Mahasiswa! Satu istilah yang cukup membanggakan dan “prestisius”,
namun sebenarnya sarat dengan nilai dan 1000 makna. Kebanggaan yang
melekat pada diri seorang mahasiswa, sebagai predikat tertinggi dari
sejumlah siswa. Istilah mahasiswa identik dengan sikapnya yang
kritis, idealis dan progresiv. Tidak ada yang lebih tinggi dari
predikat ini, siswa-mahasiswa, guru-mahaguru, dahsyat-maha dahsyat,
pemurah-maha pemurah.
Untuk mendekatkan persepsi kita, penulis hanya membatasi predikat ini
adalah mereka yang duduk di bangku kuliah. Dan dalam konteks inipun,
predikat ini ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan
nilai-nilai yang diembannya. Ada mahasiswa yang datang ke kampus
semata-mata untuk duduk di kelas, ikuti perkuliahan, pulang dan
kerjakan tugas. Titik. Tipe lain dari mahasiswa agak lebih luas,
ikuti perkuliahan, tugas dan aktif di organisasi, baik organisasi
intern kampus maupun OKP, Ormas, perkumpulan keilmuan dan sebagainya.
Dari sisi ini dipastikan akan ada pencerahan, setidaknya tambahan
wawasan hanya sejauh mana mahasiswa itu memaknai keberadaannya dalam
sebuah organisasi. Istilah yang sering penulis kemukakan adalah
keberadaan kita jangan sekedar masuk dalam daftar hitungan tapi harus
menjadi person yang
diperhitungkan. Dua istilah yang berdekatan tapi punya implikasi
nilai eksis yang berbeda. Jika yang pertama, keberadaannya sekedar
untuk menunjukkan bahwa dia ada secara fisik, rutinitas menjadi
konsep hidupnya, tidak hadir saat rapat, tidak demo saat unjuk rasa
dan hadir saat pemilihan pengurus baru adalah wujud dari kemampuannya
mengartikan hidup berorganisasi. Sementara terma yang kedua, ia sudah
selangkah lebih maju, kehadirannya benar-benar dirasakan dan “hadir”,
ibarat pepatah kepergiannya mengganjilkan dan kedatangannya
menggenapkan. Di saat ini, ia memerankan dirinya sebagai agent
of change dan agent of
development.
Sebagai kelompok minoritas yang bergelut dengan dunia akademis dan
keilmuan, maka keberadaannya sangat mudah dideteksi. Sebagai kelompok
intelektual, segala sikapnya -lebih-lebih di masyarakat, sangat
diharapkan. Ahmad Barizi (2011:105) mengelompokkan manusia kepada
tiga kelompok yakni manusia kritis, manusia reflektif dan manusia
integratif yang sebenarnya pembagian ini juga dapat dilekatkan kepada
mahasiswa itu sendiri.
Pertama, manusia kritis, manusia kritis ini digambarkan sebagai
manusia cerdas yang dapat mengidentifikasi dan mencari solusi bagi
mengatasi problematika kehidupan. Dalam hal ini mahasiswa menjadikan
diri dan posisinya yang dapat membantu masyarakat dalam mencari
solusi alternatif. Kedua, mahasiswa reflektif yaitu manusia cerdasa
dalam melibatkan dirinya membangun sebuah tatanan dan ketiga, manusia
integratif yaitu manusia cerdas yang mampu membangun relasi dan
jaringan (network) baik dengan sesama maupun dengan
lingkungannya.
Jika peran dan posisi ini dimainkan oleh mahasiswa, maka justru
masyarakat dan lingkungan lebih luas yang memerlukannya dan bukan
sebaliknya, kedatangannya dinggap sama dengan kepergiannya.
Jangan jadi mahasiswa biasa!
Semoga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar