Senin, 02 November 2015

 Tafakkur sebagai Ciri Manusia Cerdas

öqs9 $uZø9tRr& #x»yd tb#uäöà)ø9$# 4n?tã 9@t6y_ ¼çmtF÷ƒr&t©9 $Yèϱ»yz %YæÏd|ÁtFB ô`ÏiB ÏpuŠô±yz «!$# 4
šù=Ï?ur ã@»sVøBF{$# $pkæ5ÎŽôØtR Ĩ$¨Z=Ï9 óOßg¯=yès9 šcr㍩3xÿtGtƒ
Kalau sekiranya kami turunkan al-Quran ini kepada sebuah gunung,
pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah.
dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.
(QS. al-Hasyr/59:21)


Dalam Kamus al-Munawir disebutkan tafakkur berakar dari kata fakkaro yang berarti memikirkan, mengingatkan dan dan terkenang. Tafakkur juga dapat diartikan dengan ta'ammal artinya pertimbangan, memberi perhatian, memikir dan mengkaji. Husein bin Awang dalam karyanya Kamus al-Thulab, Arab-Melayu mengartikan hal tidak jauh berbeda yakni tafakkur berarti memikirkan dan menimbang.
Sedangkan secara terminologi, tafakkur diartikan sebagai proses merenung dan memikirkan  ciptaan Allah SWT di langit dan di bumi dan mengarahkan akal untuk senantiasa mengagungkan dan memuliakan sifat-sifat-Nya.
Dalam al-Quran Allah SWT menuntut kita untuk bertafakkur dengan 18 kali tuntunan, 13 kali dalam ayat-ayat Makkiah dan lima kali dalam ayat-ayat Madaniah. Lebih banyaknya di kota Makkah mengingat di masa inilah era dimulainya dakwah Islam, era memahami dan mempertebal keyakinan kepada Allah SWT dan di era inilah peletakkan nilai-nilai dasar seorang muslim. Dan dampaknya luar biasa yakni munculnya kader-kader dakwah di masa Rasulullah yang sabar, teguh hati dan tegar dalam menghadapi serangan dan intimidasi kaum kafir Quraisy.
Menurut hemat penulis, setidaknya ada tiga pemahaman yang dapat dikemukakan berkaitan dengan terminologi tafakkur ini yakni pertama, tafakkur adalah sebuah proses berfikir. Manusia ada dan terus berkembang karena diberikan kemampuan yang satu ini dan ini yang membedakannya dari makhluk lainnya. Manusia yang lemah adalah yang malas berfikir dan bertindak. Dan artinya juga, manusia yang cerdas adalah yang mampu memaksimalkan kemampuan berfikirnya dengan dilandaskan pada kebesaran Tuhannya dan mampu menangkap sinyal-sinyal kehidupan. Adam Khoo dan Stuart Tan (2013: 2) dalam bukunya Master Your Mind Design Your Destiny menyebutkan bahwa setiap kita saat dilahirkan memiliki sumber daya paling kuat dan berpengaruh yaitu otak dan tubuh. Jika otak dan tubuh digunakan dan dijalankan secara efektif, sumber daya internal  ini akan memungkinkan munculnya suplemen sumber daya fisik eksternal yang dibutuhkan untuk meraih tujuan.
Kedua, yang difikirkan dan direnungkan adalah hasil ciptaan Allah SWT dan bukan Zat yang menciptakan. Ibnu Abbas berkata bahwa ada beberapa orang yang mendalami ilmu agama dengan fokus pada Zat Allah. Lantas Rasulullah SAW bersabda “Pikirkanlah tentang ciptaan Allah dan janganlah memikirkan Zat Allah” (HR. Abu Nu'aim dan Baihaqi).  Keterbatasan manusia adalah jawaban intinya. Ketiga, bahwa akal sebagai media yang diciptakan Allah untuk kemajuan manusia tidak boleh lepas dari kerangka untuk mengagungkan dan memuliakan-Nya. Hal ini senada dengan makna wahyu pertama yang diturunkan yakni QS. Al-'Alaq: 1-5. Perintah membaca (berfikir, berilmu) harus berlandaskan pada nama Tuhan (Iqra' bismi robbika), dan harus memuliskan nama-nama-Nya (Iqra' warobbukal akrom).
Malik Badri, seorang Psikolog Islam, mengelompokkan tafakkur kepada tiga hal yakni tafakkur alam, tafakkur diri dan tentang ketentuan Allah SWT (sunnatullah). Perjalanan hidup manusia dari tiada menjadi ada, bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua dan bahkan kematian itu sendiri hendaknya mampu menjadikan kita dapat berfikir cerdas dan waras. Sayang sekali jika waktu yang terus bergulir, umum yang terus bertambah ternyata tidak membuat kita memiliki nilai plus baik dihadapan manusia terlebih lagi dalam pandangan Allah SWT. Banyak diantara kita yang hanya mengartikan ujian hanya untuk orang-orang miskin dan papa, namun sebenarnya kekayaan dan popularitas hakikatnya adalah juga ujian. Ringkasnya hidup dan mati adalah ujian Allah untuk melihat kita siapa di antara kita yang tergolong ahsanu 'amala (QS. Al-Mulk:2).
'Aun bin Abdullah ra berkata, ditanya Ummu Darda', apakah amalan yang paling afdhal yang pernah diamalkan Abu Darda' ra. Jawab Ummu Darda': at-tafakkur wal i'tibar (berfikir dan mengambil pelajaran). Orang yang cerdas adalah orang yang tidak terjebak dua kali dalam lubang yang sama. Kemampuan mengambil pelajaran dari pengalaman yang ada harus menjadikan kita mampu merancang strategi dalam bertindak, terarah dalam berbuat dan berbobot dalam berfikir. Kematian sebagai sebuah kepastian adalah pelajaran yang sangat penting dalam konteks mencerdaskan manusia dan sekaligus mencerahkan ruhani manusia. Yang dulunya bersahabat, tegur sapa bahkan bergaul akrab keseharian bila telah tiba saatnya maka akan tinggal kenangan. Maut menjemput akan memutus semua mata rantai kehidupan. Yang masih hidup terus beraktifitas dan yang telah wafat mempertanggungjawabkan segala aktifitasnya.
Merenungkan dari masa asal kita, apa aktifitas kita dan apa tujuan kita hidup adalah sejumlah pertanyaan yang harus kita sikapi dengan cara tafakkur dan tadabbur.

Semoga.**

Syukur
Éb>u ûÓÍ_ôãÎ÷rr& ÷br& tä3ô©r& štFyJ÷èÏR ûÓÉL©9$# |MôJyè÷Rr& ¥n?tã 4n?tãur žt$Î!ºur
 ÷br&ur Ÿ@uHùår& $[sÎ=»|¹ çm8|Êös? ÓÍ_ù=Åz÷Šr&ur y7ÏGpHôqtÎ/ Îû x8ÏŠ$t7Ïã šúüÅsÎ=»¢Á9$#

"Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu
yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku
dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai;
dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh".
(QS. an-Naml/27: 40)


Dalam al-Quran, banyak ditemukan ayat yang berbicara tentang syukur. Diantaranya dalam QS. al-Baqarah/2:152 yang berbunyi:
þÎTrãä.øŒ$$sù öNä.öä.øŒr& (#rãà6ô©$#ur Í< Ÿwur Èbrãàÿõ3s? ÇÊÎËÈ
Artinya: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
Juga dapat ditemukan dalam QS. an-Nisa/4:147, QS. ali Imran/3: 145, QS. al-A’rof/7: 17, QS. Saba/34: 13 dan QS. an-Naml/27: 40.
Menurut Quraish Shihab (2003: 175), syukur berarti “puji”, ini bermakna juga bahwa pujian terhadap yang terpuji baru menjadi wajar bila yang terpuji melakukan sesuatu yang baik secara sadar dan tidak terpaksa. Apa yang baik dari manusia (anda atau orang lain) pada hakikatnya adalah dari Allah semata. Jika demikian, pujian apapun yang disampaikan akhirnya kembali kepada Allah SWT. Oleh karena itu kita diajarkan oleh-Nya untuk mengucapkan “alhamdulillah”.
Syukur juga mengandung arti “menggunakan anugerah Ilahi sesuai tujuan penganugerahannya”. Apa yang menjadi keinginan si pemberi dan kemudian digunakan sebagai yang dikehendaki, itulah makna syukur. Makna syukur dapat digambarkan sebagai berikut: Saya memberi saudara sehelai kain sarung, kemudian kain sarung itu saudara gunakan untuk sholat, menghadiri majlis taklim dan sebagainya. Itulah syukur. Dihari lain saya memberi saudara baju kemeja dengan harapan digunakan sebagaimana mestinya, ternyata yang saya lihat, baju kemeja yang diberi digunakan untuk ngelap  motor, membersihkan dinding dan sebagainya. Contoh kedua ini tidak masuk kategori syukur yang dimaksudkan agama. Dengan demikian, syukur adalah menggunakan pemberian siapapun sesuai dengan tempatnya sebagaimana keinginan si pemberi. Mudah-mudahan kita menjadi hamba yang pandai bersyukur.
Atas nikmat yang Allah berikan, kita diperintahkan untuk bersyukur. Jika bersyukur maka Allah SWT akan menambahkan nikmat-Nya untuk hambanya namun jika sebaliknya, dengan tegas Allah SWT memaklumatkan bahwa orang yang tidak bersyukur sesungguhnya azab Allah SWT sangat pedih. Dinyatakan:
øŒÎ)ur šc©Œr's? öNä3š/u ûÈõs9 óOè?öx6x© öNä3¯RyƒÎV{ ( ûÈõs9ur ÷LänöxÿŸ2 ¨bÎ) Î1#xtã ÓƒÏt±s9 ÇÐÈ
Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim/14: 7).
Orang yang berterimakasih kepada manusia hakikatnya ia juga bersyukur kepada Allah SWT. Dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah haditsnya:
لَايَشْكُرُ اللهَ مْنَ لاَ يْشُكُرُ النَّاسَ (رواه ابوداود)
Artinya: “Tidaklah bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterimakasih terhadap sesama”. (HR. Abu Daud).
Pertanyaan selanjutnya, mengapa kita bersyukur? Dalam al-Quran disebutkan sesungguhnya segala kebaikan dan kenikmatan yang ada pada kita adalah karunia dari Allah SWT. Dinyatakan:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ

Artinya: “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)…” (QS. An-Nahl/16: 53)
Betapa melimpahnya kenikmatan yang Allah SWT berikan kepada kita, yang tidak terhingga jumlahnya. Allah memberikan kita kehidupan, kesehatan, makanan, minuman, pakaian dan begitu banyak nikmat yang lainnya. Dari tiada, kemudian ada dan menikmati segala fasilitas yang ada namun akhirnya kita kembali kepada tiada. Kembali kepada tiada dengan membawa segala amal selama hidup di dunia.
Jika kita berusaha menghitung nikmat yang Allah karuniakan kepada kita, niscaya kita tidak akan mampu menghitungnya. Disebutkan dalam al-Quran:
وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا
Artinya: “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (QS. An-Nahl/16: 18).
Faktor yang mengharuskan kita bersyukur, coba kita cermati dan renungkan betapa banyak saudara kita, teman bahkan orang yang kita cintai yang telah mendahului kita, dan inilah makna dari ucapan yang diajarkan tatkala kita memasuki lokasi pemakaman dengan ucapan: وَاِنَّ اِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَحِقُوْنَ , meskipun sebenarnya malaikat maut sudah sering ngirim sms ke makhluknya. Apa SMS malaikat maut? Jike uban udah betabur, gigi banyak yang gugur, mate udah pada kabur, makan cume makan bubur, jalan udah maju mundur, ndak lama lagi dekat lubang kubur. Jika tanda-tanda ini sudah ada, kematian sudah dekat. Namun, hakikatnya kematian adalah kepastian yang misteri. Pasti, karena ia pasti menemui semua makhluk. Misteri, karena tidak ada satupun yang tahu kapan ia datang. Kita bersyukur karena masih diberikan izin oleh Allah untuk melanjutkan kehidupan di dunia ini. Mudah-mudahan Allah SWT mengakhirkan hidup kita dalam keadaan husnul khatimah (baik akhirnya).
Syukur diajarkan oleh Allah SWT dengan cara kita meneladani salah satu asma Allah SWT yaitu asy-Syakur. Asy-Syakur secara bahasa berasal dari kata “syakara” yang berarti pujian atas kebaikan.  Allah asy-Syakur, artinya allah menghargai dan memberi balasan atas seluruh amal kebaikan hamba-Nya. Allah SWT memberi balasan pahala yang banyak dan berlipat ganda atas ketaatan dan ibadah yang sedikit.
Ibnu Qudamah rahimahullah, “Syukur (yang sebenarnya) adalah dengan hati, lisan dan anggota badan”. Syukur dengan hati adalah 1) Mengakui dan meyakini bahwa nikmat tersebut semata-mata datangnya dari Allah SWT dan bukan dari selain-Nya. Meskipun bisa jadi kita mendapatkan nikmat itu melalui profesi kita, teman kita, aktivitas jual beli, bekerja atau yang lainnya, semuanya itu adalah hanyalah perantara untuk mendapatkan nikmat. Hakikatnya, semua nikmat apapun dia, dari siapapun dia dan apapun bentuknya sebenarnya adalah dari Sang Pemberi Rezeki, Allah SWT.; 2) Mencintai Allah SWT yang telah memberikan semua nikmat itu kepada kita; 3) Meniatkan untuk menggunakan nikmat itu di jalan yang Allah SWT ridhai.

Sementara syukur dengan lisan adalah memuji dan menyanjung Dzat yang telah memberikan nikmat tersebut pada kita. Berlama-lama zikir dan tafakkur dalam  rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Syukur dengan anggota badan adalah menggunakan nikmat tersebut untuk mentaati Dzat yang kita syukuri yaitu Allah SWT dan menahan diri agar jangan menggunakan kenikmatan itu untuk bermaksiat kepada-Nya.**