Ketika Cinta Bertahta
Cinta memang buta dan misteri. Buta karena ia tidak dapat memandang
siapapun dan dimanapun, manakala ia telah meluncurkan anak panahnya
maka ia akan tertancap kepada sasarannya hanya sejauh mana
pengendalian diri yang menjadi rem-nya. Dikatakan misteri karena
siapapun tidak dapat memperkirakan dimana, dengan siapa panah itu
akan menancap. Misteri karena ia adalah persoalan hati. Ada tiga hal
yang tidak dapat dibeli dengan uang yakni cinta kasih, persahabatan
dan tidur nyenyak. Dalam konteks inilah tulisan ini disajikan kepada
pembaca.
Bicara cinta adalah bicara berbagai kemungkinan, dengannya
kemungkinan memacu adrenalin, emosi dan prestasi seseorang atau
sebaliknya meletakkan seseorang tidak berfikir rasional, tidak fokus
kepada aktifitas keseharian yang ada adalah fokus kepada persoalan
cinta. Jika demikian halnya, maka cintalah yang mendasari aktifitas
seseorang. Suami yang rela bekerja berangkat pagi dan pulang sore
untuk menghidupi isteri adalah dilandaskan pada cinta. Seorang ayah
dan ibu yang bekerja dapat dipastikan untuk bersama-sama bekerja demi
buah hati terkasih. Seorang kekasih akan cenderung berbuat lebih
untuk kekasih hatinya. Samudera luas akan kuseberangi, lautan dalam
akan kuselami, gunung tinggi akan kudaki, demikian kira dahsyatnya
cinta.
Term cinta punya kedekatan dengan kata kasih. Kata yang disebut
terakhir ini menurut Ibnu Faris (dalam Quraish Shihab, 2003:18)
berasal dari kata yang terdiri dari huruf-huruf Ra¯
' Ha¯' dan Mim yang mengandung makna “kelemahlembutan, kasih
sayang dan kehalusan”. Dalam al-Quran kata ar-Rahim
diulang sebanyak 95 kali (Quraish Shihab, 2003:15). Kata ini juga
telah masuk dalam perbendaharaan bahasa Indonesia. Orang
yang memiliki cinta kasih dapat dipastikan ia akan bersikap lemah
lembut, mengasihi dan memperlakukannya dengan halus dan sayang.
Menurut Quraish Shihab, orang yang memiliki sifat cinta dan kasih ini
pada hakikatnya merupakan sikap untuk menuruti sifatnya Allah SWT.
Meskipun demikian, karena ada pada manusia sifat ini bisa saja
dijadikan sarana oleh iblis untuk membelokkannya ke arah yang tidak
baik. Bisa saja atas nama cinta adanya free
sex;
atas nama cinta perilaku korupsi merajalela, korupsi
adalah sebuah tindakan dari sebuah cara memahami cinta yang keliru,
yang bukan miliknya sebagai miliknya;
atas
nama cinta pergaulan bebas muda-mudi tidak terkontrol dan bisa saja
atas nama cinta perkawinan sebelum waktunya (married
by accident).
Sekali
lagi, cinta memang dahsyat dan misteri. Ketika ia telah bertahta
dalam hati seseorang, maka rasa ini tak akan segan dan ragu
mencurahkannya tanpa membedakan suku, ras atau agama maupun tingkat
keimanan. Ia akan menjadi bagai matahari yang tidak kikir atau bosan
memancarkan cahaya dan kehangatannya kepada siapapun dan di manapun.
Kalaupun terdapat perbedaan dalam perolehan cahaya dan kehangatan
maka itu lebih banyak disebabkan oleh posisi penerima bukan posisi
pemberi, karena matahari selalu konsisten dalam perjalanannya dan
memiliki aturan atau hukum-hukum yang tidak berubah.
Sepertinya
tidak berlebihan jika disebutkan bahwa karena dahsyatnya cinta dan
ia telah bertahta dalam hati seseorang, maka cara berfikir yang
rasionalpun cenderung dinafikan. Tetapi bukankah memang cinta dan
dicintai semua orang yang menjadi obsesi kita semua. Hanya cinta yang
dapat mengendalikan berbagai kecamuk yang terjadi, hanya kasih yang
dapat mengurangi kekerasan yang melanda dan hanya spirit cinta yang
dapat membuat kita tetap memiliki semangat hidup. Kiranya harus
sering dan tepat jika kita lantunkan permohonan kita yang berbunyi:
anugerahkan kepada kami ilmu yang bermanfaat, hiasi kami dengan
kelembutan kasih dan sayang dan tetapkan kami untuk tetap memiliki
sifat saling mendamaikan diantara kami.
Semoga** (6 3 14)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar