Sabtu, 28 Desember 2013

Jangan Jadi Mahasiswa Biasa!



Mahasiswa! Satu istilah yang cukup membanggakan dan “prestisius”, namun sebenarnya sarat dengan nilai dan 1000 makna. Kebanggaan yang melekat pada diri seorang mahasiswa, sebagai predikat tertinggi dari sejumlah siswa. Istilah mahasiswa identik dengan sikapnya yang kritis, idealis dan progresiv. Tidak ada yang lebih tinggi dari predikat ini, siswa-mahasiswa, guru-mahaguru, dahsyat-maha dahsyat, pemurah-maha pemurah.
Untuk mendekatkan persepsi kita, penulis hanya membatasi predikat ini adalah mereka yang duduk di bangku kuliah. Dan dalam konteks inipun, predikat ini ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan nilai-nilai yang diembannya. Ada mahasiswa yang datang ke kampus semata-mata untuk duduk di kelas, ikuti perkuliahan, pulang dan kerjakan tugas. Titik. Tipe lain dari mahasiswa agak lebih luas, ikuti perkuliahan, tugas dan aktif di organisasi, baik organisasi intern kampus maupun OKP, Ormas, perkumpulan keilmuan dan sebagainya. Dari sisi ini dipastikan akan ada pencerahan, setidaknya tambahan wawasan hanya sejauh mana mahasiswa itu memaknai keberadaannya dalam sebuah organisasi. Istilah yang sering penulis kemukakan adalah keberadaan kita jangan sekedar masuk dalam daftar hitungan tapi harus menjadi person yang diperhitungkan. Dua istilah yang berdekatan tapi punya implikasi nilai eksis yang berbeda. Jika yang pertama, keberadaannya sekedar untuk menunjukkan bahwa dia ada secara fisik, rutinitas menjadi konsep hidupnya, tidak hadir saat rapat, tidak demo saat unjuk rasa dan hadir saat pemilihan pengurus baru adalah wujud dari kemampuannya mengartikan hidup berorganisasi. Sementara terma yang kedua, ia sudah selangkah lebih maju, kehadirannya benar-benar dirasakan dan “hadir”, ibarat pepatah kepergiannya mengganjilkan dan kedatangannya menggenapkan. Di saat ini, ia memerankan dirinya sebagai agent of change dan agent of development.
Sebagai kelompok minoritas yang bergelut dengan dunia akademis dan keilmuan, maka keberadaannya sangat mudah dideteksi. Sebagai kelompok intelektual, segala sikapnya -lebih-lebih di masyarakat, sangat diharapkan. Ahmad Barizi (2011:105) mengelompokkan manusia kepada tiga kelompok yakni manusia kritis, manusia reflektif dan manusia integratif yang sebenarnya pembagian ini juga dapat dilekatkan kepada mahasiswa itu sendiri.
Pertama, manusia kritis, manusia kritis ini digambarkan sebagai manusia cerdas yang dapat mengidentifikasi dan mencari solusi bagi mengatasi problematika kehidupan. Dalam hal ini mahasiswa menjadikan diri dan posisinya yang dapat membantu masyarakat dalam mencari solusi alternatif. Kedua, mahasiswa reflektif yaitu manusia cerdasa dalam melibatkan dirinya membangun sebuah tatanan dan ketiga, manusia integratif yaitu manusia cerdas yang mampu membangun relasi dan jaringan (network) baik dengan sesama maupun dengan lingkungannya.
Jika peran dan posisi ini dimainkan oleh mahasiswa, maka justru masyarakat dan lingkungan lebih luas yang memerlukannya dan bukan sebaliknya, kedatangannya dinggap sama dengan kepergiannya.
Jangan jadi mahasiswa biasa!
Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar