Dalam kehidupan keseharian kita sering mendengar istilah tawadhu' dan
kita cenderung mengartikan tawadhu dengan rendah hati, orang yang
tidak sombong.
Term tawadhu merupakan istilah yang dikenal dalam konsep tazkiyatun
nafs (konsep penyucian jiwa dan pembersihan diri). Hal ini
dikarenakan tawadhu' termasuk salah satu sarana tazkiyatun nafs.
Dengan tawadhu' seseorang akan jauh dari rasa sombong dan 'ujub.
Dari sisi ini dapat dikatakan bahwa tawadhu adalah lawan dari
takabur.
AL-Fudhail (dalam bukunya Said Hawwa, dialihbahasakan oleh Aunur
Rafiq, 1998:153) ketika ditanya tentang tawadhu. Al-Fudhail menjawab
bahwa tawadhu' adalah, “Kamu tunduk kepada kebenaran dan patuh
kepadanya sekalipun kebenaran itu kamu dengar dari anak kecil. Bahkan
sekalipun kamu dengar dari orang yang paling tidak tahu kiblat
sholatnya”. Dengan demikian, apa sebenarnya makna tawadhu', inti
dari tawadhu' adalah rela menerima kebenaran tanpa memandang dari
mana datangnya dan bahkan dari siapapun. Ini sejalan dengan
pernyataan dengar apa yang dikatakan dan jangan lihat siapa yang
bicara. Mengapa? Jika kita cenderung melihat siapa yang berbicara
maka subyektifitas sangat mengemuka.
Sebagai lawan dari takabur, sikap tawadhu mendasarkan pada bahwa
masih ada lagi yang lebih di atasnya, apakah pendidikannya,
ekonominya, ilmunya, status sosialnya dan sebagainya. Melihat
kelebihan secara lahiriah akan menimbulkan sikap takabur. Takabur
adalah sebuah sikap yang memandang rendah orang lain dan tidak
menerima informasi kebenaran dari siapapun dan dari manapun.
Akibatnya, tebalnya lapisan takabur ini akan menyebabkannya tertutup
melihat kelemahannya, kemungkinan ia akan menjadi seperti Fir'aun
jika berkuasa atau seperti Qarun jika ia kaya raya. Keinginan yang
ada adalah inginnya semua orang ingin senantiasa memujinya. Sulitkah
mengenali orang dengan karakter ini? Lihat saja apa respon dan reaksi
yang dimunculkan seseorang ketika kita membicarakan kelebihan orang
lain yang juga dikenalnya? Nyatanya, ada yang memberikan respons yang
positif namun kadang ada yang sebaliknya.
Abu Yazid menyatakan bahwa selagi seorang hamba masih mengira bahwa
di antara makhluk ada orang yang lebih buruk dari dirinya maka ia
adalah orang yang sombong. Abu Yazid ditanya, “kapan ia menjadi
orang yang tawadhu?” Ia menjawab: “Apabila tidak memandang adanya
kedudukan dan hal dari dirinya.”
Apa yang kita rasakan ketika hidup di tengah pujian, ketidakmampuan
kita menyadari hakikat diri akan menjadikan kita Fir'aun-fir'aun baru
di abad modern. Banyak dan tingginya gelar serta mumpuninya keilmuan
kita hendaknya mampu mengantarkan kita mengenali jati diri. Dari mana
kita berasal, untuk apa kita hidup dan bekal apa yang akan di bawa
nantinya. Bukankah orang yang takut kepada Allah adalah sikapnya para
ulama?”***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar