Ternyata, Komunikasi itu Unik
---------------------------------------------------
Kepala MTs ASWAJA Pal Lima Pontianak
---------------------------------------------------
(Dimuat di Harian Pontianak Post Edisi 3 Oktober 2014)
Sejak dahulu kala, komunikasi
merupakan kebutuhan manusia (bahkan makhluk hidup lainnya) yang terus
berkembang. Dalam perjalanannya, komunikasi selalu berubah dan mengalami
kemajuan. Semakin jauh jarak seseorang dengan lainnya maka dikala itulah
komunikasi menjadi kebutuhan. Meskipun banyak ragam komunikasi (dengan isyarat,
simbol-simbol maupun secara terbuka),
apalagi di era globalisasi ini, dimana arus informasi dan teknologi
termasuk di dalamnya kecanggihan alat komunikasi, menjadikan jarak yang jauh
tidak lagi menjadi masalah, luasnya wilayah bukan menjadi persoalan. Justru
dengan semakin jauhnya letak geografis menstimulus manusia untuk menciptakan
teknologi baru seperti kecanggihan alat komunikasi di era globalisasi yang kita
nikmati sekarang.
Tulisan ini tidak membahas tentang alat komunikasi yang canggih seperti
saat ini atau untuk masa yang akan datang. Pembahasan dibatasi pada komunikasi
terbuka antara seseorang dengan audiens. Audiens dalam jumlah yang besar.
Karena dalam jumlah yang besar inilah nampak karakteristik dan style
seseorang dalam berkomunikasi.
Meskipun komunikasi menjadi kebutuhan manusia, tetapi dalam kenyataannya
kita masih menemukan tipe manusia yang sulit dan tidak mampu berkomunikasi
secara baik. Contoh sederhana adalah jika kita dalam kondisi berkumpul dengan
sejumlah orang yang tidak dikenal, mungkin berteduh bersama saat kehujanan,
saat menunggu bis, saat menuju satu tujuan yang sama namun kita tidak saling
kenal. Dalam kondisi itulah, akan nampak apakah seseorang (atau kita) mampu
berkomunikasi atau tidak, meskipun hanya dengan kalimat pembuka, “mau kemana?”
“Sudah lama tidak hujan ni”. Dari kalimat pembuka inilah, kita secara tidak
langsung telah membuka komunikasi dengan orang lain dan itu artinya juga kita
dapat menilai tipe komunikasi orang tersebut. Cuek, antusias dan
biasa-biasa saja, itulah responsnya.
Keterampilan berkomunikasi secara efektif sedikit sekali merupakan
karunia sejak lahir. Namun demikian, Bill Scott (1990) menyatakan bahwa
kemampuan berkomunikasi sebenarnya dapat dilatih dan dikembangkan. Bisa didapat
dari pembinaan, adanya rasa percaya diri (self confidence) maupun karena
adanya pemahaman dan penguasaan terhadap teknik-teknik penguasaan massa.
Dalam penyampaian pesan secara langsung, Edward T. Hall (1976) dalam
Tjipta Lesmana (2008) menyebutkan bahwa secara kultur, kebudayaan manusia
secara global dibagi dalam dua kategori yaitu kebudayaan konteks tinggi (High
Context Culture) dan konteks rendah (Low Context Culture).
Komunikasi konteks tinggi manakala komunikator menggunakan bahasa “bersayap”.
Ini mengandung makna apa yang disampaikan baru akan dapat ditangkap dan
difahami jika kita mengetahui style dan budaya komunikator. Singkatnya,
orang dengan tipe ini jika berbicara ia tidak to the point, bahasa
tubuh (body language) tidak jelas
dan banyak menggunakan pengistilahan. Kelebihan dari gaya ini adalah orang
tidak akan merasa dipermalukan atau disinggung jika yang bersangkutan menjadi
“sasaran tembak”, namun kelemahannya akan banyak penafsiran (multi tafsir) dan
interprestasi dalam menerjemahkan maksud dari si pembicara, ya kalau
interprestasinya tepat yang dimaksud, jika tidak, kemungkinannya akan
memunculkan penafsiran baru. Di sekitar kita, banyak kita temui orang dengan
karakter seperti ini. Dan ini sepertinya sudah menjadi budaya khususnya
negara-negara timur yang “lebih perasa” meskipun ada juga yang low context.
Berikutnya adalah orang dengan gaya bicara tipe low context. Tipe
ini manakala ia berbicara to the point, mudah difahami dan jelas, siapa
dan apa yang dimaksud dan tidak perlu diinterprestasikan lagi. Baginya tidak
berlaku iklan “Bukan Basa Basi”. Sangat mudah memahami apa keinginan dari orang
bertipikal ini, hanya siapa dan apa yang dimaksud -meminjam istilah Tjipta Lesmana- harus bertelinga tebal. Siap
untuk dipermalukan dan dipublikasikan berbagai kelemahannya. Para tokoh atau
pemimpin -siapapun- atau bahkan orang di sekitar kita, dapat kita kenali gaya
dan tipenya dalam berbicara apakah bertipikal high context atau low
context.
Karena kedua tipe ini memiliki keunggulan dan kelemahan, maka yang paling
bijak adalah kapan kita perlu menempatkan diri untuk berbicara secara high context dan kapan kita bersikap low
context. Perkataan bijak mengajarkan kepada kita, berbicaralah kepada orang
lain sesuai dengan kadar kemampuan mereka, artinya pembicara yang baik adalah
yang memahami apa dan sejauh mana tingkat pengetahuan auidensnya. Demikian juga
pembicara yang baik adalah yang orang mengerti dengan apa yang
dibicarakannya. Bukan sekedar bisa
mengucapkan kontroversi hati, labil ekonomi maupun twenty nine my age.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar