Nilai-nilai
Pembelajaran Dalam Isra Miraj
Setiap peristiwa yang terjadi baik di sekitar kita atau tidak, masa
lalu atau masa sekarang bahkan untuk masa yang akan datang sekalipun pasti
mempunyai hikmah dan nilai pembelajaran tersendiri. Orang yang cerdas adalah
orang yang mampu mengambil nilai-nilai itu yang selanjutnya dijadikan sebagai
contoh, muhasabah (introspeksi) dan inspirasi untuk langkah berikutnya.
Isra mi’raj sebagai peristiwa dahsyat memunculkan banyak persepsi akan
kebenarannya. Bukan persepsi dari sisi seorang muslim yang meyakini kebenaran
al-Quran karena peristiwa ini termaktub dalam Q.S. al-Isra/17:1. Namun keraguan
yang muncul dari orang-orang yang meragukan kebenarannya, misalnya dalam hal
isra Nabi bagaimana mungkin perjalanan sejauh itu dapat ditempuh hanya dalam
satu malam sementara perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjid Aqsha adalah
perjalanan sejajar dengan menempuh jarak kurang lebih 1.350 km atau selama 40
hari sesuai dengan kendaraan waktu itu (Moh. Haitami Salim, 2004: 123); Atau
dalam perjalanan mi’raj Nabi dengan pertanyaan bagaimana mungkin lingkungan
material yang dilalui oleh Nabi Muhammad SAW tidak mengakibatkan
gesekan-gesekan panas yang merusak tubuh beliau?
Tulisan ini bukan untuk
mengkritisi atau mengajak pembaca untuk berargumentasi tentang
bagaimana-bagaimananya. Tetapi ada dua hal yang ingin penulis sampaikan. Pertama,
meminjam istilah Quraish Shihab bahwa pendekatan
yang paling untuk memahaminya adalah pendekatan imany. Meskipun
demikian, sesungguhnya bahwa ayat-ayat Allah dapat dikaji secara ilmiah dan itu
terbaca ketika suasana dunia sudah sedemikian canggih dengan keluasan informasi
dan kemajuan teknologi komunikasinya.
Kedua, meskipun pendekatan yang lebih tepat
adalah pendekatan imany namun tulisan ini mencoba untuk “membumikannya”,
tentu dalam kajian yang terbatas, setidaknya yang ingin disampaikan adalah
bahwa banyak moment keagamaan yang sebenarnya sarat dengan pesan-pesan moral,
pesan sosial dan bahkan kritik untuk manusia itu sendiri.
Pelajaran isra mi’raj yang dapat dijadikan nilai pembelajaran antara
lain:
1) Isra sebagai perjalanan malam dari masjid ke masjid merupakan bentuk
komunikasi horizontal dann selanjutnya mi’raj adalah perjalanan vertikal. Bahwa
untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi dengan menemukan kepuasan-kepuasan
rohani maka aktifitas sosial dapat menjadi salah satu wahananya. Orang yang
baik bukan sekedar orang yang shahih ibadahnya tapi juga orang yang shalih
pergaulannya. Quran surat al-Ma’un dapat dikategorikan sebagai bentuk ibadah
sosial seorang muslim.
2) Mengapa perjalanan dirancang oleh Allah SWT dari Masjid ke Masjid? Ini
menunjukkan bahwa sebuah perjalanan mulia, suci dan menuju ke yang Maha Suci
harus diawali dari tempat yang mulia pula. Bukankah masjid merupakan tempat
yang paling dimuliakan oleh Allah SWT di muka bumi? Dan ini pula dalam
pemahaman Marwah Daud Ibrahim dalam wawancara dengan TV One edisi 27 Mei 2014
bahwa sholat sebagai inti dri isra mi’raj mengajarkan kepada kita mensucikan
dan meluruskan niat baru kemudian kita beraktifitas. Sebelum kita sholat, maka
niat menjadi faktor utama dan pertama sebelum memulai aktifitas.
3) Mengapa mesti ke Masjid Aqsha. Karena Masjid Aqsha merupakan negerinya
para nabi. Sejumlah nabi dan rasul
bermukim di wilayah ini seperti Nabi Daud dan Sulaiman. Karena itulah, negeri
ini disebut juga dengan al-ardhul anbiya (negerinya para nabi).
Mendekati orang-orang yang dekat kepada Allah adalah sebuah keharusan sebelum
menuju perjalanan yang mulia.
4) Dalam perjalanan mi’rajnya Nabi Muhammad SAW diperlihatkan dengan berbagai
peristiwa baik gambaran manusia saleh maupun manusia salah. Salah satunya
adalah diperlihatkan seorang yang membawa beban untuk dipikul yang sudah berat
sehingga menyulitkannya untuk berjalan. Anehnya bukan beban yang dpikulnya
dikurangi yang terjadi malah material bebannya harus ditambah dan ditambah. Ini
memberikan nilai pelajaran kepada kita betapa banyak orang yang rakus jabatan. Sudah beberapa jabatan dipegang,
namun terus diambil lagi jabatan yang lain. Sementara jabatan hakikatnya adalah
amanah dan amanah ini pernah ditawarkan kepada makhluk Allah yang lain tapi
tidak ada satupun yang bersedia karena begitu beratnya. Namun tatkala
diserahkan ke manusia, maka manusiapun menerimanya sementara manusia sebagai
makhluk yang senang berkeluh kesah dan tergesa-gesa.
5) Sholat sebagai ajaran inti dari isra mi’raj punyai nilai yang sangat
luas dalam konteks pendidikan. Salah satunya adalah sholat mengajarkan sikap
egaliter dan merakyat. Siapapun dia, terlepas dari jabatannya, apakah pejabat
atau rakyat, satpam, dokter, guru dan profesi apapun boleh menjadi imam asalkan
syaratnya terpenuhi. Dan yang pasti, ketika menjadi makmum dapat dipastikan
akan sejajarnya posisi atasan dan bawahan, pemimpin dan yang dipimpin.
Demikianlah indahnya sikap egaliter yang diajarkan dalam praktek ibadah sholat.
Semoga bermanfaat.**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar