Rabu, 12 Februari 2014


 Antara High Context dan Low Context


Sejak dahulu kala, komunikasi merupakan kebutuhan manusia (bahkan makhluk hidup lainnya) yang terus berkembang. Dalam perjalanannya, komunikasi selalu berubah dan mengalami kemajuan. Semakin jauh jarak seseorang dengan lainnya maka dikala itulah komunikasi menjadi kebutuhan. Meskipun banyak ragam komunikasi (dengan isyarat, simbol-simbol maupun secara terbuka), apalagi di era globalisasi ini, dimana arus informasi dan teknologi termasuk di dalamnya kecanggihan alat komunikasi, menjadikan jarak yang jauh tidak lagi menjadi masalah, luasnya wilayah bukan menjadi persoalan. Justru dengan semakin jauhnya letak geografis menstimulus manusia untuk menciptakan teknologi baru seperti kecanggihan alat komunikasi di era globalisasi yang kita nikmati sekarang.
Tulisan ini tidak membahas tentang alat komunikasi yang canggih seperti saat ini atau untuk masa yang akan datang. Pembahasan dibatasi pada komunikasi terbuka antara seseorang dengan audiens. Audiens dalam jumlah yang besar. Karena dalam jumlah yang besar inilah nampak karakteristik dan style seseorang dalam berkomunikasi.
Meskipun komunikasi menjadi kebutuhan manusia, tetapi dalam kenyataannya kita masih menemukan tipe manusia yang sulit dan tidak mampu berkomunikasi secara baik. Contoh sederhana adalah jika kita dalam kondisi berkumpul dengan sejumlah orang yang tidak dikenal, mungkin berteduh bersama saat kehujanan, saat menunggu bis, saat menuju satu tujuan yang sama namun kita tidak saling kenal. Dalam kondisi itulah, akan nampak apakah seseorang (atau kita) mampu berkomunikasi atau tidak, meskipun hanya dengan kalimat pembuka, “mau kemana?” “Sudah lama tidak hujan ni”. Dari kalimat pembuka inilah, kita secara tidak langsung telah membuka komunikasi dengan orang lain dan itu artinya juga kita dapat menilai tipe komunikasi orang tersebut. Cuek, antusias dan biasa-biasa saja, itulah responsnya.
Keterampilan berkomunikasi secara efektif sedikit sekali merupakan karunia sejak lahir. Namun demikian, Bill Scott (1990) menyatakan bahwa kemampuan berkomunikasi sebenarnya dapat dilatih dan dikembangkan. Bisa didapat dari pembinaan, adanya rasa percaya diri (self confidence) maupun karena adanya pemahaman dan penguasaan terhadap teknik-teknik penguasaan massa.
Dalam penyampaian pesan secara langsung, Edward T. Hall (1976) dalam Tjipta Lesmana (2008) menyebutkan bahwa secara kultur, kebudayaan manusia secara global dibagi dalam dua kategori yaitu kebudayaan konteks tinggi (High Context Culture) dan konteks rendah (Low Context Culture). Komunikasi konteks tinggi manakala komunikator menggunakan bahasa “bersayap”. Ini mengandung makna apa yang disampaikan baru akan dapat ditangkap dan difahami jika kita mengetahui style dan budaya komunikator. Singkatnya, orang dengan tipe ini jika berbicara ia tidak to the point, bahasa tubuh (body language) tidak jelas dan banyak menggunakan pengistilahan. Kelebihan dari gaya ini adalah orang tidak akan merasa dipermalukan atau disinggung jika yang bersangkutan menjadi “sasaran tembak”, namun kelemahannya akan banyak penafsiran (multi tafsir) dan interprestasi dalam menerjemahkan maksud dari si pembicara, ya kalau interprestasinya tepat yang dimaksud, jika tidak, kemungkinannya akan memunculkan penafsiran baru. Di sekitar kita, banyak kita temui orang dengan karakter seperti ini. Dan ini sepertinya sudah menjadi budaya khususnya negara-negara timur yang “lebih perasa” meskipun ada juga yang low context.
Berikutnya adalah orang dengan gaya bicara tipe low context. Tipe ini manakala ia berbicara to the point, mudah difahami dan jelas, siapa dan apa yang dimaksud dan tidak perlu diinterprestasikan lagi. Baginya tidak berlaku iklan “Bukan Basa Basi”. Sangat mudah memahami apa keinginan dari orang bertipikal ini, hanya siapa dan apa yang dimaksud -meminjam istilah Tjipta Lesmana- harus bertelinga tebal. Siap untuk dipermalukan dan dipublikasikan berbagai kelemahannya. Para tokoh atau pemimpin -siapapun- atau bahkan orang di sekitar kita, dapat kita kenali gaya dan tipenya dalam berbicara apakah bertipikal high context atau low context.
Karena kedua tipe ini memiliki keunggulan dan kelemahan, maka yang paling bijak adalah kapan kita perlu menempatkan diri untuk berbicara secara high context dan kapan kita bersikap low context. Perkataan bijak mengajarkan kepada kita, berbicaralah kepada orang lain sesuai dengan kadar kemampuan mereka, artinya pembicara yang baik adalah yang memahami apa dan sejauh mana tingkat pengetahuan auidensnya. Demikian juga pembicara yang baik adalah yang orang mengerti dengan apa yang dibicarakannya. Bukan sekedar bisa mengucapkan kontroversi hati, labil ekonomi maupun twenty nine my age.***



Belajar Tentang Kehidupan
(Dimuat di Majalah Harmoni Kanwil Kemenag Kalbar Edisi X 2013)


Diceritakan ada seseorang yang sedang mencari guru untuk belajar tentang arti kehidupan. Didapatinyalah seorang guru dan terjadi dialog, “ Tuan, saya ingin belajar kepada anda tentang arti kehidupan,” jawab guru, “baik, tetapi belajar tentang arti kehidupan tidak bisa kita bicarakan secara teori, ia harus langsung praktek”. Dan pada saat itu sang guru sedang memasak air di atas tungku dengan kayu bakar sebagai BBM nya, sang guru kemudian meniup kayu bakar itu, si muridpun bertanya, “ya Tuan, mengapa anda meniup kayu bakar itu?” Sang Guru mengatakan bahwa kayu bakar ditiup supaya apinya membesar dan cepat panas. Setelah air itu masak, kemudian dituang dalam gelas dan gurupun meniup air itu. Murid bertanya lagi kepada sang guru mengapa harus ditiup, guru menjawab air ini ditiup supaya cepat dingin. Mendengar jawaban guru, si murid langsung bereaksi, “Tuan guru ini tidak konsisten, tiupan pertama supaya cepat panas, tiupan kedua supaya cepat dingin, mana yang benar?', Guru pun memberikan komentarnya, “Itulah hidup yang kadang kita artikan sebuah sikap ketidakkonsistenan ternyata adalah sikap konsisten demikian juga sebaliknya”.
Pelajaran apa yang dapat dipetik dari cerita di atas, bahwa rumus kehidupan kadang tidak selalu linear dengan hitungan rasional kita. Bahwa kadang sesuatu yang kita nilai tidak konsisten, hakikatnya adalah sebuah sikap yang konsisten hanya dikarenakan ketidakmampuan kita memahaminya. Bahwa konsisten atau tidak konsisten tergantung dari sudut pengetahuan yang memandangnya.
Inilah yang menjadi salah satu sebab mengapa Nabi Muhammad SAW ketika ditanya beberapa sahabatnya tentang perbuatan apa yang paling utama. Disatu tempat beliau menyatakan bahwa amal yang paling mulia adalah jihad di jalan Allah, pada kesempatan lain beliau menyebutkan dengan jawaban berbakti kepada kedua orang tua, dalam moment berikutnya beliau sabdakan dengan jawaban bahwa amal yang paling mulia adalah membaca al-Quran dan sebagainya. Tidak konsistenkah Nabi Muhammad SAW dengan memberikan ragam jawaban tersebut. Disinilah letak piawai dan bijaksananya seorang pemimpin. Mengapa jawabannya berbeda, karena disesuaikan dengan karakter si penanya, apalah artinya sebuah jawaban yang ternyata tidak tepat sasaran, tidak tepat guna dan sekedar pengetahuan belaka. Rasulullah SAW memberikan jawaban disesuaikan dengan sifat dan perilaku is penanya. Bagi si penanya dengan jawaban perbuatan yang paling mulia adalah jihad di jalan Allah karena orang tersebut adalah orang yang enggan berjuang di jalan Allah, malas dan takut. Untuk jawaban berbakti kepada kedua orang tua, karena Rasulullah SAW tahu bahwa si penanya adalah anak yang tidak pandai berbakti kepada kedua orang tuanya, demikian juga jawaban membaca al-Quran adalah amal yang paling mulia karena beliau ketahui si penanya adalah orang yang paling malas membaca al-Quran. Dari sudut pandang ini juga mendidik para muballigh, juru dakwah untuk dapat mengetahui tingkat pengetahuan meskipun sedikit tentang audiens atau jamaah yang dihadapinya.
Pendekatan psikologis dalam memahami sebuah persoalan menjadi hal yang penting manakala kita memberikan solusi alternatifnya. Sikap inilah yang kadang dilakukan oleh sang pemimpin namun tidak difahami dan disadari oleh lapisan bawahnya.
Belajar tentang arti kehidupan artinya kita belajar bagaimana mengelola diri, alam dan lingkungan sekitar. Orang yang cerdas adalah orang yang tidak terjebak ke dalam kekeliruan untuk hal yang sama dan itu artinya ia telah belajar kepada kehidupan. Hanya teknik dan caranya yang kadang membuat kita sulit untuk mencernanya.
Tentu pernah kita mendengar, manusia banyak yang pandai mengali (x), lihai mengurang (-) dan tahu menambah (+) tetapi sedikit yang mengerti membagi (:). Ternyata bahwa belajar tentang kehidupan harus dimulai dari kemauan membuka diri sebagai “botol kosong” terlebih tatkala berhadapan dengan “orang tua” yang tidak hanya tua dari segi umur tapi tua dalam makna mampu menngkap dan memahami sinyal-sinyal kehidupan. Dan itu tidak semua bisa dilakukan oleh orang tua.
Banyak hal yang harus kita pelajari tentang arti kehidupan. Semoga!
======================================================