Oleh Sholihin H.Z.**
Asghar Ali Engineer
(dikutip Ahmad Barizi, 2011: 105) mengemukakan bahwa manusia pada
dasarnya adalah “agen yang bebas”, ini menunjukkan bahwa
kemerdekaan dan kebebasan merupakan pernyataan azasi manusia yang
pertama. Hakikat mendapat kemerdekaan dan kebebasan hanya dapat
diperoleh dengan adanya pendidikan yang mengarah kepada pemenuhan hak
azasi manusia itu sendiri. Oleh karenanya, pendidikan adalah sebuah
usaha mengeksplore, membimbing dan mengarahkan manusia agar menjadi
manusia yang tahu, bisa dan bertanggung jawab. Pendidikan mentransfer
pengetahuan agar menjadi manusia yang sebelumnya tidak tahu menjadi
tahu. Cukupkah sampai disitu? Ternyata tidak, bahwa manusia adalah
makhluk dinamis dan kreatif, maka kemampuan yang diperoleh agar
menghasilkan sesuatu yang nyata ia harus dibimbing untuk menjadi
“bisa”, dan pada konteks ini manusia telah menghasilkan karya dan
produktif. Ke-bisa-an yang menghasilkan sesuatu ini tidaklah bebas
nilai, oleh sebab itu, lagi-lagi pendidikan memainkan peranannya
yaitu mencetak manusia yang bertanggungjawab terhadap yang
dihasilkannya itu.
Bila kita lihat
dalam sejarah kenabian, maka dapat diketahui bahwa setiap nabi
membawa misi pembebasan. Nabi Ibrahim hadir sebagai pioner pembebasan
dari ketundukan di bawah pengaruh kekuasaan Raja Namrud. Nabi Musa
datang sebagai sosok pembebasan ketertindasan dari Fir'aun dan Nabi
Muhammad SAW yang diutus dengan misi pembebasan dari keterikatan
sesama makhluk, kertepasungan budaya jahiliyah kepada pembebasan
hak-hak manusia. Semua sama kecuali ketakwaannya. (Ahmad Barizi,
2011:103).
Melihat mulianya
misi yang dibawa, sudah semestinya pendidikan dengan misi pembebasan
harus tetap menjadi nilai utama dalam sebuah proses pendidikan.
Pengembangan bakat dan minat serta potensi peserta didik menjadi
aspek yang diperhatikan oleh setiap sekolah, adanya Program
Pengembangan Diri (PD) maupun kegiatan ekstrakurikuler (ekskul)
adalah bagian dari konsep pendidikan yang membebaskan. Namun di sisi
lain, kadang kita prihatin dengan berbagai konsep yang judulnya
pembebasan tapi sejatinya dalah pengekangan terhadap konsep
pembebasan itu sendiri.
Sebuah ilustrasi
yang menggambarkan sebuah sekolah yang dipimpin oleh seorang manusia
dengan peserta didiknya adalah para binatang (buaya, tupai, sapi,
kuda dan sebagainya). Diceritakan adanya aturan yang wajib ditaati
oleh peserta didik tersebut dengan kurikulum yang sudah ditentukan,
diantara isi mata pelajarannya adalah melompat, menyelam, memanjat
dan sebagainya. Apa yang terjadi, ternyata kebanyakan peserta
didiknya tidak berhasil melewati ujian yang diberikan karena jauh
dari kompetensi yang dimilikinya. Apa yang diinginkan oleh sekolah
tersebut, yang diharapkan oleh sekolah adalah semua peserta didiknya
harus bisa melompat, menyelam dan memanjat. Mungkinkah? Jawabannya
mungkin bagi yang memiliki bakat untuk itu tapi ada yang tidak bisa
sama sekali karena tidak punya kompetensi untuk itu.
Bila kita lihat dari
sisi ini, maka pendidikan yang ditawarkan bukan untuk mengeksplore
dan sarat dengan misi pembebasan untuk mengembangkan potensi yang
ada, yang terjadi justru memaksakan sbeuah konsep yang tidak
realitas. Pendidikan sudah terjebak dalam konsep anti realitas. Munif
Chatib dalam bukunya Gurunya Manusia (2011:26-27) memberikan
perbandingan bagaimana sistem pendidikan di Finlandia. Finlandia
diakui sebagai negara yang selalu mencapai peringkat tinggi dunia
dalam pendidikan dunia, meski murid di negara Eropa tersebut
menjalani jam belajar paling singkat di kalangan negara maju.
Beberapa hal yang kiranya perlu kita perhatikan adalah bahwa kegiatan
sekolah di Finlandia rata-rata hanya 30 jam per minggu, berarti hanya
enam jam per hari, dan selebihnya waktu untuk bertemu keluarga di
rumah. Ternyata konsep pendidikan keluarga menjadi hal yang utama dan
pertama dalam proses belajar. Mengapa? Dapat difahami karena hubungan
komunikasi yang terjadi tidak sekedar antara guru dan murid tetapi
jauh dari itu, interaksi yang dibangun didasari oleh ketulusan kasih
sayang dan anak sendiri yang harus diajar untuk dewasa. Selain itu
tenaga pendidik dibebaskan untuk membuat kurikulum dan silabusnya
menurut perkembangan peserta didik. Dan yang menarik adalah guru
didorong dan dimotivasi untuk membaca dengan berbagai stimulus dan
menghasilkan karya tulis. Bagaimana dengan keluarga di rumah, para
orang tua Finlandia jelas memiliki andil atas prestasi sekolah yang
mengesankan. Ada budaya membaca di kalangan anak-anak di rumah dan
keluarga harus mengadakan kontak berkala dengan guru anak mereka.
Satuhal yang pasti adalah bahwa mengajar adalah karir prestisius di
Finlandia. Sebuah profesi yang betul-betul dihargai dan mendapat
pengakuan sebagaimana hakikat profesi itu sendiri.
Bagaimana dengan
negeri kita tercinta?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar