Kamis, 26 Desember 2013

Guru dan Budaya Sekolah





Guru memegang peranan sangat strategis terutama dalam membentuk watak bangsa serta mengembangkan potensi siswa. Sebagai salah satu sumber pendidikan, maka guru harus benar-benar memahami posisinya sebagai unsur yang tidak tergantikan oleh apapun.
Dalam kesehariannya, sebagai sebuah profesi seorang guru adalah seorang yang telah menyerahkan dirinya dalam organisasi sekolah, dia tidak bisa melakukan tindakan dan berperilaku sesuai keinginan sendiri, tetapi harus dapat menyesuaikan diri dengan peran dan tugasnya sesuai peran dan tuntutan tugas serta aturan organisasi yang menjadi kewajiban bagi seorang guru, oleh karena itu GURU  HARUS TAHU ATURAN, BERSEDIA DIATUR, dan BISA MENGATUR.
Tahu aturan bermakna memahami bagaimana mekanisme kerja organisasi, dengan pemahaman itu maka seorang guru harus mau dan bisa diatur sesuai dengan mekanisme yang berlaku, serta harus bisa mengatur dalam arti mengelola secara optimal apa yang menjadi peran dan tugasnya dalam organisasi sekolah.
Dalam kaitannya dengan menumbuhkembangkan budaya sekolah ke arah yang positif, maka fungsi guru sangat efektif. Meskipun derasnya informasi dan canggihnya teknologi, sepertinya slogan guru sebagai orang yang layak digugu dan ditiru masih sesuai untuk konteks kekinian.
Sebagai “pencetak” generasi masa depan, maka guru sebagai orang yang berpengaruh besar harus terlebih dahulu disiapkan secara matang dan mantap. Bagaimana akan menghidangkan menu yang enak dan lezat jika tidak disiapkan oleh koki yang handal? Artinya untuk menciptakan siswa yang bermutu mutlak diperlukan guru yang bermutu pula.
Berbicara tentang budaya sekolah sebagai guru titik sentralnya, di lapangan ada kita temui berbagai pola hubungan guru dengan karkateristiknya yang berbeda pula.
Berikut ini bentuk budaya guru yang menggambarkan tentang karakeristik pola-pola hubungan guru di sekolah. Hargreaves (1992) telah mengidentifikasi lima bentuk budaya guru, yaitu : Individualism, Balkanization, Contrived Collegiality, Collaboration, dan Moving Mosaic.
Individualism
Budaya dalam bentuk ini ditandai dengan adanya sebagian besar guru bekerja secara sendiri-sendiri, mereka menjadi terisolasi dalam ruang kelasnya, dan hanya sedikit kolaborasi, sehingga kesempatan pengembangan profesi melalui diskusi atau sharing dengan yang lain menjadi sangat terbatas. Kecerdasan sosialnya -kalau tidak ingin dikatakan tidak ada- masih rendah dan perlu orang lain untuk membantu mengasah kecerdasan ini.
Balkanization
Bentuk budaya yang kedua ini ditandai dengan adanya sub-sub kelompok secara terpisah yang cenderung saling bersaing dan lebih mementingkan kelompoknya daripada mementingkan sekolah secara keseluruhan. Misalnya, hadirnya kelompok guru senior dan guru junior atau kelompok-kelompok guru berdasarkan mata pelajaran. Pada budaya ini, komunikasi jarang terjadi dan kurang adanya kesinambungan dalam memantau perkembangan perilaku siswa, bahkan cenderung mengabaikannya. Kehadiran tokoh yang bisa “dituakan” diharapkan bisa mentralisir kondisi ini. Ingat yang penting orang yang dapat dituakan karena banyak orang tua yang tidak bisa dianggapkan bersikap tua.
Contrived Collegiality
Bentuk budaya yang ketiga ini sudah terjadi kolaborasi yang ditentukan oleh manajemen, misalnya menentukan prosedur perencanaan bersama, konsultasi dan pengambilan keputusan, serta pandangan tentang hasil-hasil yang diharapkan. Bentuk budaya ini sangat bermanfaat untuk masa-masa awal dalam membangun hubungan kolaboratif para guru. Kendati demikian, pada budaya ini belum bisa menjamin ketercapaian hasil, karena untuk membangun budaya kolaboratif memang tidak bisa melalui paksaan. Tetapi ada slogan yang boleh juga kita renungkan bahwa sikap manusia akan berbuah kalau awalnya adalah PAKSAAN, yang kedua TERPAKSA, yang ketiga BISA dan terakhir TERBIASA.
Collaboration
Pada budaya inilah guru dapat memilih secara bebas dan saling mendukung dengan didasari saling percaya dan keterbukaan. Dalam budaya kolaboratif terdapat saling keterpaduan (intermixing) antara kehidupan pribadi dengan tugas-tugas profesional, saling menghargai, dan adanya toleransi atas perbedaan. Budaya ini dapat diketagorikan sudah lebih maju, perbedaan yang ada bukan dipandang sebagai rival dan saling menyaingi tetapi sebagai unsur yang saling melengkapi satu dengan yang lain.
Moving Mosaic
Pada model ini sekolah sudah menunjukkan karakteristik seperti apa yang disampaikan oleh Senge (1990) tentang “learning organisation”. Para guru sangat fleksibel dan adaptif, semua guru mengambil peran, bekerja secara kolaboratif dan reflektif, serta memiliki komitmen untuk melakukan perbaikan secara berkesinambungan. Dalam kondisi ini, bukan guru kepala sekolah yang bertindak sebagai inovator tetapi sudah merambah ke semua lini bahwa sekolah itu sudah menempatkan posisinya sebagai sekolah yang inovatif.
Mitchell Ditkoff, Direktur dari Idea Champions, menyebutkan diantara ciri-ciri kualitas dari seorang inovator adalah tidak merasa cepat puas dengan keadaan yang ada dan selalu mempertanyakan otoritas dan rutinitas serta mengkonfrontasikan asumsi-asumsi yang ada dan memunculkan ide-ide “gila”, memandang sesuatu yang tidak mungkin menjadi sebuah kemungkinan, memimpikan dan menghayalkan sesuatu yang besar-besar.
KALAU SEKOLAH LAIN BISA, KENAPA KITA TIDAK!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar