(Dimuat di Pontianak Post)
Sebuah penelitian
dilakukan di Amerika Serikat (AS) mengenai daya kerja otak dengan
sampel pada beberapa bayi yang berkisar umur sembilan sampai 12
bulan. Kelompok bayi pertama dibacakan cerita dalam bahasa Cina
sementara kelompok bayi lainnya mendengarkan cerita yang sama dari
sebuah televisi (TV). Selang dua bulan kemudian ditemukan hasil yang
berbeda, bayi-bayi dari kelompok pertama dalam waktu dua bulan
ternyata dapat mengenali suara dalam bahasa Cina namun kelompok kedua
yang hanya mendengarkan dan melihat tampilan layar di TV tidak
mempelajari dan menghasilkan apapun. Penelitian ini diperkuat dengan
penelitian lainnya yang melibatkan 1000 keluarga yang memiliki bayi
dengan kisaran usia delapan hingga 16 bulan yang secara berkala
dibacakan cerita, maka anak-anak tersebut mengenali atau mengetahui
jumlah kata 8% lebih banyak dari rata-rata. Sementara jumlah
perbendaharaan kata-kata anak-anak yang banyak melihat acara TV yang
dikhususkan bagi bayi adalah 20% lebih rendah dari jumlah kata-kata
yang dimiliki anak-anak secara rata-rata. Ini baru sekedar penelitian
pada pengaruh TV pada daya kerja otak bayi-bayi yang masih bersih dan
punya daya tangkap yang luar biasa. Belum lagi jika kita lihat
bagaimana dampak TV yang menayangkan kekerasan, sex dan mistis. Hasil
penelitian di atas menggelitik emosi kita baik sebagai orang tua,
pemerhati anak-anak apalagi bagi seorang pendidik.
Setidaknya satu
pertanyaan dapat mengemuka, kemampuan apa yang dapat diharapkan dari
aktifitas menonton TV ini dan bandingkan dengan aktifitas membaca.
Burn dalam buku Teaching
Reading in Today’s elementary Scholls (dikutip
Muhammad
Fauzhil ‘Azhim, 2006:74)
bahwa
ada delapan aspek yang bekerja saat kita membaca yaitu
sensori, persepsi, sekuensial (tata urutan kerja), pengalaman,
berfikir, belajar, asosiasi dan afeksi. Dengan membaca maka seseorang
(apalagi sedari kecil) akan mampu menyerap, menyaring, mengolah dan
memaknai informasi. Dan semakin sering membaca buku yang bergizi dan
teratur, akan melatih seseorang untuk berfikir lebih matang dan
tertata dan akhirnya memiliki kerangka berfikir yang rapi dan
terarah.
Ke delapan aspek di
atas bekerja secara bersamaan saat kita membaca dan ini tidak
kita temukan lebih dalam pada saat kita menonton tayangan
televisi, kalaupun ada kemampuan psikomotorik yang terhubung tidak
jauh dari aspek pendengaran dan penglihatan. Dan itupun, saya
yakin tidak akan maksimal. Belum lagi kita bicara tentang berbagai
info yang sebagian besar tentang kekerasan, hubungan bebas dan pola
hidup instan. (Silakan
baca tulisan penulis di Harian AP Post Edisi Edisi
15 Oktober 2012)
Mengamati tayangan
di TV berkisar hal-hal yang negatif (kekerasan, sex dan mistis),
untuk siaran TV di Indonesia, bukanlah sesuatu yang sulit untuk
ditemukan. Sepertinya tidak ada sesuatu yang menarik jika tiga ada
ketiga hal tersebut dalam tayangannya ataupun salah satu dari
ketiganya. Tontonan kekerasan (tawuran, penghakiman oleh massa), sex
(tayangan yang mengumbar nafsu syahwat, adegan ranjang) dan mistis
(film horor) adalah hal yang paling mudah dan menjadi menu harian
(bahkan hitungan jam) ditemukan di siaran TV Indonesia.
Begitu besarkah
dampak yang diakibatkan dari tayangan aktifitas saat ini di TV
kita? Setidaknya ada empat hal yang harus disikapi secara serius.
Pertama,
desensitisasi
kekerasan.
Berbagai tayangan (kekerasan misalnya) secara perlahan namun pasti
akan menghilangkan rasa simpati, empati dan rasa sensitif
terhadap kekerasan. Akibatnya berita penangkapan maling ayam akan
jadi kurang seru kalau tidak disertai liputan tentang bagaimana
masyarakat menghakimi maling ayam sampai babak belur. Berita
pemerkosaan akan menjadi suguhan biasa kecuali jika dilakukan dengan
mutilasi dan sebagainya. Sesuatu yang sering dilihat akan
menjadikannya sebagai pemandangan yang biasa.
Kedua, Fear
Effect.
Rasa takut yang berlebihan. Yang tadinya takut melihat darah dan
kekerasan berubah menjadi sikap acuh karena sering ditayangkan hal
serupa. Pembunuhan bukan berita yang tabu, ia akan menjadi berita
hangat jika dilakukan oleh seorang anak kepada ibunya.
Ketiga,
Eikonoklasme.
Yaitu menjadikan tayangan TV sebagai ikon yang harus diikuti
setiap perintah dan larangannya. Sejalan dengan gaya hidup (life
style)
yang hedonisme dan materialistik. Segala yang menggiurkan dan terasa
enak satu saat akan menjadi trend. Terlepas dari apakah trend itu
mengandung manfaat atau tidak.
Keempat, Associative
Shifting.
Ketika seseorang sedang asyik menonton TV, namun diselingi
dengan iklan (sekilas info, adzan dan sejenisnya) maka hal tersebut
akan dianggap sebagai faktor pengganggu dan pemutus cara berpikir
penonton. Jika sudah demikian, apa yang diharapkan dari generasi ini.
Tepat sekali jika
dalam ilmu komunikasi dikenal teori hypodermic
needly theory
atau teori jarum suntik yang menyebutkan bahwa efek media kepada
masyarakat adalah bersifat langsung artinya masyarakat langsung
terkena pengaruhnya. (Tulisan Penulis di AP Post Kamis, 20 Septemkber
2007).
Jujur, disadari atau
tidak, TV sekarang ini bukan lagi menjadi The
Second God
(Tuhan Kedua) tetapi sudah beralih menjadi The
First God
(Tuhan Pertama). TV sudah menjadi sesuatu yang “sangat penting”
dan menjadi “sebuah prestise” bagi sebagian besar keluarga dan
masyarakat kita.
Jika demikian halnya
dan sebagian besar masyarakat kitapun demikian, maka saat ini kita
sedang menuju generasi yang konsumtif dan pasif. Semoga tidak
terjadi. **
===================================
Tidak ada komentar:
Posting Komentar