Jumat, 20 Desember 2013

TV: Antara Merusak Dan Dicintai


(Dimuat di Pontianak Post)


Sebuah penelitian dilakukan di Amerika Serikat (AS) mengenai daya kerja otak dengan sampel pada beberapa bayi yang berkisar umur sembilan sampai 12 bulan. Kelompok bayi pertama  dibacakan cerita dalam bahasa Cina sementara kelompok bayi lainnya mendengarkan cerita yang sama dari sebuah televisi (TV). Selang dua bulan kemudian ditemukan hasil yang berbeda, bayi-bayi dari kelompok pertama dalam waktu dua bulan ternyata dapat mengenali suara dalam bahasa Cina namun kelompok kedua yang hanya mendengarkan dan melihat tampilan layar di TV tidak mempelajari dan menghasilkan apapun. Penelitian ini diperkuat dengan penelitian lainnya yang melibatkan 1000 keluarga yang memiliki bayi dengan kisaran usia delapan hingga 16 bulan yang secara berkala dibacakan cerita, maka anak-anak tersebut mengenali atau mengetahui jumlah kata 8% lebih banyak dari rata-rata. Sementara jumlah perbendaharaan kata-kata anak-anak yang banyak melihat acara TV yang dikhususkan bagi bayi adalah 20% lebih rendah dari jumlah kata-kata yang dimiliki anak-anak secara rata-rata. Ini baru sekedar penelitian pada pengaruh TV pada daya kerja otak bayi-bayi yang masih bersih dan punya daya tangkap yang luar biasa. Belum lagi jika kita lihat bagaimana dampak TV yang menayangkan kekerasan, sex dan mistis. Hasil penelitian di atas menggelitik emosi kita baik sebagai orang tua, pemerhati anak-anak apalagi bagi seorang pendidik.
Setidaknya satu pertanyaan dapat mengemuka, kemampuan apa yang dapat diharapkan dari aktifitas menonton TV ini dan bandingkan dengan aktifitas membaca. Burn dalam buku Teaching Reading in Today’s elementary Scholls (dikutip Muhammad Fauzhil ‘Azhim, 2006:74) bahwa ada delapan aspek yang bekerja saat kita  membaca  yaitu sensori, persepsi, sekuensial (tata urutan kerja), pengalaman, berfikir, belajar, asosiasi dan afeksi. Dengan membaca maka seseorang (apalagi sedari kecil) akan mampu menyerap, menyaring, mengolah dan memaknai informasi. Dan semakin sering membaca buku yang bergizi dan teratur, akan melatih seseorang untuk berfikir lebih matang dan tertata dan akhirnya memiliki kerangka berfikir yang rapi dan terarah.
Ke delapan aspek di atas bekerja secara bersamaan  saat kita membaca dan ini tidak kita temukan lebih  dalam pada saat kita menonton tayangan televisi, kalaupun ada kemampuan psikomotorik yang terhubung tidak jauh dari aspek  pendengaran dan penglihatan. Dan itupun, saya yakin tidak akan maksimal. Belum lagi kita bicara tentang berbagai info yang sebagian besar tentang kekerasan, hubungan bebas dan pola hidup instan.  (Silakan baca tulisan penulis di Harian AP Post Edisi Edisi 15 Oktober 2012)
Mengamati tayangan di TV berkisar hal-hal yang negatif (kekerasan, sex dan mistis), untuk siaran TV di Indonesia, bukanlah sesuatu yang sulit untuk ditemukan. Sepertinya tidak ada sesuatu yang menarik jika tiga ada ketiga hal tersebut dalam tayangannya ataupun salah satu dari ketiganya. Tontonan kekerasan (tawuran, penghakiman oleh massa), sex (tayangan yang mengumbar nafsu syahwat, adegan ranjang) dan mistis (film horor) adalah hal yang paling mudah dan menjadi menu harian (bahkan hitungan jam) ditemukan di siaran TV Indonesia.
Begitu besarkah dampak yang  diakibatkan dari tayangan aktifitas saat ini di TV kita? Setidaknya ada empat hal yang harus disikapi secara serius.
Pertama, desensitisasi kekerasan. Berbagai tayangan (kekerasan misalnya) secara perlahan namun pasti akan menghilangkan rasa  simpati, empati dan rasa sensitif terhadap kekerasan. Akibatnya berita penangkapan maling ayam akan jadi kurang seru kalau tidak disertai liputan tentang bagaimana masyarakat menghakimi maling ayam sampai babak belur. Berita pemerkosaan akan menjadi suguhan biasa kecuali jika dilakukan dengan mutilasi dan sebagainya. Sesuatu yang sering dilihat akan menjadikannya sebagai pemandangan yang biasa.
Kedua, Fear Effect. Rasa takut yang berlebihan. Yang tadinya takut melihat darah dan kekerasan berubah menjadi sikap acuh karena sering ditayangkan hal serupa. Pembunuhan bukan berita yang tabu, ia akan menjadi berita hangat jika dilakukan oleh seorang anak kepada ibunya.
Ketiga, Eikonoklasme. Yaitu menjadikan tayangan TV sebagai ikon  yang harus diikuti setiap perintah dan larangannya. Sejalan dengan gaya hidup (life style) yang hedonisme dan materialistik. Segala yang menggiurkan dan terasa enak satu saat akan menjadi trend. Terlepas dari apakah trend itu mengandung manfaat atau tidak.
Keempat, Associative Shifting. Ketika seseorang sedang asyik menonton TV, namun  diselingi dengan iklan (sekilas info, adzan dan sejenisnya) maka hal tersebut akan dianggap sebagai faktor pengganggu dan pemutus cara berpikir penonton. Jika sudah demikian, apa yang diharapkan dari generasi ini.
Tepat sekali jika dalam ilmu komunikasi dikenal teori hypodermic needly theory atau teori jarum suntik yang menyebutkan bahwa efek media kepada masyarakat adalah bersifat langsung artinya masyarakat langsung terkena pengaruhnya. (Tulisan Penulis di AP Post Kamis, 20 Septemkber 2007).
Jujur, disadari atau tidak, TV sekarang ini bukan lagi menjadi The Second God (Tuhan Kedua) tetapi sudah beralih menjadi The First God (Tuhan Pertama). TV sudah menjadi sesuatu yang “sangat penting” dan menjadi “sebuah prestise” bagi sebagian besar keluarga dan masyarakat kita.
Jika demikian halnya dan sebagian besar masyarakat kitapun demikian, maka saat ini kita sedang menuju generasi yang konsumtif dan pasif. Semoga tidak terjadi. **

===================================

Tidak ada komentar:

Posting Komentar