Bacalah!
ù&tø%$# ÉOó$$Î/
y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ
ù&tø%$# y7/uur
ãPtø.F{$# ÇÌÈ Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷èt
ÇÎÈ
Bacalah dengan
(menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan;
Dia telah
menciptakan manusia dari segumpal darah;
Bacalah, dan
Tuhanmulah yang Maha Pemurah;
Yang mengajar
(manusia) dengan perantaran kalam;
Dia mengajar
kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
(QS.
al-Alaq/96: 1-5)
Iqra
bismi robbikal ladzi kholaq,
“bacalah dengan menyebut nama tuhanmu yang telah menciptakan. Demikian bunyi ayat pertama dalam surat
Al-‘Alaq. Surat al-‘Alaq terdiri dari 19 ayat, termasuk golongan surat
Makkiyah. Surat ini juga dinamai dengan Iqra atau al-Qalam.
Kandungan
atau pokok-pokok isi surat ini adalah tentang perintah membaca, menerangkan
bahwa manusia diciptakan dari benda yang hina kemudian memuliakannya dengan
dijadikannya kalam sebagai alat untuk
mengajar membaca, menulis dan memberinya pengetahuan dalam rangka mengembangkan
ilmu pengetahuan. Namun kandungan surat
ini yang paling masyhur adalah tentang perintah membaca.
Sungguh
luar biasa dan dahsyat bila kita fahami dan maknai secara mendalam wahyu yang
pertama turun ini, bukan tentang shadaqah, bukan tentang jual beli, bukan
tentang pernikahan dan sebagainya. Tetapi perintah untuk membuka cakrawala
keilmuan kita yang dengan jelas dinyatakan perintah untuk membaca. Bahkan
perintah ini sampai diulangi dua kali yang menunjukkan betapa urgennya membaca
ini. Nyatanya, inilah perintah yang pertama kali diturunkan Allah SWT kepada
kita. Dan pantas kalau kita renungkan, mengapa membaca menjadi perintah pertama
dan perintah agama.
Orang
yang pandai membaca adalah orang yang cerdas, dalam konteks ini membaca dapat
digolongkan kepada dua hal yaitu membaca yang tersurat (al-Quran) dan yang
tersirat (diri, lingkungan dan alam semesta). Membaca ayat yang tersurat harus
disertai dengan kompetensi atau kemampuan yang mensyaratkannya seperti
kemampuan membaca dengan baik dan benar, memahami spirit atau nilai yang
dikandungnya baik berupa perintah ataupun larangan maupun kabar baik atau
buruk. Jika tidak, maka teks-teks ayat hanya sebatas tulisan tanpa kemampuan
untuk memaknainya. Selanjutnya adalah membaca ayat-ayat Allah yang tersirat
yakni alam semesta bahkan diri sendiri. Sudah sangat banyak pelajaran yang
diberikan Allah lewat diri dan alam semesta ini.
Berawal
dari memahami diri sendiri, dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup,
kemana akhir perjalanan kita. Istilah yang sering penulis kemukakan adalah, “dulu
kita masih anak-anak, eh, sekrang udah punya anak”. Kita lihat sekitar
kita, dari bayi merangkak ke anak-anak terus beranjak remaja, selanjutnya
memasuki usia dewasa dan masa tua. Sering juga penulis sampaikan manakala memasuki
usia tua dengan istilah, “jika uban udah betabur, gigi banyak yang gugur,
mata udah kabur, makan cuma makan bubur, jalan udah maju mundur, da lama lagi
masuk lubang kubur”. Inilah pelajaran yang diberikan Allah kepada diri kita
yang harus dapat kita baca dengan arif dan cerdas.
Setiap
kita pasti tidak akan terlepas dari aktifitas membaca, namun akan timbul
pertanyaan bagaimana cara membaca yang baik dan apa saja yang harus dibaca dan
kalaupun sudah banyak yang membaca (mengasah naluri keilmuannya) mengapa masih
banyak yang salah (korupsi dimana-mana, dekadensi moral, tawuran dan terlalu
banyak untuk disebutkan) sehingga bangsa ini terkesan jalan di tempat (untuk
tidak mengatakan mundur). Ada satu
contoh yang dapat dikemukakan sebagai bentuk kesalahan dalam membaca yaitu yang
banyak terjadi di negeri ini yaitu korupsi. Korupsi adalah sebuah tindakan dari
sebuah hasil cara membaca yang keliru, yaitu membaca yang bukan miliknya
sebagai miliknya.
Mengapa
hal demikian terjadi? Jawabannya karena membacanya tidak menyertakan iman dan
tidak dikaitkan dengan semangat bismi robbika (dengan nama Tuhan). Yang
digunakan saat membaca hanya kekuatan otak (baca: intelektual) tanpa mengikut
sertakan unsur rasa dan kepekaan hati nurani. Bahkan lebih lanjut lagi, agar kekuatan intelektual tidak kosong
dengan nilai-nilai ilahiyah maka jawabannya dapat kita temukan pada ayat
terakhir di surat yang sama yakni wasjud waqtarib (sujud dan dekatkanlah
dirimu kepada Tuhan). Artinya, ketika kita membaca jangan lepas dari usaha
untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan memang harus tetap dalam frame
keilahiyahan.
Jika
demikian, apanya yang salah, apakah cara membaca kita atau bahan bacaannya
kurang bergizi? Bila kita merujuk lagi kepada surat di atas, kedua-duanya (cara
membaca dan bahan bacaan) harus saling mendukung. Cara membaca yang baik harus
didampingi dengan kebesaran nama Tuhan dan mengikutsertakan nilai-nilai
ketuhanan dan bahan bacaan harus mengingatkan kita akan eksistensi atau
keberadaan kita sebagai manusia supaya manakala manusia berhasil dia tidak akan
sombong dengan keilmuannya seperti halnya Iblis laknatullah, tidak akan
sombong dengan kekayaannya seperti halnya Qarun, tidak akan congkak dengan
jabatannya seperti halnya Fir’aun atau tidak menganggap remeh orang lain seperti
halnya Hamman.
Muhammad
Fauzhil ‘Azhim (2006:74) mengutip Burn dalam buku Teaching Reading in
Today’s Elementary Schools bahwa ada delapan aspek yang bekerja saat
kita membaca yaitu sensori, persepsi, sekuensial (tata
urutan kerja), pengalaman, berfikir, belajar, asosiasi dan afeksi. Ke delapan
aspek ini bekerja secara bersamaan saat
kita membaca dan ini tidak kita temukan lebih
dalam pada saat kita menonton tayangan televisi, belum lagi kita bicara
tentang berbagai info yang sebagian besar tentang kekerasan, hubungan bebas dan
pola hidup instan. Dalam konteks inilah, dapat difahami bahwa negara-negara
maju didalamnya merupakan warga-warga yang gemar membaca dan ini beralasan jika ada negara yang sejak
dini mencanangkan gerakan gemar membaca
sejak usia dini.
Mari
Kita Budayakan Gemar Membaca.**

Tidak ada komentar:
Posting Komentar