Makna pertama yang dapat ditangkap dari tema di atas
adalah bahwa proses mendapatkan ilmu atau menjadi orang berilmu
pengetahuan harus dengan membaca, ini sejalan dengan konsep
pencerahan yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW dengan perintah
iqra'
nya (perintah membaca). Makna kedua adalah diawali dengan pengertian
bahwa membaca tidak terbatas pada lembaran-lembaran atau teks tetapi
jauh dari itu yaitu membaca lingkungan baik lingkungan alam maupun
lingkungan yang melingkupi manusia itu sendiri. Supaya kita dapat
memahami apa yang dibaca maka ia harus disertai dengan ilmu. Maka,
dalam konteks inilah siapapun dan apapun yang dibaca harus disertai
dengan ilmu.
Membaca adalah
aktifitas yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Membaca
sebagai sebuah interaksi antara dua hal (pembaca dan yang dibaca)
menjadikannya perlunya komunikasi sehingga yang terdapat adalah
berbagai unsur terlibat di dalamnya. Burn
dalam buku Teaching
Reading in Today’s Elementary Schools (Azhim,
2006:74) bahwa ada delapan aspek yang bekerja saat kita membaca
yaitu sensori, persepsi, sekuensial (tata urutan kerja), pengalaman,
berfikir, belajar, asosiasi dan afeksi.
Secara
umum dapat dikemukakan bahwa dalam aktifitas membaca ini menuntut dan
menuntun kita untuk menyaring dan menyeleksi apa yang kita baca yang
kemudian akan membentuk cara pandang kita tentang sesuatu hal dan
secara tidak langsung akan mengarahkan kita untuk berfkir secara
sistematis dan runtun, selanjutnya akan bersinggungan dengan apa yang
telah kita alami sebagai aktifitas keseharian kita dan
ending
nya adalah secara sadar atau tidak, dapat mengarahkan kita pada sikap
hidup sebagai sebuah karakter.
Dari sudut pandang ini, membaca adalah kunci untuk
mendapatkan ilmu, bahkan untuk ilmu yang mengandung mudharat
sekalipun. Pada yang disebut terakhir inilah yang perlu menjadi
penekanan kita bahwa bukan sekedar semangat membaca yang harus
tumbuh, bukan hanya kualitas bacaan yang harus diperhatikan tetapi
bagaimana cara kita membaca juga menjadi hal yang urgen. Kesalahan
dalam membaca akan menimbulkan persepsi yang beragam dan diperparah
lagi dengan kesalahan dalam mengaplikasikan hasil bacaan tersebut.
Korupsi, adalah akibat dari adanya kesalahan dalam membaca. Hak milik
orang lain dibaca dan diakui sebagai hak miliknya sendiri.
Demikianlah contoh sederhana betapa bahwa cara kita membaca dapat
memengaruhi sikap dan tingkah laku keseharian.
Ketika kita memahami bahwa membaca adalah kunci untuk
membuka pintu ilmu dan telah menjadi sebuah persepsi kita maka secara
tidak langsung kita sedang menuju pada kualitas ilmu dalam arti kita
dapat membaca dengan baik, apapun itu, manakala disertai dengan ilmu.
Dalam konteks inilah, ilmu mampu membentengi bahkan mewarnai apa-apa
yang kita baca. Dalam bahasa yang singkat, membaca dengan ilmu.
Seorang
politikus yang mampu bertahan dalam dunia politik adalah karena
kemampuannya membaca, membaca peta politik, membaca kekuatan lain,
membaca posisinya dan sebagainya. Sekolah yang baik adalah adanya
kepala sekolah dan guru-guru yang dapat membaca situasi dan kondisi
yang melingkupi sekolah itu berada, membaca situasi lingkungan
sekitarnya, membaca potensi internal dan eksternalnya, membaca
kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan yang ada. Seorang pelatih
bidang olahraga yang baik adalah mereka yang mampu membaca skill
anak-anak latihannya dan seterusnya.
Dengan demikian, sungguh dahsyat kemampuan membaca ini.
Kehebatan aspek inilah yang digunakan oleh pemimpin-pemimpin besar,
mereka mampu gejala alam dan gejala sosial masyarakatnya. Inilah yang
oleh, DR. Dale Cornegie (1979) disebutkan bahwa dampak dari kemampuan
membaca yang baik, dalam komunikasi kesehariannya maka ia akan dapat
mengendalikan seseorang yang orang itu tidak menyadari bahwa
sebenarnya ia sedang diarahkan dan dikendalikan.
Kita mampu banyak membaca, tapi sudah betulkan cara kita
membaca? Anda dan lingkunganlah yang menjadi pelaku dan penilainya.
SEMOGA!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar