Kata “amanah” tentu pernah kita dengar dalam keseharian kita
meskipun kata ini sebenarnya merupakan kata yang berasal dari
literatur keislaman, namun sudah menjadi bahasa keseharian meskipun
sebatas digunakan untuk acara organisasi atau institusi dalam sebuah
upacara khususnya dalam rangka pemberian pesan atau pembinaan dari
atasan kepada staf dan karyawan. Justru inti dari sebuah upacara
adalah penyampaian amanat dan pembinaan. Namun demikian, meskipun
kata amanah menjadi kata yang biasa tetapi harus tetap dikembalikan
kepada pemaknaan semula.
Amanah mempunyai akar kata yang sama
dengan kata iman
dan aman,
dalam konteks ini dapat diartikan bahwa orang yang amanah adalah
orang yang mendatangkan
keamanan, juga yang
memberi dan menerima amanah.
Ahmad Musthafa Al-Maraghi
menyebutkan amanah sebagai sesuatu
yang harus dipelihara dan dijaga agar sampai kepada yang berhak
memilikinya. Dan sikap
ini bukan sekedar merupakan pendelegasian dari orang ke orang, dari
organisasi atau institusi atau bahkan negara. Menyampaikan amanah
adalah perintah Allah SWT sebagaimana dapat ditemukan dalam Q.S. 4:58
(Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah
kepada yang berhak menerimanya).
Dalam hubungan kemanusiaan dan komunikasi sosial, sikap amanah
menjadi faktor penting. Sebegitu pentingnya sehingga seseorang yang
diangkat menjadi pemimpin, bila mengacu kepada kepemimpinan
Rasulullah maka ia harus memiliki karakter sebagai seorang yang
amanah. Sebagai orang yang dapat dipercaya, sebagai orang yang punya
kapasitas dan kompetensi untuk menyampaikan apa yang harus
disampaikan. Dari hal terakhir inilah kemudian predikat seseorang itu
amanah atau tidak dapat dilihat.
Seorang yang amanah tentu tidak terjadi dengan sendirinya, berbagai
faktor mengantarkannya menjadi seorang yang amanah, pendidikan di
keluarga, apa yang dilihatnya, apa yang didengarnya dan berbagai
sumber menjadi faktor pembentukan karakter seorang yang amanah.
Semakin luas jangkauan seseorang maka semakin luas pula pesan dan
amanah yang harus diemban dan disampaikannya.
Amanah adalah lebih pada sebuah
karakter yang sarat dengan komunikasi sosial. Seseorang yang amanah
berarti orang yang mampu menyampaikan pesan yang memang harus
disampaikan kepada yang berhak menerimanya. Manakala si penyampai
amanat tidak menyampaikan kepada si penerima amanat maka yang terjadi
adalah kekacauan informasi dan efek lebih menimbulkan distorsi dalam
pengambilan keputusan. Dari sisi ini, seorang leader
dituntut untuk cerdas dalam
mengelola sebuah pesan.
Banyaknya kasus korupsi,
penyimpangan amanah jabatan dan sebagainya adalah sebagai dampak dari
tidak ditunaikannya amanah secara baik, jujur dan tepat sasaran.
Amanah mesti disampaikan secara baik mengandung arti harus melihat
konteks manfaat mudharatnya. Apa artinya sebuah amanat yang justru
jika disampaikan akan menimbulkan kekacauan dan chaos,
jujur bahwa apa yang di-message-kan
mesti sesuai dengan inti pesan itu dan harus tepat sasaran dalam arti
apa yang mesti disampaikan dan untuk siapa harus benar-benar kepada
yang berhak menerima informasi itu.
Karakter amanah menjadi sesuatu yang langka saat ini, meskipun
demikian, hal terpenting adalah amanah haru smenjadi sebuah sikap
kita, sebagai seorang pribadi. Ibarat seseorang yang tersenyum kepada
orang lain, namun oang yang diajak senyum tidak merespon tetapi yang
terpenting kita telah menunjukkan bahwa kita memiliki karakter untuk
senyum kepada orang lain. Semoga!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar