Sabtu, 28 Desember 2013

Berilmu dengan Membaca dan Membaca dengan Ilmu







Makna pertama yang dapat ditangkap dari tema di atas adalah bahwa proses mendapatkan ilmu atau menjadi orang berilmu pengetahuan harus dengan membaca, ini sejalan dengan konsep pencerahan yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW dengan perintah iqra' nya (perintah membaca). Makna kedua adalah diawali dengan pengertian bahwa membaca tidak terbatas pada lembaran-lembaran atau teks tetapi jauh dari itu yaitu membaca lingkungan baik lingkungan alam maupun lingkungan yang melingkupi manusia itu sendiri. Supaya kita dapat memahami apa yang dibaca maka ia harus disertai dengan ilmu. Maka, dalam konteks inilah siapapun dan apapun yang dibaca harus disertai dengan ilmu.
Membaca adalah aktifitas yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Membaca sebagai sebuah interaksi antara dua hal (pembaca dan yang dibaca) menjadikannya perlunya komunikasi sehingga yang terdapat adalah berbagai unsur terlibat di dalamnya. Burn dalam buku Teaching Reading in Today’s Elementary Schools (Azhim, 2006:74) bahwa ada delapan aspek yang bekerja saat kita membaca yaitu sensori, persepsi, sekuensial (tata urutan kerja), pengalaman, berfikir, belajar, asosiasi dan afeksi.
Secara umum dapat dikemukakan bahwa dalam aktifitas membaca ini menuntut dan menuntun kita untuk menyaring dan menyeleksi apa yang kita baca yang kemudian akan membentuk cara pandang kita tentang sesuatu hal dan secara tidak langsung akan mengarahkan kita untuk berfkir secara sistematis dan runtun, selanjutnya akan bersinggungan dengan apa yang telah kita alami sebagai aktifitas keseharian kita dan ending nya adalah secara sadar atau tidak, dapat mengarahkan kita pada sikap hidup sebagai sebuah karakter.
Dari sudut pandang ini, membaca adalah kunci untuk mendapatkan ilmu, bahkan untuk ilmu yang mengandung mudharat sekalipun. Pada yang disebut terakhir inilah yang perlu menjadi penekanan kita bahwa bukan sekedar semangat membaca yang harus tumbuh, bukan hanya kualitas bacaan yang harus diperhatikan tetapi bagaimana cara kita membaca juga menjadi hal yang urgen. Kesalahan dalam membaca akan menimbulkan persepsi yang beragam dan diperparah lagi dengan kesalahan dalam mengaplikasikan hasil bacaan tersebut. Korupsi, adalah akibat dari adanya kesalahan dalam membaca. Hak milik orang lain dibaca dan diakui sebagai hak miliknya sendiri. Demikianlah contoh sederhana betapa bahwa cara kita membaca dapat memengaruhi sikap dan tingkah laku keseharian.
Ketika kita memahami bahwa membaca adalah kunci untuk membuka pintu ilmu dan telah menjadi sebuah persepsi kita maka secara tidak langsung kita sedang menuju pada kualitas ilmu dalam arti kita dapat membaca dengan baik, apapun itu, manakala disertai dengan ilmu. Dalam konteks inilah, ilmu mampu membentengi bahkan mewarnai apa-apa yang kita baca. Dalam bahasa yang singkat, membaca dengan ilmu.
Seorang politikus yang mampu bertahan dalam dunia politik adalah karena kemampuannya membaca, membaca peta politik, membaca kekuatan lain, membaca posisinya dan sebagainya. Sekolah yang baik adalah adanya kepala sekolah dan guru-guru yang dapat membaca situasi dan kondisi yang melingkupi sekolah itu berada, membaca situasi lingkungan sekitarnya, membaca potensi internal dan eksternalnya, membaca kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan yang ada. Seorang pelatih bidang olahraga yang baik adalah mereka yang mampu membaca skill anak-anak latihannya dan seterusnya.
Dengan demikian, sungguh dahsyat kemampuan membaca ini. Kehebatan aspek inilah yang digunakan oleh pemimpin-pemimpin besar, mereka mampu gejala alam dan gejala sosial masyarakatnya. Inilah yang oleh, DR. Dale Cornegie (1979) disebutkan bahwa dampak dari kemampuan membaca yang baik, dalam komunikasi kesehariannya maka ia akan dapat mengendalikan seseorang yang orang itu tidak menyadari bahwa sebenarnya ia sedang diarahkan dan dikendalikan.
Kita mampu banyak membaca, tapi sudah betulkan cara kita membaca? Anda dan lingkunganlah yang menjadi pelaku dan penilainya. SEMOGA!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar