Guru
memegang peranan sangat strategis terutama dalam membentuk watak
bangsa serta mengembangkan potensi siswa. Sebagai salah satu sumber
pendidikan, maka guru harus benar-benar memahami posisinya sebagai
unsur yang tidak tergantikan oleh apapun.
Dalam
kesehariannya, sebagai sebuah profesi seorang
guru adalah seorang yang telah menyerahkan dirinya dalam organisasi
sekolah, dia tidak bisa melakukan tindakan dan berperilaku sesuai
keinginan sendiri, tetapi harus dapat menyesuaikan diri dengan peran
dan tugasnya sesuai peran dan tuntutan tugas serta aturan organisasi
yang menjadi kewajiban bagi seorang guru, oleh karena itu GURU
HARUS TAHU ATURAN, BERSEDIA DIATUR, dan BISA MENGATUR.
Tahu aturan bermakna
memahami bagaimana mekanisme kerja organisasi, dengan pemahaman itu
maka seorang guru harus mau dan bisa diatur sesuai dengan mekanisme
yang berlaku, serta harus bisa mengatur dalam arti mengelola secara
optimal apa yang menjadi peran dan tugasnya dalam organisasi sekolah.
Dalam kaitannya
dengan menumbuhkembangkan budaya sekolah ke arah yang positif, maka
fungsi guru sangat efektif. Meskipun derasnya informasi dan
canggihnya teknologi, sepertinya slogan guru sebagai orang yang layak
digugu dan ditiru masih sesuai untuk konteks kekinian.
Sebagai “pencetak”
generasi masa depan, maka guru sebagai orang yang berpengaruh besar
harus terlebih dahulu disiapkan secara matang dan mantap. Bagaimana
akan menghidangkan menu yang enak dan lezat jika tidak disiapkan oleh
koki yang handal? Artinya untuk menciptakan siswa yang bermutu mutlak
diperlukan guru yang bermutu pula.
Berbicara tentang
budaya sekolah sebagai guru titik sentralnya, di lapangan ada kita
temui berbagai pola hubungan guru dengan karkateristiknya yang
berbeda pula.
Berikut ini bentuk
budaya guru yang menggambarkan tentang karakeristik pola-pola
hubungan guru
di
sekolah. Hargreaves (1992) telah mengidentifikasi lima bentuk budaya
guru, yaitu : Individualism,
Balkanization, Contrived Collegiality,
Collaboration,
dan
Moving Mosaic.
Individualism
Budaya dalam bentuk
ini ditandai dengan adanya sebagian besar guru bekerja secara
sendiri-sendiri, mereka menjadi terisolasi dalam ruang kelasnya, dan
hanya sedikit kolaborasi, sehingga kesempatan pengembangan profesi
melalui diskusi atau sharing
dengan
yang lain menjadi sangat terbatas. Kecerdasan sosialnya -kalau tidak
ingin dikatakan tidak ada- masih rendah dan perlu orang lain untuk
membantu mengasah kecerdasan ini.
Balkanization
Bentuk budaya yang
kedua ini ditandai dengan adanya sub-sub kelompok secara terpisah
yang cenderung saling bersaing dan lebih mementingkan kelompoknya
daripada mementingkan sekolah secara keseluruhan. Misalnya, hadirnya
kelompok guru senior dan guru junior atau kelompok-kelompok guru
berdasarkan mata pelajaran. Pada budaya ini, komunikasi jarang
terjadi dan kurang adanya kesinambungan dalam memantau perkembangan
perilaku siswa, bahkan cenderung mengabaikannya. Kehadiran tokoh yang
bisa “dituakan” diharapkan bisa mentralisir kondisi ini. Ingat
yang penting orang yang dapat dituakan karena banyak orang tua yang
tidak bisa dianggapkan bersikap tua.
Contrived
Collegiality
Bentuk budaya yang
ketiga ini sudah terjadi kolaborasi yang ditentukan oleh manajemen,
misalnya menentukan prosedur perencanaan bersama, konsultasi dan
pengambilan keputusan, serta pandangan tentang hasil-hasil yang
diharapkan. Bentuk budaya ini sangat bermanfaat untuk masa-masa awal
dalam membangun hubungan kolaboratif para guru. Kendati demikian,
pada budaya ini belum bisa menjamin ketercapaian hasil, karena untuk
membangun budaya kolaboratif memang tidak bisa melalui paksaan.
Tetapi ada slogan yang boleh juga kita renungkan bahwa sikap manusia
akan berbuah kalau awalnya adalah PAKSAAN, yang kedua TERPAKSA, yang
ketiga BISA dan terakhir TERBIASA.
Collaboration
Pada budaya inilah
guru dapat memilih secara bebas dan saling mendukung dengan didasari
saling percaya dan keterbukaan. Dalam budaya kolaboratif terdapat
saling keterpaduan (intermixing)
antara kehidupan pribadi dengan tugas-tugas profesional, saling
menghargai, dan adanya toleransi atas perbedaan. Budaya ini dapat
diketagorikan sudah lebih maju, perbedaan yang ada bukan dipandang
sebagai rival dan saling menyaingi tetapi sebagai unsur yang saling
melengkapi satu dengan yang lain.
Moving
Mosaic
Pada model ini
sekolah sudah menunjukkan karakteristik seperti apa yang disampaikan
oleh Senge (1990) tentang “learning
organisation”.
Para guru sangat fleksibel dan adaptif, semua guru mengambil peran,
bekerja secara kolaboratif dan reflektif, serta memiliki komitmen
untuk melakukan perbaikan secara berkesinambungan. Dalam kondisi ini,
bukan guru kepala sekolah yang bertindak sebagai inovator tetapi
sudah merambah ke semua lini bahwa sekolah itu sudah menempatkan
posisinya sebagai sekolah yang inovatif.
Mitchell Ditkoff,
Direktur dari Idea Champions, menyebutkan diantara ciri-ciri kualitas
dari seorang inovator adalah tidak merasa cepat puas dengan keadaan
yang ada dan selalu mempertanyakan otoritas dan rutinitas serta
mengkonfrontasikan asumsi-asumsi yang ada dan memunculkan ide-ide
“gila”, memandang sesuatu yang tidak mungkin menjadi sebuah
kemungkinan, memimpikan dan menghayalkan sesuatu yang besar-besar.
KALAU SEKOLAH LAIN
BISA, KENAPA KITA TIDAK!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar