Syukur
Éb>u ûÓÍ_ôãÎ÷rr& ÷br& tä3ô©r& tFyJ÷èÏR ûÓÉL©9$# |MôJyè÷Rr& ¥n?tã 4n?tãur t$Î!ºur
÷br&ur @uHùår& $[sÎ=»|¹ çm8|Êös? ÓÍ_ù=Åz÷r&ur y7ÏGpHôqtÎ/ Îû x8Ï$t7Ïã úüÅsÎ=»¢Á9$#
"Ya
Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu
yang
telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku
dan
untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai;
dan
masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang
saleh".
(QS.
an-Naml/27: 40)
Dalam
al-Quran, banyak ditemukan ayat yang berbicara tentang syukur. Diantaranya
dalam QS. al-Baqarah/2:152 yang berbunyi:
þÎTrãä.ø$$sù öNä.öä.ør& (#rãà6ô©$#ur
Í< wur
Èbrãàÿõ3s? ÇÊÎËÈ
Artinya:
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan
bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
Juga
dapat ditemukan dalam QS. an-Nisa/4:147, QS. ali Imran/3: 145, QS. al-A’rof/7:
17, QS. Saba/34: 13 dan QS. an-Naml/27: 40.
Menurut
Quraish Shihab (2003: 175), syukur berarti “puji”, ini bermakna juga bahwa
pujian terhadap yang terpuji baru menjadi wajar bila yang terpuji melakukan
sesuatu yang baik secara sadar dan tidak terpaksa. Apa yang baik dari manusia
(anda atau orang lain) pada hakikatnya adalah dari Allah semata. Jika demikian,
pujian apapun yang disampaikan akhirnya kembali kepada Allah SWT. Oleh karena
itu kita diajarkan oleh-Nya untuk mengucapkan “alhamdulillah”.
Syukur
juga mengandung arti “menggunakan anugerah Ilahi sesuai tujuan
penganugerahannya”. Apa yang menjadi keinginan si pemberi dan kemudian
digunakan sebagai yang dikehendaki, itulah makna syukur. Makna syukur dapat
digambarkan sebagai berikut: Saya memberi saudara sehelai kain sarung, kemudian
kain sarung itu saudara gunakan untuk sholat, menghadiri majlis taklim dan
sebagainya. Itulah syukur. Dihari lain saya memberi saudara baju kemeja dengan
harapan digunakan sebagaimana mestinya, ternyata yang saya lihat, baju kemeja
yang diberi digunakan untuk ngelap motor, membersihkan dinding dan sebagainya.
Contoh kedua ini tidak masuk kategori syukur yang dimaksudkan agama. Dengan
demikian, syukur adalah menggunakan pemberian siapapun sesuai dengan tempatnya
sebagaimana keinginan si pemberi. Mudah-mudahan kita menjadi hamba yang pandai
bersyukur.
Atas
nikmat yang Allah berikan, kita diperintahkan untuk bersyukur. Jika bersyukur
maka Allah SWT akan menambahkan nikmat-Nya untuk hambanya namun jika
sebaliknya, dengan tegas Allah SWT memaklumatkan bahwa orang yang tidak
bersyukur sesungguhnya azab Allah SWT sangat pedih. Dinyatakan:
øÎ)ur c©r's? öNä3/u ûÈõs9 óOè?öx6x©
öNä3¯RyÎV{
(
ûÈõs9ur
÷Länöxÿ2
¨bÎ)
Î1#xtã ÓÏt±s9 ÇÐÈ
Artinya:
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu
mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS.
Ibrahim/14: 7).
Orang
yang berterimakasih kepada manusia hakikatnya ia juga bersyukur kepada Allah
SWT. Dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam sebuah haditsnya:
لَايَشْكُرُ
اللهَ مْنَ لاَ يْشُكُرُ النَّاسَ (رواه ابوداود)
Artinya: “Tidaklah
bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterimakasih terhadap sesama”. (HR.
Abu Daud).
Pertanyaan
selanjutnya, mengapa kita bersyukur? Dalam al-Quran disebutkan sesungguhnya
segala kebaikan dan kenikmatan yang ada pada kita adalah karunia dari Allah
SWT. Dinyatakan:
وَمَا بِكُمْ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهِ
Artinya: “Dan apa saja nikmat yang
ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)…” (QS. An-Nahl/16: 53)
Betapa melimpahnya kenikmatan yang
Allah SWT berikan kepada kita, yang tidak terhingga jumlahnya. Allah memberikan
kita kehidupan, kesehatan, makanan, minuman, pakaian dan begitu banyak nikmat
yang lainnya. Dari
tiada, kemudian ada dan menikmati segala fasilitas yang ada namun akhirnya kita
kembali kepada tiada. Kembali kepada tiada dengan membawa segala amal selama
hidup di dunia.
Jika kita berusaha menghitung nikmat
yang Allah karuniakan kepada kita, niscaya kita tidak akan mampu menghitungnya.
Disebutkan dalam al-Quran:
وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لاَ
تُحْصُوْهَا
Artinya: “Dan jika kamu
menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.”
(QS. An-Nahl/16: 18).
Faktor yang mengharuskan kita
bersyukur, coba kita cermati dan renungkan betapa banyak saudara kita, teman bahkan orang yang kita
cintai yang telah mendahului kita, dan inilah makna dari ucapan yang diajarkan
tatkala kita memasuki lokasi pemakaman dengan ucapan: وَاِنَّ
اِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَحِقُوْنَ , meskipun sebenarnya malaikat maut
sudah sering ngirim sms ke makhluknya. Apa SMS malaikat maut? Jike
uban udah betabur, gigi banyak yang gugur, mate udah pada kabur, makan cume
makan bubur, jalan udah maju mundur, ndak lama lagi dekat lubang kubur.
Jika tanda-tanda ini sudah ada, kematian sudah dekat. Namun, hakikatnya
kematian adalah kepastian yang misteri. Pasti, karena ia pasti menemui semua
makhluk. Misteri, karena tidak ada satupun yang tahu kapan ia datang. Kita
bersyukur karena masih diberikan izin oleh Allah untuk melanjutkan kehidupan di
dunia ini. Mudah-mudahan Allah SWT mengakhirkan hidup kita dalam keadaan husnul
khatimah (baik akhirnya).
Syukur
diajarkan oleh Allah SWT dengan cara kita meneladani salah satu asma Allah SWT
yaitu asy-Syakur. Asy-Syakur secara bahasa berasal dari kata
“syakara” yang berarti pujian atas kebaikan.
Allah asy-Syakur, artinya allah menghargai dan memberi balasan
atas seluruh amal kebaikan hamba-Nya. Allah SWT memberi balasan pahala yang
banyak dan berlipat ganda atas ketaatan dan ibadah yang sedikit.
Ibnu Qudamah rahimahullah,
“Syukur (yang sebenarnya) adalah dengan hati, lisan dan anggota badan”. Syukur
dengan hati adalah 1) Mengakui dan meyakini bahwa nikmat tersebut semata-mata
datangnya dari Allah SWT dan bukan dari selain-Nya. Meskipun bisa jadi kita
mendapatkan nikmat itu melalui profesi kita, teman kita, aktivitas jual beli,
bekerja atau yang lainnya, semuanya itu adalah hanyalah perantara untuk
mendapatkan nikmat. Hakikatnya, semua nikmat apapun dia, dari siapapun dia dan
apapun bentuknya sebenarnya adalah dari Sang Pemberi Rezeki, Allah SWT.; 2)
Mencintai Allah SWT yang telah memberikan semua nikmat itu kepada kita; 3)
Meniatkan untuk menggunakan nikmat itu di jalan yang Allah SWT ridhai.
Sementara syukur dengan lisan adalah
memuji dan menyanjung Dzat yang telah memberikan nikmat tersebut pada kita.
Berlama-lama zikir dan tafakkur dalam
rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Syukur dengan anggota badan
adalah menggunakan nikmat tersebut untuk mentaati Dzat yang kita syukuri yaitu
Allah SWT dan menahan diri agar jangan menggunakan kenikmatan itu untuk
bermaksiat kepada-Nya.**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar