Minggu, 26 Oktober 2014



Ternyata, Komunikasi itu Unik

---------------------------------------------------
Kepala MTs ASWAJA Pal Lima Pontianak
---------------------------------------------------
 (Dimuat di Harian Pontianak Post Edisi 3 Oktober 2014)


 Sejak dahulu kala, komunikasi merupakan kebutuhan manusia (bahkan makhluk hidup lainnya) yang terus berkembang. Dalam perjalanannya, komunikasi selalu berubah dan mengalami kemajuan. Semakin jauh jarak seseorang dengan lainnya maka dikala itulah komunikasi menjadi kebutuhan. Meskipun banyak ragam komunikasi (dengan isyarat, simbol-simbol maupun secara terbuka),  apalagi di era globalisasi ini, dimana arus informasi dan teknologi termasuk di dalamnya kecanggihan alat komunikasi, menjadikan jarak yang jauh tidak lagi menjadi masalah, luasnya wilayah bukan menjadi persoalan. Justru dengan semakin jauhnya letak geografis menstimulus manusia untuk menciptakan teknologi baru seperti kecanggihan alat komunikasi di era globalisasi yang kita nikmati sekarang.
Tulisan ini tidak membahas tentang alat komunikasi yang canggih seperti saat ini atau untuk masa yang akan datang. Pembahasan dibatasi pada komunikasi terbuka antara seseorang dengan audiens. Audiens dalam jumlah yang besar. Karena dalam jumlah yang besar inilah nampak karakteristik dan style seseorang dalam berkomunikasi.
Meskipun komunikasi menjadi kebutuhan manusia, tetapi dalam kenyataannya kita masih menemukan tipe manusia yang sulit dan tidak mampu berkomunikasi secara baik. Contoh sederhana adalah jika kita dalam kondisi berkumpul dengan sejumlah orang yang tidak dikenal, mungkin berteduh bersama saat kehujanan, saat menunggu bis, saat menuju satu tujuan yang sama namun kita tidak saling kenal. Dalam kondisi itulah, akan nampak apakah seseorang (atau kita) mampu berkomunikasi atau tidak, meskipun hanya dengan kalimat pembuka, “mau kemana?” “Sudah lama tidak hujan ni”. Dari kalimat pembuka inilah, kita secara tidak langsung telah membuka komunikasi dengan orang lain dan itu artinya juga kita dapat menilai tipe komunikasi orang tersebut. Cuek, antusias dan biasa-biasa saja, itulah responsnya.
Keterampilan berkomunikasi secara efektif sedikit sekali merupakan karunia sejak lahir. Namun demikian, Bill Scott (1990) menyatakan bahwa kemampuan berkomunikasi sebenarnya dapat dilatih dan dikembangkan. Bisa didapat dari pembinaan, adanya rasa percaya diri (self confidence) maupun karena adanya pemahaman dan penguasaan terhadap teknik-teknik penguasaan massa.
Dalam penyampaian pesan secara langsung, Edward T. Hall (1976) dalam Tjipta Lesmana (2008) menyebutkan bahwa secara kultur, kebudayaan manusia secara global dibagi dalam dua kategori yaitu kebudayaan konteks tinggi (High Context Culture) dan konteks rendah (Low Context Culture). Komunikasi konteks tinggi manakala komunikator menggunakan bahasa “bersayap”. Ini mengandung makna apa yang disampaikan baru akan dapat ditangkap dan difahami jika kita mengetahui style dan budaya komunikator. Singkatnya, orang dengan tipe ini jika berbicara ia tidak to the point, bahasa tubuh  (body language) tidak jelas dan banyak menggunakan pengistilahan. Kelebihan dari gaya ini adalah orang tidak akan merasa dipermalukan atau disinggung jika yang bersangkutan menjadi “sasaran tembak”, namun kelemahannya akan banyak penafsiran (multi tafsir) dan interprestasi dalam menerjemahkan maksud dari si pembicara, ya kalau interprestasinya tepat yang dimaksud, jika tidak, kemungkinannya akan memunculkan penafsiran baru. Di sekitar kita, banyak kita temui orang dengan karakter seperti ini. Dan ini sepertinya sudah menjadi budaya khususnya negara-negara timur yang “lebih perasa” meskipun ada juga yang low context.
Berikutnya adalah orang dengan gaya bicara tipe low context. Tipe ini manakala ia berbicara to the point, mudah difahami dan jelas, siapa dan apa yang dimaksud dan tidak perlu diinterprestasikan lagi. Baginya tidak berlaku iklan “Bukan Basa Basi”. Sangat mudah memahami apa keinginan dari orang bertipikal ini, hanya siapa dan apa yang dimaksud  -meminjam istilah  Tjipta Lesmana- harus bertelinga tebal. Siap untuk dipermalukan dan dipublikasikan berbagai kelemahannya. Para tokoh atau pemimpin -siapapun- atau bahkan orang di sekitar kita, dapat kita kenali gaya dan tipenya dalam berbicara apakah bertipikal high context atau low context.
Karena kedua tipe ini memiliki keunggulan dan kelemahan, maka yang paling bijak adalah kapan kita perlu menempatkan diri untuk berbicara secara  high context dan kapan kita bersikap low context. Perkataan bijak mengajarkan kepada kita, berbicaralah kepada orang lain sesuai dengan kadar kemampuan mereka, artinya pembicara yang baik adalah yang memahami apa dan sejauh mana tingkat pengetahuan auidensnya. Demikian juga pembicara yang baik adalah yang orang mengerti dengan apa yang dibicarakannya.  Bukan sekedar bisa mengucapkan kontroversi hati, labil ekonomi maupun twenty nine my age.***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar