Belajar Empati Kepada Penjual
Langsat dan Penjual Jeruk
Berawal
dari sebuah anekdot.
Suatu hari ada razia Pedagang
Kaki Lima (PKL) oleh petugas kenyamanan lingkungan. Ditemukanlah tiga pedagang
yang menurut aturannya menyalahi ketentuan, yaitu penjual langsat, penjual
jeruk dan penjual durian. Kepada penjual langsat, petugas kenyamanan lingkungan
memberikan sanksi bahwa ia harus membersihkan kulit-kulit langsat dan memakan
kulit-kulitnya. Kepada penjual jeruk, aturan dan sanksi yang samapun
diberlakukan, namun tidak lama kemudian kedua penjual itu mendatangi petugas
kenyamanan lingkungan dengan menangis. Ketika ditanyakan apa yang menyebabkan
keduanya menangis, mereka menjawab kalau kepada mereka diberlakukan aturan
memakan kulit-kulit dari buah yang mereka makan tapi supaya aturan itu tidak
dikenakan kepada penjual berikutnya yaitu penjual durian. Jawabannya, pembaca
pasti dapat memperkirakan kemana arah cerita ini selanjutnya.
Apa yang dapat diambil dari
anekdot di atas? Salah satu karakter yang ingin dimunculkan dalam kisah di atas
adalah adanya rasa empati. Karena empati, air mata menetes kala mendengar cerita
haru, tersenyum ketika bahagia dan mendengar orang bersuka cita, ringan tangan
kala ada orang yang membutuhkan, dan berbagi kala ada. Sikap ini sejatinya
telah dituntunkan kepada kita seperti seorang dengan orang lain bagaikan satu
tubuh, jika yang satu sakit maka yang lain ikut merasakan sakit, jika memasak
makanan maka pedulilah dengan lingkungan sekitar, dan orang yang baik adalah
yang tetangganya aman dari mulut dan tangannya. Sederhananya bahwa empati
adalah penting bahkan sangat penting.
Apakah empati itu? Dalam Kamus
Lengkap Bahasa Indonesia disebutkan pengertian empati sebagai kondisi mental
yang membuat seseorang merasa dirinya dalam perasaan yang sama dengan orang
lain (tt:226). Tingkatan ini melebihi dari rasa simpati. Keikutsertaan secara
mental, meleburnya rasa kepedulian menjadi kekhasan tersendiri dari sikap ini. Istilah
Ippho Santosa dalam bukunya 13 Wasiat Terlarang (2010:71) bahwa empati dan
sikap mental lainnya adalah gambaran perlunya kita mengedepan positive feeling dan tidak sekedar positive
thinking.
Di tengah derasnya
serangan teknologi yang serba elektrik, canggih dan cepat, dilingkaran arus
modernisasi yang berputar dengan cepat dan tuntutan pemenuhan kebutuhan yang
cenderung instan dan pragmatis ditambah lagi dengan tontonan kekerasan dan
kehidupan glamour yang kita saksikan di layar kaca, sikap empati ini mengalami
pergeseran, bertahap memang tapi ia pasti. Apa yang kita rasakan ketika kita
menyaksikan adanya maling ayam yang ditangkap polisi? Apa yang kita rasakan
ketika kita menontotn tayangan pembunuhan? Apa yang kita rasakan ketika kita
mendengar kejahatan seksual di lembaga pendidikan? Sepintas, informasi itu
adalah hal biasa untuk saat ini, tiada hari tanpa berita di atas, hanya
persoalannya, sikap kita baru akan agak menaik dan menjadi perhatian jika
maling ayam ditangkap polisi setelah babak belur dihakimi massa, peristiwa
pembunuhan baru akan menarik perhatian jika mayatnya dimutilasi dan dimasukkan
dalam karung beras dan kejahatan seksual di sebuah lembaga pendidikan baru akan
menarik perhatian publik jika dilakukan
oleh tenaga pendidik yang seharusnya memberikan rasa aman.
Bahwa
tontonan kekerasan, horor, kejahatan seksual yang kita saksikan ini akan
memberikan dampak yang tidak baik untuk perkembangan mental kita yakni desensitisasi kekerasan. Berbagai tayangan
(kekerasan misalnya) secara perlahan namun pasti akan menghilangkan rasa
simpati, empati dan rasa sensitif terhadap kekerasan. Akibatnya berita
penangkapan maling ayam akan jadi kurang seru kalau tidak disertai liputan
tentang bagaimana masyarakat menghakimi maling ayam sampai babak belur. Berita
pemerkosaan akan menjadi suguhan biasa kecuali jika dilakukan dengan mutilasi
dan sebagainya. Sesuatu yang sering dilihat akan menjadikannya sebagai
pemandangan yang biasa.
Fear Effect. Rasa takut yang berlebihan. Yang
tadinya takut melihat darah dan kekerasan berubah menjadi sikap acuh karena
sering ditayangkan hal serupa. Pembunuhan bukan berita yang tabu, ia akan
menjadi berita hangat jika dilakukan oleh seorang anak kepada ibunya.
Eikonoklasme. Yaitu menjadikan tayangan TV sebagai ikon yang
harus diikuti setiap perintah dan larangannya. Sejalan dengan gaya hidup (life
style) yang hedonisme dan materialistik. Segala yang menggiurkan dan terasa
enak satu saat akan menjadi trend. Terlepas dari apakah trend itu mengandung
manfaat atau tidak.
Associative Shifting. Ketika seseorang sedang asyik menonton TV,
namun diselingi dengan iklan (sekilas info, adzan dan sejenisnya) maka
hal tersebut akan dianggap sebagai faktor pengganggu dan pemutus cara berpikir
penonton. Jika sudah demikian, apa yang diharapkan dari generasi ini.
Sekali lagi, empati bukan saja penting tapi bahkan ia
sangat penting. Tokoh-tokoh besar bangsa ini telah menunjukkan rasa empati yang
tinggi dan itu tidak hanya menjadi semangat bagi rakyat negeri ini tapi menjadi
spirit bagi negera-negara di sekitar nusantara ini.
Semoga!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar