Selasa, 04 Maret 2014




NEGERI PARADOKS


Sejarah Masa Lalu
Setiap peradaban akan memunculkan simbol-simbol kejayaan dan lambang kemakmuran. Jika saat ini simbol kemakmuran dan kejayaan berkiblat ke dunia Barat dengan dikomandani oleh Amerika Serikat -sepertinya tidak dikatakan modern jika tidak mengacu ke sana- namun kemudian sejarah pula menunjukkan kepada kita akan adanya peralihan simbol kejayaan yang tidak hanya didominasi oleh Barat, munculnya kekuatan Jepang, China dan Korea Selatan dengan segala produk dan karyanya seakan sedikit demi sedikit meruntuhkan adagium seperti yang penulis sebutkan di awal tulisan ini.
Sepertinya sudah merupakan hukum alam bahwa kejayaan dan keruntuhan suatu negeri akan digilirkan kepada siapa yang mampu menangkap sinyal-sinyal dan peluang kemajuan. Kemampuan menangkap peluang adalah ciri dari cerdasnya sebuah bangsa (baca:individu-individu) untuk mengangkat dan mencitrakan dirinya sebagai bangsa yang akan maju.
Jika kita lihat jauh ke belakang, sejarah mencatat adanya peradaban-peradaban yang mendunia bahkan ia dijadikan sebagai 'ibrah atau pelajaran bagi bangsa-bangsa saat ini. Hal ini direkam jelas jejak dan simbol kejayaannya. Al-Quran menyebutkan dalam surat yang berbeda dengan makna yang sama tentang sikap manusia yang berbuat sebagai bentuk perlawanan terhadap hukum alam, merasa paling super dan tidak pandai bersyukur, mendustakan kebenaran dan selanjutnya meremehkan siapapun yang dianggap tidak seia-sekata dengan konsep yang diusungnya. Namun dengan sikapnya yang demikian, justru mendekatkan mereka kepada kehancuran. Hal ini dengan jelas disebutkan bagaimana kaum Nuh, kaum 'Ad, kaum Tsamud dan penduduk Rass dihancurkan dengan sehancur-hancurnya (Q.S. Al-Furqan:37-39). Bagaimana 'ibrah yang ditunjukkan dengan sejarah runtuhnya bangunan-bangunan tegak dan gagah berdiri, istana-istana yang tinggi yang dibangun oleh individu-individu yang cerdas namun zalim dan mendustakan kebenaran namun akhirnya dibinasakan. Pertanyaan retorika kemudian disampaikan bahwa hal itu terjadi bukan karena mereka tidak bisa melihat dengan mata dan mendengar dengan panca indera, yang menyebabkan demikian karena bangsa-bangsa di kala itu tidak melihat dengan mata hati. Yang buta bukan mata panca indera tapi mata hati (ta'mal qulub). (Q.S. Al-Hajj:42-46). Al-Quran juga mengisahkan bagaimana sebuah negeri yang dikuasai oleh orang-orang yang bermental Qarun, Fir'aun, dan Haman. Meskipun telah nyata kebenaran yang didatangkan namun karena enggan menerima kebenaran tersebut maka kepada mereka ditimpakan hujan batu kerikil, suara petir yang menggelegar, ada yang ditenggelamkan ke dalam bumi. (Q.S. Al-Ankabut:39-40).

Negeri Kaya dengan Sumber Daya Alam (SDA)
Indonesia, satu negara yang tidak disebutkan dalam al-Quran, tidak ditemukan ayat yang menyebutkan negeri ini, tetapi kayanya sumber daya alam, banyaknya limpahan karunia bahkan tancapan kayu jadi tanaman menjadikannya negeri seakan surga dunia yang tidak pernah berhenti dan habis memberikan kekayaan alamnya. Kita lihat saja bagaimana negeri ini merupakan penghasil timah nomor wahid di dunia; penghasil 80% minyak di Asia Tenggara; 397 jenis burung hanya dapat ditemukan di Indonesia; memiliki 1.400 jenis ikan air tawar (hanya dapat disaingi oleh Brazil) dan masih banyak lagi keunggulan negeri ini yang tidak dimiliki negara lain di dunia ini.
Tetapi melihat kenyataan yang ada seakan terbalik, bagaimana korupsi di negeri ini sungguh-sungguh menggerogoti penghuninya, Transparency International menyebutkan Indonesia sebagai negara ke-enam terkorup di dunia setelah Kenya. Data menunjukkan bahwa dari 247 juta jiwa penduduk negeri ini, setengahnya adalah mereka yang hidup di lingkungan kemiskinan.
Sebagai bagian dari anak negeri ini, kita sedih, prihatin dan sekaligus malu. Kekayaan alam yang dimiliki seakan bukan membawa negeri ini kepada kemakmuran, seperti semakin jauh dari keadilan. Yang jelas dan mudah disaksikan adalah tontonan kemiskinan, tatapan kosong dari harapan, dann lemahnya penegakan hukum.
Bila dikaitkan dengan pembahasan di awal tulisan, akankah negeri ini menjadi negeri yang sebagaimana telah disebutkan dalam al-Quran, kaya SDA, banyak orang pintar tapi tidak benar, negeri yang seluruh dunia memperebutkannya persis seperti makanan empuk di meja hidangan, enak dan menggiurkan.
Kiranya negeri yang disebut dengan surganya dunia ini, para pengelola negara ini mulai dari tingkat pusat hingga masyarakat akar rumput perlu merenung dan memahami dengan ikhlas dan siap mewujudkan makna dalam keseharian bahwa rezeki berlimpah dikarenakan penduduknya yang pandai berterimakasih. Bahwa Tuhan tidak sama sekali menzalimi manusia tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.**




Tidak ada komentar:

Posting Komentar