Jumat, 20 Desember 2013

PARTISIPASI EDUKATIF






Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Waterman (dikutip Siti Irene Astuti Dwiningrum, 2011) menyebutkan bahwa keterlibatan orang tua memberikan pengaruh positif terhadap kemajuan anak dan sekolah. Disebutkan demikian:
The impact of parent school involvement on chilled outcome ...does such involvement increase chilled self esteem, inform pasret of school curricula nd expectations, or increase paresnt's sense of their importance in their school careers”.

Keterlibatan orang tua (dan masyarakat) inilah yang dinamakan sebagai partisipasi edukatif. Partisipasi edukatif dimaknai sebagai bentuk keterlibatan orang tua (keluarga) dan masyarakat dalam meningkatkan mutu pendidikan. Setidaknya ada dua pengertian yang dapat ditangkap dari term ini, yaitu partisipasi edukatif hanya sebatas kerjasama dibidang pendidikan yang sifatnya teknis dan kaku. Kehadiran anak di sekolah tepat waktu, mengikuti tata tertib yang berlaku dan sebagainya adalah contoh kecil partisipasi orang tua dan masyarakat. Pengertian yang kedua dan ini yang mendasar, bahwa dengan hadirnya anak di sekolah bukanlah dalam arti menyerahkan sepenuhnya persoalan mendidik dan membina anak kepada pihak sekolah. Orang tua dan masyarakat harus lebih memainkan peranannya (dalam istilah pembelajaran di kelas disebut dengan metode role playing atau bermain peran). Kerjasama yang dibangun harus merupakan kerjasama pola pikir, pola sikap dan kesamaan tujuan yang dibingkai oleh nilai-nilai pendidikan yang sejalan dan berbanding lurus dengan nilai-nilai yang diajarkan di keluarga maupun masyarakat.
Partisipasi dari kedua lingkungan ini merupakan prasyarat penting bagi peningkatan mutu. Partisipasi sebagai proses interaksi sosial dilakukan oleh individu yang interdependensi, yaitu antara siswa, guru, orang tua dan masyarakat. Namun, ada juga sekolah yang mengalami hambatan dan kendala dalam memerankan dan memposisikan diri sebagai mediator antar lingkungan pendidikan. Munculnya berbagai kendala partisipasi ini dikarenakan beberapa hal, sebagaimana disebutkan dalam buku Desentralisasi dan Partisipasi Masyarakat dalam Pendidikan ( Dwiningrum, 2011:198), yakni: a) budaya paternalisme yang dianut oleh masyarakat menyulitkan untuk melakukan diskusi secara terbuka; b) apatisme karena selama ini masyarakat jarang dilibatkan dalam pembuatan keputusan oleh pemerintah daerah; c) tidak adanya trust masyarakat kepada pemerintah.
Solusi yang ditawarkan dalam memecah kebuntuan dan mengurai bentuk partisipasi masyarakat. Solusi yang ditawarkan adalah bahwa partisipasi yang dikembangkan dapat diklasifikasi menjadi partisipasi non fisik dan partisipasi fisik. Sejalan dengan itu, Ndraha (dikutip Dwiningrum, 2011) membagi bentuk partisipasi ini ke dalam dua bentuk, yaitu partisipasi profesional dan parsial. Partisipasi profesional diartikan sebagai partisipasi yang dilakukan sepanjang pelaksanaan suatu program dan partisipasi parsial sebagai partisipasi yang dilakukan dalam satu atau beberapa fase.
Jelaslah, bahwa partisipasi sebagai rantai pengikat lingkungan pendidikan memainkan peranan yang berarti. Dengan sebuah ekspektasi bahwa sekolah tidak menjadi menara gading dengan berbagai kelebihannya dan keluarga dan masyarakat menjadi pengikat anak-anak dan sekolah agar selalu tetap membumi.
Dengan adanya partisipasi edukatif ini diharapkan bahwa proses mendewasakan anak adalah merupakan bagian dari tanggung jawab bersama orang tua, guru dan masyarakat untuk memberikan perhatian dan apresiasi kepada anak sebagai dukungan sosial yang dibutuhkan anak untuk dapat tumbuh secara baik, berkembang secara optimal dan berprestasi secara terhormat.
Di tengah gencarnya arus informasi dan canggihnya teknologi saat ini, setuju atau tidak, partisipasi edukatif ini menjadi sebuah keniscayaan, dalam arti sejauh mana kita membuat frame kontrol, pengawasan dan pembinaan tentu dengan tidak menafikan tuntutan zaman di era ini. Yang terpenting adalah bahwa menjadi ekspektasi bersama, generasi masa depan bukanlah generasi yang split of personality dikarenakan tidak adanya kesatuan kata, kesamaan visi dan kekompakan langkah menuju generasi yang berprestasi, generasi yang cerdas intelektualnya, cerdas emosionalnya dan cerdas spiritualnya. Semoga! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar