Nasehat Imam al-Ghazali
äí÷$#
4n<Î)
È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/
ÏpsàÏãöqyJø9$#ur
ÏpuZ|¡ptø:$#
(
Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd
ß`|¡ômr&
4 ¨bÎ)
y7/u
uqèd
ÞOn=ôãr&
`yJÎ/ ¨@|Ê
`tã ¾Ï&Î#Î6y
(
uqèdur ÞOn=ôãr&
tûïÏtGôgßJø9$$Î/
Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah
mereka dengan cara yang baik
Sesungguhnya
Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya
dan dialah
yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk
(QS.
an-Nahl/16: 125)
Suatu
hari, Hujjatul Islam Imam al-Ghazali memberikan nasehat kepada muridnya. Beliau
berujar, “Nak, memberikan nasehat itu mudah, yang berat adalah menerima dan melaksanakannya.” Orang yang
memberikan nasehat adalah orang yang
harus pertama kali mewujudkannya dalam tindak kesehariannya. Nasehat akan
sangat bermakna manakala yang menyampaikannya adalah sebagai pilot project
atau orang yang memberikan contoh atas ucapannya. Namun bila kita memahami
hakikat nasehat sebenarnya saat kita menyampaikannya kepada orang lain saat itu
juga kita menasehati diri sendiri. Jika ia sekata-seperbuatan maka satunya kata
dan perbuatan adakan menjadi keteladanan yang paling ampuh.
Sejarah
menjadi saksi bahwa semua kaum di Arab sepakat memberikan gelar kepada Muhammad
dengan gelar al-Amin, artinya orang yang
terpercaya, padahal waktu itu beliau
belum dinyatakan sebagai Nabi. Peristiwa ini, belum pernah terjadi dalam sejarah
Mekkah dan Arabia. Hal itu menjadi bukti bahwa Rasulullah SAW memiliki sifat
itu dalam kadar begitu tinggi sehingga dalam pengetahuan dan ingatan kaumnya
tidak ada orang lain yang dapat dipandang menyamai dalam
hal itu. Kaum Arab terkenal dengan ketajaman
otak mereka dan apa-apa yang mereka pandang langka, pastilah sungguh-sungguh langka
lagi istimewa.
Beliau
mendapat gelar demikian karena beliau yang memberi nasehat dan beliau juga yang
pertama melaksanakannya. Jadi celah untuk merendahkan beliau sebagai orang yang
tidak konsisten tidak dapat dilakukan.
Nasehat kedua
adalah, “Nak, Jangan Miskin Amal”. Hal yang membedakan seorang dengan lainnya
adalah pada amal perbuatannya. Bahkan orang yang tidak beramal shaleh
dikelompokkan dalam barisan orang-orang yang merugi (QS. at-Tien/95: 6; QS.
al-Ashar/103: 3). [Pembahasan ini silakan dilihat pada tulisan ke 8 pada buku
ini].
Nasehat ketiga
adalah, “Wahai muridku, ingatlah tiga dalam hidupmu: 1) Hiduplah semaumu TAPI
ingat engkau akan mati; 2) Cintailah apapun dan siapapun yang engkau sukai TAPI
ingat engkau akan berpisah dengannya; dan 3) Berbuatlah semaumu sebagaimana
yang engkau kehendaki TAPI ingat engkau akan menerima balasannya.
ö@è% ¨bÎ) |NöqyJø9$# Ï%©!$#
crÏÿs?
çm÷ZÏB ¼çm¯RÎ*sù
öNà6É)»n=ãB (
¢OèO tbrtè?
4n<Î) ÉOÎ=»tã
É=øtóø9$# Íoy»yg¤±9$#ur Nä3ã¤Îm7t^ãsù $yJÎ/
÷LäêZä.
tbqè=yJ÷ès?
Artinya:
Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka
sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan
kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia beritakan
kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”(QS. al-Jumuah/62: 8).
Dalam ayat yang lain Allah SWT juga mengingatkan
kepada kita dengan firman-Nya:
#Ó|¤tãur br&
(#qèdtõ3s?
$\«øx©
uqèdur ×öyz öNà6©9 (
#Ó|¤tãur br&
(#q6Åsè?
$\«øx©
uqèdur @° öNä3©9 3
ª!$#ur ãNn=÷èt óOçFRr&ur
w cqßJn=÷ès?
Artinya: “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal
berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu,
padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,
padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. al-Baqarah/2: 216)
Sebagai renungan kita, Allah SWT juga mengajarkan
kepada kita untuk tidak terlalu bergembira dengan apa yang kita miliki dan yang
kita senangi sehingga menyebabkan kita membangga-banggakan diri. Ditegaskan
Allah SWT:
xøs3Ïj9 (#öqyù's? 4n?tã $tB öNä3s?$sù wur (#qãmtøÿs? !$yJÎ/ öNà69s?#uä 3 ª!$#ur w =Ïtä ¨@ä. 5A$tFøèC Aqãsù
Artinya: “(Kami jelaskan yang demikian itu)
supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya
kamu jangan terlalu gembira[1459] terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan
Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS.
al-Hadid/57: 23)
Semoga Allah
SWT senantiasa membimbing gerak langkah kita.**

Tidak ada komentar:
Posting Komentar