu, sebagai inspirator, decision
maker dan sebagainya. Di masyarakat kita, pasti kita temui orang-orang
dengan karakter semacam ini.
Sementara itu ada juga
manusia dengan klasifikasi manusia sunnah. Tipe manusia ini adalah manusia yang
lebih baik ada di masyarakat namun jika tidak ada juga tidak apa-apa. Dalam
konteks ini, keberadaannya akan menambah ghirah dan semangat untuk terus
beraktifitas, namun jika tidak ada, sekelilingnya masih mampu untuk berbuat dan
beraktifitas. Selanjutnya yang ketiga adalah –kita berlindung kepada Allah SWT-
kategori manusia haram. Manusia haram adalah manusia yang berkarakter negatif,
keberadaannya di tengah-tengah masyarakat justru akan membuat masalah. Ia
adalah bagian dari masalah, bukan bagian dari solusi (problem solver).
Keberadaannya? Justru lebih baik jika ia tidak ada. وُجُودُهُ
كَاَدَمِهِ (adanya sama dengan
ketiadaannya). Dan tipe inipun
ada di tengah-tengah masyarakat kita.
Mudah-mudahan kita
menjadi insan yang membawa keselamatan dan kedamaian bagi lingkungan, kedamaian
ditangan kita, kedamaian pada lisan kita dan pada seluruh anggota tubuh kita.
اَللَّهُمَّ
اَنْتَ السَّلاَمْ وَمِنْكَ السَّلاَمْ وَإِلَيْكَ يَعُوْدُ السَّلاَمْ فَحَيِّنَا
رَبَّنَا باِلسَّلاَمْ
وَاَدْخِلْنَا
اْلــجَنَّةَ دَارَ السَّلاَمْ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ يَاذَالْـجَلاَلِ
وَ اْلِإكْرَامْ
Istiqamah
Istiqamah adalah upaya seseorang untuk menempuh ajaran agama
Islam yang benar dengan tidak berpaling ke kanan maupun ke kiri. Istiqamah ini
mencakup pelaksanaan semua bentuk ketaatan kepada Allah lahir dan batin,
dan meninggalkan semua bentuk larangan-Nya. Sederhananya, istiqamah adalah
bersikap konsisten, teguh pendirian dan tegak lurus dalam menjalankan sebuah
keyakinan.
Di antara ayat yang
menyebutkan keutamaan istiqamah adalah firman Allah SWT yang berbunyi:
إِنَّ
الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ
الْمَلائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ
الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang
mengatakan: “Rabb kami ialah Allah” kemudian mereka istiqamah pada pendirian
mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah
kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu
dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS.
Fushilat/41: 30).
Para ahli tafsir membagi
istiqamah ke dalam tiga pendapat yaitu:
1.
Istiqamah di atas tauhid
Istiqamah di atas tauhid mengandung makna memegang
teguh seyakin-yakinnya akan kebenaran tauhid sehingga pengakuan akan ke-Esa-an
Allah merupakan ajaran inti dan mutlak yang diajarkan oleh para nabi dan rasul
sejak nabi Adam. Ketaatan ini mempunyai efek yang luar biasa dalam kehidupan
sebagaimana ditunjukkan pada era Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Ini juga
menjadi dampak dari mengapa masa dakwah Nabi Muhammad SAW di kota Mekkah lebih
lama dibanding kota Madinah.
2.
Istiqamah dalam ketaatan dan
menunaikan kewajiban Allah
Ketaatan kepada Allah SWT memerlukan sikap
istiqamah. Allah SWT mencurahkan kasih sayang dan rezekinya tiada henti dan
tiada bosan, dari aspek ini sebagai makhluk-Nya sudah selayaknya kita juga
meneladani sifat yang Allah SWT yang Maha Pemurah ini. Meskipun ketaatan kita
mengalami pasang-surut, turun-naik, yazid wa yanqush, tetapi berusaha
untuk tetap dalam ketaatan harus menjadi bagian dari ikhtiar kita. Disinilah
salah satunya letak pengaruh lingkungan dalam membentuk karakter seseorang.
3. Istiqamah di atas ikhlas dan
dalam beramal hingga maut menjemput.
Memegang teguh keyakinan akan ke-Esa-an dan
ketaatan kepada Allah SWT sulit untuk maksimal manakala tidak didasari dan
dilandasi oleh keikhlasan kepada Allah SWT. Ikhlas menjadikan segala sesuatu
ringan untuk dikerjakan, ikhlas menjadikan segala sesuatu ridho untuk diberikan
dan ikhlas menjadikan segala sesuatu mudah untuk diterima. Jika segala
sesuatunya dilakukan dengan ikhlas, maka ketenangan dan keridhoan akan
didapatkan. Dalam beribadah, istiqamah di atas keikhlasan sangatlah penting.
Suatu hari
ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, ajarilah aku
tentang Islam yang aku tidak akan menanyakan ini lagi kepadamu?”. Maka Rasul pun menjawab, “Berislamlah, berbuat baiklah lalu istiqamah”. Karena amalan yang
paling disukai oleh Allah bukanlah amalan yang besar semata. Tapi Allah akan
menyukai amalan yang dijalankan secara kontinyu meskipun hanya merupakan amalan
yang nilainya kecil.
Sederhananya,
sikap istiqamah dapat diilustrasikan sebagai berikut:
Ada
seorang bapak dan anaknya yang pergi ke pasar untuk membeli seekor kuda untuk
dijadikan kendaraan tunggangan. Ketika kuda sudah dibeli dan sang anak
menunggangi kuda sementara si Bapak menuntun kuda. Begitu melewati sebuah
kampung, mulailah orang-orang yang dilewatinya berkomentar sinis, “Ah, anak ini
tidak tahu adab sopan santun, masa’ orang tuanya disuruh menuntun kuda
dengan berjalan kaki sementara si anak dengan nyamannya duduk di atas kuda”.
Mendengar mereka berdua dibicarakan orang yang dilewatinya, sang Bapak berkata
kepada anaknya, “Nak, tadi kita dibicarakan oleh orang-orang yang kita lewati
dan menyebut engkau anak yang tidak tahu budi sopan santun, “ Sang anakpun
bertanya, “Jika demikian, sebaiknya apa yang kita lakukan Pak?” Sang Bapak
memberikan tawaran, “Kalau begitu, sekarang kita gantian, Bapak menunggang kuda
dan engkau menuntun kuda”. Si anakpun mengiyakannya.
Ketika
posisi sudah bergantian dengan sang Bapak menunggang kuda dan melewati
kerumunan orang, seketika beberapa orang dari kerumunan orang itupun berujar,
“Sungguh tidak tahu diri Bapak ini, kok anak kecil disuruh nuntun
kuda, sementara mungkin perjalanannya masih jauh, keterlaluan sang Bapak ini”,
demikian kira-kira komentar mereka. Mendengar komentar tersebut, sang Bapak
berkata kepada anaknya lagi, “Nak, kedengaran ndak oleh kamu, dengan
posisi Bapak menunggang kuda dan kamu menuntun kuda dikatakan Bapak terlalu
tega dengan kondisi ini dengan menyuruh kamu menuntun kuda? Sebaiknya posisi
kita tidak ada yang menaiki kuda salah seorangpun”, ujar sang Bapak. Akhirnya
kuda itupun dibiarkan berjalan tanpa penunggang satupun dan begitu melewati
sebuah kampung, ternyata masih ada orang yang membicarakan mereka dengan ucapan
bukankah mereka ke pasar untuk membeli kuda, dan ketika kuda sudah dibeli
kenapa tidak ditunggangi, demikian komentar orang kampung yang mereka lewati.
Mendengar
hal itu, seketika itu juga sang Bapak mengatakan kepada anaknya, “Nak,
sepertinya kita selalu dibicarakan orang, ketika engkau menaiki kuda dikatakan
engkau tidak tahu sopan santun dan adab ke orang tua. Ketika Bapak menunggangi
kuda dikatakan Bapak tega membiarkanmu jalan kaki, dan ketika kita biarkan kuda
ini berjalan tanpa ada yang menunggangi dikatakan percuma membeli kuda dan
sekarang kita tidak ada pilihan lain, kita tunggangi kuda ini berdua!” demikian
kata sang Bapak. Kuda itupun ditunggangi oleh bapak dan anak dan ternyata masih
juga ada komentar dari orang yang dilewatinya, Apa komentar yang mereka dengar?
“Bapak dan anak menaiki seekor kuda, berapa berat badan mereka dan mampukah
kuda itu menahan beben mereka? Sungguh keterlaluan dua makhluk ini”.
Dari
ilustrasi di atas, pertanyaan pertama yang dapat dikemukakan adalah apakah ada
sebuah kebaikan atau amal saleh yang lepas dari komentar orang? Apakah ada
aktifitas kita yang tidak akan dibicarakan orang. Pasti jawabannya tidak akan
pernah ada satupun aktifitas kita, amalan kita dan bahkan perbuatan baik
sekalipun yang tidak lepas dari pembicaraan orang. Jika demikian halnya, satu
hal yang dapat kita lakukan adalah lakukanlah kebaikan itu, dan yakinlah
kebaikan itu akan bermanfaat bagi siapapun setidak-tidaknya telah menjadi
karakter pribadi kita masing-masing. Pepatah mengatakan anjing menggonggong
kafilah tetap berlalu. Inilah yang dalam bahasa agama dinamakan dengan
“istiqamah”.
الَلَّهُمَّ
اَعِنَّا عَلى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
اَللَّهُمَّ
اِناَّ نَسْئَلُكَ اْلــهُدَى
وَالتُّــقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
Pintu-pintu Keburukan
Sombong/Takabur
Manusia
dibekali oleh Sang Khaliq dengan dua potensi, potensi kebaikan dan keburukan,
fasilitas jasmani dan rohani, lahir dan batin. Tulisan ini diawali dengan
sebuah konsepsi bahwa kecenderungan manusia adalah mampu mengenali dan
mengidentifikasi penyakit jasmani ketimbang rohani. Disinilah letak perbedaannya, jika penyakit jasmani lebih
banyak diketahui oleh yang bersangkutan,
orang lain tidak tahu dan bahkan cenderung untuk ditutup-tutupi, lain halnya
dengan penyakit rohani, justru yang tahu seseorang itu memiliki penyakit rohani
adalah orang lain, kikir, sombong, malas adalah sifat tidak baik yang justru
orang lain yang memberikan penilaiannya.
Sombong
adalah salah satu sifat iblis la’natullah yang menyebabkan ia
dikeluarkan Allah SWT dari surga-Nya. Dari kesombongan ini akan memunculkan
karakter sulit menerima kebenaran dan meremehkan orang lain. Hal ini
sebagaimana dinyatakan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya yang berbunyi:
”Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan
manusia”(HR Muslim).
Kesombongan
yang paling besar dan paling berbahaya adalah kesombongan kepada Allah SWT dengan menolak kebenaran dan angkuh untuk
tunduk kepada-Nya baik berupa ketaatan ataupun mengesakan-Nya.
Pintu
masuk syetan agar dalam diri manusia terdapat kesombongan diantaranya adalah:
1.
Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan menjadi pintu masuk syetan yang
dahsyat untuk menjerumuskan manusia ke dalam sikap kesombongan. Iblis menyadari
bahwa sifat inilah yang menyebabkan ia dikeluarkan oleh Allah dari surga-Nya.
Oleh karenanya iblis menyesatkan manusia agar banyak pengikutnya dan ilmu
pengetahuan menjadi pintu masuknya yang ampuh. Dengan ilmu pengetahuan
seseorang bisa menjadi merasa “super”, dengan ilmu pengetahuan seseorang bisa
merasa “ter”, “semua kalau bukan karena intelektualku,” dengan persepsi seperti
ini maka yang akan muncul adalah menolak kebenaran yang bukan datang dari
dirinya meskipun itu benar. Seakan-akan ia menganggap kebenaran harus selalu
dari lisannya, dari penguasaan pengetahuannya. Ketika seseorang menganggap
orang lain tidak benar sementara dirinya selalu benar, maka virus kesombongan
telah menyebar dalam rohaninya. Maka inilah yang dapat kita saksikan manakala
proses ruqyah dilakukan, hal pertama yang dijalani oleh orang yang sedang
diruqyah adalah melakukan sujud kepada Allah untuk membuang sifat sombong itu
tadi.
2.
Amal Ibadah
Aktifitas ibadah yang kita lakukan menjadi sarana
yang ampuh untuk menjerumuskan kita mengikuti langkah-langkah syetan. Ditiupkan
rasa kitalah paling kuat ibadahnya, dihembuskan rasa kitalah yang paling faham
agama, dilontarkanlah rasa kitalah yang paling dermawan, paling sosial dan
paling ‘alim. Bahkan tidak hanya saat kita akan melakukan sebuah kebaikan, saat
ibadah kita lakukanpun, iblis la’natullah mendatangi kita untuk
mengacaukan misalnya sholat kita, “memang engkaulah yang paling khusyu’ sholat
di kantor ini”, “memang hebat ente ni, jalan di gang ini ente yang paling banyak
nyumbangnye” dan sebagainya. Mari kita mohon doa kepada Allah SWT semoga
Allah senantiasa membimbing kita dalam beramal saleh, dan menjadikan kita
hamba-Nya yang ikhlas.
3.
Harta Kekayaan
Ini juga menjadi pintu masuk syetan yang sering
tidak kita sadari. Sombong dalam hal kekayaan berarti sombong dari segi materi.
Wujud lain dari kesombongan materi adalah tidak mau bergaul dan berteman dengan
orang yang status ekonominya di bawahnya, bergaul hanya sebatas kalangan elit
dan menganggap rendah pada orang di bawahnya.
Sejarah manusia membuktikan bagaimana Qarun dengan sombongnya yang
ketika dimintakan untuk mengeluarkan infaq dan shadaqah, namun dengan
congkaknya ia mengatakan bahwa kekayaannya adalah hasil jerih payahnya, kerja
keras membanting tulang namun akhirnya Allah benamkan Qarun beserta rumahnya ke
dalam bumi (QS. al-Qashash/28:79-81).
4.
Keturunan
Membanggakan
nasab keturunan termasuk hal yang dilarang agama. Inilah yang ditegaskan oleh
Allah SWT dalam al-Quran yang artinya: “Sesungguhnya orang yang paling mulia
diantara kamu adalah orang yang paling bertaqwa”. Jika tiket surga adalah
keturunan maka manusia yang berdarah biru, manusia dari kalangan bangsawan, dan
keturunan para pembesarlah yang mendominasi surga. Tetapi bukan itu tiket
menuju surga melainkan ketakwaan. Bagaimana Bilal bin Rabah, seorang Habsyi
yang hitam legam, kurus dan rambut keriting, pernah membuat Rasulullah terkejut
dengan pernyataan Jibril saat Rasulullah mendengar ada bunyi terompah/sandal
orang yang sedang berjalan di dalam surga. Rasulullah diberitahu bahwa langkah
kaki yang sedang berjalan itu adalah langkah kaki Bilal bin Rabah, sementara
saat itu Bilal bin Rabah masih hidup di dunia.
Itulah pintu syetan pertama untuk
menjerumuskan manusia ke dalam kesombongan. Rasa syukur dan senantiasa melihat
ke bawah adalah bagian dari proses pembinaan rohani kita.
Hidup
Bermegah-megahan
Tercukupinya materi, serba ada bahkan
sampai keturunan berikutnya, profesi bergengsi dan sejenisnya adalah sifat
manusia sebagai bagian untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan mengeksiskan
keberadaan diri. Memiliki harta tidak dilarang dalam Islam, bahkan muslim kaya
sangat dianjurkan karena dengan kekayaan yang ada banyak yang bisa diperbuat
dan banyak yang bisa dilakukan. Tetapi memiliki kekayaan dalam Islam ada aturan
petunjuk teknisnya. Diantaranya aturannya adalah perlu memahami bahwa harta
kekayaan yang ada hakikatnya adalah sebatas hak guna pakai dan bukan hak milik.
Berikutnya pada harta yang ada, di dalamnya terdapat hak-hak fakir miskin, janda-janda
miskin, panti asuhan dan pesantren yang perlu dibina dan sebagainya.
Para sahabat seperti Usman bin Affan menyumbang sepertiga
hartanya untuk jihad di jalan Allah. Umar bin Khaththab menyumbang separuh hartanya. Bahkan Abu
Bakar menyumbang seluruh hartanya. Mereka menggunakan hartanya untuk memperkuat Islam sehingga persenjataan
ummat Islam kuat dan lengkap dan bisa membiayai tentara yang tidak mampu secara
finansial. Bukan untuk kepentingan pribadi secara berlebihan. Semangat memberi, semangat berinfak inilah yang harus kita tiru.
Ketika seluruh manusia dikumpulkan di
Padang Mahsyar untuk dihisab (dimintai pertanggungjawaban) atas seluruh
aktifitas dan amaliahnya, maka ada empat pertanyaan yang diajukan yakni tentang
ilmunya, tentang umurnya, tentang masa mudanya dan terakhir tentang harta
kekayaan yang dimilikinya. Menariknya adalah, jika tentang ilmu, pertanyaan
yang dikemukakan hanya satu yakni kemana ilmu digunakan, apakah untuk
mencerdaskan dan mencerahkan umat atau justru menyesatkan masyarakat. Demikian
juga pertanyaan untuk umur, kemana umur itu dihabiskan, apakah untuk kebaikan
dan ketaatan atau justru sebaliknya. Hal yang sama juga diajukan tentang masa
muda, kemana digunakan apakah foya-foya, easy going atau untuk menebar
kebaikan. Lain halnya dengan kekayaan, pertanyaan ada dua yaitu dari mana
engkau dapatkan dan untuk apa kau gunakan. Pertanyaan untuk orang-orang kaya
lebih lama dari yang lainnya.
Satu hal yang perlu disadari adalah
bahwa kekayaan yang ada dapat mengajak seseorang untuk berbuat sesuatu yang
bukan menjadi keperluannya. Merasa memiliki segalanya sehingga membuatnya
terasa hidup tidak akan pernah berakhir. Sikap semacam ini dapat membuat
manusia lupa dengan kampung sebenarnya yakni akhirat. Allah SWT menyebutkan:
ãNä39ygø9r& ãèO%s3G9$# ÇÊÈ 4Ó®Lym ãLänöã tÎ/$s)yJø9$# ÇËÈ
Artinya: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu. Sampai
kamu masuk ke dalam kubur. (QS. at-Takatsur/102: 1-2)
Ayat di atas menegaskan bahwa kehidupan
yang berfoya-foya, saling membanggakan (keturunan, kekayaan, jabatan dan fisik)
dapat melalaikan manusia dan membuat manusia lupa dengan kematian. Sesungguhnya
hidup dengan berfoya-foya dan bermegah-megahan berbanding lurus dengan lupa
akan kematian. Jika manusia sudah lupa dengan kematian maka itulah musibah yang
paling besar. Apa yang akan kita bawa ketika jenazah kita diusung ke liang
lahad, ke “rumah type 21” (dalam 2 meter dan lebar 1 meter). Sejatinya adalah
hanya amal yang akan mendampingi kita. Jika ‘amalan sholiha? Maka kenikmatanlah yang menemani namun jika ‘amalan
sayyia? Maka kesengsaraanlah yang menimpa.
Allah SWT juga mengecam orang-orang yang
hidup bermegah-megahan. Dinyatakan Allah SWT:
ÏN#uäur
#s
4n1öà)ø9$#
¼çm¤)ym
tûüÅ3ó¡ÏJø9$#ur
tûøó$#ur
È@Î6¡¡9$#
wur
öÉjt7è?
#·Éö7s?
ÇËÏÈ
¨bÎ)
tûïÍÉjt6ßJø9$#
(#þqçR%x.
tbºuq÷zÎ)
ÈûüÏÜ»u¤±9$#
( tb%x.ur
ß`»sÜø¤±9$#
¾ÏmÎn/tÏ9
#Yqàÿx.
ÇËÐÈ
Artinya: “Dan berikanlah
kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang
yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu)
secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara
syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”
Rasulullah SAW juga pernah bersabda
dalam sebuah haditsnya: ”Tidak beriman kepadaku orang yang tidur
dengan kenyang sementara tetangganya lapar padahal dia mengetahui hal itu.”
(HR. al-Bazzaar).
Hidup bermegah-megahan dengan memperkaya
diri dan keluarga, berbangga dengan kekayaan yang dimiliki, dampak pertamanya
adalah akan membuatnya sombong dengan apa yang dimiliki dan ujungnya adalah
membuatnya lupa akan kematian. Kematian adalah sesuatu yang pasti tetapi
misteri. Pasti karena ia pasti akan menemui setiap yang bernyawa dan misteri
karena tidak satupun yang tahu kapan ia akan datang.
Lupa dengan Kematian
Ada satu teks hadits Rasulullah SAW yang berkaitan dengan tema ini yaitu:
حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِــيَــةُ
الْمَوْتْ
Artinya: “Cinta dunia dan takut mati”
Dua kata ini saling beriringan yang
menunjukkan bahwa jika seseorang telah cinta dengan dunia maka ia akan takut
kehilangan dunia dengan berbagai fasilitasnya dan akibatnya tidak mau mati.
Sikap apa yang dapat dilihat dari orang yang sudah terlalu cinta. Sederhananya
orang yang sudah cinta dengan sesuatu maka 1) ia akan selalu
menyebut-nyebutnya. Dalam konteks ini pembicaraannya tidak akan jauh sekitar
harta dan jabatan (tanah yang akan dijual dan rumah kontrakan yang akan
dibangun, jabatan yang menggiurkan) bahkan meskipun ia berada di masjid dan
majlis ta’lim. Tidak ada yang mendominasi isi pembicaraannya selain dari harta
ke harta dunia. 2) Orang yang sudah cinta akan melahirkan sikap rela berkorban.
Tidak peduli siang dan malam kalau seseorang sudah “gila” harta, betapapun
letih badan, betapapun banyaknya fikiran tapi manakala sudah menyangkut harta,
apapun akan dilakukan dan dengan korban seberapapun asalkan dapat diraih dan 3)
Cinta membuat yang jelek akan kelihatan bagus, buruk kelihatan baik, racun
dikira madu dan sebagainya. Demikian juga dengan orang yang sudah cinta dunia,
apapun bentuknya dan bagaimanapun caranya ia berusaha sekuat mungkin untuk
memilikinya.
Orang yang sudah terlalu cinta dengan
dunia, dengan fasilitas yang ada dan kemudahan yang diraih, perlahan namun
pasti manakala tidak diiringi dengan didikan agama dan sentuhan-sentuhan spiritual
akan membuatnya lupa dan takut dengan kematian. Tapi memang itulah dahsyat
sekaligus kekuatan apa yang namanya MAUT. Maut memutuskan kesenangan dunia,
memotong syahwat manusia, dan menghilangkan harapan dunia lainnya tetapi
ketahuilah sesungguhnya kematian adalah pintu untuk menuju kehidupan yang
sebenarnya, kehidupan yang hakiki.
Kematian hanya dikhawatirkan oleh mereka
yang sebenarnya tidak siap dengan bekal akhirat, kematian menjadi momok yang
menakutkan karena gambarannya yang mencabut nyawa dengan paksa dan meronta.
Tapi tidak sedikit sebenarnya orang yang ketika malaikat maut menjemput,
keadaannya seperti orang yang sedang tersenyum, dalam keadaan sujud kepada
Allah SWT, ketika silaturrahmi dan dalam ladang kebaikannya lainnya.
Apa yang harus kita
lakukan supaya kita tidak terlalu cinta dunia dan selalu menyiapkan bekal untuk
akhirat? 1) Apabila memiliki
tidak menjadi ujub/takabur; 2) Apabila
sedikit tidak menjadi minder; 3) Tidak dengki kepada yang lebih; 4) Tidak
meremehkan kepada yang kurang; 5) Selalu menjaga kejujuran dalam mencarinya; 6)
Selalu siap apabila diambil pemiliknya.
Akhirnya mudah-mudahan
Allah SWT senantiasa membimbing kita dalam kebaikan dan memberikan hidayah-Nya
untuk kita agar selalu bermanfaat bagi orang lain. Mari meyakini bahwa siapa pun di
antara kita pasti akan berhadapan dengan maut. Bukan kapan kita meninggal,
dimana kita wafat dengan bersama siapa dicabut nyawa kita, tetapi BEKAL APA
YANG TELAH KITA SIAPKAN ketika ia menjemput kita.
Karena itu mari perbanyak amal kebajikan melalui keilmuan, kekuasaan,
kekayaan, kesehatan dan kemampuan yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita
sebelum Ia mengambilnya kembali.
اَللَّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ
الْــخــَاتِــــمَةْ * وَلاَ تَخـْــــتِمْ
عَلَيْنَا بِسُوْءِ الْـــخَاتـِــمَةْ
وَاللهُ
الْمُوَافِقْ اِلَى اَقْوَامِ الطَّارْقِ
واَلسَّلاَمُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Daftar Pustaka
A.W.
Munawir, 1991, Kamus al-Munawir Arab-Indonesia Terlengkap, Surabaya:
Pustaka Progresif
A.Z. Muttaqien, 2013, Bahayanya Sifat Sombong,
Sumber: http://www.arrahmah.com /download
24/10/2015
Heriyanto
Alamsyah, 2012, Hubbudunya Karohiyatul Maut, Sumber: https://
heriyantoalamsyahsukses.wordpress.com/download 24/10/2015
M.
Quraish Shihab, 2003, Menyingkap Tabir Ilahi, Asmaul Husna dalam Perspektif
al-Quran, Jakarta: Lentera Hati
Muhaimin Ashuri, 2011, Memahami
Syukur, Sumber: http://muslim.or.id/download
tanggal 24/10/2015
Paisal Halim, 2009, Lupa Diri Dan Lupa Mati, Sumber: https://doktorpaisal.
wordpress.com/download 24/10/2015
Rudi Handoko, 2014, Makna, Pengertian, Arti Dan Faidah Salam, Sumber: http://embuncinta86.blogpot.co.id/download
tanggal 24/10/2015
Sa’id
Hawwa, 2000, Intisari Ihya ‘Ulumuddin Al-Ghazali, Mensucikan Jiwa,
Jakarta: Robbani Press
Zikir
اَلَّلهُمَّ
اغْفِـــرْلِىْ وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبــَّيَانِىْ صَغِيْرًا
سُــبْحَانَ
اللهِ وَالْــحَمْدُ للهِ وَلاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ
لاَ
اِلَهَ اِلاَّ اللهُ - لاَ اِلَهَ اِلاَّ
اللهُ - لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ - لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ
يَا
اللهُ – يَا رَحْمنْ – يَا اللهْ – يَا رَحِيْمْ
حَسْبُنَا
اللهْ وَنِـعْمَ اْلــوَكِيْلْ – نِعْمَ اْلـمَـوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرْ
اِلـهِىْ
لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ اَهْلاً – وَلاَ اَقْوَى عَلىَ النَّارِ اْلـجَحِيْمِ
فَهَبْ
لِىْ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبِىْ -
فَإِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ الْعَظِيْمِ
ذُنُوْبِىْ
مِثْلُ اَعْدَادِ الرِّمَالِ - فَهَبْ
لِىْ تَوْبَةً يَّا ذَ الْــجَلاَلِ
وَعُمْرِيْ
نَاقِصٌ فِى كُلِّ يَوْمٍ – وَذَنْبِــيْ زَا ئِـــدٌ كَيْفَ احْتِمَالِ
اِلـــهِىْ
عَبْدُكَ الْعَاصِيْ اَتَاكَ – مُقِرًّا باِ لذُّنَوْ بِىْ وَقَدْدَعَاكَ
فَإِنْ
تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَاكَ اَهْـلُ – وَاِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ يَرْجُوْ
سِوَاكَ
اَشْهَدُ
اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ – وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهÇÈ
رَبِّ
يَسِّرْ وَلاَ تُعَسِّرْ رَبِّ تَــمِّمْ بِالْخــَـيْرْÇÈ
Langganan:
Postingan (Atom)
