Jumat, 07 Maret 2014

Ketika Cinta Bertahta


Cinta memang buta dan misteri. Buta karena ia tidak dapat memandang siapapun dan dimanapun, manakala ia telah meluncurkan anak panahnya maka ia akan tertancap kepada sasarannya hanya sejauh mana pengendalian diri yang menjadi rem-nya. Dikatakan misteri karena siapapun tidak dapat memperkirakan dimana, dengan siapa panah itu akan menancap. Misteri karena ia adalah persoalan hati. Ada tiga hal yang tidak dapat dibeli dengan uang yakni cinta kasih, persahabatan dan tidur nyenyak. Dalam konteks inilah tulisan ini disajikan kepada pembaca.
Bicara cinta adalah bicara berbagai kemungkinan, dengannya kemungkinan memacu adrenalin, emosi dan prestasi seseorang atau sebaliknya meletakkan seseorang tidak berfikir rasional, tidak fokus kepada aktifitas keseharian yang ada adalah fokus kepada persoalan cinta. Jika demikian halnya, maka cintalah yang mendasari aktifitas seseorang. Suami yang rela bekerja berangkat pagi dan pulang sore untuk menghidupi isteri adalah dilandaskan pada cinta. Seorang ayah dan ibu yang bekerja dapat dipastikan untuk bersama-sama bekerja demi buah hati terkasih. Seorang kekasih akan cenderung berbuat lebih untuk kekasih hatinya. Samudera luas akan kuseberangi, lautan dalam akan kuselami, gunung tinggi akan kudaki, demikian kira dahsyatnya cinta.
Term cinta punya kedekatan dengan kata kasih. Kata yang disebut terakhir ini menurut Ibnu Faris (dalam Quraish Shihab, 2003:18) berasal dari kata yang terdiri dari huruf-huruf Ra¯ ' Ha¯' dan Mim yang mengandung makna “kelemahlembutan, kasih sayang dan kehalusan”. Dalam al-Quran kata ar-Rahim diulang sebanyak 95 kali (Quraish Shihab, 2003:15). Kata ini juga telah masuk dalam perbendaharaan bahasa Indonesia. Orang yang memiliki cinta kasih dapat dipastikan ia akan bersikap lemah lembut, mengasihi dan memperlakukannya dengan halus dan sayang. Menurut Quraish Shihab, orang yang memiliki sifat cinta dan kasih ini pada hakikatnya merupakan sikap untuk menuruti sifatnya Allah SWT. Meskipun demikian, karena ada pada manusia sifat ini bisa saja dijadikan sarana oleh iblis untuk membelokkannya ke arah yang tidak baik. Bisa saja atas nama cinta adanya free sex; atas nama cinta perilaku korupsi merajalela, korupsi adalah sebuah tindakan dari sebuah cara memahami cinta yang keliru, yang bukan miliknya sebagai miliknya; atas nama cinta pergaulan bebas muda-mudi tidak terkontrol dan bisa saja atas nama cinta perkawinan sebelum waktunya (married by accident).
Sekali lagi, cinta memang dahsyat dan misteri. Ketika ia telah bertahta dalam hati seseorang, maka rasa ini tak akan segan dan ragu mencurahkannya tanpa membedakan suku, ras atau agama maupun tingkat keimanan. Ia akan menjadi bagai matahari yang tidak kikir atau bosan memancarkan cahaya dan kehangatannya kepada siapapun dan di manapun. Kalaupun terdapat perbedaan dalam perolehan cahaya dan kehangatan maka itu lebih banyak disebabkan oleh posisi penerima bukan posisi pemberi, karena matahari selalu konsisten dalam perjalanannya dan memiliki aturan atau hukum-hukum yang tidak berubah.
Sepertinya tidak berlebihan jika disebutkan bahwa karena dahsyatnya cinta dan ia telah bertahta dalam hati seseorang, maka cara berfikir yang rasionalpun cenderung dinafikan. Tetapi bukankah memang cinta dan dicintai semua orang yang menjadi obsesi kita semua. Hanya cinta yang dapat mengendalikan berbagai kecamuk yang terjadi, hanya kasih yang dapat mengurangi kekerasan yang melanda dan hanya spirit cinta yang dapat membuat kita tetap memiliki semangat hidup. Kiranya harus sering dan tepat jika kita lantunkan permohonan kita yang berbunyi: anugerahkan kepada kami ilmu yang bermanfaat, hiasi kami dengan kelembutan kasih dan sayang dan tetapkan kami untuk tetap memiliki sifat saling mendamaikan diantara kami.
Semoga** (6 3 14)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar