Warna Partai? Nanti dulu, meskipun judul tulisan ini tentang dua
warna tapi yang penulis maksudkan adalah warna yang ada pada lampu
lalu lintas (Traffic Light). Interpretasi
kepada dua warna (partai) saat ini sangat sah dan logis, mengingat
beberapa kabupaten dan kota akan menggelar pesta demokrasi dan sarat
dengan (apapun) yang berbau politis maupun dipolitisasikan.
Ada apa dengan warna lampu lalu
lintas? Pemandangan seru sekaligus prihatin tatkala kita menyaksikan
dan berhenti di persimpangan traffic light. Seru
karena seakan tiada yang mau di belakang, semua menjurus kepada
“juara 1” dan terdepan meskipun sudah melewati marka jalan (zebra
cross). Bandingkan kalau ada
pertemuan atau rapat dan sejenisnya, justru bangku dan posisi
belakang yang paling cepat penuh. Di lain sisi kita sekaligus
prihatin mengingat tertib lalu lintas adalah cermin budaya suatu
komunitas. Prihatin karena begitu rendahnya budaya tertib kita dalam
hal berlalu lintas, seakan semua diartikan warna hijau (jalan). Yang
lebih parah bahwa kendaraan di depan dipaksa jalan bukan karena lampu
berganti hijau tetapi karena bunyi klakson yang bersahutan untuk
jalan terus.
Yang kelihatan adalah, seakan tidak rela lampu berganti merah. Dari
aspek pendidikan kewarganegaraan dapat kita cermati bahwa lampu merah
adalah simbol kepatuhan pengguna jalan untuk berhenti dan itu artinya
kewajiban bagi pengguna jalan untuk berhenti sementara dan lampu
hijau bermakna hak atau sesuatu yang harus diterima oleh pengguna
jalan untuk meneruskan perjalanannya.
Berkaitan dengan traffic
light maka dapat difahami
sebagai sebuah petunjuk. Jika petunjuk sudah dibuat dan disediakan,
mengapa masih terjadi kesimpang-siuran. Komaruddin Hidayat (2012:33)
memberikan pemaknaan terhadap adanya petunjuk. Menurutnya, petunjuk
baru akan betul-betul berfungsi jika 1) Seseorang mampu menangkap
petunjuk itu, jika orang itu tidak dapat menangkap pesan apa yang
terdapat dalam petunjuk itu maka ia tidak akan berfungsi; 2) Petunjuk
itu akan berfungsi jika diikuti dan ditaati, tidak adanya sikap
kepatuhan akan menimbulkan efek tersendiri dan 3) Petunjuk ibarat
resep dokter, kalau seseorang tidak disiplin mengikuti petunjuknya
maka sulit untuk hidup sehat.
Ketiga hal di atas, sepertinya
sering kita saksikan dan alami. Atau memang masyarakat kita adalah
masyarakat yang “super
sibuk sehingga waktu sangat berharga”
meskipun untuk berhenti sebentar adalah sebuah kewajiban namun
nyatanya tuntutan atas hak lebih dari kewajiban maka yang nyata
adalah lampu merah berarti hijau, kuning berarti hijau, apatah lagi
memang benar-benar lampu hijau.**

Tidak ada komentar:
Posting Komentar