Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Waterman (dikutip
Siti Irene Astuti Dwiningrum, 2011) menyebutkan bahwa keterlibatan
orang tua memberikan pengaruh positif terhadap kemajuan anak dan
sekolah. Disebutkan demikian:
“The impact of parent school involvement on chilled
outcome ...does such involvement increase chilled self esteem, inform
pasret of school curricula nd expectations, or increase paresnt's
sense of their importance in their school careers”.
Keterlibatan orang tua (dan masyarakat) inilah yang
dinamakan sebagai partisipasi edukatif. Partisipasi edukatif dimaknai
sebagai bentuk keterlibatan orang tua (keluarga) dan masyarakat dalam
meningkatkan mutu pendidikan. Setidaknya ada dua pengertian yang
dapat ditangkap dari term ini, yaitu partisipasi edukatif hanya
sebatas kerjasama dibidang pendidikan yang sifatnya teknis dan kaku.
Kehadiran anak di sekolah tepat waktu, mengikuti tata tertib yang
berlaku dan sebagainya adalah contoh kecil partisipasi orang tua dan
masyarakat. Pengertian yang kedua dan ini yang mendasar, bahwa dengan
hadirnya anak di sekolah bukanlah dalam arti menyerahkan sepenuhnya
persoalan mendidik dan membina anak kepada pihak sekolah. Orang tua
dan masyarakat harus lebih memainkan peranannya (dalam istilah
pembelajaran di kelas disebut dengan metode role playing
atau bermain peran). Kerjasama yang dibangun harus merupakan
kerjasama pola pikir, pola sikap dan kesamaan tujuan yang dibingkai
oleh nilai-nilai pendidikan yang sejalan dan berbanding lurus dengan
nilai-nilai yang diajarkan di keluarga maupun masyarakat.
Partisipasi dari kedua
lingkungan ini merupakan prasyarat penting bagi peningkatan mutu.
Partisipasi sebagai proses interaksi sosial dilakukan oleh individu
yang interdependensi, yaitu antara siswa, guru, orang tua dan
masyarakat. Namun, ada juga sekolah yang mengalami hambatan dan
kendala dalam memerankan dan memposisikan diri sebagai mediator antar
lingkungan pendidikan. Munculnya berbagai kendala partisipasi ini
dikarenakan beberapa hal, sebagaimana disebutkan dalam buku
Desentralisasi dan Partisipasi Masyarakat dalam Pendidikan (
Dwiningrum, 2011:198), yakni: a) budaya paternalisme yang dianut oleh
masyarakat menyulitkan untuk melakukan diskusi secara terbuka; b)
apatisme karena selama ini masyarakat jarang dilibatkan dalam
pembuatan keputusan oleh pemerintah daerah; c) tidak adanya trust
masyarakat kepada pemerintah.
Solusi yang ditawarkan dalam memecah kebuntuan dan
mengurai bentuk partisipasi masyarakat. Solusi yang ditawarkan adalah
bahwa partisipasi yang dikembangkan dapat diklasifikasi menjadi
partisipasi non fisik dan partisipasi fisik. Sejalan dengan itu,
Ndraha (dikutip Dwiningrum, 2011) membagi bentuk partisipasi ini ke
dalam dua bentuk, yaitu partisipasi profesional dan parsial.
Partisipasi profesional diartikan sebagai partisipasi yang dilakukan
sepanjang pelaksanaan suatu program dan partisipasi parsial sebagai
partisipasi yang dilakukan dalam satu atau beberapa fase.
Jelaslah, bahwa partisipasi sebagai rantai pengikat
lingkungan pendidikan memainkan peranan yang berarti. Dengan sebuah
ekspektasi bahwa sekolah tidak menjadi menara gading dengan berbagai
kelebihannya dan keluarga dan masyarakat menjadi pengikat anak-anak
dan sekolah agar selalu tetap membumi.
Dengan adanya partisipasi edukatif ini diharapkan bahwa
proses mendewasakan anak adalah merupakan bagian dari tanggung jawab
bersama orang tua, guru dan masyarakat untuk memberikan perhatian dan
apresiasi kepada anak sebagai dukungan sosial yang dibutuhkan anak
untuk dapat tumbuh secara baik, berkembang secara optimal dan
berprestasi secara terhormat.
Di tengah gencarnya arus informasi dan canggihnya
teknologi saat ini, setuju atau tidak, partisipasi edukatif ini
menjadi sebuah keniscayaan, dalam arti sejauh mana kita membuat frame
kontrol, pengawasan dan pembinaan tentu dengan tidak menafikan
tuntutan zaman di era ini. Yang terpenting adalah bahwa menjadi
ekspektasi bersama, generasi masa depan bukanlah generasi yang split
of personality dikarenakan tidak adanya kesatuan kata, kesamaan
visi dan kekompakan langkah menuju generasi yang berprestasi,
generasi yang cerdas intelektualnya, cerdas emosionalnya dan cerdas
spiritualnya. Semoga!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar