Minggu, 26 Oktober 2014



Kehilangan Visi, Bahaya Terbesar Manusia


-----------------------------
sholihinhz@yahoo.co.id
-----------------------------
 DImuat di Harian Pontianak Post Edisi 6 September 2014)




Setidaknya tiga kompetensi dibutuhkan saat ini untuk “menghidupkan” sebuah organisasi. Tiga hal dimaksud adalah seseorang mesti mempunyai visi, mampu memberikan inpirasi dan motivasi serta memiliki kompetensi.
Jika kita membaca kisah hidup manusia ternama, sebutlah Muhammad SAW, Salahuddin Al-Ayyubi, hingga eranya Bill Gates, George Soros dan untuk di negeri ini sebutlah Soekarno-Hatta, Buya Hamka, Moh. Natsir dan lain-lainnya, maka kita akan menemukan satu persamaan besar: Orang-orang ini mempunyai visi yang jelas dalam hidupnya. Visi yang jelas inilah yang telah memberikan arah pasti menuju apa-apa yang hendak mereka tuju. Orang-orang sukses biasanya mengetahui secara persis apa yang diinginkannya. Pada tahapan selanjutnya baru akan kelihatan tiga klasifikasi yaitu apakah ia orang yang konsisten dengan visinya; atau goyah, terombang-ambing dengan visinya, atau masuk kategori terserah kemana angin berhembus, artinya ia tidak punya visi yang jelas. Sederhananya visi adalah harapan dan asa yang membuat seseorang bergerak untuk mewujudkan visi itu.
Al-Quran berabad-abad yang lalu telah mengilhami manusia untuk merancang dan merumuskan visi dengan bahasa: wal tanzhur nafsun ma qaddamat lighad. Mempersiapkan hari esok, esok dapat bermakna urutan hari dalam satu pekan, namun yang dimaksudkan adalah mempersiapkan diri menghadapi hari esok (kematian, berbangkit) dengan strategi dan langkah persiapan saat ini. Untuk menjemput masa depan maka aktifitas harus dimulai saat ini. Ibarat kita menginginkan bayi yang cerdas, smart dan patuh pada orang tua maka doa untuk itu sejak isteri hamil memasuki bulan pertama maka dapat dipastikan permohonan-permohonan itu akan terus dipanjatkan.
Sebuah tulisan inspiratif dalam buku Bukan Untuk Dibaca (2014:178) disebutkan adanya keluarga yang awalnya sukses, sang suami mengalami sakit yang yang membutuhkan biaya sangat banyak, dengan kondisi demikian apa yang dimiliki kemudian dijual untuk membiayai pengobatan dan akhirnya sang suami meninggal dunia,  Dan ini berdampak pada tingkat ekonomi mereka yang akhirnya terus menurun, namun sang isteri akhirnya berjualan dengan membuka warung makan sederhana. Meskipun demikian ia tetap kelihatan tegar dan senyum saat meladeni pembeli.
Ada pembeli yang bertanya, “Wahai Ibu, bagaimana kau sedemikian kuat?” Sang ibu menjawab, “Yang membuatku begini adalah karena aku punya harapan Nak! Jangan kehilangan harapan. Bukankah seorang guru dunia pernah berujar karena harapanlah seorang ibu menyusui anaknya. Karena harapanlah kita menanam pohon, meski kita tahu  tak akan sampai memetik buahnya yang ranum bertahun-tahun kemudian. Sekali kau kehilangan harapan, kau kehilangan seluruh kekuatanmu untuk menghadapi dunia”.
Hidup tidak hanya perlu kerja keras, tapi harus dibarengi dengan kerja cerdas. Kerja yang cerdas salah satunya adanya visi dan harapan yang terarah, terukur dan konsisten. Adanya visi yang jelas yang membuat kita selalu termotivasi untuk bisa lebih baik dari hari kemarin. Semoga**






Tidak ada komentar:

Posting Komentar