Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Menyorot Pendidikan
Kita
Dimuat di Harian
Tribun Pontianak,
Edisi 5 Mei 2015
Pendidikan merupakan suatu proses yang bertujuan. Berhasil tidaknya
tujuan dapat dilihat pada output yang dihasilkan. Dalam konteks
pendidikan nasional Indonesia, pendidikan dilaksanakan dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa agar sinergis antara bangunlah jiwanya,
bangunlah badannya dapat terwujud dengan baik. Tujuan akhir (ultimate
goal) adalah terwujudnya manusia Indonesia yang berkarakter pemimpin dan
mampu memberikan keteladanan.
Sebagai lembaga yang secara tidak langsung membentuk peserta didik
menjadi manusia dengan karakter pemimpin, maka adanya suasana kondusif harus
selalu diciptakan. Berharap besar kepada lembaga pendidikan untuk mencetak
kader-kader pemimpin sepertinya terlalu berlebihan –jika tidak ingin dikatakan
utopis-, tetapi bahwa ia memberikan warna dan pengaruh adalah sesuatu yang tidak
dapat dipungkiri. Hanya persoalannya sejauh mana nilai-nilai itu membekas.
Namun, melihat kondisi pendidikan di tanah air ini, sepertinya kita harus
prihatin. Ketika sikap “jujur itu hebat”, atau “saya mengerjakan soal dengan
jujur” dicederai oleh insiden bocornya kunci jawaban UN untuk tingkat menengah
atas beberapa waktu lalu. Adanya pesta seks siswa SMA usai UN membuat kita
sekali lagi harus prihatin. Belum lagi secara umum, kualitas pendidikan kita
yang mengindikasikan kualitas yang rendah. Tidak ada satupun juga universitas
di Indonesia yang masuk kelompok 100 universitas terbaik di Asia apalagi di
tingkat dunia. (Tilaar, 2006: 77). Bahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Anies Baswedan menyebut pendidikan saat ini berada dalam kondisi gawat darurat
mengacu kepada hasil survei PISA yang menempatkan Indonesia pada rangking 64
dari 65 negara. (antaranews.com 1 Desember 2014)
Penataan pendidikan yang baik, yang sepertinya kelihatan dalam kabinet
kerja sekarang, meskipun memang harus siap menunggu. Setidaknya, menurut
penulis, beberapa “keistimewaan” akan diberikan kepada penggerak pendidikan menunjukkan
bahwa telah ada good will dari pemerintah. Tapi sebenarnya juga
menunjukkan pula bahwa persoalan
pendidikan sudah pada tahap yang memprihatinkan dan harus ada pembenahan yang
serius. Jika ingin pendidikan sebagai urat nadi pembentuk manusia berkarakter
dan sebagai kawahnya manusia masa depan, maka mutlak ruh pendidikan harus
dikembalikan dan tidak menjadi obyek tarik menarik berbagai kepentingan.
Mengenali
Lima Kekuatan Kepemimpinan
Kepemimpinan pada hakikatnya merupakan kemampuan yang
dimiliki seseorang untuk membina, membimbing, mengarahkan dan menggerakkan
orang lain agar dapat bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sebagai
faktor yang sangat berperan dalam organisasi, Muhaimin (2011: 29) menyebutkan
bahwa baik buruknya organisasi sering kali sebagian besar tergantung pada faktor
pemimpin.
Sebagaimana diketahui bahwa kepemimpinan adalah suatu proses
memberikan pengaruh secara sosial kepada orang lain. Oleh karena itu untuk
mewujudkan tujuan tersebut, pemimpin perlu melakukan serangkaian kegiatan
diantaranya adalah mengarahkan orang-orang yang terlibat dalam organisasi yang
dipimpinnya. Sebuah mata rantai organisasi, apapun jenis dan tingkatannya,
pasti terdapat dua elemen penting yakni adanya pengikut dan ada yang diikut,
ada pemimpin dan ada yang dipimpin, ada imam dan ada makmum. Jika salah satunya
tidak ada maka bukanlah sebuah organisasi. Meskipun sebuah keharusan, seleksi
akan lebih ketat manakala menyentuh aspek pemimpin. Ia menjadi selektif dan
sensitif mengingat yang diatur dan diurusnya adalah sekelompok orang baik
dengan jumlah kecil, sedang maupun untuk jumlah yang sangat besar. Artinya
menjadi pemimpin diperlukan sejumlah kriteria dan persyaratan tertentu. Hal
yang sama juga mesti ada pada organisasi pencerdasan anak bangsa yang bernama
sekolah.
Adanya ekstra kurikuler di sekolah seperti OSIS, Pramuka dan sebagainya sangat
memberikan pengaruh dan menyediakan wadah dalam pembentukan karakter seorang
pemimpin. Demikian juga pada level top leader, sekolah harus menjadi ajang pengkaderan warga sekolahnya.
Sergiovanni (1984) sebagaimana dalam Tony Bush dan Marianne Coleman
(2012:68) mengidentifikasi lima “kekuatan” kepemimpinan. Lima kepemimpinan oleh
penulis disingkat dengan TEMPIAS. yakni 1) Kepemimpinan TEKNIS, seorang
pemimpin adalah sebagai seorang penggerak manajemen. Baik tidaknya proses
sebuah organisasi dapat dilihat dari sejauh mana kemampuan mengatur dan memenej
organisasi itu. Ia diharuskan mampu mengatur lalu lintas guru dengan guru, lalu
lintas guru dengan siswa, lalu lintas sekolah dengan lingkungan sekitar dan
lalu lintas dengan institusi lainnya. Dalam konteks ini, kepala sekolah dapat
diibaratkan seperti seorang polisi yang mengatur lalu lintas jalanan supaya
teratur, terarah dan tertib; 2) Kepemimpinan MANUSIA, seorang kepala sekolah
hendaknya memiliki semangat untuk mengembangkan sumber daya manusia yang ada.
Berbagai potensi, kompetensi dan skill yang ada di sekolah itu harus
terus dikembangkan dan satu saat akan menjadi kekuatan dahsyat. Jika menilik
dari tokoh-tokoh dalam sejarah Islam, salah satu pendukung keberhasilan Nabi
Muhammad SAW dalam berdakwah adalah karena beliau dikelilingi oleh tokoh-tokoh
yang kredibel dan visioner seperti Abu Bakar (orang tua yang arif dan
bijaksana), Umar bin Khaththab (Keras, tegas dan pandai menempatkan diri),
Utsman bin Affan (Hartawan yang dermawan) dan Ali bin Thalib (Pemuda yang
semangat juangnya tinggi untuk keberhasilan). 3) Kepemimpinan PENDIDIKAN,
seorang pemimpin haruslah orang yang ahli atau setidak mengerti tentang
disiplin ilmu yang digelutinya. Karena sebelum ia menjadi pemimpin, awalnya ia
adalah seorang abdi dalam profesinya itu. Sebelum menjadi kepala sekolah tentu
ia berasal dari guru mata pelajaran, pimpinan sebuah bengkel yang mengerti
tentulah berasal dari tukang bengkel, dan pimpinan perusahaan yang faham dengan
tugasnya adalah mereka yang merintis dari bawah pekerjaannya. Artinya, dalam
kekuatan ketiga ini, ia hakikatnya
adalah seorang praktisi klinis yang faham dengan cara kerja dan urutannya. 4)
Kekuatan KULTURAL, sebuah ungkapan mengatakan, lain lubuk lain ikannya, lain
orang lain gayanya dan lain kepala lain stylenya. Dari sisi ini, seorang
kepala adalah orang mampu membangun sebuah kultur bagi lembaganya. Kemana arah
sebuah organisasi, sedikit banyak ditentukan oleh gaya kepemimpinan atasannya. Kultur sebagai budaya
yang menjadi tradisi di sebuah organisasi menjadi ciri khas dari organisasi itu
sendiri. Dari kultur ini kita dapat mengenali arah dan haluan sebuah
organisasi. 5) Kekuatan SIMBOLIK, kekuatan pada aspek ini menjadi sangat
penting, lebih-lebih bagi organisasi yang baru tumbuh maupun yang baru
mengenali sistem kerja sebuah organisasi. Simbol dapat diberikan dalam bentuk
ucapan simbol atau bahasa pemersatu, simbol dapat diwujudkan dalam bentuk
aktifitas-aktifitas khas dan bahkan pimpinan adalah sebagai sebuah simbol.
Presiden adalah simbol bagi negaranya, kepala sekolah adalah simbol bagi sekolahnya.
Pada posisi ini, simbol yang diberdayakan akan menjadi sebuah magnet bagi
lingkungannya.
Beberapa kekuatan kepemimpinan ini manakala dimiliki oleh sebuah
organisasi, penulis yakin akan mampu mengangkat nilai jual dan daya saing ke
depan. Apatah lagi jika kelima kekuatan kepemimpinan ini ada pada organisasi
itu. Hari Pendidikan Nasional harus dimaknai sebagai menjadikan lembaga
pendidikan sebagai kawah candradimukanya pemimpin masa depan. Belajar kepada
negara lain bahwa pendidikan menjadi pintu masuk munculnya pemimpin-pemimpin
berlatar lokal namun dnegan pola fikir internasional. SEMOGA**

Tidak ada komentar:
Posting Komentar