Jumat, 27 Desember 2013

Mengenal Diri Sendiri








Mario Teguh yang dikenal dengan Golden Ways-nya pernah menyebutkan bahwa hasrat kita menunda sesuatu lebih kuat dan lebih dominan daripada keinginan untuk melakukannya.
Pada kata motivasi ini dapat difahami bahwa sebuah aktifitas dapat terjadi karena adanya motivasi dan dorongan. Begitu kuat motivasi sehingga ia mampu membuat seseorang berbuat atau tidak berbuat. Karena tidak berbuat hakikatnya adalah juga sebuah dorongan untuk tetap di tempat sebagaimana dorongan untuk berbuat. Namun keinginan untuk menunda -kadang jujur kita akui- lebih menguasai diri kita daripada keinginan untuk melakukannya. Disinilah perlunya kita mengenal potensi diri, mengenal diri sendiri dan selanjutnya berdamai dengan diri sendiri sehingga dengannya kita dapat memaksimalkan potensi diri yang ada.
Tulisan ini diawali dengan mengenali karunia fisik yakni panca indera yang umumnya kita miliki. Kita dilahirkan dengan dua mata di depan, dengannya kita diarahkan untuk melihat yang ada di depan, lahir dengan dua telinga, satu kiri dan satu di kanan yang dengannya kita dapat mendengar dari kedua sisi. Menangkap pujian maupun kritikan. Sehingga yang diharapkan adalah adanya olah informasi yang seimbang (balance). Manusia dilahirkan dengan otak yang tidak kelihatan secara kasar, sehingga bagaimanapun miskinnya kita, kita tetap kaya, karena tak seorangpun yang dapat mencuri isi kepala kita, yang lebih berharga dari segala permata yang ada. Kita dilahirkan dengan dua mata, dua telinga, namun cukup dengan satu mulut. Mengapa hanya satu? Karena mulut adalah senjata yang tajam, yang dapat melukai, memfitnah bahkan membunuh. lebih baik sedikit bicara tapi banyak mendengar dan melihat. Ini adalah gambaran sederhana karunia fisik yang umumnya dimiliki manusia. Sungguh dalam nilai filosofisnya. Dengan memahami hal ini, maka segala ucapan, sikap dan tindak-tanduk kita akan dapat diarahkan dan digunakan sebagaimana mestinya.
Manusia juga dibekali dengan karunia psikis, kejiwaan, yang dengannya kita diajari untuk lebih merasakan. Dengan sifat ini akan melahirkan sikap simpati, empati dan toleransi. Adanya unsur inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.
Setiap manusia memiliki potensi, bakat dan minat yang perlu untuk terus ditumbuhkembangkan. Kata pertumbuhan berasosiasi kepada perubahan kapasitas fisik dan kata perkembangan mengarah kepada perubahan kapasitas psikis. Kemampuan mengenali diri sendiri dengan unsur fisik dan psikis yang dimiliki akan dapat mengarahkan dan menggali potensi yang dimiliki, dengan pertanyaan sistematis, apa yang kita miliki, dengan cara apa kita memaksimalkannya dan untuk apa kita gunakan.
Unsur penting dalam rangka membangkitkan potensi diri sebagai lanjutan dari konsep mengenali diri sendiri adalah dengan membangun kepercayaan diri (self confidence). Candra Sangkala (2010) menyebutkan karakteristik individu yang mempunyai rasa percaya diri antara lain percaya dengan kemampuan diri, tidak terdorong untuk menunjukkan sikap konformis demi diterima orang lain, berani menerima dan menghadapi penolakan orang lain disertai dengan berani menjadi diri sendiri dan mempunyai cara pandang yang positif terhadap diri sendiri, orang lain dan situasi di luar dirinya.
Apakah mengenali diri sendiri dapat membuat seseorang berpola fikir negatif? Tentu saja bisa, manakala yang dilihatnya hanyalah kelebihan dirinya dengan keakuannya, dan menutupi kelemahannya dengan berbagai dalih. Sikap yang muncul adalah senang dipuji dan sakit hati dimaki, senang disanjung tapi benci dipasung, dan sikap yang nampak adalah sulit untuk memberikan penghargaan ke orang lain.
Mengenali diri sendiri, menjadi pembicaraan yang menarik jika diawali dengan pengenalan potensi diri, selanjutnya mencoba berdamai dengannya dan selanjutnya bergerak dengan kekuatan fikiran positif. Maka yakinlah, hasilnya akan luar biasa.* Semoga.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar