Guru adalah komponen penting dalam pendidikan. Meskipun
sebenarnya siapapun dan apapun dapat dijadikan guru sebagai salah
satu sumber ilmu, namun guru dalam arti sebenarnya adalah seseorang
yang menyiapkan waktunya untuk ditularkan ilmunya dan selalu
berkembang adalah mereka yang memiliki keahlian dalam bidangnya,
mereka yang minat dengan pengembangan dirinya yang diharapkan darinya
akan dapat mentransfer, memotivasi dan menginspirasi anak-anak didik
dan lingkungannya. Hasbullah mengutip Coser dan Webster (2011:9)
bahwa pendidikan adalah “ ... is the
deliberate, formal transfer of knwoledge, skill and values from one
person to another”
dan “ ...is the process of training
and developing the knowledge, skill, mind, character etc especially
by formal schooling”. Ini
menunjukkan bahwa dalam proses pendidikan ada pendidik yang berfungsi
sebagai pelatih, pengembang dan pewaris nilai-nilai. Singkatnya,
guru yang profesional sangat diperlukan. Perumpamaan yang sering
penulis kemukakan adalah bahwa untuk menghasilkan menu yang istimewa
harus disiapsajikan oleh koki yang handal pula.
Dalam kebijakannya, pemerintah telah menyediakan faktor-faktor
penunjang dalam rangka tercetaknya guru yang profesional, adanya
program sertifikasi (TFG, TPG) adalah bagian dari meningkatkan mutu
dan kualitas sebuah profesi dalam hal ini profesi guru. Mulia dan
sangat bermanfaat program ini bagi guru-guru yang memiliki hasrat
terus berkembang dan punya keinginan untuk maju, namun juga ada yang
terkesan jalan di tempat, kalaupun ada sebatas pemenuhan kebutuhan
yang sifatnya konsumtif dan sesaat. Penulis yakin, guru-guru yang
melanjutkan pendidikannya baik ke jenjang S1 maupun S2, salah satunya
pijakan kuatnya adalah adanya program sertifikasi dan sejenisnya ini.
Antara
Beban Kerja dan Sertifikasi
Setidaknya ada lima tugas guru sebagai sebuah profesi yaitu 1)
membuat perencanaan pembelajaran; 2) melaksanakan pembelajaran; 3)
menilai hasil pembelajaran; 4) membimbing dan melatih siswa serta 5)
melaksanakan tugas tambahan. Melihat tugas pokok ini maka dapat
dicermati lebih pada proses pembelajaran yang dilakukan di lingkungan
sekolah. Artinya, segala hal yang berhubungan dengan ketentuan dan
aturan di sekolah juga menjadi aturan bagi guru itu sendiri.
Jelasnya, sebagai seorang guru, maka hal-hal di atas sudah semestinya
untuk diselesaikan dengan baik.
Ada pemandangan yang menarik di sekolah-sekolah, ketika ada informasi
sertifikasi dan sejenisnya, guru-guru seakan-akan terlihat lebih
dinamis dan aktif. Dinamis dan aktif kelihatannya karena tidak ada
guru yang berdiam diri, ada yang ke almamaternya untuk legalisasi
ijazah, menghubungi pengawas, legalisasi buku rekening, persiapan
berkas untuk supervisi dan sebagainya yang terkadang menyita waktu
guru untuk melaksanakan tugas pokoknya. Persoalan muncul ketika
bersamaan antara jam tatap muka (JTM) dan pemenuhan persyaratan
administrasi dengan dead line-nya.
Hal ini sangat terasa sekali bagi sekolah-sekolah yang serba
terbatas, baik terbatas kompetensi dan kemampuannya maupun
keterbatasan tenaga administrasinya belum lagi kadang adanya
perubahan persyaratan dalam rangka pencairan tunjangan tersebut.
Dampaknya, sekali lagi, terpecahnya konsentrasi guru di satu sisi
harus memenuhi ketentuan birokrasinya dan disisi lain untuk
kepentingan masa depan (?) dan kesejahteraannya. Dan efek lainnya
adalah pada siswa itu sendiri.
Data sebagai bahan olah administrasi memang diperlukan, apalah
artinya sebuah lembaga (apalagi sekolah) jika sistem administrasinya
tidak jelas namun dengan mengorbankan instrumen lain (siswa,
terganggunya JTM) maka dari sisi ini, persyaratan dapat
diminimalisir, setidaknya hal-hal yang tergolong suplemen.
Penulis hanya ingin mengemukakan bahwa beban kerja yang seharusnya
melekat pada profesi guru semestinya tidak banyak terganggu oleh
persoalan-persoalan administratif yang justru ini akan berdampak pada
proses belajar mengajar di kelas. Jika terjadi dan dibiarkan,
sebenarnya kita sedang menuju peningkatan kualitas guru, siswa dan
sekolah ataukah sebaliknya?!
======================
Tidak ada komentar:
Posting Komentar