Jumat, 27 Desember 2013

Tawadhu' Di Tengah Pujian






Dalam kehidupan keseharian kita sering mendengar istilah tawadhu' dan kita cenderung mengartikan tawadhu dengan rendah hati, orang yang tidak sombong.
Term tawadhu merupakan istilah yang dikenal dalam konsep tazkiyatun nafs (konsep penyucian jiwa dan pembersihan diri). Hal ini dikarenakan tawadhu' termasuk salah satu sarana tazkiyatun nafs. Dengan tawadhu' seseorang akan jauh dari rasa sombong dan 'ujub. Dari sisi ini dapat dikatakan bahwa tawadhu adalah lawan dari takabur.
AL-Fudhail (dalam bukunya Said Hawwa, dialihbahasakan oleh Aunur Rafiq, 1998:153) ketika ditanya tentang tawadhu. Al-Fudhail menjawab bahwa tawadhu' adalah, “Kamu tunduk kepada kebenaran dan patuh kepadanya sekalipun kebenaran itu kamu dengar dari anak kecil. Bahkan sekalipun kamu dengar dari orang yang paling tidak tahu kiblat sholatnya”. Dengan demikian, apa sebenarnya makna tawadhu', inti dari tawadhu' adalah rela menerima kebenaran tanpa memandang dari mana datangnya dan bahkan dari siapapun. Ini sejalan dengan pernyataan dengar apa yang dikatakan dan jangan lihat siapa yang bicara. Mengapa? Jika kita cenderung melihat siapa yang berbicara maka subyektifitas sangat mengemuka.
Sebagai lawan dari takabur, sikap tawadhu mendasarkan pada bahwa masih ada lagi yang lebih di atasnya, apakah pendidikannya, ekonominya, ilmunya, status sosialnya dan sebagainya. Melihat kelebihan secara lahiriah akan menimbulkan sikap takabur. Takabur adalah sebuah sikap yang memandang rendah orang lain dan tidak menerima informasi kebenaran dari siapapun dan dari manapun. Akibatnya, tebalnya lapisan takabur ini akan menyebabkannya tertutup melihat kelemahannya, kemungkinan ia akan menjadi seperti Fir'aun jika berkuasa atau seperti Qarun jika ia kaya raya. Keinginan yang ada adalah inginnya semua orang ingin senantiasa memujinya. Sulitkah mengenali orang dengan karakter ini? Lihat saja apa respon dan reaksi yang dimunculkan seseorang ketika kita membicarakan kelebihan orang lain yang juga dikenalnya? Nyatanya, ada yang memberikan respons yang positif namun kadang ada yang sebaliknya.
Abu Yazid menyatakan bahwa selagi seorang hamba masih mengira bahwa di antara makhluk ada orang yang lebih buruk dari dirinya maka ia adalah orang yang sombong. Abu Yazid ditanya, “kapan ia menjadi orang yang tawadhu?” Ia menjawab: “Apabila tidak memandang adanya kedudukan dan hal dari dirinya.”
Apa yang kita rasakan ketika hidup di tengah pujian, ketidakmampuan kita menyadari hakikat diri akan menjadikan kita Fir'aun-fir'aun baru di abad modern. Banyak dan tingginya gelar serta mumpuninya keilmuan kita hendaknya mampu mengantarkan kita mengenali jati diri. Dari mana kita berasal, untuk apa kita hidup dan bekal apa yang akan di bawa nantinya. Bukankah orang yang takut kepada Allah adalah sikapnya para ulama?”***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar