"Nak, Jangan Miskin Amal"
(DImuat di Harian AP Post, Edisi 30 Agts 2014)
Apa yang membedakan seorang dengan orang lain? Sangat banyak jawabannya,
satu dari banyaknya jawabannya adalah amal. Amal perbuatanlah yang membedakan
dan mengelompokkan seseorang dengan orang lain, bahkan yang membedakan satu
komunitas satu bangsa dengan bangsa lain. Dengan amal (tindakan, karya nyata,
kinerja) kita dapat menilai seseorang. Contoh sederhana, kita dapat menilai
seorang guru yang profesional dengan yang tidak saat ia berada di depan kelas.
Jika ia dapat mengendalikan dan mengatur suasana kelas saat melaksanakan proses
belajar mengajar di kelas maka dapat dipastikan ia orang yang faham cara
menguasai kelas namun jika sebaliknya maka ia hanya orang yang peduli dengan
dirinya sendiri dan bukan masuk kategori guru yang pandai menguasai kelas. Dari
mana kita mengetahuinya? Sekali lagi, bukan dari hasil diskusi dan tukar
pendapat tetapi dari tindakan nyata ketika kita melakukannya.
Hal di ataslah yang menjadi penekanan Imam Ghazali saat memberikan
nasehat kepada salah satu muridnya dengan ucapan, “Nak, Jangan miskin amal”.
Ketika setiap orang menguasai sebuah teori, faham dengan konsep dan
sistematikanya, ahli dalam menyampaikan sebuah gagasan atau ide. Sebenarnya
tidak terlalu membekas dan dapat menginspirasi seseorang, meskipun ada, tetapi
prosentase keberhasilannya tidak sebanyak jika ia juga yang melakukannya. Jika
ia dihadapkan antara orang menyampaikan dengan memukau dan bahasa yang memikat
dengan orang yang melakukan tindakan nyata maka kesan yang lebih membekas,
penulis yakin, adalah mereka yang langsung melaksanakannya.
Bukankah Columbus, sang Penemu Benua Amerika, ketika menyampaikan hasil
temuannya kepada publik ia juga diremehkan, “Penemuan segitu kok
diumumkan?” Demikian kira-kira tanggapan orang-orang yang tidak menyenanginya.
Akhirnya Columbus mengajak orang-orang yang tidak menyenanginya itu untuk beradu
kecerdasan bagaimana cara mendirikan telur rebus di atas meja. Satu orang maju
mencoba mendirikan telur rebus, gagal. Diteruskan yang satu lagi, demikian juga
dengan hasil yang sama. Akhirnya giliran Columbus, diletakkannya telur rebus di
atas meja kemudian ditekannya ujung atas telur hingga ujung telur di bawahnya
menjadi rata. Dan jelaslah, telur rebus bisa berdiri tegak. Tapi apa komentar
orang-orang yang jadi lawannya. “Kalau begitu kami juga bisa”, demikian respon
mereka. Columbus malah balik bertanya jika sekiranya bisa dilakukan kenapa
ketika ada kesempatan tadi sama sekali tidak dilaksanakan?
Apa yang membedakan seorang dengan yang lainnya? Yang membedakannya
adalah pada aspek tindakan nyata. Seseorang menjadi lebih khas dan dikenal
karena kemauannya berbuat, bukan sebatas berfikir dan sebatas ide. Dan inilah
yang menjadikan manusia berbeda dengan makhluk lainnya baik dari segi pola
fikir, sikap bahkan yang lebih adalah cara dalam menyelesaikan masalah dan cara
dalam berbuat sesuatu.
Semakin banyak amal seseorang maka akan semakin membuatnya berbeda.
Bahkan orang yang sekedar berbicara tanpa amal masuk kategori orang yang
dimurkai Allah SWT. Dalam kaitannya dengan amal manusia, Syekh Ibnu Athoillah
dalam bukunya Telaga Ma'rifat mengklasifikasikan amal manusia kepada tiga
kategori yakni kelompok amalnya hamba sahaya, kelompok amalnya saudagar dan
kelompok amalnya manusia merdeka.
Kategori amal hamba sahaya adalah orang-orang yang melakukan satu
perbuatan karena takut. Sementara amal kategori amal saudagar, ia beramal
karena hitungan untung rugi dan amalan manusia merdeka adalah mereka yang
beramal bukan dikarenakan paksaan tetapi menyadari sepenuhnya bahwa kewajiban
mereka hanyalah bersyukur baik dengan lisan maupun dengan perbuatan. Masuk kategori
yang manakah kita? Andalah pembaca yang menjawabnya. Semoga**

Tidak ada komentar:
Posting Komentar