Senin, 02 November 2015



Bacalah!
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ
ù&tø%$# y7š/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan;
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah;
Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah;
Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam;
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
(QS. al-Alaq/96: 1-5)



Iqra bismi robbikal ladzi kholaq, “bacalah dengan menyebut nama tuhanmu yang telah menciptakan.  Demikian bunyi ayat pertama dalam surat Al-‘Alaq. Surat al-‘Alaq terdiri dari 19 ayat, termasuk golongan surat Makkiyah. Surat ini juga dinamai dengan Iqra atau al-Qalam.
Kandungan atau pokok-pokok isi surat ini adalah tentang perintah membaca, menerangkan bahwa manusia diciptakan dari benda yang hina kemudian memuliakannya dengan dijadikannya kalam sebagai alat untuk  mengajar membaca, menulis dan memberinya pengetahuan dalam rangka mengembangkan ilmu  pengetahuan. Namun kandungan surat ini yang paling masyhur adalah tentang perintah membaca.
Sungguh luar biasa dan dahsyat bila kita fahami dan maknai secara mendalam wahyu yang pertama turun ini, bukan tentang shadaqah, bukan tentang jual beli, bukan tentang pernikahan dan sebagainya. Tetapi perintah untuk membuka cakrawala keilmuan kita yang dengan jelas dinyatakan perintah untuk membaca. Bahkan perintah ini sampai diulangi dua kali yang menunjukkan betapa urgennya membaca ini. Nyatanya, inilah perintah yang pertama kali diturunkan Allah SWT kepada kita. Dan pantas kalau kita renungkan, mengapa membaca menjadi perintah pertama dan perintah agama.
Orang yang pandai membaca adalah orang yang cerdas, dalam konteks ini membaca dapat digolongkan kepada dua hal yaitu membaca yang tersurat (al-Quran) dan yang tersirat (diri, lingkungan dan alam semesta). Membaca ayat yang tersurat harus disertai dengan kompetensi atau kemampuan yang mensyaratkannya seperti kemampuan membaca dengan baik dan benar, memahami spirit atau nilai yang dikandungnya baik berupa perintah ataupun larangan maupun kabar baik atau buruk. Jika tidak, maka teks-teks ayat hanya sebatas tulisan tanpa kemampuan untuk memaknainya. Selanjutnya adalah membaca ayat-ayat Allah yang tersirat yakni alam semesta bahkan diri sendiri. Sudah sangat banyak pelajaran yang diberikan Allah lewat diri dan alam semesta ini.
Berawal dari memahami diri sendiri, dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup, kemana akhir perjalanan kita. Istilah yang sering penulis kemukakan adalah, “dulu kita masih anak-anak, eh, sekrang udah punya anak”. Kita lihat sekitar kita, dari bayi merangkak ke anak-anak terus beranjak remaja, selanjutnya memasuki usia dewasa dan masa tua. Sering juga penulis sampaikan manakala memasuki usia tua dengan istilah, “jika uban udah betabur, gigi banyak yang gugur, mata udah kabur, makan cuma makan bubur, jalan udah maju mundur, da lama lagi masuk lubang kubur”. Inilah pelajaran yang diberikan Allah kepada diri kita yang harus dapat kita baca dengan arif dan cerdas.
Setiap kita pasti tidak akan terlepas dari aktifitas membaca, namun akan timbul pertanyaan bagaimana cara membaca yang baik dan apa saja yang harus dibaca dan kalaupun sudah banyak yang membaca (mengasah naluri keilmuannya) mengapa masih banyak yang salah (korupsi dimana-mana, dekadensi moral, tawuran dan terlalu banyak untuk disebutkan) sehingga bangsa ini terkesan jalan di tempat (untuk tidak mengatakan mundur).  Ada satu contoh yang dapat dikemukakan sebagai bentuk kesalahan dalam membaca yaitu yang banyak terjadi di negeri ini yaitu korupsi. Korupsi adalah sebuah tindakan dari sebuah hasil cara membaca yang keliru, yaitu membaca yang bukan miliknya sebagai miliknya.
Mengapa hal demikian terjadi? Jawabannya karena membacanya tidak menyertakan iman dan tidak dikaitkan dengan semangat bismi robbika (dengan nama Tuhan). Yang digunakan saat membaca hanya kekuatan otak (baca: intelektual) tanpa mengikut sertakan unsur rasa dan kepekaan hati nurani. Bahkan lebih lanjut  lagi, agar kekuatan intelektual tidak kosong dengan nilai-nilai ilahiyah maka jawabannya dapat kita temukan pada ayat terakhir di surat yang sama yakni wasjud waqtarib (sujud dan dekatkanlah dirimu kepada Tuhan). Artinya, ketika kita membaca jangan lepas dari usaha untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan memang harus tetap dalam frame keilahiyahan.
Jika demikian, apanya yang salah, apakah cara membaca kita atau bahan bacaannya kurang bergizi? Bila kita merujuk lagi kepada surat di atas, kedua-duanya (cara membaca dan bahan bacaan) harus saling mendukung. Cara membaca yang baik harus didampingi dengan kebesaran nama Tuhan dan mengikutsertakan nilai-nilai ketuhanan dan bahan bacaan harus mengingatkan kita akan eksistensi atau keberadaan kita sebagai manusia supaya manakala manusia berhasil dia tidak akan sombong dengan keilmuannya seperti halnya Iblis laknatullah, tidak akan sombong dengan kekayaannya seperti halnya Qarun, tidak akan congkak dengan jabatannya seperti halnya Fir’aun atau tidak menganggap remeh orang lain seperti halnya Hamman.
Muhammad Fauzhil ‘Azhim (2006:74) mengutip Burn dalam buku Teaching Reading in Today’s Elementary Schools bahwa ada delapan aspek yang bekerja saat kita  membaca  yaitu sensori, persepsi, sekuensial (tata urutan kerja), pengalaman, berfikir, belajar, asosiasi dan afeksi. Ke delapan aspek ini bekerja secara bersamaan  saat kita membaca dan ini tidak kita temukan lebih  dalam pada saat kita menonton tayangan televisi, belum lagi kita bicara tentang berbagai info yang sebagian besar tentang kekerasan, hubungan bebas dan pola hidup instan. Dalam konteks inilah, dapat difahami bahwa negara-negara maju didalamnya merupakan warga-warga yang gemar membaca  dan ini beralasan jika ada negara yang sejak dini mencanangkan  gerakan gemar membaca sejak usia dini.

Mari Kita Budayakan Gemar Membaca.**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar