Senin, 02 November 2015



Nasehat Imam al-Ghazali          
    
äí÷Š$# 4n<Î) È@Î6y y7În/u ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# (
Oßgø9Ï»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7­/u uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#Î6y (
uqèdur ÞOn=ôãr& tûïÏtGôgßJø9$$Î/
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik
dan bantahlah mereka dengan cara yang baik
Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya
dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk
(QS. an-Nahl/16: 125)


Suatu hari, Hujjatul Islam Imam al-Ghazali memberikan nasehat kepada muridnya. Beliau berujar, “Nak, memberikan nasehat itu mudah, yang berat adalah  menerima dan melaksanakannya.” Orang yang memberikan nasehat  adalah orang yang harus pertama kali mewujudkannya dalam tindak kesehariannya. Nasehat akan sangat bermakna manakala yang menyampaikannya adalah sebagai pilot project atau orang yang memberikan contoh atas ucapannya. Namun bila kita memahami hakikat nasehat sebenarnya saat kita menyampaikannya kepada orang lain saat itu juga kita menasehati diri sendiri. Jika ia sekata-seperbuatan maka satunya kata dan perbuatan adakan menjadi keteladanan yang paling ampuh.
Sejarah menjadi saksi bahwa semua kaum di Arab sepakat memberikan gelar kepada Muhammad dengan gelar al-Amin, artinya orang yang terpercaya, padahal waktu itu beliau belum dinyatakan sebagai Nabi. Peristiwa ini, belum pernah terjadi dalam sejarah Mekkah dan Arabia. Hal itu menjadi bukti bahwa Rasulullah SAW memiliki sifat itu dalam kadar begitu tinggi sehingga dalam pengetahuan dan ingatan kaumnya tidak ada orang lain yang dapat dipandang menyamai dalam hal itu. Kaum Arab terkenal dengan ketajaman otak mereka dan apa-apa yang mereka pandang langka, pastilah sungguh-sungguh langka lagi istimewa.
Beliau mendapat gelar demikian karena beliau yang memberi nasehat dan beliau juga yang pertama melaksanakannya. Jadi celah untuk merendahkan beliau sebagai orang yang tidak konsisten tidak dapat dilakukan.
Nasehat kedua adalah, “Nak, Jangan Miskin Amal”. Hal yang membedakan seorang dengan lainnya adalah pada amal perbuatannya. Bahkan orang yang tidak beramal shaleh dikelompokkan dalam barisan orang-orang yang merugi (QS. at-Tien/95: 6; QS. al-Ashar/103: 3). [Pembahasan ini silakan dilihat pada tulisan ke 8 pada buku ini].
Nasehat ketiga adalah, “Wahai muridku, ingatlah tiga dalam hidupmu: 1) Hiduplah semaumu TAPI ingat engkau akan mati; 2) Cintailah apapun dan siapapun yang engkau sukai TAPI ingat engkau akan berpisah dengannya; dan 3) Berbuatlah semaumu sebagaimana yang engkau kehendaki TAPI ingat engkau akan menerima balasannya.

ö@è% ¨bÎ) |NöqyJø9$# Ï%©!$# šcrÏÿs? çm÷ZÏB ¼çm¯RÎ*sù öNà6É)»n=ãB ( ¢OèO tbrŠtè? 4n<Î) ÉOÎ=»tã É=øtóø9$# Íoy»yg¤±9$#ur Nä3ã¤Îm7t^ãsù $yJÎ/ ÷LäêZä. tbqè=yJ÷ès?

Artinya: Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”(QS. al-Jumuah/62: 8).
Dalam ayat yang lain Allah SWT juga mengingatkan kepada kita dengan firman-Nya:
#Ó|¤tãur br& (#qèdtõ3s? $\«øx© uqèdur ׎öyz öNà6©9 ( #Ó|¤tãur br& (#q6Åsè? $\«øx© uqèdur @ŽŸ° öNä3©9 3 ª!$#ur ãNn=÷ètƒ óOçFRr&ur Ÿw šcqßJn=÷ès?

Artinya: “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah/2: 216)
Sebagai renungan kita, Allah SWT juga mengajarkan kepada kita untuk tidak terlalu bergembira dengan apa yang kita miliki dan yang kita senangi sehingga menyebabkan kita membangga-banggakan diri. Ditegaskan Allah SWT:
ŸxøŠs3Ïj9 (#öqyù's? 4n?tã $tB öNä3s?$sù Ÿwur (#qãmtøÿs? !$yJÎ/ öNà69s?#uä 3 ª!$#ur Ÿw =Ïtä ¨@ä. 5A$tFøƒèC Aqãsù
Artinya: “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira[1459] terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS. al-Hadid/57: 23)

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing gerak langkah kita.**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar