Antara
High Context dan Low Context
Sejak dahulu kala, komunikasi merupakan kebutuhan manusia (bahkan
makhluk hidup lainnya) yang terus berkembang. Dalam perjalanannya,
komunikasi selalu berubah dan mengalami kemajuan. Semakin jauh jarak
seseorang dengan lainnya maka dikala itulah komunikasi menjadi
kebutuhan. Meskipun banyak ragam komunikasi (dengan isyarat,
simbol-simbol maupun secara terbuka), apalagi di era globalisasi
ini, dimana arus informasi dan teknologi termasuk di dalamnya
kecanggihan alat komunikasi, menjadikan jarak yang jauh tidak lagi
menjadi masalah, luasnya wilayah bukan menjadi persoalan. Justru
dengan semakin jauhnya letak geografis menstimulus manusia untuk
menciptakan teknologi baru seperti kecanggihan alat komunikasi di era
globalisasi yang kita nikmati sekarang.
Tulisan ini tidak membahas tentang
alat komunikasi yang canggih seperti saat ini atau untuk masa yang
akan datang. Pembahasan dibatasi pada komunikasi terbuka antara
seseorang dengan audiens. Audiens dalam jumlah yang besar. Karena
dalam jumlah yang besar inilah nampak karakteristik dan style
seseorang dalam berkomunikasi.
Meskipun komunikasi menjadi
kebutuhan manusia, tetapi dalam kenyataannya kita masih menemukan
tipe manusia yang sulit dan tidak mampu berkomunikasi secara baik.
Contoh sederhana adalah jika kita dalam kondisi berkumpul dengan
sejumlah orang yang tidak dikenal, mungkin berteduh bersama saat
kehujanan, saat menunggu bis, saat menuju satu tujuan yang sama namun
kita tidak saling kenal. Dalam kondisi itulah, akan nampak apakah
seseorang (atau kita) mampu berkomunikasi atau tidak, meskipun hanya
dengan kalimat pembuka, “mau kemana?” “Sudah lama tidak hujan
ni”. Dari kalimat pembuka inilah, kita secara tidak langsung telah
membuka komunikasi dengan orang lain dan itu artinya juga kita dapat
menilai tipe komunikasi orang tersebut. Cuek,
antusias dan biasa-biasa saja, itulah responsnya.
Keterampilan berkomunikasi secara
efektif sedikit sekali merupakan karunia sejak lahir. Namun demikian,
Bill Scott (1990) menyatakan bahwa kemampuan berkomunikasi sebenarnya
dapat dilatih dan dikembangkan. Bisa didapat dari pembinaan, adanya
rasa percaya diri (self confidence) maupun
karena adanya pemahaman dan penguasaan terhadap teknik-teknik
penguasaan massa.
Dalam penyampaian pesan secara
langsung, Edward T. Hall (1976) dalam Tjipta Lesmana (2008)
menyebutkan bahwa secara kultur, kebudayaan manusia secara global
dibagi dalam dua kategori yaitu kebudayaan konteks tinggi (High
Context Culture) dan konteks
rendah (Low Context Culture).
Komunikasi konteks tinggi manakala komunikator menggunakan bahasa
“bersayap”. Ini mengandung makna apa yang disampaikan baru akan
dapat ditangkap dan difahami jika kita mengetahui style
dan budaya komunikator. Singkatnya, orang dengan tipe ini jika
berbicara ia tidak to the point,
bahasa tubuh (body language)
tidak jelas dan banyak menggunakan pengistilahan. Kelebihan dari gaya
ini adalah orang tidak akan merasa dipermalukan atau disinggung jika
yang bersangkutan menjadi “sasaran tembak”, namun kelemahannya
akan banyak penafsiran (multi tafsir) dan interprestasi dalam
menerjemahkan maksud dari si pembicara, ya kalau interprestasinya
tepat yang dimaksud, jika tidak, kemungkinannya akan memunculkan
penafsiran baru. Di sekitar kita, banyak kita temui orang dengan
karakter seperti ini. Dan ini sepertinya sudah menjadi budaya
khususnya negara-negara timur yang “lebih perasa” meskipun ada
juga yang low context.
Berikutnya adalah orang dengan gaya bicara tipe low context.
Tipe ini manakala ia berbicara to the point, mudah difahami
dan jelas, siapa dan apa yang dimaksud dan tidak perlu
diinterprestasikan lagi. Baginya tidak berlaku iklan “Bukan Basa
Basi”. Sangat mudah memahami apa keinginan dari orang bertipikal
ini, hanya siapa dan apa yang dimaksud -meminjam istilah Tjipta
Lesmana- harus bertelinga tebal. Siap untuk dipermalukan dan
dipublikasikan berbagai kelemahannya. Para tokoh atau pemimpin
-siapapun- atau bahkan orang di sekitar kita, dapat kita kenali gaya
dan tipenya dalam berbicara apakah bertipikal high context
atau low context.
Karena kedua tipe ini memiliki keunggulan dan kelemahan, maka yang
paling bijak adalah kapan kita perlu menempatkan diri untuk berbicara
secara high context dan kapan kita bersikap low context.
Perkataan bijak mengajarkan kepada kita, berbicaralah kepada
orang lain sesuai dengan kadar kemampuan mereka, artinya pembicara
yang baik adalah yang memahami apa dan sejauh mana tingkat
pengetahuan auidensnya. Demikian juga pembicara yang baik adalah yang
orang mengerti dengan apa yang dibicarakannya. Bukan sekedar bisa
mengucapkan kontroversi hati, labil ekonomi maupun twenty
nine my age.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar