Khutbah
Idul Adha 15 Oktober 2013
Masjid Nurul Hidayah Jalan Wan Sagaf Kota Pontianak
اللهُ اَكْبَرْ (3×) اللهُ اَكْبَرْ (×3)اللهُ اَكبَرْ (×3
اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَر وَ للهِ اْلحَمْدُ
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِيْنَ عِيْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِياَمِ رَمَضَانَ وَعْيدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ يَوْمِ عَرَفَةَ. اللهُ اَكْبَرْ (3×) اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ اْلمَلِكُ اْلعَظِيْمُ اْلاَكْبَرْ وَاَشْهَدٌ اَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ اَذْهَبَ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهَّرْ
اَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُوااللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Kaum
Muslimin Muslimat, Jamaah Sholat Idul Adha Rahimakamullah!
PADA hari yang penuh
berkah ini, patutlah kita bersyukur kepada Allah yang telah
melimpahkan nikmat-Nya kepada kita lahir dan batin, yang menerangi
hati dari kege-lapan, menuntun jiwa dari kebingungan, dan menunjuki
akal dari kesesatan, sehingga kita tetap terpilih sebagai pemeluk
Islam.
Shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu
‘alaihi wasallam yang telah diutus Allah bagi seluruh alam,
sebagai uswah hasanah (tauladan terbaik) bagi manusia. Tidak
ada riwayat hidup manusia, tokoh apa pun di dunia ini yang ditulis
sedetail dan sejelas riwayat hidup Muhammad shallallahu ‘alaihi
wasallam; Tidak ada aib, dan tidak ada hal yang jahat yang
membuat kita malu maupun takut untuk menampilkannya. Karena itu
mengikuti ucapan dan menaati perbuatan beliau merupakan amal shalih.
Oleh karena itu, kita ridha Islam sebagai agama dan Nabi Muhammad
sebagai Rasul-Nya. Marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan taqwa
yang sebenar-benarnya. Sesungguhnya tujuan segala ibadah di dalam
Islam adalah taqwallah, yang dilakukan dengan cara membersihkan jiwa
dari segala bentuk kesyirikan dan meneranginya dengan dzikrullah.
Kaum
Muslimin, Jamaah Sholat Idul Adha Yang dirahmati Allah SWT
Betapa besar karunia
Allah Ta’ala
kepada
kita semua. namun lebih banyak yang luput dari kesadaran kita.
Marilah kita
renungkan betapa banyak kedurhakaan kita kepada-Nya. Kita terlalu
berani untuk meninggalkan sholat, kita terlalu berani untuk tidak
menutup aurat, kita terlalu berani untuk menyia-nyiakan amanat, baik
amanat Allah maupun amanat rakyat, kita terlalu terlalu berani dan
terlalu berani untuk melanggar aturan syariat Allah SWT.
Namun Allah SWT
dengan segala KemahabesaranNya, hari ini, Ia masih mengizinkan kita
untuk sekali lagi bersujud kepadaNya, untuk sekali lagi bertakbir dan
bertahlil mengagungkan namaNya, dan untuk sekali lagi bertaubat
kepadaNya. Allahu Akbar-Allahu Akbar-Allahu Akbar Walillahul hamd.
Kaum
Muslimin!
Kita tidak pernah
tahu, boleh jadi inilah sujud terakhir kita padaNya di dunia ini.
Inilah takbir dan tahlil terakhir kita untukNya. Dan inilah taubat
kita untuk terakhir kalinya kepadaNya.
Allahu
Akbar-Allahu Akbar-Allahu Akbar Walillahul hamd.
Kaum
muslimin rahimahukumullah!
Idul Adha akan
selalu mengingatkan kita pada sosok Ibrahim alaihissalam
dan
keluarganya. Hari ini, di saat jutaan kaum muslimin bergegas
menyelesaikan prosesi ibadah haji yang agung, di tanah air ini, kita
duduk sejenak untuk merenungkan pelajaran-pelajaran yang dititipkan
Allah kepada kita melalui kisah monumental Nabi Ibrahim dan
keluarganya ‘alaihimussalam.
Allah
Ta’ala
berfirman:
قَدْ
كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي
إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ
مَعَهُ
“Sungguh
bagi kalian terdapat teladan yang baik dalam (diri) Ibrahim dan
orang-orang yang bersamanya…” (al-Mumtahanah:
4)
Sosok Ibrahim
‘alaihissalam
adalah
teladan pengorbanan yang tulus. Nabi Ibrahim mengajarkan kepada kita
bahwa seorang mukmin harus sepenuhnya hidup untuk sebuah obsesi dan
cita-cita yang tinggi. Bahwa obsesi dan cita-cita seorang mukmin
tidak akan pernah terhenti hingga ia menjejakkan kakinya di dalam
Surga dan rihdonya Allah. Obsesi dan cita-cita itulah yang membuatnya
rela melakukan pengorbanan demi pengorbanan di kehidupan dunia yang
terlalu singkat ini.
Nabi Ibrahim
‘alaihissalam
mengajarkan
kepada kita bahwa obsesi dan cita-cita hidup kita sepenuhnya harus
selalu diukur dengan keridhaan dan kecintaan Allah Azza
wa Jalla. Apa
yang diridhai dan dicintai oleh Allah dan RasulNya, maka itulah
obsesi dan cita-cita kita. Jika tidak, maka obsesi dan cita-cita itu
harus segera kita hapus dan buang jauh-jauh dari kehidupan kita.
Karena obsesi dan cita-cita yang tidak diridhai oleh Allah Ta’ala
hanya
akan membawa kehidupan kita dalam serial malapetaka dan kehancuran
yang tidak akan habisnya.
Maka demi obsesi dan
cita-cita tertingginya akan Surga, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam
melintasi
gurun sahara yang kering, di bawah cengkraman terik matahari dan
pelukan malam-malam yang dingin. Dan ia tidak sendiri dalam
perjalanan itu. Istri dan bayi mungilnya ikut menyertainya dalam
perjalanan penuh obsesi itu. Obsesi akan Ridhanya Allah SWT.
Bayangkanlah,
hadirin sekalian, betapa tidak mudahnya perjalanan itu! Tapi inilah
caranya untuk membuktikan kepada Allah Azza
wa Jalla bahwa
mereka sungguh-sungguh dengan obsesi tentang ridhoNya Allah SWT. Dan
kita semua tentu mengetahui bahwa pengorbanan Nabi Ibrahim dan
keluarga kecilnya itu tidak berhenti sampai di situ.
Pertanyaan
pentingnya untuk kita semua adalah:
Sudahkah
obsesi dan cita-cita hidup kita sepenuhnya untuk Allah?
Jika
jawabannya adalah iya, maka seberapa besar sudah pengorbanan yang
kita tunjukkan kepadaNya untuk itu?
Bersyukurlah jika
tahun ini kita ikut menyembelih hewan kurban, tapi untuk obsesi
meraih ridho Allah, tentu harus lebih dari itu!
Dalam konteks
pengorbanan ini pula, maka kita teringat kepada kisah heroik Keluarga
Yasir di awal Islam, saat mereka melewati penyiksaan demi penyiksaan
atas komitmen keislaman mereka, lalu Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam menghibur
mereka dengan mengatakan:
صَبْرًا
يَا آلَ يَاسِرٍ ، فَإِنَّ
مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّةُ
“Bersabarlah,
wahai Keluarga Yasir! Karena sesungguhnya janji pertemuan kalian
adalah Surga.”
Allahu
Akbar-Allahu Akbar-Allahu Akbar Walillahul Hamd
Kaum
muslimin yang berbahagia!
Hingga detik ini,
negeri kita yang mayoritas muslim ini terus-menerus menjadi panggung
tempat dipentaskannya berbagai macam krisis dan tragedi akhlak dan
moral yang memilukan.
Kisah-kisah para
pejabat negara yang korupsinya tidak pernah puas, pembasmian korupsi
seperti lebih sering menemukan jalan buntu, namun penangkapan dengan
dalih terorisme begitu sering mengukir prestasi.
Begitulah, ternyata
krisis moral dan akhlak telah melanda orang-orang tua di negeri ini.
Lalu bagaimana dengan generasi mudanya?
Menurut catatan PKBI
(Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) Kalimantan Timur,
sepanjang tahun 2008 saja dari sekitar 300 lebih responden yang
diteliti (Pelajar SMP dan SMA), sebagian besar di antaranya sudah
sering berzina, bahkan ada yang sudah hamil.
Sekitar 14 % dari
mereka melakukan perbuatan amoral (zina) itu di lingkungan sekolah,
sedangkan 28 % dari mereka melakukannya di rumah. Sisanya, di tempat
rekreasi dan di hotel-hotel.
Dan semua itu adalah
fenomena gunung es. Sedikit yang terungkap, dan lebih banyak lagi
yang tidak terungkap.
Kita juga tentu
mengikuti fenomena tawuran antar pelajar dan mahasiswa yang
seringkali disebabkan oleh hal-hal remeh yang tidak masuk di akal.
Kenyataan dan fakta
ini tentu saja membuat kita bertanya: Mengapa itu semua terjadi?
Dalam konteks
perjuangan Nabi Ibrahim, kita dapat mengatakan bahwa banyak generasi
tua dan generasi muda telah kehilangan obsesi dan cita-cita hidup
yang sesungguhnya.
Mereka semua mungkin
tahu bahwa korupsi, berzina dan melakukan kezhaliman itu dosa. Tapi
lemahnya obsesi dan cita-cita akhirat, membuat mereka takluk tak
berdaya pada godaan dunia yang menghancurkan masa depan akhirat
mereka.
Karena obsesi
semacam ini pula, banyak orang tua yang lupa bahwa anak-anak
mempunyai kebutuhan yang jauh lebih besar daripada uang dan materi.
Putra-putri dibekali dengan kendaraan yang mewah, alat komunikasi
yang paling canggih dan gaya hidup yang glamour. Dari itu semua,
nilai terpenting yang sebenarnya dibutuhkan untuk mendidik dan
membimbing putra-putri kita adalah dengan memberikan pendidikan
agama, dengan belaian cinta dan bimbingan penuh kasih sayang dari
orang tua.
Pendidikan agama
yang bagaimana yang dimaksud, sederhananya, sangat sederhana adalah
bagaimana orang tua dan keluarga di rumah mengontrol jam sholatnya,
mengajarkannya menutup aurat bagi yang perempuan dengan jilbab yang
benar, bukan jilbab sekedar mode, bukan berjilbab dengan pakaian yang
ketat dan menampakkan bentuk tubuh, bukan berjilbab dengan berpelukan
akrab di atas kendaraan dan sebagainya.
Sebelum pendidikan
agama di arahkan maka mutlak orang tua harus mampu menjadi contoh dan
bukan sekedar memberi contoh. Masalahnya adalah, banyak orang
tua yang memiliki anak yang tidak faham dengan tugas dan
tanggungjawabnya sebagai pembimbing dunia dan akhirat bagi
keselamatan hidup anak-anaknya.
Nabi Ibrahim as telah memberikan
contoh bagaimana mendidik anak agar kelak terbentuk pribadi yang taat
kepada Allah, sopan kepada orang tua dan santun dalam bersikap.
Allahu
akbar, Allahu akbar walillahilhamd!
Kaum
muslimin yang dimuliakan Allah!
Sekali lagi, marilah
belajar dari Nabi Ibrahim alaihissalam.
Beliau
adalah teladan bagi setiap orang tua yang menyayangi anaknya. Beliau
mengajarkan kepada kita cara yang benar dalam menyayangi anak kita.
Bukan dengan memuaskan segala permintaannya, tapi dengan mendekatkan
mereka kepada Allah dengan penuh hikmah dan kelembutan.
إِنَّ
إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ
“Sesungguhnya
Ibrahim itu adalah seorang yang lembut, pengasih dan selalu kembali
(kepada Allah).” (Hud:
75)
Inilah
sifat dan karakter dasar yang harus dimiliki oleh setiap orang tua:
lemah lembut, pengasih dan yang tidak kalah pentingnya: selalu
kembali dan bersandar kepada Allah yang Mahakuat.
Coba
renungkan doa yang dipanjatkan Ibrahim karena kecintaannya kepada
keluarga dan anak-anaknya:
وَإِذْ
قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا
الْبَلَدَ آَمِنًا وَاجْنُبْنِي
وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ
“Dan
ingatlah ketika Ibrahim berdoa: ‘Wahai Tuhanku, jadikanlah negeri
ini negeri yang aman dan jauhkanlah aku serta keturunanku dari
menyembah berhala…” (Ibrahim:
35)
رَبِّ
اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ
ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ
دُعَاءِ
“Wahai
Tuhanku, jadikanlah aku sebagai orang yang menegakkan shalat, beserta
keturunanku. Duhai Tuhan kami, terimalah doaku…” (Ibrahim:
40)
Kaum
muslimin yang berbahagia!
Demikianlah
kekhawatiran dan kegelisahan Ibrahim terhadap keturunannya. Karena
itu, seperti Nabi Ibrahim, seharusnya kita selalu khawatir jika
anak-anak kita akhirnya tidak lagi menyembah Allah dan menghambakan
diri kepada selain Allah. Seharusnya kekhawatiran anak kita tidak
shalat dan menjalankan perintah Allah lebih besar daripada saat ia
kehilangan karirnya.
Di sinilah Nabi
Ibrahim alaihissalam
–sekali
lagi- mengajarkan kepada kita untuk berani berkorban demi obsesi dan
cita-cita akhirat kita.
Allahu
akbar, Allahu akbar walillahilhamd
Hadirin
yang dimuliakan Allah!
Kepada mereka yang
mendapatkan amanah untuk memimpin dan mengatur negeri ini, mulai dari
level nasional hingga level lokal…Kepada aparatur peradilan dan
keamanan…Tunaikanlah amanah mengatur negeri ini dengan penuh rasa
takut kepada Allah. Jangan pernah berlaku zhalim sedikit pun, karena
itu –kata Rasulullah- akan menjadi kegelapan yang berlapis-lapis
pada hari kiamat. Renungkanlah selalu firman Allah Ta’ala
ini:
وَلَا
تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا
يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا
يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ
الْأَبْصَارُ
“Dan
jangan pernah sekalipun engkau menyangka Allah akan lalai dengan apa
yang dilakukan oleh orang-orang zhalim. Sungguh Allah hanya mengulur
mereka hingga hari di mana pandangan mata mereka terbelalak.”
(Ibrahim:
42)
Demikian
khutbah yang dapat khatib sampaikan, semoga kita dapat merenungkan
peristiwa yang terjadi dalam keagungan Adha ini.
Fastaghfiruh
Innahu huwal Ghafururrahim***
Khutbah
Kedua
Allahu
Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd
Kaum
muslimin yang berbahagia!
Hadirin
yang berbahagia!
Allahu
akbar, Allahu akbar, Allahu akbar walillahilhamd!
Akhirnya, di ujung
khutbah ini, marilah kita tundukkan hati dan jiwa serta seluruh tubuh
ini kepada Allah, untuk berdoa dengan penuh keikhlasan padaNya. Amin
Ya Robbal 'Alamin.
Allahuma
Lakal Hamdu Kulluhu
Walakasy
Syukru Kulluh
Wa
Ilaika Yurja'ul Amru Kulluhu
'Ala
Niyatuhu Wa Sirruh
Fa
Ahlun Anta An Tuhmad
Wa
Ahlun Anta An Tu'bad
Wa
Anta 'Ala Kulli Syai in Qadir
Lakal
Hamdu Hatta Tardho
Walakal
Hamdu Iza Rodhita
Walakal
Hamdu Ba'da Ridho
Duhai Allah yang
Maha pengasih, yang Mahalembut…kami tidak pernah sanggup menghitung
karuniaMu kepada kami, seperti kami tidak pernah sanggup menghitung
berapa banyak kedurhakaan kami kepadaMu. Seharusnya kami patuh pada
perintahMu, tapi kami lebih sering durhaka. Seharusnya kami jauhi
laranganMu, tapi kami lebih sering mengikuti hawa nafsu kami…
Duhai Allah yang
Maha Pengampun, tidak ada yang mampu mengampuni dan menutupi semua
dosa kami selain Engkau. Engkaulah Penguasa segalanya. Ampunilah
dosa-dosa kami, dosa-dosa yang berserakan di sepanjang hidup
kami…Ampuni kelalaian kami mengingatMu…Ya Allah.
Duhai Allah yang
Maha Melihat, yang Maha Mendengar…hari ini, untuk kesekian kalinya
kami menundukkan jiwa kami dan mengakui betapa seringnya kami durhaka
kepada kedua orang tua kami. Tidak jarang kami membantah dan
berbicara tidak pantas kepada mereka…Betapa seringnya kami
mengabaikan keperluan mereka…Betapa kami lebih mengutamakan teman
dan kolega kami daripada urusan mereka. Kami seringkali lupa bahwa
mereka-lah pintu kami memasuki Surga-Mu, ya Allah. Merekalah yang
menjadi asbab adanya kami di dunia ini Ya Allah. Bagi orang tua kami
yang telah meninggal, lapangkanlah kuburan mereka, terimalah amal
ibadahnya, tempatkanlah kedudukannya disisi Engkau ya Robbul 'Izzati.
Bagi kedua orang tua
kami yang masih hidup berikan kekuatan kepada kami dan kepada
keduanya untuk beramal shaleh …Ya Allah, izinkan kami untuk
berbakti sebaik mungkin kepada mereka hingga kehidupan kami berakhir
di dunia ini…
Ya Allah, yang Maha
perkasa dan Maha bijaksana…Nun jauh di sana, ratusan bahkan ribuan
saudara kami sedang melewati episode-episode prosesi ibadah haji yang
penuh berkah, jadikanlah prosesi ibadah haji yang saudara-saudara
kami jalani sebagai ujian keimanan, jadikanlah prosesi ibadah haji
sebagai langkah mendekatkan diri kepadaMu ya Rob, Jadikanlah
kedatangan mereka kembali ke tanah air sebagai hamba-Mu yang
bermanfaat bagi orang lain, yang semakin takut kepada-Mu dan menjadi
haji-haji yang mampu membawa kebaikan bagi dirinya, bagi keluarganya,
bagi jamaah surau dan masjidnya dan menjadi penerang dimanapun dia
berada..
Ya Allah, Zat Yang Maha Mengabulkan doa kabulkanlah doa kami,
penuhilah permintaan kami. Kami
adalah hamba-Mu yang lemah, harapan kami hanya kepadaMu, Engkau Maha
Mendengar, Engkaulah Penguasa satu-satunya Yang Haq, Engkaulah
sebaik-baik Pemberi yang diharap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar