Jumat, 20 Desember 2013

Pendidikan yang Membebaskan


Oleh Sholihin H.Z.**



Asghar Ali Engineer (dikutip Ahmad Barizi, 2011: 105) mengemukakan bahwa manusia pada dasarnya adalah “agen yang bebas”, ini menunjukkan bahwa kemerdekaan dan kebebasan merupakan pernyataan azasi manusia yang pertama. Hakikat mendapat kemerdekaan dan kebebasan hanya dapat diperoleh dengan adanya pendidikan yang mengarah kepada pemenuhan hak azasi manusia itu sendiri. Oleh karenanya, pendidikan adalah sebuah usaha mengeksplore, membimbing dan mengarahkan manusia agar menjadi manusia yang tahu, bisa dan bertanggung jawab. Pendidikan mentransfer pengetahuan agar menjadi manusia yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu. Cukupkah sampai disitu? Ternyata tidak, bahwa manusia adalah makhluk dinamis dan kreatif, maka kemampuan yang diperoleh agar menghasilkan sesuatu yang nyata ia harus dibimbing untuk menjadi “bisa”, dan pada konteks ini manusia telah menghasilkan karya dan produktif. Ke-bisa-an yang menghasilkan sesuatu ini tidaklah bebas nilai, oleh sebab itu, lagi-lagi pendidikan memainkan peranannya yaitu mencetak manusia yang bertanggungjawab terhadap yang dihasilkannya itu.
Bila kita lihat dalam sejarah kenabian, maka dapat diketahui bahwa setiap nabi membawa misi pembebasan. Nabi Ibrahim hadir sebagai pioner pembebasan dari ketundukan di bawah pengaruh kekuasaan Raja Namrud. Nabi Musa datang sebagai sosok pembebasan ketertindasan dari Fir'aun dan Nabi Muhammad SAW yang diutus dengan misi pembebasan dari keterikatan sesama makhluk, kertepasungan budaya jahiliyah kepada pembebasan hak-hak manusia. Semua sama kecuali ketakwaannya. (Ahmad Barizi, 2011:103).
Melihat mulianya misi yang dibawa, sudah semestinya pendidikan dengan misi pembebasan harus tetap menjadi nilai utama dalam sebuah proses pendidikan. Pengembangan bakat dan minat serta potensi peserta didik menjadi aspek yang diperhatikan oleh setiap sekolah, adanya Program Pengembangan Diri (PD) maupun kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) adalah bagian dari konsep pendidikan yang membebaskan. Namun di sisi lain, kadang kita prihatin dengan berbagai konsep yang judulnya pembebasan tapi sejatinya dalah pengekangan terhadap konsep pembebasan itu sendiri.
Sebuah ilustrasi yang menggambarkan sebuah sekolah yang dipimpin oleh seorang manusia dengan peserta didiknya adalah para binatang (buaya, tupai, sapi, kuda dan sebagainya). Diceritakan adanya aturan yang wajib ditaati oleh peserta didik tersebut dengan kurikulum yang sudah ditentukan, diantara isi mata pelajarannya adalah melompat, menyelam, memanjat dan sebagainya. Apa yang terjadi, ternyata kebanyakan peserta didiknya tidak berhasil melewati ujian yang diberikan karena jauh dari kompetensi yang dimilikinya. Apa yang diinginkan oleh sekolah tersebut, yang diharapkan oleh sekolah adalah semua peserta didiknya harus bisa melompat, menyelam dan memanjat. Mungkinkah? Jawabannya mungkin bagi yang memiliki bakat untuk itu tapi ada yang tidak bisa sama sekali karena tidak punya kompetensi untuk itu.
Bila kita lihat dari sisi ini, maka pendidikan yang ditawarkan bukan untuk mengeksplore dan sarat dengan misi pembebasan untuk mengembangkan potensi yang ada, yang terjadi justru memaksakan sbeuah konsep yang tidak realitas. Pendidikan sudah terjebak dalam konsep anti realitas. Munif Chatib dalam bukunya Gurunya Manusia (2011:26-27) memberikan perbandingan bagaimana sistem pendidikan di Finlandia. Finlandia diakui sebagai negara yang selalu mencapai peringkat tinggi dunia dalam pendidikan dunia, meski murid di negara Eropa tersebut menjalani jam belajar paling singkat di kalangan negara maju. Beberapa hal yang kiranya perlu kita perhatikan adalah bahwa kegiatan sekolah di Finlandia rata-rata hanya 30 jam per minggu, berarti hanya enam jam per hari, dan selebihnya waktu untuk bertemu keluarga di rumah. Ternyata konsep pendidikan keluarga menjadi hal yang utama dan pertama dalam proses belajar. Mengapa? Dapat difahami karena hubungan komunikasi yang terjadi tidak sekedar antara guru dan murid tetapi jauh dari itu, interaksi yang dibangun didasari oleh ketulusan kasih sayang dan anak sendiri yang harus diajar untuk dewasa. Selain itu tenaga pendidik dibebaskan untuk membuat kurikulum dan silabusnya menurut perkembangan peserta didik. Dan yang menarik adalah guru didorong dan dimotivasi untuk membaca dengan berbagai stimulus dan menghasilkan karya tulis. Bagaimana dengan keluarga di rumah, para orang tua Finlandia jelas memiliki andil atas prestasi sekolah yang mengesankan. Ada budaya membaca di kalangan anak-anak di rumah dan keluarga harus mengadakan kontak berkala dengan guru anak mereka. Satuhal yang pasti adalah bahwa mengajar adalah karir prestisius di Finlandia. Sebuah profesi yang betul-betul dihargai dan mendapat pengakuan sebagaimana hakikat profesi itu sendiri.
Bagaimana dengan negeri kita tercinta?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar