Jumat, 20 Desember 2013

MENGEMBANGKAN PENDIDIKAN HUMANISTIK


(Dimuat di Harian Borneo Tribune Pontianak)




Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam suatu sistem pendidikan. Kemana dan apa tujuan pendidikan, bagaimana cara melaksanakan dan apa serta siapa saja yang terlibat dalam proses pendidikan, dapat diketahui dari kurikulum yang dirancang. Kurikulum adalah sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan. Rakhmat Hidayat (2011:85) menyebutkan kurikulum sebagai jantung pendidikan. Kurikulum sangat mewarnai konstruksi dan wajah pendidikan suatu masyarakat. Bahkan lebih jauh disebutkan kurukulum berkaitan dengan kepentingan politik penguasa. Meskipun agak sulit untuk melepaskan pembicaraan tentang kurikulum dengan kondisi politik suatu masyarakat, tetapi sudah semestinya suatu kurikulum harus dirancang secara komprehensif, integratif, berimbang antara berbagai tujuan pendidikan, dan adaptif serta bervisi kedepan, dan bukan semata-mata karena kepentingan politis. Disinilah letak urgensinya merancang dan medesain sebuah kurikulum, dengan demikian dapat difahami bahwa kesalahan atau ketidakcermatan mendesain kurikulum akan berdampak jauh di masa yang akan datang.
Pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia, atau terminologi lainnya sebagai usaha mendewasakan manusia, maka membicarakan manusia sebagai sesuatu yang harus dimanusiakan pada hakikatnya membicarakan tentang kurikulum. Namun, dalam perjalanannya ternyata kurikulum tidak semuanya menempatkan manusia sebagai subyek pendidikan.
Para ahli membagi kurikulum ke dalam empat model kurikulum. Empat model konsep kurikulum itu adalah kurikulum subjek akademis, kurikulum humanistik, kurikulum rekonstruksi sosial, dan kurikulum teknologis. Nampak sekali perbedaan antara model kurikulum subyek akademis dan humanistik. Perbedaannya adalah jika model kurikulum subyek akademik menempatkan peserta didik sebagai target utama yang harus diberikan materi sebanyak-banyak untuk dikuasai sebagaimana istilah model itu sendiri, maka kurikulum humanistik adalah mengembangkan peserta didik menjadi pribadi yang mandiri.
Pendidikan menemukan artinya sendiri dan lebih bermakna manakala output dan outcome peserta didik dapat menghasilkan siswa yang mandiri dan berdikari. Kemampuan menyelesaikan persoalan dan tidak overdependensi menjadi hakikat dari adanya pendidikan itu sendiri.
Pendidikan dengan model kurikulum humanistik mendasarkan konsepnya pada bagaimana mengajar siswa agar bisa merasakan dan bersikap terhadap sesuatu. Pendidikan intelektual penting, tapi ada faktor yang lebih penting yaitu nilai dan rasa. Pendidikan yang semata mengandalkan asah intelektual belaka hanya akan menghasilkan pemikir-pemikir yang gersang dan kaku, hitungannya hitam atau putih, dengan adanya pendidikan berlandaskan model yang humanistik akan menjadikan pendidikan terarah. Dengan seni hidup terasa indah, demikiran kira-kira. Mengasah rasa untuk menimbulkan rasa simpati, empati, sakitnya dicubit dan sebagainya adalah bagian dari rasa, dan rasa itu dapat diasah dengan mengedepankan pendidikan humanistik.
Sebenarnya konsep ini sudah ada sejak lama, namun dengan istilah yang tidak sepopulis sekarang. Dalam sejarah Islam, khususnya, bagaimana sikap Nabi Muhammad SAW ketika berjalan dengan seorang sahabatnya dan kemudian bertemu dengan sejumlah anak-anak sedang bermain, beliau langsung memegang kepala anak kecil tersebut dan mengusapnya, bagaimana sikap Umar bin Khaththab ketika melihat seekor burung dalam sangkar kemudian dibelinya lantas dilepaskannya terbang bebas. Ini adalah bagian pendidikan humanis. Bahwa anak perlu (bahkan sangat perlu) untuk diberikan pendidikan nilai dan rasa.
Bagaimana dengan sebagian peserta didik kita? Penulis yakin, adanya tawuran dengan peralatan yang membahayakan, seks bebas dengan berbagai modusnya, bahkan orang pintar dengan berbagai gelarnya yang berpikiran kotor menghasilkan koruptor, adalah salah satu dampak dari tidak mencuatnya ke permukaan pendidikan yang didasari oleh kasih sayang, kelembutan atau dengan term lain lemahnya penanaman nilai-nilai yang humanis dalam kehidupan keseharian**.
-----------------------------------







Tidak ada komentar:

Posting Komentar