TEMPIAS, Mengenali
Lima Kekuatan Kepemimpinan
Sebuah mata rantai organisasi, apapun jenis dan tingkatannya, pasti
terdapat dua elemen penting yakni adanya pengikut dan ada yang diikut, ada
pemimpin dan ada yang dipimpin, ada imam dan ada makmum. Jika salah satunya
tidak ada maka bukanlah sebuah organisasi. Meskipun sebuah keharusan, seleksi
akan lebih ketat manakala menyentuh aspek pemimpin. Ia menjadi selektif dan
sensitif mengingat yang diatur dan diurusnya adalah sekelompok orang baik
dengan jumlah kecil, sedang maupun untuk jumlah yang sangat besar. Artinya
menjadi pemimpin diperlukan sejumlah kriteria dan persyaratan tertentu. Hal yang
sama juga mesti ada pada organisasi pencerdasan anak bangsa yang bernama
sekolah.
Pemimpin juga manusia, tetapi tidak semua manusia bisa jadi pemimpin.
Sergiovanni (1984) sebagaimana dalam Tony Bush dan Marianne Coleman (2012:68)
mengidentifikasi lima “kekuatan” kepemimpinan. Lima kepemimpinan oleh penulis
disingkat dengan TEMPIAS. yakni 1) Kepemimpinan TEKNIS, seorang pemimpin adalah
sebagai seorang penggerak manajemen. Baik tidaknya proses sebuah organisasi
dapat dilihat dari sejauh mana kemampuan mengatur dan memenej organisasi itu.
Ia diharuskan mampu mengatur lalu lintas guru dengan guru, lalu lintas guru
dengan siswa, lalu lintas sekolah dengan lingkungan sekitar dan lalu lintas
dengan institusi lainnya. Dalam konteks ini, kepala sekolah dapat diibaratkan
seperti seorang polisi yang mengatur lalu lintas jalanan supaya teratur,
terarah dan tertib; 2) Kepemimpinan MANUSIA, seorang kepala sekolah hendaknya
memiliki semangat untuk mengembangkan sumber daya manusia yang ada. Berbagai
potensi, kompetensi dan skill yang ada di sekolah itu harus terus
dikembangkan dan satu saat akan menjadi kekuatan dahsyat. Jika menilik dari
tokoh-tokoh dalam sejarah Islam, salah satu pendukung keberhasilan Nabi
Muhammad SAW dalam berdakwah adalah karena beliau dikelilingi oleh tokoh-tokoh
yang kredibel dan visioner seperti Abu Bakar (orang tua yang arif dan
bijaksana), Umar bin Khaththab (Keras, tegas dan pandai menempatkan diri),
Utsman bin Affan (Hartawan yang dermawan) dan Ali bin Thalib (Pemuda yang
semangat juangnya tinggi untuk keberhasilan). 3) Kepemimpinan PENDIDIKAN,
seorang pemimpin haruslah orang yang ahli atau setidak mengerti tentang
disiplin ilmu yang digelutinya. Karena sebelum ia menjadi pemimpin, awalnya ia
adalah seorang abdi dalam profesinya itu. Sebelum menjadi kepala sekolah tentu
ia berasal dari guru mata pelajaran, pimpinan sebuah bengkel yang mengerti
tentulah berasal dari tukang bengkel, dan pimpinan perusahaan yang faham dengan
tugasnya adalah mereka yang merintis dari bawah pekerjaannya. Artinya, dalam
kekuatan ketiga ini, ia hakikatnya
adalah seorang praktisi klinis yang faham dengan cara kerja dan urutannya. 4)
Kekuatan KULTURAL, sebuah ungkapan mengatakan, lain lubuk lain ikannya, lain
orang lain gayanya dan lain kepala lain stylenya. Dari sisi ini, seorang
kepala adalah orang mampu membangun sebuah kultur bagi lembaganya. Kemana arah
sebuah organisasi, sedikit banyak ditentukan oleh gaya kepemimpinan atasannya. Kultur sebagai budaya
yang menjadi tradisi di sebuah organisasi menjadi ciri khas dari organisasi itu
sendiri. Dari kultur ini kita dapat mengenali arah dan haluan sebuah
organisasi. 5) Kekuatan SIMBOLIK, kekuatan pada aspek ini menjadi sangat
penting, lebih-lebih bagi organisasi yang baru tumbuh maupun yang baru
mengenali sistem kerja sebuah organisasi. Simbol dapat diberikan dalam bentuk
ucapan simbol atau bahasa pemersatu, simbol dapat diwujudkan dalam bentuk
aktifitas-aktifitas khas dan bahkan pimpinan adalah sebagai sebuah simbol.
Presiden adalah simbol bagi negaranya, kepala sekolah adalah simbol bagi
sekolahnya. Pada posisi ini, simbol yang diberdayakan akan menjadi sebuah
magnet bagi lingkungannya.
Beberapa kekuatan kepemimpinan ini manakala dimiliki oleh sebuah
organisasi, penulis yakin akan mampu mengangkat nilai jual dan daya saing ke
depan. Apatah lagi jika kelima kekuatan kepemimpinan ini ada pada organisasi
itu. SEMOGA**

Tidak ada komentar:
Posting Komentar