Jumat, 20 Desember 2013

BACALAH!

(Dimuat di Harian Pontianak Post)

Iqra bismi robbikal ladzi kholaq, “bacalah dengan menyebut nama tuhanmu yang telah menciptakan.  Demikian bunyi ayat pertama dalam surat Al-‘Alaq. Surat al-‘Alaq terdiri dari 19 ayat, termasuk golongan surat Makkiyah. Surat ini juga dinamai dengan Iqra atau al-Qalam.
Kandungan atau pokok-pokok isi surat ini adalah tentang perintah membaca, menerangkan bahwa manusia diciptakan dari benda yang hina kemudian memuliakannya dengan dijadikannya kalam sebagai alat untuk  mengajar membaca, menulis dan memberinya pengetahuan dalam rangka mengembangkan ilmu  pengetahuan. Namun kandungan surat ini yang paling masyhur adalah tentang perintah membaca.
Sungguh luar biasa dan dahsyat bila kita fahami dan maknai secara mendalam wahyu yang pertama turun ini, bukan tentang shadaqah, bukan tentang jual beli, bukan tentang pernikahan dan sebagainya. Tetapi perintah untuk membuka cakrawala keilmuan kita yang dengan jelas dinyatakan perintah untuk membaca. Bahkan perintah ini sampai diulangi dua kali yang menunjukkan betapa urgennya membaca ini. Nyatanya, inilah perintah yang pertama kali diturunkan Allah SWT kepada kita. Dan pantas kalau kita renungkan, mengapa membaca menjadi perintah pertama.
Setiap kita pasti tidak akan terlepas dari aktifitas ini, artinya setiap manusia pasti akan membaca, namun akan timbul pertanyaan bagaimana cara membaca yang baik dan apa saja yang harus dibaca dan kalaupun sudah banyak yang membaca (mengasah naluri keilmuannya) mengapa masih banyak yang salah (korupsi dimana-mana, dekadensi moral, tawuran dan terlalu banyak untuk disebutkan) sehingga bangsa ini terkesan jalan di tempat (untuk tidak mengatakan mundur).  Ada satu contoh yang dapat dikemukakan sebagai bentuk kesalahan dalam membaca yaitu yang banyak terjadi di negeri ini yaitu korupsi. Korupsi adalah sebuah tindakan dari sebuah hasil cara membaca yang keliru, yaitu membaca yang bukan miliknya sebagai miliknya.
Mengapa hal demikian terjadi? Jawabannya karena membacanya tidak menyertakan iman dan tidak dikaitkan dengan semangat bismi robbika (dengan nama Tuhan). Yang digunakan saat membaca hanya kekuatan otak (baca: intelektual) tanpa mengikut sertakan unsur rasa dan kepekaan hati nurani. Bahkan lebih lanjut  lagi, agar kekuatan intelektual tidak kosong dengan nilai-nilai ilahiyah maka jawabannya dapat kita temukan pada ayat terakhir di surat yang sama yakni wasjud waqtarib (sujud dan dekatkanlah dirimu kepada Tuhan). Artinya, ketika kita membaca jangan lepas dari usaha untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan memang harus tetap dalam frame keilahiyahan.
Jika demikian, apanya yang salah, apakah cara membaca kita atau bahan bacaannya kurang bergizi? Bila kita merujuk lagi kepada surat di atas, kedua-duanya (cara membaca dan bahan bacaan) harus saling mendukung. Cara membaca yang baik harus didampingi dengan kebesaran nama Tuhan dan mengikutsertakan nilai-nilai ketuhanan dan bahan bacaan harus mengingatkan kita akan eksistensi atau keberadaan kita sebagai manusia supaya manakala manusia berhasil dia tidak akan sombong dengan keilmuannya seperti halnya Iblis laknatullah, tidak akan sombong dengan kekayaannya seperti halnya Qarun, tidak akan congkak dengan jabatannya seperti halnya Fir’aun atau tidak menganggap remeh orang lain seperti halnya Hamman.
Muhammad Fauzhil ‘Azhim (2006:74) mengutip Burn dalam buku Teaching Reading in Today’s Eementary Schools bahwa ada delapan aspek yang bekerja saat kita  membaca  yaitu sensori, persepsi, sekuensial (tata urutan kerja), pengalaman, berfikir, belajar, asosiasi dan afeksi. Ke delapan aspek ini bekerja secara bersamaan  saat kita membaca dan ini tidak kita temukan lebih  dalam pada saat kita menonton tayangan televisi, belum lagi kita bicara tentang berbagai info yang sebagian besar tentang kekerasan, hubungan bebas dan pola hidup instan. Dalam konteks inilah, dapat difahami bahwa negara-negara maju didalamnya merupakan warga-warga yang gemar membaca  dan ini beralasan jika ada negara yang sejak dini mencanangkan  gerakan gemar membaca sejak usia dini.
Bagaimana Dengan Minat Membaca Di Kalangan Pelajar Di Indonesia?
Kabar menggembirakan datang dari Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Muhammad Nuh yang menyebutkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa skor kemampuan membaca siswa Indonesia mengalami peningkatan yang cukup signifikan
dan tergolong tinggi sehingga berhasil menduduki peringkat keempat sebagai negara dengan kemampuan membaca terbesar dunia selama periode 2000-2009.
Diketahui, angka partisipasi murni (APM) Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan yang sederajat meningkat dari 94,12 persen menjadi 95,23 persen. Sedangkan angka partisipasi kasar (APK) sekolah menengah pertama (SMP), madrasah tsanawiyah (MTs) dan yang sederajat meningkat dari 81,22 persen menjadi 98,11 persen.
Jika demikian, satu modal utama membangun negeri ini telah ditemukan, tinggal keseriusan semua pihak untuk  mewujudkannya. SEMOGA!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar