Karakteristik Orang yang Bertakwa
12 Juli 2014
Terma takwa berasal dari bahasa Arab dengan penulisan TAQWA (dengan huruf
Q). Kata ini sudah sangat dikenal di Indonesia, dan kemudian lebih dikenal
dengan penulisan TAKWA (dengan huruf K). meskipun berasal dari bahasa Arab
namun ia sudah digunakan oleh semua lapisan masyarakat. Bahkan menjadi kata
yang wajib untuk diucapkan kala seseorang disumpah untuk menduduki satu
jabatan. Meskipun demikian, sebagaimana asal katanya, maka terminologi ini
harus difahami dan dikembalikan ke makna semula.
Secara etimologi, kata ini berarti menjaga diri dari segala yang
membahayakan atau berjaga-jaga/melindungi diri dari sesuatu. Dalam
kamus al-Munawir diartikan juga sebagai sebuah sikap kehati-hatian dan
kewaspadaan. (A.W. Munawir, 1997:1577).
Dalam istilah syar'i (hukum), kata takwa mengandung pengertian menjaga
diri dari segala perbuatan dosa dengan meninggalkan segala yang dilarang Allah
dan melaksanakan segala yang diperintahkan-Nya. Dari 86 ayat yang
menyatakan perintah bertakwa pada umumnya (sebanyak 82 kali) obyeknya adalah
Allah SWT. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ayat-ayat yang berbicara
tentang takwa pada dasarnya adalah tentang ketakwaan kepada Allah SWT.
Karakteristik Orang yang
Bertakwa
Dari banyaknya ayat Quran yang berbicara tentang takwa dan
karakteristiknya. Penulis mengangkat karakteristik orang yang bertakwa
sebagaimana ditemukan dalam Q.S. Ali Imran/3:133-135.
Ayat 133 yang diawali wasari'u ilaa maghfirotin min robbikum
bermakna segera kepada ampunan Allah SWT. Karakter pertama orang bertakwa
adalah segera merespon dan bergegas manakala ada panggilan dan dalam rangka
memenuhi ketaatan pada-Nya. Jika Ramadhan tiba ia segera mempersiapkan diri dan
keluarganya untuk menyambut kedatangannya dengan suka cita dan berniat untuk
mengisi Ramadhan dengan amaliah-amaliah Ramadhan. Adanya anjuran berinfak dan
shadaqah, ia segera merealisasikannya; jika ada panggilan adzan ia segera
menunaikannya. Intinya, orang yang bertakwa adalah orang yang bergegas memenuhi
panggilan Allah SWT.
Karakter berikutnya orang yang bertakwa adalah orang yang gemar berinfak.
Infak atau shadaqah dan sejenisnya menjadi bagian tak terpisahkan dari
kehidupan seorang yang bertakwa. Yang membuatnya berbeda adalah bahwa infak
yang dikeluarkan tidak memandang baik dalam keadaan lapang atau sempit, dalam
kondisi berada atau papa, dalam kondisi serba ada atau keadaan apa adanya. Jika
dalam keadaan serba ada maka infak hanya didominasi orang-orang kaya dan
orang-orang miskin tidak mempunyai kewajiban untuk bershadaqah. Inilah uniknya
Islam, bahwa berinfak bukan hanya menjadi ciri orang kaya bahwa orang miskin
juga punya tempat yang mulia di sisi Allah jika ia dapat mendermakan harta yang
dimilikinya. Bahkan harta yang diberikan oleh orang miskin dengan jumlah yang
sama sebagaimana diberikan orang kaya, maka nilainya lebih tinggi disisi Allah
SWT. Mengapa? Sederhananya begini, jika orang miskin menyumbang Rp. 10.000,00
dan orang kaya juga menyumbang dengan jumlah yang sama, namun bagi orang kaya
uang sejumlah itu sangatlah kecil tapi bagi orang miskin, dengan jerih payah
dan cucuran keringat ia mampu bershadaqah sejumlah itu. Usaha mendapatkan
itulah yang dinilai lebih oleh Allah SWT.
Karakteristik orang yang bertakwa berikutnya adalah ia mampu menahan
amarah. Amarah adalah satu nafsu yang membangkitkan gejolak emosi manusia yang
cenderung berakibat fatal dan negatif jika tidak dikendalikan (QS.
Yusuf/12:53). Berbagai ajaran Islam mengajarkan untuk mengendalikan nafsu dan
puasa adalah satu momen untuk mengendalikan nafsu yang satu ini.
Sebagai satu sifat manusia, maka Islam memberikan tuntunan mengendalikan
ini yakni diantaranya jika sdang dikuasai emosi ini maka segeralah berwudhu,
jika dalam keadaan berdiri maka hendaklah ia duduk, jika dalam keadaan duduk
hendaklah ia berbaring dan seterusnya. Tapi adakah marah yang dibenarkan?
Ternyata ada marah yang demikian, yakni tatkala Allah SWT menyuruh malaikat
untuk menghancurkan satu komunitas masyarakat, ketika hal itu disampaikan
kepada malaikat, malaikatpun mengajukan pertimbangan mengapa harus dihancurkan?
Bukankah di dalamnya ada orang 'abid? Kata Allah SWT: Justru orang yang 'abid
itu yang harus diperingatkan pertama kali karena ia berdiam diri ketika melihat
kemaksiatan ada di depannya. Ia tidak memberikan respon untuk menasehati ketika
kejahatan ada di masyarakatnya. Ia sibuk dengan ibadah individualnya. Tentu
marah yang dimaksud adalah marah karena Allah SWT.
Karakteristik berikutnya di ayat yang sama (134) bahwa ciri orang
bertakwa adalah ia memaafkan kesalahan orang lain. Ada dua istilah yang harus
dibedakan yakni meminta maaf dan memberi maaf. Jika istilah yang pertama
ditujukan kepada orang yang bersalah atau keliru maka ia dianjurkan untuk
meminta maaf dan itu sudah seharusnya. Namun term kedua diperlukan sikap lapang
dada, jiwa besar dan berat. Oleh karenanya sikap ini adalah sikap yang luar
biasa yakni mudah memaafkan kesalahan orang lain maka ia ditetapkan oleh Allah,
dituangkan dalam al-Quran al-Karim sebagai ciri dari orang yang muttaqin.
Penutup dari ayat ini (135) mengembalikan kita pada sifat yang manusiawi
bahwa orang yang bertakwa bukanlah malaikat, tetapi ia juga manusia yang tentu
sifat-sifat kemanusiaannya melekat pada dirinya. Ringkasnya orang yang bertakwa
adalah juga manusia, manusia yang tentu ada salah dan khilaf. Bagaimana orang
yang bertakwa jika ada kesalahan? Maka mereka segera mengingat Allah dan
memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. (fastaghfaru lidzunubihim).
Demikianlah karakteristik orang-orang yang bertakwa. Posisi dan potensi
manusia dapat mengangkatnya pada derajat malaikat bahkan melebihi malaikat,
namun posisi dan potensi manusia juga dapat menurunkan derajat manusia pada
posisi bal hum adhol (lebih lebih daripada binatang).
Semoga Allah senantiasa menuntut kita.**

Tidak ada komentar:
Posting Komentar