NEGERI
PARADOKS
Sejarah Masa Lalu
Setiap peradaban akan memunculkan simbol-simbol kejayaan dan lambang
kemakmuran. Jika saat ini simbol kemakmuran dan kejayaan berkiblat ke
dunia Barat dengan dikomandani oleh Amerika Serikat -sepertinya tidak
dikatakan modern jika tidak mengacu ke sana- namun kemudian sejarah
pula menunjukkan kepada kita akan adanya peralihan simbol kejayaan
yang tidak hanya didominasi oleh Barat, munculnya kekuatan Jepang,
China dan Korea Selatan dengan segala produk dan karyanya seakan
sedikit demi sedikit meruntuhkan adagium seperti yang penulis
sebutkan di awal tulisan ini.
Sepertinya sudah merupakan hukum alam bahwa kejayaan dan keruntuhan
suatu negeri akan digilirkan kepada siapa yang mampu menangkap
sinyal-sinyal dan peluang kemajuan. Kemampuan menangkap peluang
adalah ciri dari cerdasnya sebuah bangsa (baca:individu-individu)
untuk mengangkat dan mencitrakan dirinya sebagai bangsa yang akan
maju.
Jika kita lihat jauh ke belakang, sejarah mencatat adanya
peradaban-peradaban yang mendunia bahkan ia dijadikan sebagai 'ibrah
atau pelajaran bagi bangsa-bangsa saat ini. Hal ini direkam jelas
jejak dan simbol kejayaannya. Al-Quran menyebutkan dalam surat yang
berbeda dengan makna yang sama tentang sikap manusia yang berbuat
sebagai bentuk perlawanan terhadap hukum alam, merasa paling super
dan tidak pandai bersyukur, mendustakan kebenaran dan selanjutnya
meremehkan siapapun yang dianggap tidak seia-sekata dengan konsep
yang diusungnya. Namun dengan sikapnya yang demikian, justru
mendekatkan mereka kepada kehancuran. Hal ini dengan jelas disebutkan
bagaimana kaum Nuh, kaum 'Ad, kaum Tsamud dan penduduk Rass
dihancurkan dengan sehancur-hancurnya (Q.S. Al-Furqan:37-39).
Bagaimana 'ibrah yang
ditunjukkan dengan sejarah runtuhnya bangunan-bangunan tegak dan
gagah berdiri, istana-istana yang tinggi yang dibangun oleh
individu-individu yang cerdas namun zalim dan mendustakan kebenaran
namun akhirnya dibinasakan. Pertanyaan retorika kemudian disampaikan
bahwa hal itu terjadi bukan karena mereka tidak bisa melihat dengan
mata dan mendengar dengan panca indera, yang menyebabkan demikian
karena bangsa-bangsa di kala itu tidak melihat dengan mata hati. Yang
buta bukan mata panca indera tapi mata hati (ta'mal qulub).
(Q.S. Al-Hajj:42-46). Al-Quran juga mengisahkan bagaimana sebuah
negeri yang dikuasai oleh orang-orang yang bermental Qarun, Fir'aun,
dan Haman. Meskipun telah nyata kebenaran yang didatangkan namun
karena enggan menerima kebenaran tersebut maka kepada mereka
ditimpakan hujan batu kerikil, suara petir yang menggelegar, ada yang
ditenggelamkan ke dalam bumi. (Q.S. Al-Ankabut:39-40).
Negeri Kaya dengan Sumber Daya Alam (SDA)
Indonesia, satu negara yang tidak
disebutkan dalam al-Quran, tidak ditemukan ayat yang menyebutkan
negeri ini, tetapi kayanya sumber daya alam, banyaknya limpahan
karunia bahkan tancapan kayu jadi tanaman menjadikannya
negeri seakan surga dunia yang tidak pernah berhenti dan habis
memberikan kekayaan alamnya. Kita lihat saja bagaimana negeri ini
merupakan penghasil timah nomor wahid
di dunia; penghasil 80% minyak di Asia Tenggara; 397
jenis burung hanya dapat ditemukan di Indonesia; memiliki 1.400 jenis
ikan air tawar (hanya dapat disaingi
oleh Brazil) dan masih banyak lagi keunggulan negeri ini yang tidak
dimiliki negara lain di dunia ini.
Tetapi
melihat kenyataan yang ada seakan terbalik, bagaimana korupsi di
negeri ini sungguh-sungguh menggerogoti penghuninya, Transparency
International
menyebutkan Indonesia sebagai negara ke-enam terkorup di dunia
setelah Kenya. Data menunjukkan bahwa dari 247 juta jiwa penduduk
negeri ini, setengahnya adalah mereka yang hidup di lingkungan
kemiskinan.
Sebagai bagian dari
anak negeri ini, kita sedih, prihatin dan sekaligus malu. Kekayaan
alam yang dimiliki seakan bukan membawa negeri ini kepada kemakmuran,
seperti semakin jauh dari keadilan. Yang jelas dan mudah disaksikan
adalah tontonan kemiskinan, tatapan kosong dari harapan, dann
lemahnya penegakan hukum.
Bila dikaitkan dengan pembahasan di awal tulisan, akankah negeri ini
menjadi negeri yang sebagaimana telah disebutkan dalam al-Quran, kaya
SDA, banyak orang pintar tapi tidak benar, negeri yang seluruh dunia
memperebutkannya persis seperti makanan empuk di meja hidangan, enak
dan menggiurkan.
Kiranya negeri yang disebut dengan surganya dunia ini, para pengelola
negara ini mulai dari tingkat pusat hingga masyarakat akar rumput
perlu merenung dan memahami dengan ikhlas dan siap mewujudkan makna
dalam keseharian bahwa rezeki berlimpah dikarenakan penduduknya yang
pandai berterimakasih. Bahwa Tuhan tidak sama sekali menzalimi
manusia tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.**

Tidak ada komentar:
Posting Komentar