Selasa, 27 Mei 2014



Nilai-nilai Pembelajaran Dalam Isra Miraj


Setiap peristiwa yang terjadi baik di sekitar kita atau tidak, masa lalu atau masa sekarang bahkan untuk masa yang akan datang sekalipun pasti mempunyai hikmah dan nilai pembelajaran tersendiri. Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengambil nilai-nilai itu yang selanjutnya dijadikan sebagai contoh, muhasabah (introspeksi) dan inspirasi untuk langkah berikutnya.
Isra mi’raj sebagai peristiwa dahsyat memunculkan banyak persepsi akan kebenarannya. Bukan persepsi dari sisi seorang muslim yang meyakini kebenaran al-Quran karena peristiwa ini termaktub dalam Q.S. al-Isra/17:1. Namun keraguan yang muncul dari orang-orang yang meragukan kebenarannya, misalnya dalam hal isra Nabi bagaimana mungkin perjalanan sejauh itu dapat ditempuh hanya dalam satu malam sementara perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjid Aqsha adalah perjalanan sejajar dengan menempuh jarak kurang lebih 1.350 km atau selama 40 hari sesuai dengan kendaraan waktu itu (Moh. Haitami Salim, 2004: 123); Atau dalam perjalanan mi’raj Nabi dengan pertanyaan bagaimana mungkin lingkungan material yang dilalui oleh Nabi Muhammad SAW tidak mengakibatkan gesekan-gesekan panas yang merusak tubuh beliau?
 Tulisan ini bukan untuk mengkritisi atau mengajak pembaca untuk berargumentasi tentang bagaimana-bagaimananya. Tetapi ada dua hal yang ingin penulis sampaikan. Pertama, meminjam istilah Quraish Shihab bahwa  pendekatan yang paling untuk memahaminya adalah pendekatan imany. Meskipun demikian, sesungguhnya bahwa ayat-ayat Allah dapat dikaji secara ilmiah dan itu terbaca ketika suasana dunia sudah sedemikian canggih dengan keluasan informasi dan kemajuan teknologi komunikasinya.
Kedua, meskipun pendekatan yang lebih tepat adalah pendekatan imany namun tulisan ini mencoba untuk “membumikannya”, tentu dalam kajian yang terbatas, setidaknya yang ingin disampaikan adalah bahwa banyak moment keagamaan yang sebenarnya sarat dengan pesan-pesan moral, pesan sosial dan bahkan kritik untuk manusia itu sendiri.
Pelajaran isra mi’raj yang dapat dijadikan nilai pembelajaran antara lain:
1)      Isra sebagai perjalanan malam dari masjid ke masjid merupakan bentuk komunikasi horizontal dann selanjutnya mi’raj adalah perjalanan vertikal. Bahwa untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi dengan menemukan kepuasan-kepuasan rohani maka aktifitas sosial dapat menjadi salah satu wahananya. Orang yang baik bukan sekedar orang yang shahih ibadahnya tapi juga orang yang shalih pergaulannya. Quran surat al-Ma’un dapat dikategorikan sebagai bentuk ibadah sosial  seorang muslim.
2)      Mengapa perjalanan dirancang oleh Allah SWT dari Masjid ke Masjid? Ini menunjukkan bahwa sebuah perjalanan mulia, suci dan menuju ke yang Maha Suci harus diawali dari tempat yang mulia pula. Bukankah masjid merupakan tempat yang paling dimuliakan oleh Allah SWT di muka bumi? Dan ini pula dalam pemahaman Marwah Daud Ibrahim dalam wawancara dengan TV One edisi 27 Mei 2014 bahwa sholat sebagai inti dri isra mi’raj mengajarkan kepada kita mensucikan dan meluruskan niat baru kemudian kita beraktifitas. Sebelum kita sholat, maka niat menjadi faktor utama dan pertama sebelum memulai aktifitas.
3)      Mengapa mesti ke Masjid Aqsha. Karena Masjid Aqsha merupakan negerinya para nabi. Sejumlah nabi  dan rasul bermukim di wilayah ini seperti Nabi Daud dan Sulaiman. Karena itulah, negeri ini disebut juga dengan al-ardhul anbiya (negerinya para nabi). Mendekati orang-orang yang dekat kepada Allah adalah sebuah keharusan sebelum menuju perjalanan yang mulia.
4)      Dalam perjalanan mi’rajnya Nabi Muhammad SAW diperlihatkan dengan berbagai peristiwa baik gambaran manusia saleh maupun manusia salah. Salah satunya adalah diperlihatkan seorang yang membawa beban untuk dipikul yang sudah berat sehingga menyulitkannya untuk berjalan. Anehnya bukan beban yang dpikulnya dikurangi yang terjadi malah material bebannya harus ditambah dan ditambah. Ini memberikan nilai pelajaran kepada kita betapa banyak orang yang rakus  jabatan. Sudah beberapa jabatan dipegang, namun terus diambil lagi jabatan yang lain. Sementara jabatan hakikatnya adalah amanah dan amanah ini pernah ditawarkan kepada makhluk Allah yang lain tapi tidak ada satupun yang bersedia karena begitu beratnya. Namun tatkala diserahkan ke manusia, maka manusiapun menerimanya sementara manusia sebagai makhluk yang senang berkeluh kesah dan tergesa-gesa.
5)      Sholat sebagai ajaran inti dari isra mi’raj punyai nilai yang sangat luas dalam konteks pendidikan. Salah satunya adalah sholat mengajarkan sikap egaliter dan merakyat. Siapapun dia, terlepas dari jabatannya, apakah pejabat atau rakyat, satpam, dokter, guru dan profesi apapun boleh menjadi imam asalkan syaratnya terpenuhi. Dan yang pasti, ketika menjadi makmum dapat dipastikan akan sejajarnya posisi atasan dan bawahan, pemimpin dan yang dipimpin. Demikianlah indahnya sikap egaliter yang diajarkan dalam praktek ibadah sholat.
Semoga bermanfaat.**



Tidak ada komentar:

Posting Komentar