Selasa, 10 Juni 2014



(((Ruang Kepala MTs ASWAJA, 11 Juni 2014 )))


Belajar Empati Kepada Penjual Langsat dan Penjual Jeruk

 
Berawal dari sebuah anekdot.
Suatu hari ada razia Pedagang Kaki Lima (PKL) oleh petugas kenyamanan lingkungan. Ditemukanlah tiga pedagang yang menurut aturannya menyalahi ketentuan, yaitu penjual langsat, penjual jeruk dan penjual durian. Kepada penjual langsat, petugas kenyamanan lingkungan memberikan sanksi bahwa ia harus membersihkan kulit-kulit langsat dan memakan kulit-kulitnya. Kepada penjual jeruk, aturan dan sanksi yang samapun diberlakukan, namun tidak lama kemudian kedua penjual itu mendatangi petugas kenyamanan lingkungan dengan menangis. Ketika ditanyakan apa yang menyebabkan keduanya menangis, mereka menjawab kalau kepada mereka diberlakukan aturan memakan kulit-kulit dari buah yang mereka makan tapi supaya aturan itu tidak dikenakan kepada penjual berikutnya yaitu penjual durian. Jawabannya, pembaca pasti dapat memperkirakan kemana arah cerita ini selanjutnya.
Apa yang dapat diambil dari anekdot di atas? Salah satu karakter yang ingin dimunculkan dalam kisah di atas adalah adanya rasa empati. Karena empati, air mata menetes kala mendengar cerita haru, tersenyum ketika bahagia dan mendengar orang bersuka cita, ringan tangan kala ada orang yang membutuhkan, dan berbagi kala ada. Sikap ini sejatinya telah dituntunkan kepada kita seperti seorang dengan orang lain bagaikan satu tubuh, jika yang satu sakit maka yang lain ikut merasakan sakit, jika memasak makanan maka pedulilah dengan lingkungan sekitar, dan orang yang baik adalah yang tetangganya aman dari mulut dan tangannya. Sederhananya bahwa empati adalah penting bahkan sangat penting.
Apakah empati itu? Dalam Kamus Lengkap Bahasa Indonesia disebutkan pengertian empati sebagai kondisi mental yang membuat seseorang merasa dirinya dalam perasaan yang sama dengan orang lain (tt:226). Tingkatan ini melebihi dari rasa simpati. Keikutsertaan secara mental, meleburnya rasa kepedulian menjadi kekhasan tersendiri dari sikap ini. Istilah Ippho Santosa dalam bukunya 13 Wasiat Terlarang (2010:71) bahwa empati dan sikap mental lainnya adalah gambaran perlunya kita mengedepan positive feeling dan tidak sekedar  positive thinking.
Di tengah derasnya serangan teknologi yang serba elektrik, canggih dan cepat, dilingkaran arus modernisasi yang berputar dengan cepat dan tuntutan pemenuhan kebutuhan yang cenderung instan dan pragmatis ditambah lagi dengan tontonan kekerasan dan kehidupan glamour yang kita saksikan di layar kaca, sikap empati ini mengalami pergeseran, bertahap memang tapi ia pasti. Apa yang kita rasakan ketika kita menyaksikan adanya maling ayam yang ditangkap polisi? Apa yang kita rasakan ketika kita menontotn tayangan pembunuhan? Apa yang kita rasakan ketika kita mendengar kejahatan seksual di lembaga pendidikan? Sepintas, informasi itu adalah hal biasa untuk saat ini, tiada hari tanpa berita di atas, hanya persoalannya, sikap kita baru akan agak menaik dan menjadi perhatian jika maling ayam ditangkap polisi setelah babak belur dihakimi massa, peristiwa pembunuhan baru akan menarik perhatian jika mayatnya dimutilasi dan dimasukkan dalam karung beras dan kejahatan seksual di sebuah lembaga pendidikan baru akan menarik perhatian publik jika  dilakukan oleh tenaga pendidik yang seharusnya memberikan rasa aman.
Bahwa tontonan kekerasan, horor, kejahatan seksual yang kita saksikan ini akan memberikan dampak yang tidak baik untuk perkembangan mental kita yakni desensitisasi kekerasan. Berbagai tayangan (kekerasan misalnya) secara perlahan namun pasti akan menghilangkan rasa  simpati, empati dan rasa sensitif terhadap kekerasan. Akibatnya berita penangkapan maling ayam akan jadi kurang seru kalau tidak disertai liputan tentang bagaimana masyarakat menghakimi maling ayam sampai babak belur. Berita pemerkosaan akan menjadi suguhan biasa kecuali jika dilakukan dengan mutilasi dan sebagainya. Sesuatu yang sering dilihat akan menjadikannya sebagai pemandangan yang biasa.

Fear Effect. Rasa takut yang berlebihan. Yang tadinya takut melihat darah dan kekerasan berubah menjadi sikap acuh karena sering ditayangkan hal serupa. Pembunuhan bukan berita yang tabu, ia akan menjadi berita hangat jika dilakukan oleh seorang anak kepada ibunya.
Eikonoklasme. Yaitu menjadikan tayangan TV sebagai ikon  yang harus diikuti setiap perintah dan larangannya. Sejalan dengan gaya hidup (life style) yang hedonisme dan materialistik. Segala yang menggiurkan dan terasa enak satu saat akan menjadi trend. Terlepas dari apakah trend itu mengandung manfaat atau tidak.

Associative Shifting. Ketika seseorang sedang asyik menonton TV, namun  diselingi dengan iklan (sekilas info, adzan dan sejenisnya) maka hal tersebut akan dianggap sebagai faktor pengganggu dan pemutus cara berpikir penonton. Jika sudah demikian, apa yang diharapkan dari generasi ini.

Sekali lagi, empati bukan saja penting tapi bahkan ia sangat penting. Tokoh-tokoh besar bangsa ini telah menunjukkan rasa empati yang tinggi dan itu tidak hanya menjadi semangat bagi rakyat negeri ini tapi menjadi spirit bagi negera-negara di sekitar nusantara ini.

Semoga!









Tidak ada komentar:

Posting Komentar