(Dimuat di Majalah Harmoni Kanwil Kementerian Agama
Prov. Kalbar 2013)
Bulan
Agustus dalam hitungan bulan miladiyah dan Ramadhan dalam hitungan
hijriyah memiliki arti yang penting di negeri ini. Hanya untuk
pertama merupakan kebanggaan sebuah negeri yakni Indonesia, saat
negeri tercinta ini memproklamirkan kemerdekaannya tepat tanggl 17
Agustus 1945. Sementara yang keduanya adalah bulan yang sejumlah
predikat melekat padanya, syahrul mubarak
(bulan penuh keberkahan), syahrul ibadah (bulan
peningkatan kualitas dan kuantitas ibadah), syahrul
maghfirah (bulan pengampunan)
dan masih banyak lainnya.
Tulisan
ini mengelaborasi makna terkandung di dalamnya. Bahwa ada tiga
17 yang harus kita pegang di tengah menggebunya upaya pembangunan
nasional. Ketiga 17 itu merupakan satu kesatuan. 17
yang pertama adalah 17 rakaat shalat, 17 kedua adalah 17 Agustus hari
Proklamasi Kemerdekaan RI dan 17 ketiga adalah 17 Ramadhan saat
diturunkannya al-Quran.
Dalam
Pembukaan UUD 1945 alinea ketiga disebutkan dengan jelas bahwa
kemerdekaan Indonesia ini adalah karena berkat rahmat Allah Yang Maha
Kuasa, lengkapnya dituliskan dengan kalimat "Atas berkat rahmat
Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur,
supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia
menyatakan dengan ini kemerdekaannya." dan dengan didorongkan
oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka
rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya."
Dalam
konteks ini dapat difahami pula bahwa Indonesia adalah negara yang
beragama, bukan negara tanpa agama atau negara yang tidak mengakui
agama apapun. Kebesaran jiwa ini kemudian dituangkan dalam dokumen
sejarah negeri ini yang dikenal dengan Pembukaan UUD 1945.
Sudah
menjadi fakta sejarah, bahwa saat Bung Karno dan Bung Hatta atas nama
bangsa Indonesia membacakan ikrar pembebasan, proklamasi kemerdekaan
jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945 bertepatan di bulan Ramadhan dan
bertepatan pula dengan tanggal 17 Ramadhan 1367 Hijriah.
Nilai-nilai
apa yang dapat dipetik dari penanggalan bersejarah ini?
Tanggal
17 Agustus Tahun 1945 menandai berdirinya sebuah negara baru yang
merdeka, berdaulat dan harus mampu mengelola dan memimpin negerinya
sendiri, bukan di bawah pemerintahan dan jajahan bangsa lain.
Kemerdekaan tidak turun dari langit laksana embun di waktu pagi,
tetapi muncul dengan perasan keringat, untaian air mata, bahkan
genangan darah dan pengorbanan nyawa para pejuang bangsa, yang
terkadang mereka sendiri tidak bisa ikut menikmati hasil
perjuangannya. Apa yang melandasinya? Keinginan bangsa ini untuk
dapat mengatur negerinya sendiri, cinta tanah air dan terwujudnya
masyarakat yang tidak hidup dalam penindasan orang lain, itulah salah
satu mengapa menggebunya semangat kemerdekaan terus digaungkan dan
diusahakan hingga titik darah penghabisan. Ahmad
Barizi (2011:103), menyebutkan bukankah sejarah para
Nabi, anbiya i wal mursalin
diutus dengan membawa misi pembebasan, lihatlah bagaimana Nabi
Ibrahim as hadir sebagai pioner pembebasan dari ketundukan di bawah
pengaruh kekuasaan Raja Namrud. Nabi Musa datang sebagai sosok
pembebasan ketertindasan dari Fir'aun dan Nabi Muhammad SAW yang
diutus dengan misi pembebasan dari keterikatan sesama makhluk,
kertepasungan budaya jahiliyah kepada pembebasan hak-hak manusia.
Dengan demikian,
jelaslah bahwa kemerdekaan 17 Agustus didasari oleh semangat
pembebasan yang merupakan tugas mulianya para Nabi dan Rasul.
Artinya, spirit ketundukkan kepada Yang Maha Kuasa mampu mengalahkan
ketundukkan dan penghambaan kepada sesama manusia.
Pemaknaan
terhadap 17 rakaat dalam sholat lima waktu sehari semalam -memutuskan
belenggu-belenggu jahiliyah yang terkenal dengan sifat serakahnya,
menghapus penghisapan terhadap sesama manusia (exploitation),
penjarahan harta kekayaan sebuah negeri dan perampasan nilai-nilai
kemanusiaan- menumbuhkan sikap patriotisme anak negeri bahwa tiada
yang ditakuti selama kita berada di jalan kebenaran. Apalagi
kebenaran itu untuk kebaikan sebuah bangsa.
Kemampuan memahami
itu jelas tidak terlepas dari spirit luar biasa dalam mencermati dan
meyakini kebenaran wahyu Ilahi yang tertuang dalam ayat 1-5 surah
al-'Alaq bahwa untuk mencerdaskan kehidupan bangsa harus diawali
dengan kemampuan membuka cakrawala pemikiran anak negeri ini, membaca
tanda-tanda alam dan yang pasti tidak melepaskan diri dari satu
kekuatan yang Maha Dahsyat. Kekuatan Yang Maha Kuasa.
Pribadi yang
bagaimana yang mampu mengisi kemerdekaan negeri ini? Jawabannya
adalah pribadi yang dibentuk oleh 17 rakaat di tengah suasana
kemuliaan 17 Ramadhan.
Waktu boleh bergilir
dan bergulir, zaman boleh pasang surut, masa boleh silih berganti.
Tetapi semangat ketiga 17 ini senantiasa mengitari dan mewarnai
setiap aktifitas kita.
Mengisi
kemerdekaan dengan semangat 17 rakaat dan spirit Ramadhan akan
melahirkan generasi yang jujur dan amanat, semangat 17 rakaat akan
menjadikan manusia tidak angkuh, bahwa ada satu kekuatan yang berada
di atas seluruh kekuatan makhluk dan 17 rakaat ikut membentuk manusia
Indonesia yang ikhlas beramal dengan semangat kerja keras, kerja
cerdas dan berkualitas.*** (Sholihin
H.Z. Adalah Kepala MTs ASWAJA Kota Pontianak)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar