Jumat, 20 Desember 2013

Ketika Belajar Sudah Kehilangan Makna

Oleh Sholihin H.Z.**

Belajar secara umum diartikan sebagai perubahan pada individu yang terjadi melalui sebuah proses. Sebagai sebuah proses, belajar dapat terjadi melalui banyak cara baik disengaja maupun tidak disengaja dan menuju pada suatu perubahan pada diri pembelajar. Untuk memperjelas pemahaman ini, maka para ahli, dalam hal ini Benjamin Bloom merumuskan konsep belajar ini ke dalam tiga ranah yang dikenal dengan tiga kawasan (domain) yaitu domain kognitif (kemampuan intelektual), afektif (kemampuan sikap dan penataan aspek emosional) dan psikomotor (kemampuan motorik). (dikutip Faturrahman, Ahmadi, Amri dan Setyono, 2012).
Demikian juga konsep belajar menurut pandangan Jerome S. Bruner yang menyebutkan bahwa proses belajar dapat dibedakan dalam tiga fase yaitu informasi, transformasi dan evaluasi. (dikutip Faturrahman dkk, 2012:10). Dalam tataran ini dapat difahami bahwa untuk terjadinya proses pembelajaran maka tahap pertama yang pasti dilewati adalah adanya pemberian informasi baik informasi lisan, tulisan maupun bentuk dan gerak, ketika itu sudah mengendap di alam sadar manusia maka ada kecenderungan untuk ditransformasikan menjadi sebuah action, evaluasi dapat dilakukan baik saat proses belajar sedang berjalan (evaluasi proses) maupun saat proses belajar selesai secara utuh (evaluasi hasil).
Dalam teori behaviorisme dikenal prinsip hukum belajar yaitu belajar akan berhasil apabila individu memiliki kesiapan untuk melakukan perbuatan tersebut, belajar akan berhasil apabila banyak latihan dan belajar akan bersemangat apabila mengetahui dan mendapat hasil yang baik. Tulisan ini berusaha untuk menekankan pada hal yang terakhir bahwa belajar akan dapat berlangsung dengan baik manakala kita tahu apa hasil dari proses pembelajaran tersebut.
Coba anda perhatikan, apa yang dilakukan oleh seorang anak manakala ia sedang belajar sepeda dan kemudian terjatuh, bangkit dan belajar lagi, terjatuh lagi. Apakah setelah terjatuh, entah detik itu juga, esok dan seterusnya ada perasaan menyesal dalam hatinya dan menyatakan bahwa ia tidak akan belajar sepeda lagi? Jawabannya pasti tidak, anak tersebut tidak akan berhenti belajar sepeda, meskipun jatuh belasan kali. Apa yang mendorong anak ini begitu kuat dan bersemangat untuk belajar bersepeda? Ini dikarenakan ia faham, bahwa banyak keuntungan yang dapat diperolehnya jika ia bisa bersepeda.
Ada beberapa hal yang dapat kita maknai dari ilustrasi di atas. Bahwa anak ini (mungkin) tidak memahami belajar sebagai sebuah pengertian, tapi ia yakin bahwa dengan kepandaiannya bersepeda banyak kemudahan yang diperolehnya. Makna lainnya adalah adanya antusiasme yang tinggi untuk mengetahui, memahami dan menghayati arti belajar. Dan antusiasme ini sebagaimana disebutkan Muhammad Fauzhil Adhim (2006:263) adalah: “Jauh lebih penting daripada keterampilan itu sendiri. Sebab antusiasme yang tinggi dapat membangkitkan semangat sehingga belajar menjadi lebih mudah dan bermakna,”.
Jadi, jelaslah bahwa pembelajaran akan lebih bermakna jika diawali dengan adanya keinginan kuat (individu dan kelompok) untuk mencapai tujuan utamanya (ultimate goal) sebagai pengaruh dari pemahaman terhadap hasil belajar; dan pembelajaran akan lebih bermakna jika ada suasana dimana anggota-anggotanya (baca:lingkungan) mendorong untuk belajar dan mengeksplor potensi yang ada.
Berbagai kasus negatif di kalangan pelajar kita, dalam konteks ini karena mereka tidak merasakan perlunya belajar dan apa yang akan diperoleh saat mereka selesai menempuh satu jenjang pendidikan (paling hanya ijazah dan sedikit kompetensi) maka saat itu juga belajar telah kehilangan makna yang sesungguhnya sebagai proses menjadikan manusia lebih manusiawi lagi.
===================================
Mahasiswa Pasca Sarjana STAIN Pontianak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar