Jumat, 20 Desember 2013

TIGA HAL YANG TIDAK BISA DIBELI DENGAN UANG






Orang arif mengatakan ada tiga hal di dunia ini yang tidak bisa dibeli dengan uang. Bukan berarti harganya dalam nominal tidak mampu dibeli, namun tingginya nilai ini tidak dapat dihargakan dan disamakan dengan uang atau kecukupan materi lainnya. Ketiga hal itu adalah persahabatan, tidur nyenyak dan cinta kasih. Tulisan ini hanya mengangkat hal pertama dan terakhir mengingat ke dua hal ini akhir-akhir ini menjadi sesuatu yang langka dan sulit dicari.
Cukup banyak literatur yang membicarakan tentang persahabatan dengan berbagai variasinya. Diantaranya adalah karyanya DR. Dale Carnegie, How to Win Friends and Influence People (1979), yang merupakan buku teknik komunikasi bagaimana membuat dan mempertahankan dan menjadi sesuatu yang berarti tentang persahabatan. Juga dapat ditemukan pembahasan serupa karyanya Badroni Yuzirman dan Iim Ruysmasi (2012) dengan judul Keajaiban Tangan Di Atas (Keajaiban TDA).
Persabahatan atau kadang disebut dengan kesetiakawanan akan menjadi sesuatu yang tinggi nilainya, manakala didasari oleh adanya kesamaan persepsi dan kedekatan emosi antara satu dengan lainnya. Demikian juga jika kita katakan sebaliknya bahwa persahabatan tidak akan bertahan lama jika didasari oleh hal-hal yang cenderung bersifat materi. Rasa persahabatan ini tidak akan muncul dengan sendirinya, dan awal munculnya adalah dari adanya rasa kepercayaan. Demikian diucapkan oleh Brian Tracy dalam buku Keajaiban Tangan Di atas (dikutip Badroni Yuzirman dan Iim Ruysmasi, 2012).
Ada istilah, kalau berkawan dengan tukang minyak wangi kita akan tertular wanginya. Sementara kalau berkawan dengan tukang minyak, aroma tubuh kita juga akan sama dengan aroma tubuh si penjual minyak. Ini menunjukkan bahwa pertemanan akan menentukan karakter kita bahkan jauh dari itu, tidak hanya karakter tapi juga cara berpikir dan sikap yang akan kita ambil.
Lihatlah bagaimana seorang Henry Ford yang memulai karir bisnisnya dari nol. Namun dalam 10 tahun, Ford akhirnya mampu membenahi karir bisnisnya bahkan dalam 25 tahun ia mampu menjadikan dirinya sebagai salah satu orang terkaya di Amerika. Apakah Henry Ford sukses dengan sendirinya? Ternyata ia pernah berteman dekat orang-orang sukses sekaliber Harvey Firestone, John Burough dan Luther Burbank. Bukankah 80% kesuksesan seseorang dipengaruhi oleh sejauh mana ia menjalin hubungan kerja (network) dan kecerdasan interpersonal.
Bagaimana dengan cinta kasih? Ia merupakan sesuatu yang nature atau fitrah. Di dalamnya terkandung kekuatan yang maha dahsyat. Orang tua rela pergi pagi pulang malam semata-mata menghidupi anak dan isterinya, ini karena cinta; seorang ayah dengan sabar dan tekun setiap hari mengantar putra-putrinya ke sekolah, ini karena cinta; seorang suami ikhlas antar isterinya ke rumah sakit dari rumahnya yang jaraknya cukup jauh, ini karena cinta; demikian seseorang rela menyeberang lautan dan dikelilingi deburan ombak hanya karena ingin menuntut ilmu ke negeri yang jauh, ini karena cinta, cinta kepada ilmu dan masih banyak lagi. Yang pasti cinta adalah sebuah anugerah yang dapat membuat seseorang berbuat lebih dari adanya, cenderung irrasional tetapi nyata.
Yang kita khawatirkan adalah manakala rasa itu mulai menipis dan semakin jauh dari goresan hati kita. Diceritakan suatu hari Nabi Muhammad SAW ditemani seorang sahabatnya bertemu dengan sekumpulan anak-anak yang sedang bermain, kemudian beliau mencium salah satu kepala anak tersebut dan mendoakannya. Dengan heran, teman beliau berujar, ya Rasul, sungguh aku mempunyai 10 orang anak tapi tidak satupun yang ku lakukan seperti yang anda lakukan, Nabipun menasehati dengan mengatakan jangan sampai rasa cinta kita hilang dari dada kita. Sungguh dalam makna ucapan beliau dan terlalu banyak alasan dan argumen tentang kekuatan cinta ini. Dan, kekerasan yang ditayangkan di TV, anarkis yang menjadi tontonan tiap hari serta luapan kebencian yang tiada bertepi dikarenakan rasa cinta ini mulai kabur dan suram, ia tidak lagi berada di tempat yang sesungguhnya.
Jika rasa ini sudah tidak ada lagi, sungguh petaka apa jadinya negeri ini, ditempati anak-anak yang kosong dari rasa simpati dan empati. Tetapi semoga ia tidak terjadi.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar