Sabtu, 21 Maret 2015



SUASANA ZIKIR BERSAMA INTERN MTs ASWAJA
(PERSIAPAN MENGHADAPI UAMBN, US DAN UN)
DI MASJID RAYA MUJAHIDIN 21 MARET 2015






Selasa, 17 Maret 2015

          

Karakteristik Orang yang Bertakwa

              
 12 Juli 2014



Terma takwa berasal dari bahasa Arab dengan penulisan TAQWA (dengan huruf Q). Kata ini sudah sangat dikenal di Indonesia, dan kemudian lebih dikenal dengan penulisan TAKWA (dengan huruf K). meskipun berasal dari bahasa Arab namun ia sudah digunakan oleh semua lapisan masyarakat. Bahkan menjadi kata yang wajib untuk diucapkan kala seseorang disumpah untuk menduduki satu jabatan. Meskipun demikian, sebagaimana asal katanya, maka terminologi ini harus difahami dan dikembalikan ke makna semula.
Secara etimologi, kata ini berarti menjaga diri dari segala yang membahayakan atau berjaga-jaga/melindungi diri dari sesuatu. Dalam kamus al-Munawir diartikan juga sebagai sebuah sikap kehati-hatian dan kewaspadaan. (A.W. Munawir, 1997:1577).
Dalam istilah syar'i (hukum), kata takwa mengandung pengertian menjaga diri dari segala perbuatan dosa dengan meninggalkan segala yang dilarang Allah dan melaksanakan segala yang diperintahkan-Nya. Dari 86 ayat yang menyatakan perintah bertakwa pada umumnya (sebanyak 82 kali) obyeknya adalah Allah SWT. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ayat-ayat yang berbicara tentang takwa pada dasarnya adalah tentang ketakwaan kepada Allah SWT.

Karakteristik Orang yang Bertakwa

Dari banyaknya ayat Quran yang berbicara tentang takwa dan karakteristiknya. Penulis mengangkat karakteristik orang yang bertakwa sebagaimana ditemukan dalam Q.S. Ali Imran/3:133-135.
Ayat 133 yang diawali wasari'u ilaa maghfirotin min robbikum bermakna segera kepada ampunan Allah SWT. Karakter pertama orang bertakwa adalah segera merespon dan bergegas manakala ada panggilan dan dalam rangka memenuhi ketaatan pada-Nya. Jika Ramadhan tiba ia segera mempersiapkan diri dan keluarganya untuk menyambut kedatangannya dengan suka cita dan berniat untuk mengisi Ramadhan dengan amaliah-amaliah Ramadhan. Adanya anjuran berinfak dan shadaqah, ia segera merealisasikannya; jika ada panggilan adzan ia segera menunaikannya. Intinya, orang yang bertakwa adalah orang yang bergegas memenuhi panggilan Allah SWT.
Karakter berikutnya orang yang bertakwa adalah orang yang gemar berinfak. Infak atau shadaqah dan sejenisnya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan seorang yang bertakwa. Yang membuatnya berbeda adalah bahwa infak yang dikeluarkan tidak memandang baik dalam keadaan lapang atau sempit, dalam kondisi berada atau papa, dalam kondisi serba ada atau keadaan apa adanya. Jika dalam keadaan serba ada maka infak hanya didominasi orang-orang kaya dan orang-orang miskin tidak mempunyai kewajiban untuk bershadaqah. Inilah uniknya Islam, bahwa berinfak bukan hanya menjadi ciri orang kaya bahwa orang miskin juga punya tempat yang mulia di sisi Allah jika ia dapat mendermakan harta yang dimilikinya. Bahkan harta yang diberikan oleh orang miskin dengan jumlah yang sama sebagaimana diberikan orang kaya, maka nilainya lebih tinggi disisi Allah SWT. Mengapa? Sederhananya begini, jika orang miskin menyumbang Rp. 10.000,00 dan orang kaya juga menyumbang dengan jumlah yang sama, namun bagi orang kaya uang sejumlah itu sangatlah kecil tapi bagi orang miskin, dengan jerih payah dan cucuran keringat ia mampu bershadaqah sejumlah itu. Usaha mendapatkan itulah yang dinilai lebih oleh Allah SWT.
Karakteristik orang yang bertakwa berikutnya adalah ia mampu menahan amarah. Amarah adalah satu nafsu yang membangkitkan gejolak emosi manusia yang cenderung berakibat fatal dan negatif jika tidak dikendalikan (QS. Yusuf/12:53). Berbagai ajaran Islam mengajarkan untuk mengendalikan nafsu dan puasa adalah satu momen untuk mengendalikan nafsu yang satu ini.
Sebagai satu sifat manusia, maka Islam memberikan tuntunan mengendalikan ini yakni diantaranya jika sdang dikuasai emosi ini maka segeralah berwudhu, jika dalam keadaan berdiri maka hendaklah ia duduk, jika dalam keadaan duduk hendaklah ia berbaring dan seterusnya. Tapi adakah marah yang dibenarkan? Ternyata ada marah yang demikian, yakni tatkala Allah SWT menyuruh malaikat untuk menghancurkan satu komunitas masyarakat, ketika hal itu disampaikan kepada malaikat, malaikatpun mengajukan pertimbangan mengapa harus dihancurkan? Bukankah di dalamnya ada orang 'abid? Kata Allah SWT: Justru orang yang 'abid itu yang harus diperingatkan pertama kali karena ia berdiam diri ketika melihat kemaksiatan ada di depannya. Ia tidak memberikan respon untuk menasehati ketika kejahatan ada di masyarakatnya. Ia sibuk dengan ibadah individualnya. Tentu marah yang dimaksud adalah marah karena Allah SWT.
Karakteristik berikutnya di ayat yang sama (134) bahwa ciri orang bertakwa adalah ia memaafkan kesalahan orang lain. Ada dua istilah yang harus dibedakan yakni meminta maaf dan memberi maaf. Jika istilah yang pertama ditujukan kepada orang yang bersalah atau keliru maka ia dianjurkan untuk meminta maaf dan itu sudah seharusnya. Namun term kedua diperlukan sikap lapang dada, jiwa besar dan berat. Oleh karenanya sikap ini adalah sikap yang luar biasa yakni mudah memaafkan kesalahan orang lain maka ia ditetapkan oleh Allah, dituangkan dalam al-Quran al-Karim sebagai ciri dari orang yang muttaqin.
Penutup dari ayat ini (135) mengembalikan kita pada sifat yang manusiawi bahwa orang yang bertakwa bukanlah malaikat, tetapi ia juga manusia yang tentu sifat-sifat kemanusiaannya melekat pada dirinya. Ringkasnya orang yang bertakwa adalah juga manusia, manusia yang tentu ada salah dan khilaf. Bagaimana orang yang bertakwa jika ada kesalahan? Maka mereka segera mengingat Allah dan memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. (fastaghfaru lidzunubihim).
Demikianlah karakteristik orang-orang yang bertakwa. Posisi dan potensi manusia dapat mengangkatnya pada derajat malaikat bahkan melebihi malaikat, namun posisi dan potensi manusia juga dapat menurunkan derajat manusia pada posisi bal hum adhol (lebih lebih daripada binatang).
Semoga Allah senantiasa menuntut kita.**









Enam Kiat Menjaga Hati

Oleh: Mahmud Yunus

Rezeki yang benar-benar milik kita adalah:


1. Apa yang kita pakai sampai usang. 

2. Apa yang kita makan sampai habis. 

3. Apa yang kita sedekahkan.


Dengan Ilmu .. Hidup AKan Mudah
Dengan Seni Hidup Menjadi Indah
Dengan Agama Hidup Menjadi Terarah



Namaku Safinatun Najah Fenza, dipanggil AYANG. AKu lahir tanggal 16 September 2009. Sekarang aku sudah di TK al-Adaby. Tahun depan akan masuk SD. Di TK, aku termasuk siswa yang paling NDUT dan mirip OLANG CHING.
Setiap pagi ayahku selalu mengantarkuke TK dan pulangnya kadang ayah, kadang mama yang jemput
Aku senaaaaaaang sekali.
AKu ingin membuat ayah dan mama selalu bangga denganku
I Love Ayah
I Love Mama
(foto di bawah ini saat usiaku 4 bulan)







TIDAK ADA DOA YANG TIDAK TERKABUL

(Dimuat di Majalah Harmoni Kanwil Kementerian Agama Prov. Kalimantan Barat edisi April 2014)



Dalam Kamus Al-Munawir (1997:406), doa dengan berbagai variannya diartikan dengan memanggil, minta tolong kepada dan meminta. Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, doa bermakna permohonan kepada Tuhan. Permohonan mengisyaratkan adanya harapan, permintaan maupun pujian. Secara khusus, doa dapat diartikan juga sebagai permohonan kepada Tuhan akan sesuatu (Pius Abdillah dan Danu Prasetya, tt: 209). Dalam konteks keagamaan (Islam), doa diartikan sebagai permohonan dan  pujian kepada Allah SWT dengan cara-cara tertentu (Q.S. Al-A'raaf:55).
Abul Qasim An-Naqsyabandy (dalam Maftuh Ahnan dan Lailatus Sa'adah, 2011:9) menyebutkan arti doa lebih detil, yakni doa bermakna 1) ibadat (Q.S. Yunus:106); 2) istighotsah atau memohon bantuan dan pertolongan (Q.S. Al-Baqarah:23); 3) permintaan (Q.S. Al-Mukmin:60); 4) percakapan (Q.S. Yunus:10); 5) memanggil (Q.S. Al-Isra':52) dan 6) memuji (Q.S. Al-Isra:110).
Dari definisi di atas, dapat difahami secara mendalam bahwa doa hakikatnya adalah pengakuan ketidakberdayaan dan kemampuan si pemohon kepada yang lebih dan diyakini memiliki kekuatan di atas yang lainnya. Tidak boleh meminta selain kepada Allah SWT adalah sesuatu yang prinsip dalam akidah Islam sehingga sikap ketergantungan yang ada hanya pada Allah SWT (Q.S. Yunus:106).
Dengan demikian, hakikatnya disadari atau tidak setiap manusia tidak dapat lepas dari aktifitas doa dan penghambaan diri. Namun kemudian muncul pertanyaan, kita merasa sering dan serasa selalu berdoa, tapi mengapa kadang tidak dikabulkan dan diperkenankan oleh Allah SWT. Dalam konteks ini yang harus dipatok terlebih dahulu adalah sikap husnuzh zhan kepada Allah SWT. Husnuzh zhan diartikan sebagai satu sikap hati yang berbaik sangka, positive thingking kepada Allah SWT. Sikap ini akan mampu mendudukkan kita pada posisi bahwa ada zat yang lebih tahu luar dalam tentang diri kita. Bahwa apa yang terjadi pada diri kita adalah sebagai bentuk “peduli” meskipun kadang kita sulit untuk memahaminya.
Komaruddin Hidayat dalam bukunya Agama Punya Seribu Nyawa (2012: 11) menyebutkan bahwa hakikatnya tidak ada doa yang tidak terkabul, yang ada adalah doa yang diajukan, permohonan yang disampaikan dan permintaan yang diagendakan dapat diklasifikasikan kepada empat kategori yakni: 1) Ada doa yang dikabulkan sebagaimana permintaan dan saat itu juga atau dalam waktu yang tidak terlalu lama. Kekuatan doa ini karena kedekatannya kepada Allah SWT, para nabi dan rasul, para wali Allah dan orang-orang yang dekat dengan-Nya. Kedekatan mereka kepada Allah menyebabkan seakan tiada hijab atau penghalang antara Khaliq dan makhluk. 2) Doa yang diajukan akan dikabulkan namun setelah berulang-ulang dan dalam waktu yang tidak secepat itu. Dari sisi ini, harus difahami bahwa Zat yang kita ajukan permohonan adalah Zat yang Maha Mengetahui dan Maha Luas Kekuasaannya. Doa semacam ini mendidik kita untuk, sekali lagi, husnuzh zhan kepada-Nya;  3) Doa dikabulkan namun diganti dalam bentuk yang lain yang cocok bagi kepentingan hamba-Nya. Keterbatasan manusia akan sesuatu menyebabkan kita kadang salah menilai dan cenderung memvonis sesuatu. Pantaskah jika kita juga harus menggeneralisasikan saat kita mengajukan permohonan kepada Zat yang Serba Maha? Tentu harus dibedakan saat kita menilai keputusan yang dibuat makhluk dan kekuasaan yang diambil oleh Khaliq; dan 4) Doa yang dikabulkan kelak saat di alam akhirat. Satu permohonan yang jelasnya tidak bisa dikabulkan saat di dunia seperti permohonan berkumpul bersama para nabi, orang-orang saleh yang telah wafat terlebih dahulu dan lainnya. Permohonan ini menunjukkan keyakinan diri bahwa akan ada satu masa dimana bertemu dan berkumpulnya para kekasih Allah dan keyakinan akan adanya kehidupan sesudah kematian.
Bagaimana jika nyatanya ada doa yang sedari dulu kita sampaikan namun hingga saat ini belum juga diijabah Allah, logika terbalik harus kita kemukakan bahwa tidak terkabulnya doa bukan karena ketidakmampuan Allah dan ketidakpedulian Allah, tapi lebih karena syarat dan ketentuan yang diberikan Allah lewat Kalam-Nya dan lisan Nabi-Nya cenderung kita abaikan. Salah satunya adalah sebagaimana seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai apa syarat dikabulkannya doa, beliau menyatakan bahwa jika ingin doa dikabulkan maka perbaikilah makananmu. Hal ini memberikan gambaran kepada kita bahwa faktor makanan bisa menjadi sebab terhalangnya doa kita dan tidak membumbungnya permohonan kita.
Dengan demikian, jika kita merasa permohonan kita tidak diijabah oleh Allah adalah karena kemungkinan kita kurang memenuhi persyaratan yang ditentukannya. Dan persyaratan yang paling sederhana adalah mengutamakan pengabdian dan penghambaan baru kemudian mengajukan permohonan sebagaimana diajarkan dan tertuang dalam ummul kitab yakni Iyya kana'budu wa iyyaka nasta'inu. Hanya kepada-Mu Kami Menyembah dan Hanya Kepada-Mu jua kami Mohon Pertolongan. Semoga** (26 4 14).



Senin, 16 Maret 2015












Cara Meraih Doa 70 Ribu Malaikat

Oleh: Bahron Ansori 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- “Tiada seorang Muslim pun yang membesuk saudaranya yang sakit, melainkan Allah mengutus baginya 70 ribu malaikat agar mendoakannya kapan pun di siang hari hingga sore hari dan kapan pun di sore hari hingga pagi harinya.” (Musnad Ahmad 2/110).

Syaikh Ahmad Abdurrahman al Banna dalam syarahnya menjelaskan, “Shalawat malaikat bagi anak Adam ialah dengan mendoakan agar mereka diberi rahmat dan magfirah. Sedang yang dimaksud dengan ‘kapan pun di siang hari’, yakni waktu ia menjenguk. Jika ia menjenguknya pada siang hari, malaikat mendoakannya hingga sore hari dan bila ia menjenguknya pada malam hari, malaikat mendoakannya hingga pagi hari. Karena itu, orang yang berniat hendaknya berangkat sepagi mungkin di awal siang atau bersegera begitu malam menjelang agar semakin banyak didoakan malaikat.

“Siapa yang membesuk orang sakit di pagi hari akan diiringi 70 ribu malaikat, semuanya memohonkan ampun untuknya hingga sore hari dan ia mendapat taman di jannah. Jika ia membesuknya di sore hari, ia akan diiringi oleh 70 ribu malaikat yang semuanya memintakan ampun untuknya hingga pagi dan ia mendapat taman di jannah.”(Musnad Ahmad 2/206, hadis 975).

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya pada hari kiamat Allah SWT berfirman, ‘Hai anak Adam, Aku sakit, tetapi kamu tidak menjenguk-Ku’.” Dia berkata, “Wahai Rabb-ku, bagaimana saya menjenguk-Mu, padahal Engkau adalah Rabb semesta alam?”

Dia berfirman, “Tidak tahukah kamu bahwa hamba-Ku, fulan, sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya. Tidak tahukah kamu jika kamu menjenguknya, kamu akan mendapati Aku berada di sisi-Nya.”(Diriwayatkan oleh Muslim, No 2569).

Menjenguk orang sakit diperintahkan Rasulullah SAW. Al Bara bin Azib RA meriwayatkan, “Nabi menyuruh kita tujuh hal dan melarang kita tujuh hal. Beliau menyuruh kita untuk mengantarkan jenazah, menjenguk orang sakit, memenuhi undangan, menolong orang yang teraniaya, melaksanakan sumpah, menjawab salam, dan mendoakan orang yang bersin. Dan Nabi SAW melarang kita memakai wadah (bejana) dari perak, cincin emas, kain sutra, dibaj (sutra halus), qasiy (sutra kasar), dan istibraq (sutra tebal).” (Bukhari No 1239; Muslim No 2066).

Menjenguk orang sakit memiliki beberapa manfaat, di antaranya, pertama, menjenguk orang sakit berpotensi memberi perasaan dan kesan kepadanya bahwa ia diperhatikan orang-orang di sekitarnya, dicintai, dan diharapkan segera sembuh. Hal ini dapat menenteramkan hati si sakit.

Kedua, menjenguk orang sakit dapat menumbuhkan semangat, motivasi, dan sugesti dari pasien. Hal ini dapat menjadi kekuatan khusus dari dalam jiwanya untuk melawan sakit yang dialaminya. Dalam dirinya ada energi hebat untuk sembuh.

Ketiga, mencari tahu apa yang diperlukan si sakit. Keempat, mengambil pelajaran dari penderitaan yang dialami si sakit. Kelima, mendoakan si sakit. Keenam, melakukan rukiyah (membaca ayat-ayat tertentu dari Alquran) yang syar’i.

Betapa besar perhatian Nabi SAW agar setiap Muslim mau membesuk saudara Muslimnya yang sakit, baik yang sakit itu anak kecil maupun dewasa, orang tua, dari kaum laki-laki maupun wanita. Sakit ringan maupun berat. Yang sakit terpelajar atau bukan, orang kota maupun desa, pejabat maupun rakyat jelata, miskin maupun kaya, mengerti makna menjenguk orang sakit ataupun tidak. 





Kamis, 12 Maret 2015


Pengorbanan MA'

Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang
anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan
saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi
nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :
“Makanlah nak, aku tidak lapar” ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan
waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu
berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan
bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan
yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu,
ibu duduk disamping gw dan memakan sisa daging ikan yang masihmenempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku
makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu
menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan
cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan
ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA

Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan
kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api
untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang
untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun
dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan
dengan gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak korek api. Aku
berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus
kerja.” Ibu tersenyum dan berkata :”Cepatlah tidur nak, aku tidak
capek” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku
pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari,
ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama
beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah
selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah
disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental
tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental.
Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk
ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :”Minumlah nak, aku tidak
haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT
Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap
sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu,
dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita
pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat
kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati
yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar
maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat
kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk
menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan
nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta”
———-KEBOHONGA N IBU YANG KELIMA
Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan
bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak
mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit
sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang
bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu
memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang
tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya
punya duit” ———-KEBOHONGA N IBU YANG KEENAM
Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian
memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika
berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja
di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud
membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik
hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku “Aku
tidak terbiasa” ———-KEBOHONGA N IBU YANG KETUJUH
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker
lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di
seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk
ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya
setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku
dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya
terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas
betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat
lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air
mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti
ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku,Aku
tidak kesakitan” ———-KEBOHONGA N IBU YANG KEDELAPAN
Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta
menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.
Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa
tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : ” Terima kasih ibu ! ”
Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah.
Jika dibandingkan dengan pacar kita, kita pasti lebih peduli dengan pacar kita. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar kita, cemas apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di samping kita.
Tapi, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari orang tua kita?
Cemas apakah orang tua kita sudah makan atau belum? Cemas apakah orang tua kita sudah bahagia atau belum?
Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orang tua
kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.

Selasa, 10 Maret 2015

Adakah Orang Sibuk ?


Oleh Bobby Herwibowo
Apakah Anda pernah merasa jengkel terhadap rekanan atau bawahan yang tidak menyelesaikan pekerjaannya karena dalih sibuk banyak kerjaan?! Banyak orang yang beralasan bahwa ia memiliki setumpuk pekerjaan yang harus diselesaikan, namun saat ditanya out-put apa yang sudah ia lakukan, maka hasilnya pun nihil.
Tidak sedikit Anda menjumpai dalam rutinitas harian sejumlah manusia yang mengaku sibuk namun hasil yang mereka keluarkan bukanlah hal bernilai. Betul mereka masuk kerja atau mengerjakan tugas, namun bila Anda menugaskan pekerjaan kepada mereka maka selalu saja molor karena alasan sibuk dengan pekerjaan yang tak terpegang.
Lalu pertanyaan yang muncul adalah, “Apa benar ada manusia yang sibuk?!” Boleh jadi masalah sebenarnya yang dihadapi adalah bahwa orang-orang seperti itu tidak mau mengatur waktu yang mereka miliki seoptimal mungkin.
Masing-masing manusia mendapatkan jatah waktu yang sama dari Allah Swt sebanyak 24 jam. Namun ada manusia yang mampu berbuat banyak hal, dan tidak sedikit manusia yang tidak melakukan apapun atas waktu yang diberikan.
Karena waktu yang tidak tertata dengan baik maka jangankan waktu untuk keluarga, tetangga dan kerabat, untuk diri sendiri saja ia sulit mengatur waktu!
Maka mengawali pembicaraan tentang punctuality (tepat waktu) haruslah dimulai dari penataan waktu yang tepat.
Banyak orang yang menghabiskan waktu di hari libur dengan memperbanyak tidur, padahal pasangan dan anak-anaknya menanti untuk bercengkrama.
Jarang sekali ia bersosialisasi di masyarakat dan keluarga serta kerabat, karena selalu pergi pagi dan pulang malam.  Mereka tidak mampu menata waktunya dengan baik. Semua orang yang berhubungan dengan dia tidak mendapatkan hak mereka.
Padahal Rasulullah Saw telah bersabda berkenaan dengan hal ini: Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash r.a. bahwa ia berkata: Rasululah saw bertanya kepadaku, “Wahai Abdullah, aku telah diberitahu bahwa engkau selalu puasa di siang hari, dan qiyamullail malam harinya?” Aku menjawab, “Benar, Ya Rasulullah!”
Lalu Beliau Saw bersabda: “Jangan kau lakukan itu terus menerus tapi puasalah dan berbukalah, tahajjudlah dan tidurlah! Karena sesungguhnya jasadmu punya hak atas kamu. Kedua matamu juga punya hak atasmu, istrimu punya hak atasmu, dan tetanggamu punya hak atasmu.
Sesungguhnya cukup bagimu puasa sebulan tiga hari (puasa ayyamul biidh) karena setiap kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipat berarti kamu seakan puasa satu tahun.” Maka aku pun minta ditambah berat amalannya seraya berkata, “Ya Rasulullah, aku masih memiliki kekuatan untuk itu!” Beliau bersabda: “Kalau begitu,
Puasalah seperti puasanya Nabi Daud As dan jangan lebih dari itu!’ HR. Bukhari Hadits yang dikutip di atas seolah mengisyaratkan bahwa ibadah yang tepat dilakukan pada waktu yang tepat. Karena itu, saya hendak mengajak pembaca untuk menata ulang waktu dan kegiatan yang mereka miliki sehingga mereka pandai mengatur waktu dan menjadi manusia yang unggul dalam mengelola waktu.
Di bawah ini ada sebuah ilustrasi menarik yang perlu disimak:
Dalam sebuah kuliah manajemen, seorang dosen memperagakan beberapa alat-alat sederhana seperti bejana kaca, bebatuan, kerikil, pasir dan air. Dosen tersebut mengatakan kepada para mahasiswanya bahwa ia hendak mengajarkan cara mengelola waktu yang optimal.
Dosen itu bertanya kepada murid-muridnya, “Aku akan mengisi bejana kaca ini dengan bebatuan ini!” Ia pun mengisi bejana kaca tersebut dengan bebatuan hingga penuh. Saat sudah tidak bisa lagi satu batu pun dimasukkan ke dalam bejana lalu sang dosen bertanya kepada para mahasiswa, “Apakah bejana kaca ini sudah penuh?!” Para mahasiswa serentak menjawab, “Ya!” Mendapati jawaban mereka, sang dosen berkata, “Menurutku bejana ini belum penuh!”
Dosen itu kemudian memasukkan kerikil-kerikil kecil yang mengisi ruang di dalam bejana yang tidak bisa diisi oleh bebatuan. Di antara celah bebatuan, maka kerikil-kerikil itu pun berselipan. Para mahasiswa terkesima melihat cara bagaimana dosen mencoba menjelaskan.
Begitu bejana kaca terlihat penuh, sang dosen bertanya, “Apakah bejana ini sudah penuh?!” Serentak mahasiswa yang sudah mulai paham menjawab, “Ya sudah penuh, namun masih bisa diselipkan dengan pasir!”
“Betul sekali!!!” jawab sang dosen. Maka sang dosen pun mengisikan pasir ke dalam bejana kaca yang sudah berisikan bebatuan dan kerikil. Ternyata pasir pun bisa dimasukkan ke dalam bejana kaca.
“Apa masih bisa dimasukkan benda selanjutnya?!” tanya sang dosen kepada mahasiswa. Bejana kaca itu kini sudah bermuatan bebatuan, kerikil dan pasir. Namun para mahasiswa mengatakan, “Coba tambahkan air ke dalam bejana itu, Pak!”
Sang dosen pun menganggukkan kepala tanda setuju…. Subhanallah…, rupanya bejana kaca yang awalnya dikira sudah penuh dengan bebatuan rupanya masih bisa ditata hingga dapat memuat kerikil, pasir dan air.
Mungkin para pembaca sekarang sudah memahami bahwa adakah orang yang sibuk? Ternyata sesibuk apapun, manusia bisa menghandle kegiatan dan tugas yang ia miliki. Mungkin bebatuan di atas bisa mewakili kegiatan-kegiatan utama kita.
Sedangkan kerikil adalah kegiatan bersama keluarga dan tetangga. Pasir mewakili kegiatan tertier seperti arisan, kondangan, walimah, atau apapun namanya. Sedangkan air mungkin adalah ibadah yang meliputi seluruh kegiatan yang kita lakukan.
Inilah semangat yang dipegang teguh oleh pribadi sukses bahwa setiap waktu harus berarti dan tidak terbuang secara percuma. Allah Swt berfirman:  “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS. Al Insyiraah [94] : 7)
Bahkan Allah Swt yang amat sibuk dengan urusan semua makhluk menggambarkan kesibukan yang Dia Swt lakukan: “Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (Ar Rahmaan [55] : 29)
Konklusinya adalah kesibukan yang kita miliki bukanlah sebuah beban, namun ia mengasah kemampuan kita untuk dapat melakukan banyak hal dengan waktu yang terbatas dan hasil yang optimal.
Karena itu banyak orang sukses yang mengatakan, “Bukan saya pintar mengatur waktu, namun karena tugas yang ada-lah yang membuat saya mampu melakukan semua hal!” Karenanya, apa Anda masih percaya ada manusia sibuk?


Prestasi MTs ASWAJA Januari 2011-Januari 2015
(Sejak Tugas Sebagai Kepala MTs ASWAJA hingga saat ini)

MADRASAH KEBANGGAANKU


Tahun
Kegiatan
Prestasi
Keterangan
2011
Lomba Pramuka Tk Penggalang di SMUN 8 Kota Pontianak
Juara III
Tk. SMP/MTs
2011
Akreditasi Madrasah (Pertama Kali)
Sukses
Predikat B
2011
HUT MTs ASWAJA ke-24
Sukses Penyelenggara
Tk SD/MI
2012
HUT MTs ASWAJA ke-25
Sukses Penyelenggara
Tk SD/MI
2012
PORSEMA K3M MTs se-Kota Pontianak
Juara III Volly Putri
MTs  se-Kota Pontianak
2012
PORSEMA K3M MTs se-Kota Pontianak
Juara III Tenis Meja Putri
MTs  se-Kota Pontianak
2013
AKSIOMA Kementerian Agama
Kota Pontianak
Juara III
KSM Matematika
2013
AKSIOMA Kementerian Agama
Kota Pontianak
Juara III
Cabang MTQ
2013
HUT MTs ASWAJA ke-26
Sukses Penyelenggara
Tk SD/MI
2013
Lomba Puisi Aqsha Center se-Kota Pontianak
Juara I
Tk SMP/MTs
2013
Lomba Gema Ramadhan Akbar SMUN 1 Sui. Kakap
Juara Umum
(Piala Bergilir I)
Tk SMP/MTs
2013
Ujian Nasional
Sukses Penyelenggara
Pertama Kali
2013
Lomba Kepala MTs Berprestasi Tk. Kanwil Kemenag (Sholihin H.Z)
Juara 1
Tk Provinsi di Hotel Orchadz
2013
10 Kategori Lomba Foto Inspiratif Madrasah (Guru: Fery Yanto, S Pd. I)
10 Finalis
Tk. Nasional di Bandung
2014
Lomba Guru Berprestasi Tk. Kanwil Kemenag (Guru: Yeri Deswanto, S. Pd. I)
Juara 3
Tk. Provinsi di Hotel Kartika
2014
HUT ASWAJA ke-27
Sukses
Tk SD/MI
2014
Lomba Tali Temali di SMTI se-Kota Pontianak
Juara 2
TK SMP/MTs
2014
Lomba KIM di SMTI Tk- Kota Pontianak
Juara 2
TK. SMP/MTs
2014
Lomba Puisi – HUT RI di SMA Pancasila Sui. Kakap
Juara 1 dan 2 (Putra)
Juara 1 dan 2 Putri
Tk. SMP/MTs
2014





Lomba Gema Ramadhan Akbar SMUN 1 Sui. Kakap
LCT PAI
Adzan Iqamah
Puisi Putri
Puisi Putra
Juara Umum
(Piala Bergilir II)
Juara 1
Juara Harapan
Juara 1 dan 3
Juara 1 dan 2
Tk SMP/MTs
2015
Pergamanas NU / LP Ma’arif
Juara II Putra-Putri Pentas Seni
Juara III Budidaya Tanaman Hias
Tk. Nasional di Ponpes Khas Kempek Cirebon