Kamis, 30 April 2015

Pribadi Hebat Menurut Hamka

JAKARTA (voa-islam.com) – “Dua puluh ekor kerbau yang sama gemuk, sama kuat, dan sama pula kepandaiannya menarik pedati, tentu harganya tidak jauh berbeda. Akan tetapi duapuluh manusia yang sama tinggi dan sama kuat, belum tentu sama ‘harganya’. Sebab bagi kerbau tubuhnya saja yang berharga. Bagi manusia adalah pribadinya.”
Begitulah Hamka menguraikan kepribadian. Hamka mendefinisikan pribadi sebagai berikut:
“Pertama. Kumpulan sifat dan kelebihan diri yang menunjukkan kelebihan seseorang daripada orang lain sehingga ada manusia besar dan manusia kecil. Ada manusia yang sangat berarti hidupnya dan ada yang tidak berarti sama sekali. Kedatangannya tidak menggenapkan dan kepergiannya tidak mengganjilkan.
Kedua. Kumpulan sifat akal budi, kemauan, cita-cita dan bentuk tubuh. Hal itu menyebabkan harga kemanusiaan seseorang berbeda dari yang lain.”
Ulama besar yang diakui dunia ini melanjutkan:
“Tinggi rendahnya pribadi seseorang adalah karena usaha hidupnya, caranya berfikir, tepatnya berhitung, jauhnya memandang dan kuatnya semangat diri sendiri. Meneropong suatu pribadi tidak boleh terpengaruh oleh rasa sayang dan benci. Seringkali terjadi baru saja kita bertemu dengan seseorang, lantas kita menyayanginya atau kebalikannya. Padahal belum patut ada hubungan sayang dan benci dalam perkara itu. Memang terkadang kita sayang kepadanya karena keikhlasannya, kemuliaan hatinya, kesetiaan dan keberaniannya. Kita membenci karena dia curang, tidak mengenal kejujuran dan kejujurannya pun tidak pernah pula berkenalan dengan dia, bakhil, benalu, penohok kawan dan penggunting dalam liputan.Akan tetapi terkadang juga kita menyayangi seseorang karena orang itu mau kita perkuda untuk kepentingan kita sendiri. Atau kita membenci bukan karena ia bersalah, hanya karena kita sendiri orang pendengki.” (Lihat buku Pribadi Hebat, Hamka, GIP 2014).
Rasulullah SAW bersabda: “Berbahagilah orang yang mementingkan memerhatikan cela diri sendiri sehingga tidak sempat memerhatikan cela orang lain.” Juga sabda Rasulullah yang sering diungkapkan para ulama: “Siapa yang mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya.”
Hamka juga mengritik keras keadaan masyarakat yang mementingkan diri sendirinya saja. Kata ulama penulis Tafsir Al Azhar ini:
“Banyak guru, dokter, hakim, insinyur, dan orang yang memiliki banyak koleksi buku serta diplomanya segulung besar, dalam masyarakat dia menjadi mati sebab dia bukan “orang masyarakat”. Hidupnya hanya mementingkan diri sendiri dan diplomanya hanya untuk mencari harta. Hatinya sudah seperti batu, tidak mempunyai cita-cita selain kesenangan dirinya. Pribadinya tidak kuat, karena ia bergerak bukan karena dorongan jiwa dan akal. Dan kepandaiannya yang banyak seringkali menimbulkan ketakutan, bukan menimbulkan keberanian untuk memasuki dan menjalani hidup.”
Yang menarik Hamka menyatakan bahwa pribadi yang besar dan kuat, tidak punya kelemahan. Semua manusia punya kelemahan. Sastrawan besar ini menyatakan: “Jangan disangka bahwa pribadi yang besar dan kuat hanya semata-mata memakai sifat yang terpuji saja. Tidak! Bahkan kebalikannya, bertambah besar pribadi seseorang bertambah jelas letak kelemahannya dan kekurangannya.” Orang Arab berkata, ”Idzaa tamma syaiun badaa naqshuhu.” Yang berarti bahwa apabila sesuatu telah sempurna, jelaslah kekurangannya.
Hamka juga mengecam orang atau kaum yang membangga-banggakan keturunan. Mengutip syair Ali bin Abi Thalib, penulis buku Tasawuf Modern ini menyatakan:
“Manusia dipandang dari segi tubuh hanya sama
Ayahnya Adam dan Ibunya Hawa
Jika mereka membangga-banggakan keturunan
Keturunannya pun sama, tanah dan air.”
Hamka kemudian menuliskan resep agar sebuah bangsa menjadi maju. Tutur ulama besar ini:
“Kemajuan pribadi suatu bangsa dan kemerdekaannya tidak akan tercapai jika belum ada kemajuan dan kemerdekaan pribadi individu. Tanda-tanda menunjukkan bahwa derajat kemajuan dan kejayaan yang didapat oleh beberapa manusia di bidang yang dimasukinya, dapat pula dicapai oleh orang lain asalkan orang itu mempunyai pribadi yang kuat. Kemajuan pribadi sendiriakan menentukan tempat kita yang pantas dalam pergaulan hidup di bidang apapun.”
Meski pernah dipenjara Presiden Soekarno, Hamka menyatakan bahwa Soekarno adalah pribadi besar. Ia pemimpin yang bisa mengambil hati orang lain. Ulama ini juga menguraikan tentang kecerdikan pribadi Perdana Menteri Perancis, ketika mengatasi pemogokan massal rakyatnya. Juga Perdana Menteri Inggris, Lioyd George. Suatu saat ada seorang musuh politiknya menghina PM Inggris ini dengan menyatakan:
“Tuan, masih ingatkah Tuan sekarang bahwa ayah Tuan dahulu adalah seorang tukang pedati. Dimana pedati itu sekarang dan dimana keledainya?” Jawab Lioyd dengan cepat: “Terima kasih Tuan. Sudah lama hal itu berlalu sehingga saya sudah lupa dimana pedati itu. Adapun keledainya baru hari ini saya dapati kembali dalam forum ini. Saya bersyukur Tuan bertanya.”
Agus Salim sebagai guru bangsa terkenal kecerdikan dan kebesarannya. Suatu saat ada seorang Belanda menghina Bahasa Indonesia kepada Salim. Ia menyatakan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa jongos. Bahasa ini tidak bisa dipakai untuk bahasa pengetahuan.
“Bisa mengapa tidak?” kata Salim.
“Apa bahasa Indonesia dari kata politic?”
Salim menjawab dengan sangat cepat,”Terjemahkan dahulu kata itu ke dalam bahasa Indonesia. Nanti saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secepat itu pula.” Kata politic, dalam bahasa Belanda ‘politiek’.
Yang memunculkan pribadi besar, menurut Hamka adalah:
1. Daya Tarik
2. Cerdik
3. Menimbang rasa (empati)
4. Berani
5. Bijaksana
6. Berpandangan baik
7. Tahu diri
8. Kesehatan tubuh
9. Bijak dalam berbicara
10.Percaya kepada diri sendiri
Ibnu Sina mengatakan: “Orang yang arif senantiasa tersenyum simpul dan bermuka jernih. Bagaimana hatinya tidak bergembira. Padahal dia telah memperoleh kebenaran. Orang yang arif itu dermawan. Bagaimana dia tidak akan dermawan padahal harta benda baginya bukanlah kekayaan. Kekayaan sejati adalah cintanya pada kebenaran.”
Akhirnya Rasulullah saw menyatakan: “Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Dan mintalah pertolongan Allah dan jangan merasa lemah.” [Nuim/sharia/voa-islam.com]
- See more at: http://www.voa-islam.com/read/ulama/2015/02/14/35683/pribadi-hebat-menurut-hamka/#sthash.6XkaAc6x.dpuf
Konsep Dasar Angkatan Kerja
Oleh: Nurhasikin (Mahasiswi Universitas Riau Kepulauan)



 Ada 2 pandangan dalam melihat batasan usia penduduk usia produktif. Pandangan pertama adalah 15-59 tahun dan pandangan kedua adalah 15-64 tahun. Kesepakatan secara internasional sekarang ini adalah untuk Negara berkembang dipakai 15-59 tahun dan untuk Negara maju dipakai 15-64 tahun. Untuk Indonesia seringkali memakai keduanya ada yang memakai ukuran 15-59 tahun dan ada yang memakai 15-64 tahun. Konsep dasar angkatan kerja adalah langkah dalam menentukan pekerja dalam melakukan pekerjaan. Di Indonesia sering memakai keduanya, yaitu usia 15-64 dan 15-59. Indonesia adalah negara berkembang, maka yang seharusnya lebih di utamakan dalam merekrut angkatan kerja yang masih aktif agar melahirkan tenaga kerja yang bisa maksimal dan secara langsung juga akan membantu angka pengangguran penduduk di Indonesia khususnya di kota Batam. Di batam adalah sangat banyak pendatang yang ingin menetap, angka kependudukan semakin meningkat.

Tiga Tipe Perempuan dalam Alquran (3)

REPUBLIKA.CO.ID, Perumpamaan yang ketiga merupakan contoh dan teladan bagi perempuan dalam memelihara kehormatannya. Dalam HR Ahmad, Rasulullah SAW menyebut Maryam binti Imran sebagai salah satu dari empat perempuan terbaik di dunia, selain Khadijah binti Khuwailid, Asiah istri Fir’aun, dan Fatimah az Zahra. 

Maryam sudah berada dalam pemeliharaan yang baik sejak lahir. Ia diserahkan ke rumah ibadah dalam pengawasan Nabi Zakaria AS. Tak ayal, ia tumbuh menjadi perempuan sholehah yang taat beribadah kepada Allah SWT. 

Namanya juga diabadikan menjadi salah satu surah dalam Alquran, yaitu surah Maryam. 

Ketiga perumpamaan tipe perempuan dalam surah At Tahrim ayat 10-12 tersebut, memiliki hikmah masing-masing. Dari istri Luth dan istri Nuh, kita belajar tentang tanggung jawab individual. Dari istri Fir’aun, kita belajar tentang keteguhan seorang perempuan dalam menjaga iman di tengah kekufuran. 

Terakhir, dari Maryam kita belajar pentingnya pendidikan dan pemeliharaan sejak dini. Perumpamaan-perumpamaan di atas tidak hanya memberi pelajaran bagi perempuan, tapi juga hikmah bagi kaum laki-laki. 

Tiga Tipe Perempuan dalam Alquran (2)


REPUBLIKA.CO.ID,Tipe perempuan kedua yang disebutkan dalam Alquran, yakni perempuan di tengah-tengah kaum yang kafir, tetapi tetap menjaga keimanannya.Yaitu, Asiah istri Fir’aun. 

Dalam Surah At tahrim ayat 11, Allah SWT membuat istri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata, “Ya Rabb-ku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” 

Sebagai seorang permaisuri, Asiah bisa mendapatkan segala kenikmatan dunia, tapi ia berpaling dari kenikmatan itu. Ia memilih menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT dan berdoa agar Allah SWT membangunkan untuknya sebuah rumah di surga. 

Kisah istri Fir’aun ini berkebalikan dengan kisah istri Nuh dan istri Luth. Istri Nuh dan istri Luth hidup di bawah bimbingan nabi, tetapi menjadi perempuan yang ingkar kepada ajaran kenabian yang disampaikan suaminya. 

Sebaliknya, istri Fir’aun hidup di tengah orang-orang kafir, tetapi tetap teguh menjaga keimanannya. Ia senantiasa berdoa, “Dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim.” 

Tiga Tipe Perempuan dalam Alquran


REPUBLIKA.CO.ID,Terdapat tiga tipe perempuan berkaitan dengan keimanannya kepada Allah. Masing-masing tipe diwakili oleh istri Nuh AS dan istri Luth AS, istri Fir’aun, serta Maryam, putri Imran. 

Tipe pertama diidentifikasi sebagai  perempuan yang hidup di tengah orang beriman, tapi tidak menjadikannya beriman. Yaitu, istri Nabi Nuh AS dan Nabi Luth AS. 

Allah membuat mereka sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh, namun berkhianat kepada suaminya.  Maka,  suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah.

Surah At Tahrim ayat 10 pun menyebutkan, “Masuklah ke dalamjahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam). 

Ayat tersebut memberi perumpamaan tentang keadaan orang-orang kafir yang sudah tidak bermanfaat lagi baginya pelajaran atau nasihat dari orang-orang beriman. 

Istri Nuh mengolok-olok dan mencela ajaran yang dibawa oleh suaminya. Sementara, istri Luth menunjukkan informasi kepada kaumnya tentang keberadaan tamu-tamu suaminya, padahal ia tahu apa yang akan dilakukan kaumnya terhadap tamu tersebut. 

Artinya, ikatan apapun, baik ikatan darah atau perkawinan, sama sekali tidak membantu seseorang selama tidak disertai dengan ketakwaan kepada Allah. 

Istri Nuh dan istri Luth sama sekali tidak mendapat keringanan atas statusnya sebagai istri nabi. Seorang suami harus membimbing keluarganya, tapi tanggung jawab tetap kembali pada diri masing-masing.

REPUBLIKA.CO.ID,Terdapat tiga tipe perempuan berkaitan dengan keimanannya kepada Allah. Masing-masing tipe diwakili oleh istri Nuh AS dan istri Luth AS, istri Fir’aun, serta Maryam, putri Imran. 

Tipe pertama diidentifikasi sebagai  perempuan yang hidup di tengah orang beriman, tapi tidak menjadikannya beriman. Yaitu, istri Nabi Nuh AS dan Nabi Luth AS. 

Allah membuat mereka sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh, namun berkhianat kepada suaminya.  Maka,  suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah.

Surah At Tahrim ayat 10 pun menyebutkan, “Masuklah ke dalamjahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam). 

Ayat tersebut memberi perumpamaan tentang keadaan orang-orang kafir yang sudah tidak bermanfaat lagi baginya pelajaran atau nasihat dari orang-orang beriman. 

Istri Nuh mengolok-olok dan mencela ajaran yang dibawa oleh suaminya. Sementara, istri Luth menunjukkan informasi kepada kaumnya tentang keberadaan tamu-tamu suaminya, padahal ia tahu apa yang akan dilakukan kaumnya terhadap tamu tersebut. 

Artinya, ikatan apapun, baik ikatan darah atau perkawinan, sama sekali tidak membantu seseorang selama tidak disertai dengan ketakwaan kepada Allah. 

Istri Nuh dan istri Luth sama sekali tidak mendapat keringanan atas statusnya sebagai istri nabi. Seorang suami harus membimbing keluarganya, tapi tanggung jawab tetap kembali pada diri masing-masing.

Senin, 27 April 2015

Fak. Kesehatan UNMUH Pontianak adakan kerjasama dengan MTs ASWAJA tentang Parental Training, 28 APril 2015
BERSAMA MEMBANGUN MADRASAH


Selasa, 21 April 2015

Etika Berkomunikasi Dalam Islam



BERTUTUR KATA
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Hasan Basri Tanjung MA

Ada enam konsep komunikasi Islami dalam Alquran. Pertama, qawlan ma’ruufan (QS an-Nisa [4]:8). Dalam Tafsir al-Misbah, Prof HM Quraish Shihab menjelaskan maknanya sebagai perkataan yang menghibur hati kerena sedikitnya atau karena tidak ada yang diberikan kepada mereka (yatim dan miskin atau kerabat yang bukan ahli waris) saat pembagian harta warisan.

Kedua, qawlan sadiidan (QS an-Nisa [4]:9). Konsep ini lanjutan dari ayat sebelumnya dalam konteks yang sama, yakni perkataan yang benar dan mengenai tepat pada sasarannya. Pesan-pesan agama pun, jika bukan pada tempatnya, tidak diperkenankan untuk disampaikan. 

Ketiga, qawlan baliighan (QS an-Nisa [4]:63), yakni tertampungnya seluruh pesan dalam kalimat yang disampaikan. Kalimatnya tidak bertele-tele, tidak pula singkat sehingga mengaburkan pesan dan cukup tidak berlebih atau kurang.

Keempat, qawlan kariiman (QS al Isra [17]:23), yakni perkataan yang indah dan baik (qawlan jamiilan wa hasanan), lembut lagi mudah (qawlan layyinan sahlan). Kelima, qawlan maysuuran (QS al Isra [17]:28) yang ditafsirkan hampir sama oleh Ibnu Jarir, yakni qawlan layyinan sahlan, ar-rifqi (lembut), dan qawlan jamiilan. 

Konteks ayat ini berkaitan dengan ketidakmampuan untuk memberikan bantuan (hak-hak) kepada kaum kerabat, orang miskin, dan ibnu sabil.
Perkataan yang baik atau menghibur agar mereka tidak kecewa karena tidak mendapat bagian. Keenam, qawlan layyinan (QS Thaha [20]:44), yakni sikap lemah lembut, perkataan yang ramah, dan suasana kedamaian.

Bertutur kata yang baik (hifdz al-lisan) adalah akhlak karimah, kewajiban, dan kehormatan diri seorang Muslim. Hati-hatilah karena lisan (lidah) itu lebih tajam dari pedang. Jika pedang melukai badan masih ada obat penghilang. Tapi, jika lidah melukai hati, hendak ke mana obat dicari.Wallahu a’lam bish-shawab.

Senin, 06 April 2015

Agar Hati tidak Berkarat




Oleh: Muhbib Abdul Wahab

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- "Sesungguhnya, hati itu dapat berkarat sebagaimana besi berkarat. Rasulullah SAW lalu ditanya: Apa yang bisa membuat hati agar tidak berkarat? Rasul menjawab: Membaca Alquran dan mengingat kematian." (HR al-Baihaqi).

Ilustrasi dalam hadis tersebut menunjukkan bahwa hati manusia itu potensial menjadi seperti besi yang kemudian berubah menjadi berkarat. Sebelum berkarat, besi itu kuat, tapi ketika sudah berkarat, ia akan berubah menjadi rapuh.

Hati yang berkarat adalah hati yang berpenyakit atau sudah tidak sehat dan kuat. Agar hati tidak berkarat, Rasulullah SAW memberi solusi, yaitu membaca Alquran. Badiuzzaman Said Nursi dalam al-Mu'jizat al-Qur'aniyyah menjelaskan bahwa Alquran adalah Kalam Allah. 

Ia adalah kitab suci yang menebarkan hikmah yang turun dari lingkup nama-Nya yang paling agung. Ia menatap kepada apa yang diliputi Arasy yang paling agung. Jangankan hati yang berkarat! Bebatuan gunung yang kuat dan kokohpun dapat "takluk dan tunduk" kepada Alqur dan sekiranya diturunkan kepadanya. (QS al-Hasyr [59]:21).

Hati adalah cermin cahaya (nur) ilahi. Karena itu, wajar jika hati yang berkarat akan kembali memancarkan cahaya te rang apabila diasupi hidangan rabbani. Sebab, Alquran merupakan "jamuan spesial" Allah SWT (ma'dubatullah) bagi hamba-Nya. 

Jamuan kemuliaan ini tentu harus dinikmati dan dimaknai. Memaknai Alquran identik dengan membaca, memahami, menghayati, mengapresiasi, dan mengamalkan seruan berpikir rasional, pesan-pesan moral dan spiritualnya.

Dengan kata lain, agar hati tidak berkarat, mudarasah Al quran harus terus dilakukan dan dibudayakan; bukan sekadar mengaji (tilawah), membaca, dan mempelajari pesannya (qira'ah wa tadarus), melainkan memahami, menerjemahkan, dan mengaktualisasikan nilai-nilainya dalam ke hidupan nyata (mudarasah), sehingga spirit Alquran itu menjiwai dan menggelorakan kehidupan yang semakin jauh dari nilai-nilai kebenaran, kebaikan, keadilan, keindahan, dan kedamaian.

Mudarasah Alquran merupakan peneduh hati yang gersang dan penjinak watak "keras kepala dan keras hati". Sejarah membuktikan bahwa Umar bin al-Khattab yang sebelum masuk Islam dikenal berwatak keras kepala dan liar, hatinya luluh dan berubah 360 derajat setelah mendengar lantunan ayat-ayat Alquran yang dibacakan adik kandungnya yang telah masuk Islam, Fatimah binti al-Khattab.

Ayat yang didengarnya adalah QS Thaha ayat 2-4,"Kami tidak menurunkan Alquran ini kepadamu agar kamu men - jadi susah (sengsara), tetapi sebagai peringatan bagi orang- orang yang takut (kepada Allah), yaitu diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.

"Jika jujur berintrospeksi diri, tampaknya kita umat Islam belum banyak melakukan mudarasah Alquran. Kita masih jauh dari naungan Alquran. Kita belum bisa menikmati jamuan Allah yang diturunkan pada bulan yang suci ini. 

Boleh jadi, salah satu penyebab kemunduran, keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan yang mendera umat Islam saat ini adalah masih jauhnya kita dari naungan dan pangkuan Alquran. Padahal, menurut Sayyid Qutub dalam pengantar tafsir Fi Zhilal Alquran, hidup di bawah naungan Alquran itu nikmat. Wallahu a'lam bish-shawab!

Sebutir Kurma Penuh Berkah


REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Adi Setiawan, Lc, MEI 

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Adi ibn Hatim bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Berlindunglah dari api neraka sekalipun hanya dengan (sedekah) sebutir kurma.” Dalam riwayat lain ada tambahan, “Kalau itu pun tidak ada (kurma), maka (sedekah) dengan kata-kata yang baik”.

Inilah gambaran konsistensi keimanan seseorang untuk senantiasa beramal saleh. Konsisten sedekah walaupun sedikit adalah awal untuk bersedekah yang lebih banyak.

Ibnu Hajar mengatakan, “Tidak boleh meremehkan dan memandang rendah orang yang bersedekah dengan sedikit hartanya, sedikitnya saja sudah bisa menghindarkannya dari api neraka”.

Kata “sebutir kurma” dalam hadis di atas merupakan mubalaghah fil qillah, kiasan tentang amal-amal yang ringan, bahkan paling ringan di mata manusia, namun bernilai tinggi di mata Allah SWT.

Allah SWT berfirman, "Maka barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya". (QS al-Zalzalah: 7)

Bersedekah tidak mesti selalu banyak, bersedekah juga bisa dengan memberi sekali banyak dan sesekali ala kadarnya. Inilah yang dicontohkan oleh Siti Aisyah RA, istri Rasulullah SAW, ia biasa memberi makan fakir miskin yang setiap hari menemuinya.

Yang menarik, terkadang ia memberikan semua makanannya, terkadang hanya memberi sebutir anggur. Bersedekah tidak mesti dengan harta. Kita tidak mampu bersedekah dengan harta, maka dengan kata-kata yang baik pun dijamin oleh Rasulullah Saw sebagai sedekah.

Kalimat yang baik akan menjadi sedekah jika bermanfaat bagi yang mengucapkan sendiri dan orang lain yang mendengarnya. Bagi diri sendiri akan terasa damai, tentram dan tenang jika kita senantiasa berkata dengan baik. Tidak menyindir orang lain, tidak melukai orang lain. Dengan begitu tidak akan pernah mempunyai musuh.

Bersedekah membimbing jiwa untuk menjadi pemurah, dan jauh dari serakah. Cukuplah kisah Qarun menjadi pelajaran berharga. Pemuda dari bani Israil yang memperoleh kelapangan rizki, hingga kunci gudang hartanya saja tidak mampu dibawa oleh para pekerjanya seorang diri. 

Setiap kali kaumnya memohon bantuan dan kemurahnnya ia tolak. Setap kali penasehatnya memberi nasehat, tidak bertambah kecuali Qarun semakin sombong. Dan tidak berapa lama Allah SWT pun melenyapkan seluruh kenikmatan itu, harta lenyap dan istana pun ditelan bumi. 

Bersedekah berarti mengimplementasikan doa sapu jagat yang sering diucapkan selesai shalat. Berharap bahagia di dunia, kemudian dilanjutkan dengan kebahagiaan di akhirat. 

Kejahatan yang sering terjadi, hilangnya rasa aman di jalanan, pembegalan dimana-mana, pencurian di perumahan-perumahan mewah dan kejahatan lainnya. Itu semua bukan saja karena kemiskinan harta akan tetapi bisa juga dikarenakan kemiskinan struktural yang disebabkan oleh korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) dan keenganan berbagi. 

Sedekah menjadi instrument penting untuk antisipasi kejahatan yang mungkin terjadi, sebab dalam sedekah ada ikatan yang terjadi antara yang kaya dan yang miskin.

Memberi makan orang yang membutuhkan berarti memberikan jaminan kesejahteraan bagi yang diberi dan keamanan bagi yang memberi karena tidak akan diganggu keamanannya oleh yang diberi. 

Dan sebagai langkah awal adalah dengan melakukan edukasi yang tepat mengenai konsep sedekah sehingga muncul kesadaran akan pentingnya mengeluarkan zakat, infak dan dana sosial keagamaan lainnya.Wallahua’lam.







Jumat, 03 April 2015





Ciri-ciri keluarga skinah mawaddah wa rahmah itu antara lain:
1. Menurut hadis Nabi, pilar keluarga sakinah itu ada empat (idza aradallohu bi ahli baitin khoiran dst); (a) memiliki kecenderungan kepada agama, 
(b) yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda, 
(c) sederhana dalam belanja, 
(d) santun dalam bergaul dan
 (e) selalu introspeksi. 

Dalam hadis Nabi juga disebutkan bahwa: “Empat hal akan menjadi faktor yang mendatangkan kebahagiaan keluarga (arba`un min sa`adat al mar’i), yakni 
(a) suami / isteri yang setia (saleh/salehah), 
(b) anak-anak yang berbakti, 
(c) lingkungan sosial yang sehat , dan 
(d) dekat rizkinya.”