Oleh
Sholihin H.Z.**
Belajar secara umum diartikan sebagai perubahan pada individu yang
terjadi melalui sebuah proses. Sebagai sebuah proses, belajar dapat
terjadi melalui banyak cara baik disengaja maupun tidak disengaja dan
menuju pada suatu perubahan pada diri pembelajar. Untuk memperjelas
pemahaman ini, maka para ahli, dalam hal ini Benjamin Bloom
merumuskan konsep belajar ini ke dalam tiga ranah yang dikenal dengan
tiga kawasan (domain) yaitu domain kognitif (kemampuan intelektual),
afektif (kemampuan sikap dan penataan aspek emosional) dan psikomotor
(kemampuan motorik). (dikutip Faturrahman, Ahmadi, Amri dan Setyono,
2012).
Demikian juga konsep belajar menurut pandangan Jerome S. Bruner yang
menyebutkan bahwa proses belajar dapat dibedakan dalam tiga fase
yaitu informasi, transformasi dan evaluasi. (dikutip Faturrahman dkk,
2012:10). Dalam tataran ini dapat difahami bahwa untuk terjadinya
proses pembelajaran maka tahap pertama yang pasti dilewati adalah
adanya pemberian informasi baik informasi lisan, tulisan maupun
bentuk dan gerak, ketika itu sudah mengendap di alam sadar manusia
maka ada kecenderungan untuk ditransformasikan menjadi sebuah action,
evaluasi dapat dilakukan baik saat proses belajar sedang berjalan
(evaluasi proses) maupun saat proses belajar selesai secara utuh
(evaluasi hasil).
Dalam teori behaviorisme dikenal prinsip hukum belajar yaitu belajar
akan berhasil apabila individu memiliki kesiapan untuk melakukan
perbuatan tersebut, belajar akan berhasil apabila banyak latihan dan
belajar akan bersemangat apabila mengetahui dan mendapat hasil yang
baik. Tulisan ini berusaha untuk menekankan pada hal yang terakhir
bahwa belajar akan dapat berlangsung dengan baik manakala kita tahu
apa hasil dari proses pembelajaran tersebut.
Coba anda perhatikan, apa yang dilakukan oleh seorang anak manakala
ia sedang belajar sepeda dan kemudian terjatuh, bangkit dan belajar
lagi, terjatuh lagi. Apakah setelah terjatuh, entah detik itu juga,
esok dan seterusnya ada perasaan menyesal dalam hatinya dan
menyatakan bahwa ia tidak akan belajar sepeda lagi? Jawabannya pasti
tidak, anak tersebut tidak akan berhenti belajar sepeda, meskipun
jatuh belasan kali. Apa yang mendorong anak ini begitu kuat dan
bersemangat untuk belajar bersepeda? Ini dikarenakan ia faham, bahwa
banyak keuntungan yang dapat diperolehnya jika ia bisa bersepeda.
Ada beberapa hal yang dapat kita maknai dari ilustrasi di atas. Bahwa
anak ini (mungkin) tidak memahami belajar sebagai sebuah pengertian,
tapi ia yakin bahwa dengan kepandaiannya bersepeda banyak kemudahan
yang diperolehnya. Makna lainnya adalah adanya antusiasme yang tinggi
untuk mengetahui, memahami dan menghayati arti belajar. Dan
antusiasme ini sebagaimana disebutkan Muhammad Fauzhil Adhim
(2006:263) adalah: “Jauh lebih penting daripada keterampilan itu
sendiri. Sebab antusiasme yang tinggi dapat membangkitkan semangat
sehingga belajar menjadi lebih mudah dan bermakna,”.
Jadi, jelaslah bahwa pembelajaran akan lebih bermakna jika diawali
dengan adanya keinginan kuat (individu dan kelompok) untuk mencapai
tujuan utamanya (ultimate goal) sebagai pengaruh dari
pemahaman terhadap hasil belajar; dan pembelajaran akan lebih
bermakna jika ada suasana dimana anggota-anggotanya (baca:lingkungan)
mendorong untuk belajar dan mengeksplor potensi yang ada.
Berbagai kasus negatif di kalangan pelajar kita, dalam konteks ini
karena mereka tidak merasakan perlunya belajar dan apa yang akan
diperoleh saat mereka selesai menempuh satu jenjang pendidikan
(paling hanya ijazah dan sedikit kompetensi) maka saat itu juga
belajar telah kehilangan makna yang sesungguhnya sebagai proses
menjadikan manusia lebih manusiawi lagi.
===================================
Mahasiswa Pasca
Sarjana STAIN Pontianak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar