Kehilangan Visi, Bahaya Terbesar Manusia
-----------------------------
sholihinhz@yahoo.co.id
-----------------------------
DImuat di Harian Pontianak Post Edisi 6 September 2014)
Setidaknya tiga kompetensi dibutuhkan saat ini untuk “menghidupkan”
sebuah organisasi. Tiga hal dimaksud adalah seseorang mesti mempunyai visi,
mampu memberikan inpirasi dan motivasi serta memiliki kompetensi.
Jika kita membaca kisah hidup manusia ternama, sebutlah Muhammad SAW,
Salahuddin Al-Ayyubi, hingga eranya Bill Gates, George Soros dan untuk di
negeri ini sebutlah Soekarno-Hatta, Buya Hamka, Moh. Natsir dan lain-lainnya,
maka kita akan menemukan satu persamaan besar: Orang-orang ini mempunyai visi
yang jelas dalam hidupnya. Visi yang jelas inilah yang telah memberikan arah
pasti menuju apa-apa yang hendak mereka tuju. Orang-orang sukses biasanya
mengetahui secara persis apa yang diinginkannya. Pada tahapan selanjutnya baru
akan kelihatan tiga klasifikasi yaitu apakah ia orang yang konsisten dengan
visinya; atau goyah, terombang-ambing dengan visinya, atau masuk kategori
terserah kemana angin berhembus, artinya ia tidak punya visi yang jelas.
Sederhananya visi adalah harapan dan asa yang membuat seseorang bergerak untuk
mewujudkan visi itu.
Al-Quran berabad-abad yang lalu telah mengilhami manusia untuk merancang
dan merumuskan visi dengan bahasa: wal tanzhur nafsun ma qaddamat lighad.
Mempersiapkan hari esok, esok dapat bermakna urutan hari dalam satu pekan,
namun yang dimaksudkan adalah mempersiapkan diri menghadapi hari esok
(kematian, berbangkit) dengan strategi dan langkah persiapan saat ini. Untuk
menjemput masa depan maka aktifitas harus dimulai saat ini. Ibarat kita
menginginkan bayi yang cerdas, smart dan patuh pada orang tua maka doa
untuk itu sejak isteri hamil memasuki bulan pertama maka dapat dipastikan
permohonan-permohonan itu akan terus dipanjatkan.
Sebuah tulisan inspiratif dalam buku Bukan Untuk Dibaca (2014:178)
disebutkan adanya keluarga yang awalnya sukses, sang suami mengalami sakit yang
yang membutuhkan biaya sangat banyak, dengan kondisi demikian apa yang dimiliki
kemudian dijual untuk membiayai pengobatan dan akhirnya sang suami meninggal
dunia, Dan ini berdampak pada tingkat
ekonomi mereka yang akhirnya terus menurun, namun sang isteri akhirnya berjualan
dengan membuka warung makan sederhana. Meskipun demikian ia tetap kelihatan
tegar dan senyum saat meladeni pembeli.
Ada pembeli yang bertanya, “Wahai Ibu, bagaimana kau sedemikian kuat?”
Sang ibu menjawab, “Yang membuatku begini adalah karena aku punya harapan Nak!
Jangan kehilangan harapan. Bukankah seorang guru dunia pernah berujar karena
harapanlah seorang ibu menyusui anaknya. Karena harapanlah kita menanam pohon,
meski kita tahu tak akan sampai memetik
buahnya yang ranum bertahun-tahun kemudian. Sekali kau kehilangan harapan, kau
kehilangan seluruh kekuatanmu untuk menghadapi dunia”.
Hidup tidak hanya perlu kerja keras, tapi harus dibarengi dengan kerja
cerdas. Kerja yang cerdas salah satunya adanya visi dan harapan yang terarah,
terukur dan konsisten. Adanya visi yang jelas yang membuat kita selalu
termotivasi untuk bisa lebih baik dari hari kemarin. Semoga**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar