Jumat, 20 Desember 2013

17 Ramadhan 17 Rakaat 17 AGustus

(Dimuat di Majalah Harmoni Kanwil Kementerian Agama Prov. Kalbar 2013)




Bulan Agustus dalam hitungan bulan miladiyah dan Ramadhan dalam hitungan hijriyah memiliki arti yang penting di negeri ini. Hanya untuk pertama merupakan kebanggaan sebuah negeri yakni Indonesia, saat negeri tercinta ini memproklamirkan kemerdekaannya tepat tanggl 17 Agustus 1945. Sementara yang keduanya adalah bulan yang sejumlah predikat melekat padanya, syahrul mubarak (bulan penuh keberkahan), syahrul ibadah (bulan peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah), syahrul maghfirah (bulan pengampunan) dan masih banyak lainnya.
Tulisan ini mengelaborasi makna terkandung di dalamnya. Bahwa ada tiga 17 yang harus kita pegang di tengah menggebunya upaya pembangunan nasional. Ketiga 17 itu merupakan satu kesatuan. 17 yang pertama adalah 17 rakaat shalat, 17 kedua adalah 17 Agustus hari Proklamasi Kemerdekaan RI dan 17 ketiga adalah 17 Ramadhan saat diturunkannya al-Quran.
Dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ketiga disebutkan dengan jelas bahwa kemerdekaan Indonesia ini adalah karena berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, lengkapnya dituliskan dengan kalimat "Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya." dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya."
Dalam konteks ini dapat difahami pula bahwa Indonesia adalah negara yang beragama, bukan negara tanpa agama atau negara yang tidak mengakui agama apapun. Kebesaran jiwa ini kemudian dituangkan dalam dokumen sejarah negeri ini yang dikenal dengan Pembukaan UUD 1945.
Sudah menjadi fakta sejarah, bahwa saat Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia membacakan ikrar pembebasan, proklamasi kemerdekaan jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan di bulan Ramadhan dan bertepatan pula dengan tanggal 17 Ramadhan 1367 Hijriah.
Nilai-nilai apa yang dapat dipetik dari penanggalan bersejarah ini?
Tanggal 17 Agustus Tahun 1945 menandai berdirinya sebuah negara baru yang merdeka, berdaulat dan harus mampu mengelola dan memimpin negerinya sendiri, bukan di bawah pemerintahan dan jajahan bangsa lain. Kemerdekaan tidak turun dari langit laksana embun di waktu pagi, tetapi muncul dengan perasan keringat, untaian air mata, bahkan genangan darah dan pengorbanan nyawa para pejuang bangsa, yang terkadang mereka sendiri tidak bisa ikut menikmati hasil perjuangannya. Apa yang melandasinya? Keinginan bangsa ini untuk dapat mengatur negerinya sendiri, cinta tanah air dan terwujudnya masyarakat yang tidak hidup dalam penindasan orang lain, itulah salah satu mengapa menggebunya semangat kemerdekaan terus digaungkan dan diusahakan hingga titik darah penghabisan. Ahmad Barizi (2011:103), menyebutkan bukankah sejarah para Nabi, anbiya i wal mursalin diutus dengan membawa misi pembebasan, lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim as hadir sebagai pioner pembebasan dari ketundukan di bawah pengaruh kekuasaan Raja Namrud. Nabi Musa datang sebagai sosok pembebasan ketertindasan dari Fir'aun dan Nabi Muhammad SAW yang diutus dengan misi pembebasan dari keterikatan sesama makhluk, kertepasungan budaya jahiliyah kepada pembebasan hak-hak manusia.
Dengan demikian, jelaslah bahwa kemerdekaan 17 Agustus didasari oleh semangat pembebasan yang merupakan tugas mulianya para Nabi dan Rasul. Artinya, spirit ketundukkan kepada Yang Maha Kuasa mampu mengalahkan ketundukkan dan penghambaan kepada sesama manusia.
Pemaknaan terhadap 17 rakaat dalam sholat lima waktu sehari semalam -memutuskan belenggu-belenggu jahiliyah yang terkenal dengan sifat serakahnya, menghapus penghisapan terhadap sesama manusia (exploitation), penjarahan harta kekayaan sebuah negeri dan perampasan nilai-nilai kemanusiaan- menumbuhkan sikap patriotisme anak negeri bahwa tiada yang ditakuti selama kita berada di jalan kebenaran. Apalagi kebenaran itu untuk kebaikan sebuah bangsa.
Kemampuan memahami itu jelas tidak terlepas dari spirit luar biasa dalam mencermati dan meyakini kebenaran wahyu Ilahi yang tertuang dalam ayat 1-5 surah al-'Alaq bahwa untuk mencerdaskan kehidupan bangsa harus diawali dengan kemampuan membuka cakrawala pemikiran anak negeri ini, membaca tanda-tanda alam dan yang pasti tidak melepaskan diri dari satu kekuatan yang Maha Dahsyat. Kekuatan Yang Maha Kuasa.
Pribadi yang bagaimana yang mampu mengisi kemerdekaan negeri ini? Jawabannya adalah pribadi yang dibentuk oleh 17 rakaat di tengah suasana kemuliaan 17 Ramadhan.
Waktu boleh bergilir dan bergulir, zaman boleh pasang surut, masa boleh silih berganti. Tetapi semangat ketiga 17 ini senantiasa mengitari dan mewarnai setiap aktifitas kita.
Mengisi kemerdekaan dengan semangat 17 rakaat dan spirit Ramadhan akan melahirkan generasi yang jujur dan amanat, semangat 17 rakaat akan menjadikan manusia tidak angkuh, bahwa ada satu kekuatan yang berada di atas seluruh kekuatan makhluk dan 17 rakaat ikut membentuk manusia Indonesia yang ikhlas beramal dengan semangat kerja keras, kerja cerdas dan berkualitas.*** (Sholihin H.Z. Adalah Kepala MTs ASWAJA Kota Pontianak)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar