(Dimuat di Harian Borneo Tribune Pontianak)
Kurikulum merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam
suatu sistem pendidikan. Kemana dan apa tujuan pendidikan, bagaimana
cara melaksanakan dan apa serta siapa saja yang terlibat dalam proses
pendidikan, dapat diketahui dari kurikulum yang dirancang. Kurikulum
adalah sebagai pedoman dalam pelaksanaan pengajaran pada semua jenis
dan tingkat pendidikan. Rakhmat Hidayat (2011:85) menyebutkan
kurikulum sebagai jantung pendidikan. Kurikulum sangat mewarnai
konstruksi dan wajah pendidikan suatu masyarakat. Bahkan lebih jauh
disebutkan kurukulum berkaitan dengan kepentingan politik penguasa.
Meskipun agak sulit untuk melepaskan pembicaraan tentang kurikulum
dengan kondisi politik suatu masyarakat, tetapi sudah semestinya
suatu kurikulum
harus dirancang secara komprehensif, integratif, berimbang antara
berbagai tujuan pendidikan, dan adaptif serta bervisi kedepan, dan
bukan semata-mata karena kepentingan politis. Disinilah
letak urgensinya merancang dan medesain sebuah kurikulum,
dengan demikian dapat difahami bahwa kesalahan atau ketidakcermatan
mendesain kurikulum akan berdampak jauh di masa yang akan datang.
Pendidikan sebagai upaya memanusiakan manusia, atau terminologi
lainnya sebagai usaha mendewasakan manusia, maka membicarakan manusia
sebagai sesuatu yang harus dimanusiakan pada hakikatnya membicarakan
tentang kurikulum. Namun, dalam perjalanannya ternyata kurikulum
tidak semuanya menempatkan manusia sebagai subyek pendidikan.
Para
ahli membagi kurikulum
ke dalam empat model
kurikulum. Empat model konsep kurikulum
itu adalah kurikulum subjek akademis, kurikulum humanistik, kurikulum
rekonstruksi sosial, dan kurikulum teknologis. Nampak sekali
perbedaan antara model kurikulum subyek akademis dan humanistik.
Perbedaannya adalah jika model kurikulum subyek akademik menempatkan
peserta didik sebagai target utama yang harus diberikan materi
sebanyak-banyak untuk dikuasai sebagaimana istilah model itu sendiri,
maka kurikulum humanistik adalah mengembangkan peserta didik menjadi
pribadi yang mandiri.
Pendidikan
menemukan artinya sendiri dan lebih bermakna manakala output dan
outcome peserta didik dapat menghasilkan siswa yang mandiri dan
berdikari. Kemampuan menyelesaikan persoalan dan tidak overdependensi
menjadi hakikat dari adanya pendidikan itu sendiri.
Pendidikan
dengan model kurikulum humanistik mendasarkan konsepnya pada
bagaimana
mengajar siswa agar bisa merasakan dan bersikap terhadap sesuatu.
Pendidikan intelektual penting, tapi ada faktor yang lebih penting
yaitu nilai dan rasa. Pendidikan yang semata mengandalkan asah
intelektual belaka hanya akan menghasilkan pemikir-pemikir yang
gersang dan kaku, hitungannya hitam atau putih, dengan adanya
pendidikan berlandaskan model yang humanistik akan menjadikan
pendidikan terarah. Dengan seni hidup terasa indah, demikiran
kira-kira. Mengasah rasa untuk menimbulkan rasa simpati, empati,
sakitnya dicubit dan sebagainya adalah bagian dari rasa, dan rasa itu
dapat diasah dengan mengedepankan pendidikan humanistik.
Sebenarnya
konsep ini sudah ada sejak lama, namun dengan istilah yang tidak
sepopulis sekarang. Dalam sejarah Islam, khususnya, bagaimana sikap
Nabi Muhammad SAW ketika berjalan dengan seorang sahabatnya dan
kemudian bertemu dengan sejumlah anak-anak sedang bermain, beliau
langsung memegang kepala anak kecil tersebut dan mengusapnya,
bagaimana sikap Umar bin Khaththab ketika melihat seekor burung dalam
sangkar kemudian dibelinya lantas dilepaskannya terbang bebas. Ini
adalah bagian pendidikan humanis. Bahwa anak perlu (bahkan sangat
perlu) untuk diberikan pendidikan nilai dan rasa.
Bagaimana
dengan sebagian peserta didik kita? Penulis yakin, adanya tawuran
dengan peralatan yang membahayakan, seks bebas dengan berbagai
modusnya, bahkan orang pintar dengan berbagai gelarnya yang
berpikiran kotor menghasilkan koruptor, adalah salah satu dampak dari
tidak mencuatnya ke permukaan pendidikan yang didasari oleh kasih
sayang, kelembutan atau dengan term lain lemahnya penanaman
nilai-nilai yang humanis dalam kehidupan keseharian**.
-----------------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar