Profesionalitas atau profesionalisme berasal dari kata
profesi, yang berarti pekerjaan. John M. Echols mengartikan
profesional sebagai seorang yang ahli (1992:449). Seseorang yang
profesional bermakna ia seorang yang ahli dalam pekerjaan tersebut.
Seseorang yang kompeten dalam hal pekerjaan yang digelutinya maka ia
dinamakan seorang yang profesional.
Sementara
itu, kata profesi sebagaimana dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia
diartikan sebagai bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian
(keterampilan, kejuruan dan sebagainya).
Mengacu
kepada pengertian di atas, dapat dikatakan bahwa seorang yang
profesional
adalah orang yang menyandang suatu jabatan atau pekerjaan yang
dilakukan dengan keahlian atau keterampilan yang tinggi. Sebagai
contoh bahwa guru
adalah sebuah profesi, sebagai sebuah profesi maka ia mensyaratkan
penguasaan didaktik metodik, pedagogik dan ilmu keguruan lainnya dan
aplikatif, jika demikian maka ia tergolong guru yang profesional. Ini
artinya juga bahwa guru yang telah lulus sertifikasi dan mendapatkan
sertifikat profesional adalah guru yang (seharusnya) faham, tahu dan
bisa mengaplikasikan ilmu keguruan dalam aktifitas profesinya.
Globalisasi yang ditandai dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi, terbukanya negara yang hampir tak mengenal
batas negara, menuntut kita untuk memiliki skill dan keahlian
tertentu (baca:profesional), jika tidak, maka dengan sendirinya kita
hanya akan masuk dalam daftar hitungan dan tidak termasuk dalam
kelompok yang diperhitungkan.
Berbicara tentang profesionalisme artinya kita
membicarakan tentang kualitas sumber daya manusia (SDM). Manusia yang
profesional artinya memiliki kemampuan bahkan keahlian di bidangnya.
Abdurrahman Abror (dalam Haitami Salim, 2004:203) menyebutkan
profesionalisme sebagai tolok ukur dan gaya hidup manusia yang maju.
Hal ini dapat kita fahami, keahlian yang dimiliki akan menempatkan
seseorang pada posisi tertentu bahkan kedudukannya lebih tinggi dari
yang lainnya (cermati Q.S. Al-Mujadilah/58:11).
Persaingan lintas
sektoral, regional bahkan internasional menempatkan profesionalisme
sebagai salah satu kunci membangun kemajuan sebuah bangsa, bagaimana
kita lihat Korea Selatan yang tahun 1970-an sama-sama dengan negara
kita merangkak menuju negara dengan konsep berstandar dunia (world
class)
tahun 2020, kelihatan Korea Selatan menjadi negara yang siap dan
konsisten dengan ide awalnya dan sekarang termasuk yang disegani.
Indonesia? Meskipun bukan untuk melemahkan semangat kita, tapi
setidaknya mampu membuat kita berfikir ulang, apa yang kita siapkan
menyambut tahun 2020? Yang nampak adalah berdasarkan
data dalam Education
For All (EFA)
Global Monitoring Report 2011: The Hidden Crisis, Armed Conflict and
Education yang dikeluarkan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan,
dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) yang diluncurkan
di New York tahun 2011, indeks pembangunan pendidikan atau
education development index (EDI) berdasarkan data tahun 2008 adalah
0,934. Nilai itu menempatkan Indonesia di posisi
ke-69 dari 127 negara di dunia. Lain lagi rendahnya pencapaian
Indonesia yang berada di urutan ke-64 dari 65 negara dalam
Programme
for International Student Assesment
2012 yang digelar Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan
Pembangunan (Kompas, 23 Desember 2013). Bahkan secara real, negeri
kita kiranya “cukup berbangga” dengan ramainya pahlawan devisa
yakni para tenaga kerja Indonesia (TKI). Satu istilah yang cukup
“sopan” namun sebenarnya tidak berbeda dengan makna kuli, babu
dan pembantu. Coba bandingkan dengan tenaga kerja asing baik di
negeri ini maupun di negara lain. Posisi bergengsi mereka tempati,
kenapa?Karena keahlian yang mereka miliki dan ini artinya mereka
profesional.
Semakin lama, laju dan terus
bergerak, suasana kemajuan teknologi dan informasi akan semakin
canggih. Ketidakmampuan menyikapi suasana itu dengan sikap yang
profesional berarti kita akan ditinggal oleh kemajuan zaman dan
artinya tidak mampu menyambut masa depan yang penuh persaingan. Jika
itu terjadi, masihkah kita menegakkan kepala tatkala “berhadapan”
dengan pendiri negeri ini, Bung Karno, Bung Hatta dan lainnya.
Semoga tidak terjadi.**
