Sabtu, 09 Mei 2015


Refleksi Hari Pendidikan Nasional: Menyorot Pendidikan Kita

Dimuat di Harian Tribun Pontianak, 
Edisi 5 Mei 2015




Pendidikan merupakan suatu proses yang bertujuan. Berhasil tidaknya tujuan dapat dilihat pada output yang dihasilkan. Dalam konteks pendidikan nasional Indonesia, pendidikan dilaksanakan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa agar sinergis antara bangunlah jiwanya, bangunlah badannya dapat terwujud dengan baik. Tujuan akhir (ultimate goal) adalah terwujudnya manusia Indonesia yang berkarakter pemimpin dan mampu memberikan keteladanan.
Sebagai lembaga yang secara tidak langsung membentuk peserta didik menjadi manusia dengan karakter pemimpin, maka adanya suasana kondusif harus selalu diciptakan. Berharap besar kepada lembaga pendidikan untuk mencetak kader-kader pemimpin sepertinya terlalu berlebihan –jika tidak ingin dikatakan utopis-, tetapi bahwa ia memberikan warna dan pengaruh adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri. Hanya persoalannya sejauh mana nilai-nilai itu membekas.
Namun, melihat kondisi pendidikan di tanah air ini, sepertinya kita harus prihatin. Ketika sikap “jujur itu hebat”, atau “saya mengerjakan soal dengan jujur” dicederai oleh insiden bocornya kunci jawaban UN untuk tingkat menengah atas beberapa waktu lalu. Adanya pesta seks siswa SMA usai UN membuat kita sekali lagi harus prihatin. Belum lagi secara umum, kualitas pendidikan kita yang mengindikasikan kualitas yang rendah. Tidak ada satupun juga universitas di Indonesia yang masuk kelompok 100 universitas terbaik di Asia apalagi di tingkat dunia. (Tilaar, 2006: 77). Bahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan menyebut pendidikan saat ini berada dalam kondisi gawat darurat mengacu kepada hasil survei PISA yang menempatkan Indonesia pada rangking 64 dari 65 negara. (antaranews.com 1 Desember 2014)
Penataan pendidikan yang baik, yang sepertinya kelihatan dalam kabinet kerja sekarang, meskipun memang harus siap menunggu. Setidaknya, menurut penulis, beberapa “keistimewaan” akan diberikan kepada penggerak pendidikan menunjukkan bahwa telah ada good will dari pemerintah. Tapi sebenarnya juga menunjukkan pula bahwa  persoalan pendidikan sudah pada tahap yang memprihatinkan dan harus ada pembenahan yang serius. Jika ingin pendidikan sebagai urat nadi pembentuk manusia berkarakter dan sebagai kawahnya manusia masa depan, maka mutlak ruh pendidikan harus dikembalikan dan tidak menjadi obyek tarik menarik berbagai kepentingan.

Mengenali Lima Kekuatan Kepemimpinan
Kepemimpinan pada hakikatnya merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk membina, membimbing, mengarahkan dan menggerakkan orang lain agar dapat bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sebagai faktor yang sangat berperan dalam organisasi, Muhaimin (2011: 29) menyebutkan bahwa baik buruknya organisasi sering kali sebagian besar tergantung pada faktor pemimpin.
Sebagaimana diketahui bahwa kepemimpinan adalah suatu proses memberikan pengaruh secara sosial kepada orang lain. Oleh karena itu untuk mewujudkan tujuan tersebut, pemimpin perlu melakukan serangkaian kegiatan diantaranya adalah mengarahkan orang-orang yang terlibat dalam organisasi yang dipimpinnya. Sebuah mata rantai organisasi, apapun jenis dan tingkatannya, pasti terdapat dua elemen penting yakni adanya pengikut dan ada yang diikut, ada pemimpin dan ada yang dipimpin, ada imam dan ada makmum. Jika salah satunya tidak ada maka bukanlah sebuah organisasi. Meskipun sebuah keharusan, seleksi akan lebih ketat manakala menyentuh aspek pemimpin. Ia menjadi selektif dan sensitif mengingat yang diatur dan diurusnya adalah sekelompok orang baik dengan jumlah kecil, sedang maupun untuk jumlah yang sangat besar. Artinya menjadi pemimpin diperlukan sejumlah kriteria dan persyaratan tertentu. Hal yang sama juga mesti ada pada organisasi pencerdasan anak bangsa yang bernama sekolah.
Adanya ekstra kurikuler di sekolah seperti OSIS, Pramuka dan sebagainya sangat memberikan pengaruh dan menyediakan wadah dalam pembentukan karakter seorang pemimpin. Demikian juga pada level top leader, sekolah harus menjadi ajang pengkaderan warga sekolahnya.
Sergiovanni (1984) sebagaimana dalam Tony Bush dan Marianne Coleman (2012:68) mengidentifikasi lima “kekuatan” kepemimpinan. Lima kepemimpinan oleh penulis disingkat dengan TEMPIAS. yakni 1) Kepemimpinan TEKNIS, seorang pemimpin adalah sebagai seorang penggerak manajemen. Baik tidaknya proses sebuah organisasi dapat dilihat dari sejauh mana kemampuan mengatur dan memenej organisasi itu. Ia diharuskan mampu mengatur lalu lintas guru dengan guru, lalu lintas guru dengan siswa, lalu lintas sekolah dengan lingkungan sekitar dan lalu lintas dengan institusi lainnya. Dalam konteks ini, kepala sekolah dapat diibaratkan seperti seorang polisi yang mengatur lalu lintas jalanan supaya teratur, terarah dan tertib; 2) Kepemimpinan MANUSIA, seorang kepala sekolah hendaknya memiliki semangat untuk mengembangkan sumber daya manusia yang ada. Berbagai potensi, kompetensi dan skill yang ada di sekolah itu harus terus dikembangkan dan satu saat akan menjadi kekuatan dahsyat. Jika menilik dari tokoh-tokoh dalam sejarah Islam, salah satu pendukung keberhasilan Nabi Muhammad SAW dalam berdakwah adalah karena beliau dikelilingi oleh tokoh-tokoh yang kredibel dan visioner seperti Abu Bakar (orang tua yang arif dan bijaksana), Umar bin Khaththab (Keras, tegas dan pandai menempatkan diri), Utsman bin Affan (Hartawan yang dermawan) dan Ali bin Thalib (Pemuda yang semangat juangnya tinggi untuk keberhasilan). 3) Kepemimpinan PENDIDIKAN, seorang pemimpin haruslah orang yang ahli atau setidak mengerti tentang disiplin ilmu yang digelutinya. Karena sebelum ia menjadi pemimpin, awalnya ia adalah seorang abdi dalam profesinya itu. Sebelum menjadi kepala sekolah tentu ia berasal dari guru mata pelajaran, pimpinan sebuah bengkel yang mengerti tentulah berasal dari tukang bengkel, dan pimpinan perusahaan yang faham dengan tugasnya adalah mereka yang merintis dari bawah pekerjaannya. Artinya, dalam kekuatan ketiga ini,  ia hakikatnya adalah seorang praktisi klinis yang faham dengan cara kerja dan urutannya. 4) Kekuatan KULTURAL, sebuah ungkapan mengatakan, lain lubuk lain ikannya, lain orang lain gayanya dan lain kepala lain stylenya. Dari sisi ini, seorang kepala adalah orang mampu membangun sebuah kultur bagi lembaganya. Kemana arah sebuah organisasi, sedikit banyak ditentukan oleh gaya  kepemimpinan atasannya. Kultur sebagai budaya yang menjadi tradisi di sebuah organisasi menjadi ciri khas dari organisasi itu sendiri. Dari kultur ini kita dapat mengenali arah dan haluan sebuah organisasi. 5) Kekuatan SIMBOLIK, kekuatan pada aspek ini menjadi sangat penting, lebih-lebih bagi organisasi yang baru tumbuh maupun yang baru mengenali sistem kerja sebuah organisasi. Simbol dapat diberikan dalam bentuk ucapan simbol atau bahasa pemersatu, simbol dapat diwujudkan dalam bentuk aktifitas-aktifitas khas dan bahkan pimpinan adalah sebagai sebuah simbol. Presiden adalah simbol bagi negaranya, kepala sekolah adalah simbol bagi sekolahnya. Pada posisi ini, simbol yang diberdayakan akan menjadi sebuah magnet bagi lingkungannya.

Beberapa kekuatan kepemimpinan ini manakala dimiliki oleh sebuah organisasi, penulis yakin akan mampu mengangkat nilai jual dan daya saing ke depan. Apatah lagi jika kelima kekuatan kepemimpinan ini ada pada organisasi itu. Hari Pendidikan Nasional harus dimaknai sebagai menjadikan lembaga pendidikan sebagai kawah candradimukanya pemimpin masa depan. Belajar kepada negara lain bahwa pendidikan menjadi pintu masuk munculnya pemimpin-pemimpin berlatar lokal namun dnegan pola fikir internasional. SEMOGA**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar