Jumat, 27 Desember 2013

Menjaga Shilaturrahim








Shilaturrahim berasal dari dua kata yaitu shilah dan rahim. Shilah atau washl, yang berarti menyambungkan atau menghimpun. Ar-Rahiim yang berarti kasih sayang, maka shilaturahim diartikan sebagai menghubungkan kasih sayang antar sesama.
Sebagaimana judul tulisan ini, penekanannya adalah pada upaya apa yang harus dilakukan agar shilaturrahim tetap terjaga, hubungan kasih sayang tetap terjalin, sederhana memang kedengarannya tapi bahwa menjaga dan memelihara bahkan mempertahankan jauh lebih sulit daripada sekedar memulai dari awal.
Beberapa langkah dalam rangka menjaga shilaturahim adalah: 1) Menebarkan salam (afsyus salam). Ucapan salam -sebagaimana awam diketahui berarti semoga Allah mencurahkan keselamatan, rahmat-Nya dan keberkahan-Nya- hakikatnya adalah doa. Ucapan salam adalah salah satu cara menjaga shilaturahim, karena di dalamnya ada nilai saling mendoakan, nilai kekeluargaan dengan bertegur sapa, dan nilai peduli dengan orang lain. Begitu mulianya salam sebagai ajaran saling mendoakan, suatu hari Rasulullah SAW bertandang ke rumah salah seorang sahabatnya, di depan pintu rumah sahabatnya Rasulullah SAW mengucapkan salam, namun tidak terdengar jawaban, beliaupun mengulangi kembali ucapan salam, juga tidak terdengar jawaban, hingga salam yang ketiga beliau ucapkan, juga tidak terdengar jawaban, Rasulullah SAW segera berbalik arah melangkah pulang, karena Islam mengajarkan manakala bertamu ke rumah seorang muslim maka ucapkanlah salam dan jika tidak terdengar jawaban maka lebih baik kembali. Namun beberapa langkah dari pintu rumah sahabatnya, keluar si empunya rumah dan memanggil Rasulullah SAW. “Ya Rasul, kembali ke sini ya Rasul,” Rasulullah SAW pun memenuhi hajat sahabatnya sambil bertanya, “Waai sahabatku, tidakkah kau dengar ucapan salamku, hingga kali aku mengucapkannya”. Sahabat tadi menjawab, “Maafkan aku ya Rasul, bukan aku tidak mendengar dan menjawab ucapan salammu, aku justru jawab salammu hanya dengan suara pelan”, Rasulullah SAW balik bertanya, “Apa maksudmu Wahai Sahabatku”, Ya Rasul, bukankah Anda pernah menyatakan bahwa salam seorang muslim kepada muslim lainnya adalah doa, apalagi yang mendoakanku adalah Engkau Ya Rasul. Tidakku jawab salammu dengan keras aku hanya ingin sesering mungkin engkau doakan”.
Salam adalah sebuah doa, mendoakan orang lain dalam kebaikan dan siapapun pasti tidak menolak ketika didoakan untuk kebaikan.
      1. Saling Memberi. Allah SWT mendorong kita untuk memberikan sebagian yang kita miliki sebagai bagian dari sikap orang-orang muhsin. (Q.S. Ali Imran/3:134) Dan bahkan masuk dalam kategori kebajikan yang belum sempurna bagi orang yang berinfaq kecuali dengan sesuatu yang dicintainya. (Q.S. Ali Imran/3:92). Kemauan memberi kepada orang lain adalah salah satu bentuk dari kelembutan hati, yang dengan kelembutan hati itu, sikap peduli dengan orang lain, toleransi, simpati dan empati akan tetap terjaga shilaturahim. Kekerasan hati seseorang dapat terbentuk karena tidak adanya komunikasi langsung atau tidak langsung. Saling memberi adalah bagian sebuah komunikasi, hanya persoalan muncul di masyarakat kita apalah artinya komunikasi jika hanya terjadi pada satu arah, sehingga yang muncul adalah kata-kata, “rugi saya menegur dia”. Apanya yang rugi, justru itulah sikap sebuah kebaikan dan yang pasti kita telah menunjukkan bahwa kita masih mempunyai karakter (afeksi) yang positif bahkan punya nilai dalam agama.
Sikap memberi adalah satu upaya untuk menjaga shilaturahim, sikap memberi tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, ia sesuatu yang berada di alam terbuka tapi sarat dengan nilai sosial.
      1. Bagian terakhir menjaga shilaturrahim adalah dengan memperkuat diri kita dengan siraman-siraman rohani, zikrullah. Hati menjadi keras, beku dan jauh dari kelembutan bisa disebabkan malasnya berzikir, terlalu kuat tarikan kecintaan kepada dunia (hubbun dun ya) dan terlalu menurutkan hawa nafsu. Mengikutkan hawa nafsu adalah senjata unggulan Iblis la'natullah, dengan nafsu yang diturutkan menjadikan seorang yang miskin menempuh cari kekayaan dengan cara apa saja, dengan nafsu yang diturutkan menjadikan seorang yang gila jabatan akan mencari jalan agar menempati posisi prestise meskipun tidak dibenarkan agama. Jika ini terjadi, tepat sekali disabdakan Rasulullah SAW, sebagaimana disebutkan dalam kitab Nubuwatur Rasul, Ma Tahaqqaq Minha Wama Yatahaqqaq Karya Muhammad Waliyullah Abd. Rahman An-Nadwi, diriwayatkan ole h Imam Nasa'i bahwa akan datang suatu masa, saat itu orang-orang tidak peduli lagi darimana ia memperoleh hartanya apakah halal atau haram. Sepertinya, masa itu sudah ada di sekitar kita? Semoga kita termasuk kategori mukmin ulul albab, yang mampu menggunakan akal fikiran untuk kebaikan. Semoga.
-------------------------------------------------------
Penulis: Kepala MTs ASWAJA Pal Lima Pontianak Barat





Tidak ada komentar:

Posting Komentar