Mario Teguh yang dikenal dengan Golden Ways-nya
pernah menyebutkan bahwa hasrat kita menunda sesuatu lebih kuat dan
lebih dominan daripada keinginan untuk melakukannya.
Pada kata motivasi ini dapat difahami bahwa sebuah aktifitas dapat
terjadi karena adanya motivasi dan dorongan. Begitu kuat motivasi
sehingga ia mampu membuat seseorang berbuat atau tidak berbuat.
Karena tidak berbuat hakikatnya adalah juga sebuah dorongan untuk
tetap di tempat sebagaimana dorongan untuk berbuat. Namun keinginan
untuk menunda -kadang jujur kita akui- lebih menguasai diri kita
daripada keinginan untuk melakukannya. Disinilah perlunya kita
mengenal potensi diri, mengenal diri sendiri dan selanjutnya berdamai
dengan diri sendiri sehingga dengannya kita dapat memaksimalkan
potensi diri yang ada.
Tulisan ini diawali dengan mengenali
karunia fisik yakni panca indera yang umumnya kita miliki. Kita
dilahirkan dengan dua mata di depan, dengannya kita diarahkan untuk
melihat yang ada di depan, lahir dengan dua telinga, satu kiri dan
satu di kanan yang dengannya kita dapat mendengar dari kedua sisi.
Menangkap pujian maupun kritikan. Sehingga yang diharapkan adalah
adanya olah informasi yang seimbang (balance).
Manusia dilahirkan dengan otak yang tidak kelihatan secara
kasar, sehingga bagaimanapun miskinnya kita, kita tetap kaya, karena
tak seorangpun yang dapat mencuri isi kepala kita, yang lebih
berharga dari segala permata yang ada. Kita dilahirkan dengan dua
mata, dua telinga, namun cukup dengan satu mulut. Mengapa hanya satu?
Karena mulut adalah senjata yang tajam, yang dapat melukai, memfitnah
bahkan membunuh. lebih baik sedikit bicara tapi banyak mendengar dan
melihat. Ini adalah gambaran sederhana karunia fisik yang umumnya
dimiliki manusia. Sungguh dalam nilai filosofisnya. Dengan memahami
hal ini, maka segala ucapan, sikap dan tindak-tanduk kita akan dapat
diarahkan dan digunakan sebagaimana mestinya.
Manusia juga dibekali dengan karunia psikis, kejiwaan, yang dengannya
kita diajari untuk lebih merasakan. Dengan sifat ini akan melahirkan
sikap simpati, empati dan toleransi. Adanya unsur inilah yang
membedakan manusia dengan makhluk lainnya.
Setiap manusia memiliki potensi, bakat dan minat yang perlu untuk
terus ditumbuhkembangkan. Kata pertumbuhan berasosiasi kepada
perubahan kapasitas fisik dan kata perkembangan mengarah kepada
perubahan kapasitas psikis. Kemampuan mengenali diri sendiri dengan
unsur fisik dan psikis yang dimiliki akan dapat mengarahkan dan
menggali potensi yang dimiliki, dengan pertanyaan sistematis, apa
yang kita miliki, dengan cara apa kita memaksimalkannya dan untuk apa
kita gunakan.
Unsur penting dalam rangka membangkitkan potensi diri sebagai
lanjutan dari konsep mengenali diri sendiri adalah dengan membangun
kepercayaan diri (self confidence).
Candra Sangkala (2010) menyebutkan karakteristik individu yang
mempunyai rasa percaya diri antara lain percaya dengan kemampuan
diri, tidak terdorong untuk menunjukkan sikap konformis demi diterima
orang lain, berani menerima dan menghadapi penolakan orang lain
disertai dengan berani menjadi diri sendiri dan mempunyai cara
pandang yang positif terhadap diri sendiri, orang lain dan situasi di
luar dirinya.
Apakah mengenali diri sendiri dapat membuat seseorang berpola fikir
negatif? Tentu saja bisa, manakala yang dilihatnya hanyalah kelebihan
dirinya dengan keakuannya, dan menutupi kelemahannya dengan berbagai
dalih. Sikap yang muncul adalah senang dipuji dan sakit hati dimaki,
senang disanjung tapi benci dipasung, dan sikap yang nampak adalah
sulit untuk memberikan penghargaan ke orang lain.
Mengenali diri sendiri, menjadi pembicaraan yang menarik jika diawali
dengan pengenalan potensi diri, selanjutnya mencoba berdamai
dengannya dan selanjutnya bergerak dengan kekuatan fikiran positif.
Maka yakinlah, hasilnya akan luar biasa.* Semoga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar