Selasa, 17 Maret 2015

          

Karakteristik Orang yang Bertakwa

              
 12 Juli 2014



Terma takwa berasal dari bahasa Arab dengan penulisan TAQWA (dengan huruf Q). Kata ini sudah sangat dikenal di Indonesia, dan kemudian lebih dikenal dengan penulisan TAKWA (dengan huruf K). meskipun berasal dari bahasa Arab namun ia sudah digunakan oleh semua lapisan masyarakat. Bahkan menjadi kata yang wajib untuk diucapkan kala seseorang disumpah untuk menduduki satu jabatan. Meskipun demikian, sebagaimana asal katanya, maka terminologi ini harus difahami dan dikembalikan ke makna semula.
Secara etimologi, kata ini berarti menjaga diri dari segala yang membahayakan atau berjaga-jaga/melindungi diri dari sesuatu. Dalam kamus al-Munawir diartikan juga sebagai sebuah sikap kehati-hatian dan kewaspadaan. (A.W. Munawir, 1997:1577).
Dalam istilah syar'i (hukum), kata takwa mengandung pengertian menjaga diri dari segala perbuatan dosa dengan meninggalkan segala yang dilarang Allah dan melaksanakan segala yang diperintahkan-Nya. Dari 86 ayat yang menyatakan perintah bertakwa pada umumnya (sebanyak 82 kali) obyeknya adalah Allah SWT. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ayat-ayat yang berbicara tentang takwa pada dasarnya adalah tentang ketakwaan kepada Allah SWT.

Karakteristik Orang yang Bertakwa

Dari banyaknya ayat Quran yang berbicara tentang takwa dan karakteristiknya. Penulis mengangkat karakteristik orang yang bertakwa sebagaimana ditemukan dalam Q.S. Ali Imran/3:133-135.
Ayat 133 yang diawali wasari'u ilaa maghfirotin min robbikum bermakna segera kepada ampunan Allah SWT. Karakter pertama orang bertakwa adalah segera merespon dan bergegas manakala ada panggilan dan dalam rangka memenuhi ketaatan pada-Nya. Jika Ramadhan tiba ia segera mempersiapkan diri dan keluarganya untuk menyambut kedatangannya dengan suka cita dan berniat untuk mengisi Ramadhan dengan amaliah-amaliah Ramadhan. Adanya anjuran berinfak dan shadaqah, ia segera merealisasikannya; jika ada panggilan adzan ia segera menunaikannya. Intinya, orang yang bertakwa adalah orang yang bergegas memenuhi panggilan Allah SWT.
Karakter berikutnya orang yang bertakwa adalah orang yang gemar berinfak. Infak atau shadaqah dan sejenisnya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan seorang yang bertakwa. Yang membuatnya berbeda adalah bahwa infak yang dikeluarkan tidak memandang baik dalam keadaan lapang atau sempit, dalam kondisi berada atau papa, dalam kondisi serba ada atau keadaan apa adanya. Jika dalam keadaan serba ada maka infak hanya didominasi orang-orang kaya dan orang-orang miskin tidak mempunyai kewajiban untuk bershadaqah. Inilah uniknya Islam, bahwa berinfak bukan hanya menjadi ciri orang kaya bahwa orang miskin juga punya tempat yang mulia di sisi Allah jika ia dapat mendermakan harta yang dimilikinya. Bahkan harta yang diberikan oleh orang miskin dengan jumlah yang sama sebagaimana diberikan orang kaya, maka nilainya lebih tinggi disisi Allah SWT. Mengapa? Sederhananya begini, jika orang miskin menyumbang Rp. 10.000,00 dan orang kaya juga menyumbang dengan jumlah yang sama, namun bagi orang kaya uang sejumlah itu sangatlah kecil tapi bagi orang miskin, dengan jerih payah dan cucuran keringat ia mampu bershadaqah sejumlah itu. Usaha mendapatkan itulah yang dinilai lebih oleh Allah SWT.
Karakteristik orang yang bertakwa berikutnya adalah ia mampu menahan amarah. Amarah adalah satu nafsu yang membangkitkan gejolak emosi manusia yang cenderung berakibat fatal dan negatif jika tidak dikendalikan (QS. Yusuf/12:53). Berbagai ajaran Islam mengajarkan untuk mengendalikan nafsu dan puasa adalah satu momen untuk mengendalikan nafsu yang satu ini.
Sebagai satu sifat manusia, maka Islam memberikan tuntunan mengendalikan ini yakni diantaranya jika sdang dikuasai emosi ini maka segeralah berwudhu, jika dalam keadaan berdiri maka hendaklah ia duduk, jika dalam keadaan duduk hendaklah ia berbaring dan seterusnya. Tapi adakah marah yang dibenarkan? Ternyata ada marah yang demikian, yakni tatkala Allah SWT menyuruh malaikat untuk menghancurkan satu komunitas masyarakat, ketika hal itu disampaikan kepada malaikat, malaikatpun mengajukan pertimbangan mengapa harus dihancurkan? Bukankah di dalamnya ada orang 'abid? Kata Allah SWT: Justru orang yang 'abid itu yang harus diperingatkan pertama kali karena ia berdiam diri ketika melihat kemaksiatan ada di depannya. Ia tidak memberikan respon untuk menasehati ketika kejahatan ada di masyarakatnya. Ia sibuk dengan ibadah individualnya. Tentu marah yang dimaksud adalah marah karena Allah SWT.
Karakteristik berikutnya di ayat yang sama (134) bahwa ciri orang bertakwa adalah ia memaafkan kesalahan orang lain. Ada dua istilah yang harus dibedakan yakni meminta maaf dan memberi maaf. Jika istilah yang pertama ditujukan kepada orang yang bersalah atau keliru maka ia dianjurkan untuk meminta maaf dan itu sudah seharusnya. Namun term kedua diperlukan sikap lapang dada, jiwa besar dan berat. Oleh karenanya sikap ini adalah sikap yang luar biasa yakni mudah memaafkan kesalahan orang lain maka ia ditetapkan oleh Allah, dituangkan dalam al-Quran al-Karim sebagai ciri dari orang yang muttaqin.
Penutup dari ayat ini (135) mengembalikan kita pada sifat yang manusiawi bahwa orang yang bertakwa bukanlah malaikat, tetapi ia juga manusia yang tentu sifat-sifat kemanusiaannya melekat pada dirinya. Ringkasnya orang yang bertakwa adalah juga manusia, manusia yang tentu ada salah dan khilaf. Bagaimana orang yang bertakwa jika ada kesalahan? Maka mereka segera mengingat Allah dan memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. (fastaghfaru lidzunubihim).
Demikianlah karakteristik orang-orang yang bertakwa. Posisi dan potensi manusia dapat mengangkatnya pada derajat malaikat bahkan melebihi malaikat, namun posisi dan potensi manusia juga dapat menurunkan derajat manusia pada posisi bal hum adhol (lebih lebih daripada binatang).
Semoga Allah senantiasa menuntut kita.**









Tidak ada komentar:

Posting Komentar